Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Sarapan, Mandi, kemudian Mendengarkan Dongeng Aldi


__ADS_3

Kiara makan dengan perlahan. Sepertinya nafsu makannya belum sepenuhnya kembali.


"Makan lagi lebih banyak, Ra." Pinta Aldi


"Aku tidak ingin makan. Aku masih punya banyak hal untuk ditanyakan." Kiara cemberut.


"Kamu bisa menanyakannya sambil tetap makan. Aku akan jawab. Tapi kamu mendengar jawabannya sambil tetap makan."


Kiara tersenyum dan mulai tampak lebih bersemangat menyantap makanannya.


"Ceritakan bagaimana aku bisa ada di hotel sama kamu." Hal yang paling membuat penasaran akan Kiara utamakan. Kiara masih ingat sedang marah kepada Bima di rumah sakit.


"Kata dokter kamu depresi. Sementara lecet-lecet di lutut kamu enggak parah. Jadi aku ingin mencari tempat dimana kita bisa membahas hal yang membuat kamu depresi hingga kamu masuk rumah sakit dalam kondisi parah seperti kemarin."


"Aku tidak sedang tertekan kok. Aku bisa makan dengan lahap." Kiara mengelak


"Seingatku kemarin aku enggak pakai baju ini. Kemarin aku pakai celana dan atasan. Ini sudah ganti gaun di atas lutut." Kiara menambahkan


"Celana kamu sudah digunting di bagian lututnya sama dokter. Aku enggak tega kamu berpakaian tidak nyaman begitu, jadi aku gantikan baju kamu ketika sampai hotel."


Sendok dan garpu yang Kiara pegang lolos dari tangan Kiara. Dengan tatapan terkejut Kiara menatap Aldi.


"kamu mengganti pakaian sampai dalaman aku?"


Aldi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku juga mengelap sekujur badan kamu dengan air hangat. Khawatir kamu enggak nyaman sudah keringatan seharian"


Kiara semakin melotot menatap Aldi.


"Kiara," Aldi mendekat dan memegang tangan Kiara.


"Apa kamu masih tidak ikhlas jika sampai tubuh kamu terlihat oleh aku, suami kamu?"


"Poinnya bukan di situ, Al."


"Lalu kamu terlihat marah karena apa?"


"Kamu sudah melihat aku dalam kondisi yang buruk, kamu pasti merasa aku tidak secantik Verlita. Kamu sudah lihat sendiri kan foto dan video dia ketika hanya buka bagian atas saja sudah seperti itu. Aku enggak memiliki tubuh sebagus dia" Kiara menunduk malu dan sedih.


"Hahaha... hhhaha... Kamu marah karena itu?"


"Iyalah. Itu kan saat pertama kali kamu melihat aku tanpa baju. Kamu pasti sudah enggak ada feeling sama aku."

__ADS_1


"Sebaliknya, aku semakin ingin mengklaim bahwa kamu milikku seorang."


Kiara hanya diam sambil makan dengan pelan. Enggan menanggapi Aldi.


"Kamu tampaknya enggak percaya. Mau bukti?"


"Memang bisa dibuktikan?"


"Bisa lah, Ra." Ada senyum usil di wajah Aldi, "Bisa banget malah."


Ada kecurigaan dalam tatapan Kiara.


"Sekarang kita ulangi kejadian semalam tapi ketika kamu dalam keadaan sadar. Jadi kamu bisa lihat bagaimana reaksi aku yang ingin melahap habis diri kamu ketika melakukannya."


"Big NO!" Sahut Kiara sambil menutup dadanya dengan kedua tangan yang bersilangan.


"Nah, yang enggak mau liat sendiri buktinya bukan aku loh. Tapi kamu sendiri yang enggak mau."


"Kan enggak harus seperti itu juga membuktikannya," Kiara tidak ingin menyerah dengan pria cerdas di hadapannya ini.


"Aku punya banyak cara kok untuk membuktikannya. Tapi kamu lagi sakit. Aku enggak tega melakukannya sama kamu ketika kamu enggak fit."


"Melakukan apa?" Kiara terlalu cepat meluncurkan pertanyaan hingga baru sadar bahwa pertanyaannya barusan sangat memalukan. Bukankah jawabannya sudah jelas?


"Sudah ah makannya, aku mau mandi saja." Kiara bangkit dengan perlahan. Topik ini harus ditutup.


"Mau aku bantu mandi seperti tadi malam lagi?"


"Enggak." Dengan langkah perlahan, Kiara mengunci diri di kamar mandi. Hatinya berdebar dan wajahnya masih memerah dengan setiap kalimat godaan Aldi.


'Kok aku lupa memarahinya atas kelakuannya sama Verlita,' Kiara merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Kiara mandi dengan perlahan dan hati-hati agar tidak mengenai lukanya.


Usai Kiara beres dengan acara mandi, Aldi kini yang mandi. Sementara Kiara memakai baju yang disiapkan oleh Aldi di ranjang tidur mereka.


'Baju baru lagi' Batin Kiara. 'Baju dengan merek ternama dan tidak murah.'


Kamar hotel tempat Kiara dan Aldi menginap memiliki dapur mini dan juga ruang santai dengan sofa dan televisi di luar kamar tidur.


Dengan sengaja Kiara keluar dari kamar tidurnya untuk menghindari drama yang akan Aldi buat selesai dia mandi.


Kiara masih merasa Aldi tidak ingin menceritakan semua hal saat ini. Mungkin saja memang belum waktunya. Karena itulah Aldi sengaja menggoda kelemahan Kiara untuk mengalihkan fokus pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


Kiara ingin memikirkan poin-poin penting dan merangkai penjelasan Aldi sebelumnya ke dalam lembaran teka-teki yang masih banyak lubangnya di sana-sini.


"Sedang memikirkan apa, Kiara?" Aldi keluar dari kamar tidur dengan pakaian santai. Kaos berwarna cerah dan celana pendek berbahan kain selutut.


"Terpesona dengan ketampanan suami kamu?" Aldi berusaha menggoda Kiara lagi. Tapi kata 'suami' terdengar enak di telinga Aldi.


"Aku kira kamu masih lama." Kiara tidak ingin teralihkan ke dalam topik yang Aldi alihkan kembali. Kiara berniat untuk fokus ke rahasia yang masih Aldi sembunyikan darinya.


"Aku ingin lebih banyak menemani kamu. Jika kita sudah di Jakarta lagi, aku akan lebih banyak sibuk di kantor."


"Kita kan masih bisa ketemu di kantor."


"Kamu masih mau kerja di WS TECH setelah tahu suami kamu adalah CEO-nya?"


"Kenapa tidak? Ada yang salah?"


"Kamu enggak khawatir banyak yang ngomong enggak enak mengenai hubungan kita? Mengenai kamu yang masuk kantor melalui orang dalam dengan naik ke ranjang aku?"


Aldi lupa diri dan menyebutkan judul gosip yang beredar di kantor usai pengumuman dirinya sebagai CEO.


"Apa itu salah? Semua yang kamu ucapkan itu memang benar semua," Kiara melipat tangan di dada menghadapi Aldi yang masih berdiri di depan kamar tidur.


"Aku memang bisa kerja di WS TECH karena orang dalam, yaitu kamu, sang CEO. Aku juga sudah naik ke ranjang kamu semalam. Gosip seperti ini tidak akan melukai aku, Al" Tambah Kiara


"Apa yang bisa membuat kamu terluka hanya aku?" Aldi melangkah mendekat ke sofa tempat Kiara berada


"Itu kamu sadar. Kenapa aku bisa dengan mudah melukai hati kamu? Apa kamu sudah jatuh cinta sama aku, Ra?" Aldi sudah di duduk di samping Kiara.


"Aku masih ingin melanjutkan bertanya tentang kamu. Belum saatnya kamu mengajukan pertanyaan sama aku."


Aldi tampak kecewa jurusnya kali ini tidak berhasil. Lebih kecewa lagi karena Kiara tidak mau memberi tahukan perasaannya.


"Tanyakanlah, Kiara."


"Kenapa kamu ingin bersusah payah memenuhi wasiat ayah kamu untuk masuk ke dalam pernikahan ini?" Kiara menanyakannya sambil menatap mata Aldi.


"Aku yakin kamu setuju menikahi orang asing sepertiku bukan saja karena ingin membahagiakan ayah kamu dan membuatnya tenang di alam sana." Kiara melanjutkan.


"Kamu benar. Ada beberapa alasan lain." Aldi menunduk sedih, " Maafkan aku sudah membuat pernikahan kita sebagai alat untuk mencapai tujuanku."


Kiara berdebar menantikan jawaban Aldi.


"Ceritanya agak panjang. Kamu siap mendengarkan aku mendongeng hingga tertidur?"

__ADS_1


Kiara langsung menganggukkan kepala. Tidak sabar mendengar dongeng yang akan disampaikan oleh Aldi.


__ADS_2