Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Kembali ke sisi Bima (1)


__ADS_3

Kiara pergi ke taman bermain hari ini.


"Selamat datang, kak." Seorang pegawai taman bermain menyambut kedatangan Kiara.


"Kami tim pemandu yang akan menemani berkeliling sekaligus bermain." Pemandu yang lain memperkenalkan diri.


"Tapi saya tidak memesan pemandu,"


"Pak Aldi yang memesan pemandu bersamaan dengan memesan tiket masuk ke wahana,"


"Oh, begitu. Baiklah, temani kami bermain dan bersenang-senang, ya kakak-kakak pemandu."


Lagi-lagi Kiara tidak menyangka akan perhatian yang Aldi berikan.


Kiara bermain seharian. Merasakan wahana permainan yang sejak kecil tidak pernah dia rasakan. Yang lebih menyenangkan lagi adalah adanya adik-adik panti asuhan yang juga merasakan senangnya ke taman bermain untuk pertama kalinya juga.


Kiara ingin menghubungi Aldi, tapi dia tahu saat ini Aldi sedang dalam perjalanan ke Jakarta. Meski Aldi sudah tiba di Jakarta pun, pasti berbagai macam pekerjaan akan menyambutnya. Kiara hanya bisa menanti Aldi menghubunginya di kala waktu senggang. Kiara hanya bisa menahan rasa rindunya kepada Aldi.


'Rindu', Kiara baru sadar telah merindukan Aldi, suaminya.


Ke taman bermain tanpa Aldi terasa ada yang kurang. Apalagi melihat beberapa pasangan muda yang sedang memainkan wahana bersama kekasihnya. Atau pasangan yang hanya sekedar bergandengan tangan dan berfoto berdua.


Di saat yang sama, Bima sedang senang. Detektif yang dia sewa dengan mahal telah mengabarkan bahwa kemarin Aldi dan Kiara pergi ke panti asuhan. Dan hari ini Aldi kembali seorang diri ke Jakarta. Kiara masih di panti asuhan sedang bermain ke taman bermain.


Bima langsung menduga bahwa Kiara masih marah mengenai foto perselingkuhan Aldi yang dikirim olehnya. Aldi kembali tanpa Kiara. Bima sangat senang mendapatkan kabar ini.


"Kamu akan kembali ke sisiku, Kiara." Ucap Bima sambil melihat foto-foto bahagia Kiara yang sedang bermain bersama anak-anak panti asuhan.


Tapi rasa senang Bima tidak bertahan cukup lama. Bella akhirnya memunculkan diri di pintu keluarga Atmaja. Kedatangan Bella yang tampak sehat memunculkan kembali amarah Bima.


"Kamu masih bisa kembali ke rumah ini, Bel? Sungguh keberanian yang cukup tinggi." Bima menyambut Bella dengan kalimat sinisnya.


Bella hanya diam. Menanti setiap hal yang akan diucapkan Bima. Bella paham tidak baik baginya untuk membuat Bima lebih marah lagi kepadanya.


 Melihat Bella yang hanya diam, Bima menjadi mulai penasaran, "Masih ada yang kamu inginkan dengan kembali ke rumah ini?"

__ADS_1


"Kita masih suami - istri, jadi aku kembali ke sisi suamiku," jawaban Bella cukup datar. Tanpa emosi.


Tapi Bima menjadi emosi mendengar status hubungan mereka berdua.


"Oh ya, aku lupa jika sudah memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai seorang penipu dan pembohong," Bima mengucapkan setiap kata dengan intonasi yang sarat dengan emosi.


Bella hanya diam. Berusaha tidak marah mendengar setiap perkataan suaminya.


"Mommy Diandra mencari keberadaanku sejak aku menghilang."


"Tentu saja mommy yang baik hati mencari menantunya. Dia hanya tidak tahu bahwa menantunya adalah wanita yang hina!"


Lagi-lagi kalimat penghinaan. Bella berusaha menguatkan hati.


"Aku tahu kata maaf tidak cukup bagi kamu. Jadi katakanlah apa yang kamu inginkan terhadap hubungan kita." Bella berusaha mengucapkan kalimat ini dengan nada datar. Bersiap mendengar Bima ingin menceraikannya.


"Kamu paling tahu apa yang aku inginkan, Bella. Aku hanya menginginkan Kiara,"


"Lalu, bagaimana dengan pernikahan ini? Apa kamu melepaskan aku?"


"Tentu saja tidak. Melepaskan kamu akan terlalu mudah. Aku belum selesai membuat perhitungan sama kamu!"


"Tentu saja. Perceraian pewaris Atmaja tidak akan terlihat bagus di mata publik, apalagi jika perceraian dalam waktu satu bulan menikah."


"Lalu bagaimana dengan Kiara? Kamu tidak akan bisa bersama dengan Kiara jika masih menjadi suamiku."


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Itu akan menjadi urusanku untuk mendapatkan Kiara kembali. Yang perlu kamu lakukan adalah tidak membuat masalah bagiku. Menampakkan diri sebagai nyonya muda Atmaja yang bahagia di setiap waktu," Bima mendekati Bella.


"Paham?" Bima menggunakan jari telunjuknya untuk mengangkat dagu Bella dan mengintimidasinya dengan tatapan tajamnya.


Bella diam ketakutan. Bayangan kekerasan terakhir yang dilakukan oleh Bima kepadanya masih terbayang.


"Jawab aku, Bel. Kamu paham?"


"Iya, aku mengerti." lagi-lagi Bella berusaha menguatkan diri.

__ADS_1


"Sekarang masuk ke kamar," Mereka dari tadi berbicara di ruang tamu. Bella tidak berani langsung masuk kek kamar mereka seolah itu adalah rumahnya sendiri.


"Kamu cepat mandi. Setelah itu gunakan baju tidur paling menawan yang kamu miliki. Layani aku."


Bagai disambar petir Bella mendengarnya. Bella amat ketakutan. Bayangan penyiksaan terakhir yang dilakukan oleh Bima masih menyisakan trauma dalam setiap tidurnya.


Bella mulai menyesali larangan Cindy untuk kembali ke sisi Bima. Tapi Bella sadar tidak mungkin untuk kabur dari cengkeraman Bima Atmaja. Bercerai saja Bima tidak mau.


"Kenapa kamu masih saja bengong? Cepatlah. Kamu sudah menghilang cukup lama. Aku juga butuh pelampiasan. Kamu mau aku jajan di luar?" Bima semakin emosi.


Bella dengan tatapan kosong berjalan ke kamar mandi.


"Oh iya, gerai rambut kamu seperti Kiara. Berdandanlah semirip mungkin dengan Kiara seperti dulu pertama kali kamu tidur sama aku."


Begitu menutup kamar mandi, Bella menangis tanpa suara. Hatinya begitu sakit.


'Bertahanlah Bel. Demi benih cinta kamu kepada Bima,' Kalimat itu Bella ucapkan dalam hati berulang kali sambil mengguyur seluruh tubuhnya dengan keran shower.


15 menit berlalu sejak Bella masuk ke kamar mandi. Bima sudah tidak sabar lagi,


"Bella, Bel, dor dor dor" Bima mengagetkan Bella.


"Ceklek" Bella langsung membuka pintu kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk pendek yang dililitkan di dadanya. Panjang handuk itu juga jauh di atas lutut Bella.


Melihat pemandangan segar di hadapannya, Bima sudah tidak tahan untuk memakan hidangannya.


"Maaf, aku lupa membawa baju tidur tadi. Bisa tolong ambilkan?" Bella dengan sopan dan takut berusaha meminta tolong Bima sebaik mungkin.


"Kamu merepotkan saja. Nggak usah pakai baju lagi. Begini juga sudah bagus," Bima menarik tangan Bella lalu menyeretnya ke ranjang. Mendorong Bella dengan keras hingga terjatuh di atas ranjang dalam posisi terlentang.


Pemandangan di hadapannya sungguh menggiurkan, Bella memiliki kulit putih dan halus seperti halnya Kiara. Rambut panjangnya yang lurus dengan ujung bergelombang juga sama seperti Kiara.


Dalam kondisi rambut yang masih basah sehabis mandi seperti ini membuat Bella terlihat lebih menarik dan menawan. Hewan buas di dada Bima semakin tak terkendali.


Dengan kasar Bima menarik handuk yang menjadi satu-satunya penutup tubuh Bella, tapi melihat pemandangan di hadapannya membuat Bima memperlakukan Bella lebih lembut.

__ADS_1


Bima merasakan kulit halus Bella dengan tangannya secara perlahan. Meraba setiap bagian pribadi milik wanita ini dengan lebih lembut. Setiap bagian pribadi wanita yang menggoda pria untuk menyentuhnya dirasakan oleh Bima dengan tangan dan juga bibirnya.


"Ah, Kiara," Bima mencecap leher Bella dengan mata terpejam dan membayangkan Kiara, satu-satunya wanita yang Bima inginkan saat ini.


__ADS_2