
"Brak!" Aldi membanting sebuah dokumen di hadapan Daniel.
Rara sedang diutus Aldi untuk membuat secangkir kopi. Di ruangan Aldi hanya ada Mike yang menemaninya, Daniel yang menjadi pelampiasan amarah Aldi ada di hadapan mereka.
"Apa kamu tahu kesalahan kamu? !" bentak Aldi.
Daniel bingung dengan kesalahan yang bosnya maksud. Apa mungkin Rara mengadukannya karena telah menanyakan hubungannya dengan bos? Atau karena hal lainnya? Tapi apa kira-kira?
"Jawab!" Bentak Aldi lagi.
"Saya tidak paham kesalahan saya apa, mohon diberikan pencerahan." Daniel menguatkan hatinya dan berusaha memasang wajah datar. Daniel tahu bahwa Aldi memiliki hati yang baik. Aldi bukan tipe atasan yang semena-mena. Jika atasannya sampai memarahinya, maka pasti Daniel memang melakukan kesalahan. Dari pada bingung memikirkan kesalahannya, akan lebih baik Daniel menanyakan baik-baik apa salahnya.
"Kamu" Kali ini Aldi lepas kendali cukup parah. Dia sendiri menyadari hal ini. Tapi melihat Kiara masuk bersama Fahad ke ruang rapat tadi membuat kemarahannya memuncak. Bahkan menatap Kiara pun tidak bisa mengatasi amarahnya. Luka dan rasa sakit ketika penculikan Kiara dulu kembali menyesakkan dadanya dan membuat amarahnya naik seketika. Rapat hari ini langsung Aldi alihkan kepada Mike untuk ditangani. Aldi berlari mencari Rara untuk mencegahnya berbuat hal buruk karena dikuasai oleh amarah.
Begitu melihat Kiara sedang duduk bersama Daniel di ruangannya, seketika itu amarah kembali menguasai dirinya lagi. Daniel pun sudah akan menjadi pelampiasan amarahnya ketika Mike datang melaporkan bahwa rapat telah dia akhiri dengan cepat. Mike mengkhawatirkan keadaan Aldi yang tampak tak bisa mengendalikan emosi.
Setelah Mike berusaha mengalihkan perhatian Aldi dengan pembahasan kontrak dengan perusahaan MW milik Fahad Ja'far, Mike pun menyerah dengan emosi Aldi yang masih saja meninggi. Mike membiarkan Aldi melampiaskan emosinya ini. Dan yang ingin Aldi marahi masih saja Daniel. Mike hanya berharap Daniel cukup kuat untuk menerima amukan Aldi yang sudah tak terbendung ini.
"Maaf, pak. Mohon berikan pencerahan atas kesalahan saya." Daniel menunduk dan memohon maaf kembali kepada Aldi. Berharap hal ini bisa meringankan hukuman Aldi untuknya. Daniel tahu Aldi orang yang dingin. Tapi Aldi bukan orang yang mudah marah tanpa sebab. Melihat kemarahan bosnya yang sudah seperti ini, pasti ada kesalahan besar yang Daniel tidak sadari.
__ADS_1
"Kesalahan kamu yang paling besar adalah membiarkan Rara mengantarkan bos MW ke ruang rapat hanya berdua saja! Kamu sadar kan kalau Fahad memiliki wajah yang persis dengan Ferdi? Apapun bisa dia lakukan. Jika sampai dia melakukan hal buruk kepada Rara lagi, saya tidak akan pernah memaafkan kamu!" Kali ini Aldi tidak hanya berteriak, tatapan mata Aldi sudah sangat memerah. Kejadian penculikan Kiara kembali terulang di benaknya. Rasa sakit hanya dengan mengingatnya saja sudah tak tertahankan. Aldi tidak tahu bagaimana dia dulu bisa melalui saat-saat buruk itu.
Daniel sendiri kebingungan dengan pernyataan Aldi. Hal ini sama sekali tidak ia duga.
"Di kantor ini Rara dikenal dekat dengan Aldi. Jika Fahad sampai mengetahui hal ini dan menargetkan Rara, maka tadi adalah saat yang tepat untuk melukai Rara atau menculiknya demi ditukar dengan saudaranya. Itu maksudnya, Daniel." Mike mencoba menjadi penengah antara Daniel dan Aldi. Mike berusaha memberi pemahaman kepada Daniel yang nampak bingung dengan kesalahan yang Aldi sebutkan.
Daniel pun kini memahami kemarahan bosnya, Aldi. Daniel tidak pernah menduga akan hal buruk yang mungkin terjadi jika tidak disadarkan oleh apa yang Mike sampaikan barusan. Seketika Daniel berlutut dan merasa bersalah.
"Saya melakukan kesalahan besar, pak. Saya tidak pantas diampuni." Sesal Daniel.
"Jangan terlalu berlebihan, Daniel." Mike tidak suka mendengar kalimat penyesalan Daniel. Mana mungkin Aldi tidak mengampuni bawahannya yang begitu setia dan serba bisa ini. Aldi hanya masih dikuasai oleh amarah. Begitu amarahnya reda, semua akan baik-baik saja.
Ketika semua fokus tertuju kepada Daniel yang masih berlutut, Kiara datang dengan secangkir kopi di tangannya. Kiara tidak menduga akan menyaksikan adegan Daniel yang berlutut dan Aldi yang tampak sebagai bos yang diktator dengan amarah memenuhi wajahnya.
Usai menatap Aldi dengan wajahnya yang tidak baik-baik saja, Kiara menatap Daniel yang tampak bersalah. Kini ada beberapa opsi kesalahan Daniel yang terlintas dalam benak Kiara. Tapi Kiara tidak menduga sama sekali jika titip puncak emosi Aldi disebabkan oleh Fahad yang berdua bersamanya menuju ruang rapat.
"Pak. Kopi sesuai takaran bapak yang biasanya sudah siap, silahkan." Kiara mencoba menguasai diri dan meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul panasnya ke hadapan Aldi.
Aldi pun teralihkan tatapannya dari Daniel. Menatap wajah Rara yang tersenyum manis di hadapan Aldi membuat dirinya mau tidak mau menekan emosinya hingga wajah Aldi nampak datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Daniel maupun Mike memperhatikan perubahan raut wajah Aldi ini. Keduanya terkesan akan pengaruh satu-satunya wanita di ruangan ini terhadap bos mereka. Terutama Daniel.
Mike yang tahu identitas Rara yang sebenarnya pun tidak menyangka amarah Aldi yang begitu hebat bisa dia tekan saat menghadapi senyuman istrinya. Melihat ini semua membuat Mike tidak lagi khawatir.
"Daniel, kita lanjutkan pembahasan mengenai perusahaan MW di ruangan saya." Ajak Mike kepada Daniel.
Daniel pun bingung dengan perintah ini. Daniel berpikir, bukankah dirinya harus menerima hukuman dari Aldi terlebih dahulu? Tapi Daniel tidak berada pada posisi untuk bisa tawar-menawar terhadap perintah atasan, meski Mike bukan atasan Daniel secara langsung. Oleh sebab itu, Daniel mengikuti Mike keluar dari ruangan Aldi tanpa basa-basi ataupun penolakan apapun.
Usai kedua pria selain Aldi itu keluar, Kiara mendekati Aldi dan menempelkan telapak tangannya pada pipi kanan Aldi. "Kamu baik-baik saja, Al? Apa terjadi sesuatu di luar kendali kamu lagi?"
Aldi memejamkan mata. Merasakan kelembutan tangan Kiara yang ada di pipinya. Aldi pun meraih tangan kiri Kiara dan menempelkan nya ke pipi kirinya.
"Biarkan aku memejamkan mata dalam kedua telapak tangan kamu sejenak gini, Ra. Aku butuh menstabilkan emosiku dan mengembalikan tenagaku." Aldi masih terpejam.
"Baiklah, aku senang bisa di sini untuk menenangkan kamu dan menjadi sumber daya yang mengisi energi positif kamu, Al." Kiara mengucapkannya dengan lembut. Berusaha memberikan ketenangan kepada hati Aldi yang tampak tidak baik-baik saja itu.
"Terima kasih." Usai mengucapkannya dan menunggu beberapa menit, Aldi menatap Kiara kembali dengan sorot mata lembutnya.
"Kita berangkat periksa ke dokter sekarang ya sayang." Ucap Aldi.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^