Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Tujuan Rara


__ADS_3

"Ra, Maafkan aku. Kamu harus menyamar menjadi orang lain begini." Aldi dengan tiba-tiba berubah sendu.


"Ini menyenangkan, Al. Aku suka mencoba tantangan dan hal baru. Kamu juga sudah memikirkan tempat kerja yang sesuai banget sama pengalaman kerja aku. Pekerjaan sekertaris semudah membalikkan telapak tangan." Kiara berbicara dengan ceria. Berusaha mengubah mood Aldi yang tiba-tiba menurun.


"Aku harap kamu bisa kerja dengan menyenangkan. Bos kami di sini aku, Ra. Jangan sampai kamu tertekan karena pekerjaan. Aku tidak bisa menerima hal itu."


"Okey. Aku akan kasih tahu kamu jika ada yang berani ngasih kerjaan yang tidak sesuai dengan tugas aku sebagai sekertaris kamu. Tujuan aku di sini kan buat menghabiskan sebanyak mungkin waktu sama kamu, Al." Kiara mengira kebohongannya mampu meyakinkan Aldi dengan baik.


Kenyataannya, Aldi semakin sedih. Kiara masih menutupi Tujuannya.


"Okey. Tolong panggilkan Daniel. Aku perlu melakukan rapat dengan beberapa orang." Aldi mengakhiri perbincangan dengan Kiara yang masih saja tidak mau berterus terang kepadanya. Berharap Kiara segera bercerita kepada Aldi apa sebenarnya yang Kiara inginkan dengan berada di kantor bersamanya.


Aldi sempat memiliki beberapa dugaan seperti Kiara yang mungkin saja terlalu cemburu. Bisa saja Kiara ingin melihat apa kah dia setia kepadanya ketika di kantor. Tidak melirik wanita manapun yang bekerja kepadanya.


Jika lau pun benar itu alasannya, tidak akan ada asap tanpa api. Aldi perlu tahu asap dari mana semua ini. Api yang menyebabkan kepulan asap tebal di sekitar Kiara ini perlu Aldi temukan.


Kiara juga bukan orang yang akan dengan mudah goyah dengan pendiriannya. Jika dia sudah memutuskan untuk tidak memberitahu Aldi, maka pemaksaan tidak akan berhasil. Aldi perlu membuat Kiara dengan suka rela memberitahu api yang menyebabkannya.


Ketika Aldi sibuk memikirkan semua hal itu, Rara masuk kembali ke kantor Aldi bersama Daniel.


"Bos." Sapa Daniel. Ketika di kantor, Aldi menyukai hal yang efisien. Sapaan maupun panggilan pun harus yang paling efisien. Menyapa sekedar memanggil dengan satu kata sapaan sudah cukup.

__ADS_1


"Duduk." Jawab Aldi.


Sekertaris Rara baru tahu mode kerja atasannya yang seperti ini. Intonasi bicara Aldi begitu dingin. Pilihan kata dan kalimat yang disampaikan juga begitu irit. Langsung menuju kepada tujuan pembicaraannya. Basa-basi seolah tidak ada lagi dalam kamus Aldi.


"Sudah mendapatkan apapun yang saya pesan?"


"Sudah, bos. Meja kerja sekertaris Rara sudah dalam pengiriman ke kantor. Usai kita menyelesaikan rapat yang akan dimulai ini, meja kerja sudah bisa ditempati sekertaris Rara." Daniel menyahut dengan mantap. Seolah tidak mungkin ada keterlambatan.


Kiara sendiri heran Daniel memanggilnya dengan 'sekertaris Rara'. Bukankah Daniel biasanya yang paling tahu apapun yang terjadi di antara mereka berdua? Apa mungkin Daniel tidak tahu bahwa Kiara lah yang ada di hadapannya saat ini?


"iPad?" Aldi mengulurkan tangannya kepada Daniel.


Tanpa banyak bicara, Daniel memberikan apa yang Aldi minta.


Daniel kini tahu semua yang Aldi pesan hari ini untuk sekertaris baru di hadapannya. Ada rasa penasaran di hati Daniel mengenai sekertaris baru. Tapi bukan kapasitas nya Daniel untuk ikut campur urusan bos.


"Kita ke ruang rapat sekarang." Aldi berdiri begitu saja dan memimpin jalan ke ruang rapat. Rara dan Daniel mengikuti Aldi di belakangnya. Tapi Daniel tidak habis pikir, bosnya diam saja ketika Rara tidak menjawab perkataan bos. Jika itu orang lain atau bahkan dirinya, bos Aldi biasanya marah-marah.


Rara tidak berterima kasih karena iPad yang diberikan kepadanya. Juga tidak mengucapkan sepatah katapun yang mengiyakan perintah bos. Anehnya, bos tidak marah dan tampak semakin semangat.


Daniel berjalan di belakang Aldi sambil geleng-geleng kepala memikirkan kemungkinan penyebab Aldi berubah begini. Kata yang paling banyak bergema di benaknya tentu saja 'perselingkuhan'. Tapi bos bukan orang yang bisa dengan mudah menyukai para wanita. Jarang ada wanita yang menarik baginya selain istrinya sendiri. Tapi wanita yang menarik bagi bos saat ini ternyata agak tidak sopan. Dia tidak mau mengucapkan terima kasih ketika bos memberikan fasilitas untuk pekerjaannya. Sekertaris Rara ini malah pergi begitu saja.

__ADS_1


"Selamat pagi, semua." Aldi memulai rapat dengan sapaan yang sama-sama singkat bagi setiap yang mendengar.


Daniel yang awalnya sedang memikirkan si bos dan sekretaris nya kini kembali ke kenyataan. Sapaan dingin dan singkat Aldi kepada bawahannya di ruangan rapat ini adalah hal yang biasa bagi Daniel. Tapi bagi orang yang ada di hadapan Aldi saat ini merupakan hal yang baru. Mereka mulai menyadari bahwa Aldi bukan bos yang mudah dihadapi. Mereka mulai bersiap akan keinginan demi keinginan bos baru yang tidak masuk akal nantinya.


Pada rapat kali ini juga Aldi tidak memperkenalkan sekertaris yang bersamanya sejak tiba di kantor ini. Tapi banyak yang sudah menduga bahwa Rara adalah seorang sekertaris dari kegiatannya mencatat notulen rapat kali ini dengan iPad yang cukup mencolok di hadapannya.


Semua orang di ruang rapat itu mempertanyakan siapa sebenarnya sekertaris ini. Bagaimana latar belakangnya hingga bisa masuk ke Blue Corp begitu saja dengan mudahnya. Dan yang oaling membuat penasaran tentu hubungan sekertaris ini dengan bos baru mereka, Aldi.


Semua pegawai melihat sendiri baik secara langsung di pesta perayaan malam itu maupun di tayangan Live, bahwa Aldi tampak sangat mencintai istrinya. Sang istri juga tampak rupawan dan berpendidikan. Mereka tidak berani menduga bahwa Aldi memiliki hubungan lain dengan wanita lain. Jadi semua orang menduga sekertaris di samping Aldi ini masih termasuk dalam keluarga Wiji Sasongko.


Di saat itu juga Sekertaris Rara mengamati semua orang yang hadir. Tepat di kanan Aldi ada Mike, kemudian jajaran direktur mengelilingi meja rapat yang berbentuk oval itu. Di antara para direktur yang hadir, ada satu wanita yang sejak tadi Rara amati. Wanita itu tidak lain adalah Verlita. Alasan kenapa Rara sampai ada di sini.


Kiara paham bahwa Verlita telah melakukan beberapa hal buruk sejak memulai karirnya di Blue Corp. Jika melihat tempramen Aldi yang tidak menyukai pengkhianatan, sangat tidak mungkin pengkhianat terbesar dalam hidupnya, yaitu Verlita bisa tetap bekerja di Blue Corp dengannya. Verlita tidak hanya masih di Blue Corp ketika Aldi mulai bekerja di sini. Tapi dia masih saja menduduki jabatan direkturnya yang cukup tinggi.


🌸🌸🌸🌸


Hai Readers


Demi update si Rara, author lembur. Seperti halnya kalian yang lembur baca kisah ini Sampek gak bisa tidur...


thank you 😍 Jejak like kalian yang buanyak itu menyemangati nulis meski udah larut malem ginie baru sempat.

__ADS_1


_Dinda^^


__ADS_2