
"Saya akan berusaha mengingat sebanyak mungkin hal yang saya ceritakan kepada Bu Verlita." Tambah Nina kemudian.
Aldi sebenarnya hanya ingin mendengar satu bagian cerita mengenai Kiara yang diketahui oleh Nina. Tapi Aldi memutuskan untuk membiarkan Nina menceritakan apapun hal yang ingin dia bagi dengan Aldi.
'Anggap saja mendengarkan curhat dari korban kekejian lelaki yang kini sedang tertekan.' Putus Aldi dalam hati.
"Akan saya simak dengan baik," Jawab Aldi seraya mengambil tempat duduk untuk diletakkan di sebelah ranjang pasien. Aldi duduk dengan tenang, siap mendengarkan apapun yang ingin Nina ceritakan.
"Seperti yang bapak juga tahu, Saya diculik oleh Ferdi dan disekap di rumah gelap itu. Tidak lama setelah saya diculik dan ditinggalkan begitu saja, Ferdi membawa istri bapak ke rumah itu juga."
Nina berhenti bercerita. Aldi nampak paham bagaimana beratnya tekanan wanita untuk melanjutkan ceritanya.
"Hentikan cerita ini jika kamu belum siap. Kita bisa bicara lain waktu." Aldi memang penasaran dan ingin sekali mengetahui apa yang sudah terjadi pada Kiara kala itu. Tapi Nina tampak tertekan menceritakan kisah penculikannya.
"Tidak, pak. Saya tahu harus mengungkapkannya agar saya pun membaik. Saya ingin sembuh dari trauma apapun itu. Saya harus kembali sehat demi bayi saya." NIna memegang perutnya yang masih tampak rata.
"Ferdi awalnya hanya menyekap saya. Tapi sejak menculik Nyonya Kiara, Ferdi suka marah-marah dan melampiaskannya kepada saya. Tapi awalnya dia tidak memperkosa saya. Dia hanya menyakiti saya secara fisik. Saya menduga, Nyonya Kiara selalu membuatnya marah. Tapi lelaki itu tidak ingn menyakiti nyonya. Maka dari itu dia melampiaskannya kepada saya." bahu Nina bergetar mengingat siksaan dan rasa sakit secara fisik yang dia terima.
" Aku hanya bisa meminta maaf atas nama istriku," Aldi berusaha meminta maaf. Tapi Aldi sendiri mendengar kalimat yang dia ucapkan tidak terasa tulus. Anda Kiara di sini mendengarnya, pasti dia akan menertawakan usahanya meminta maaf yang gagal.
"Yang menyiksa saya bukan nyonya Kiara. Yang bersalah adalah lelaki yang tidak waras itu. Apa bapak tahu? Dia benar-benar gila, pak. Dia selalu menyebut nama Adelia dalam kegelapan ketika memperkosa saya, pak. Dia menginginkan wanita lain, tapi melakukannya kepada saya, pak." Nina tidak bisa membendung tangisnya. Nina menutup wajahnya dengan keedua tangannya.
Aldi mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan memberikan kepada Nina.
__ADS_1
Melihat sapu tangan bersih yang tampak harum dan cantik itu membuat Nina merasa semakin sedih. Akankah ada pria seperti pak Aldi yang mau mencintainya? Nina kini tidak bersih seperti sapu tangan itu.
Nina meraih sapu tangan itu dan berusaha menghentikan tangisnya.
"Terima kasih, Pak Aldi."
Nina mengusap air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Aldi, mencoba untuk nenenangkan perasaannya kembali.
"Saya tahu ini sulit, Nina, kita cukupkan ceritanya sampai di sini saja jika kamu merasa belum bisa," kata Aldi.
Nina menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Tidak Pak. Saya mungkin telah membuat masalah bagi bapak karena Bu Verlita yang mengetahui banyak hal dari saya."
Aldi hanya bisa diam menanti kesiapan Nina untuk kembali bercerita.
"Seperti yang bapak ketahui, semua peralatan elektronik di rumah itu tidak ada yang berfungsi. Bukan karena listrik yang padam, tapi ada alat khusus yang membuat semua peralatan dengan teknoligi tidak bisa menyala. Setiap malam selalu gelap dan pengap. Hanya mentari pagi yang bisa saya harapkan kedatangannya."
" Tapi saya berhenti mengharapkan mentari tiba sejak lelaki gila itu memperkosa saya." Kali ini Nina tidak lagi menangis seperti sebelumnya. Tapi Aldi tidak memotong apapun yang Nina ingin ceritakan. Aldi berusaha menjadi pendengar yang baik.
"Setiap malam lelaki itu selalu ada di kamar nyonya Kiara. Tapi di pagi hari, dia akan mendatangi saya untuk menyiksa saya secara fisik. Bisa dengan menampar atau memukul saya dengan benda-benda lain. Selalu saja seperti itu pada awalnya. Tapi suatu malam saya mendengar keramaian dari kamar Nyonya Kiara. Ada suara barang-barang terlempar dan terbanting. Juga suara benda-benda pecah. Suara-suara itu membuat saya ketakutan, saya seperti punya firasat akan hal buruk yang akan menimpa saya."
Aldi seperti bisa menebak apa yang akan Nina ceritakan," Malam itu Ferdi pertama kalinya memperkosa kamu, kan? "
Nina tidak menjawab, hanya anggukan lemah yang bisa Nina berikan sebagai jawaban.
__ADS_1
" Menurutmu kenapa Ferdi sampai melakukan itu kepada kamu?"
"Dia sudah sangat menginginkan untuk melakukannya kepada nyonya, tapi sepertinya nyonya berusaha menolak dengan sekuat tenaga. Pria gila itu mencariku sebagai pelampiasan saja."
"Tidak hanya itu, Kiara tidak hanya menolak, tapi juga berusaha bunuh diri jika sampai Ferdi menyentuhnya." Sahut Aldi. Kini perasaan bersalah bersarang begitu besar di hatinya. Kiara lebih memilih mati dari pada kehormatannya dihancurkan oleh Ferdi. Tapi Aldi malah membalasnya dengan meragukan anak mereka berdua sebagai anak Ferdi.
Aldi merasa menjadi orang yang begitu bodoh.
"Sepertinya nyonya Kiara sudah menceritakan bagian ini kepada bapak," Nina menatap Aldi yang tiba-tiba tampak sedih. Ada tanda tanya di hatinya, tapi Nina tidak berani bertanya. Tugasnya hanya menceritakan masa lalunya yang melibatkan nyonya Kiara.
"Malam itu Ferdi merenggut kesucian saya sekaligus menyiksa saya. Dia memperlakukan saya dengan kasar sambil emmaki-maki saya. Dia marah sambil mempertanyakan alasan saya menginginkan bunuh diri dan meninggalkannya. Tapi saya juga menjadi bingung ketika yang disebut adalah nama Adelia, bukan nyonya Kiara. Dari situ saya paham bahwa kami di sini karena kecelakaan yang dialami kekasihnya, Adelia. Kami dianggap sebagai pengganti Adelia yang memuaskan kebutuhannya. "
"Setelah itu Ferdi mendatangi Kiara tiap malam tapi melampiaskan kebutuhannya kepada kamu di siang hari, kan?" Aldi telah mengetahui hal ini dari Kiara. Tapi Aldi dulu tidak percaya bahwa Ferdi hanya diam bersama Kiara di malam hari tanpa menyentuh Kiaranya.
Aldi dengan begitu bodohnya tidak percaya akan perlawanan Kiara yang dipaksa melakukan hal itu. Ingin rasanya Aldi menemui Kiara dan memperbaiki kesalahannya.
"Iya, bapak benar. Dia tidak hanya melakukannya, tapi juga masih menyiksa saya secara fisik. Kemarahannya di malam hari selalu dilampiaskan kepada saya dengan tamparan, pukulan, bahkan gigitan di bagian sensitif saya."
Aldi tidak kuat mendengarkan penyiksaan yang Nina ungkapkan. Tapi Aldi berwajah datar. Nina tidak akan tahu apa yang ada dalam pikiran Aldi sekaligus bagaimana perasaan Aldi mendengar perlakuan buruk yang Nina terima.
" Apa kamu menceritakan semua ini kepada Verlita?" Tiba-tiba Aldi memberikan pertanyaan yang tidak Nina duga.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Like jika kalian suka cerita ini ya. Biar saya lebih semangat lagi untuk update. Ingat juga untuk tinggalkan komen kalian biar saya tahu seberapa suka kalian dengan cerita ini. Kasih saran plot juga boleh loh.
_Dinda^^