
"Ka.. Kamu kenapa bisa ada di sini?" Kiara tergagap berbicara dan tanpa sadar menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Aldi tersenyum melihat hal itu, semakin ingin melihat reaksi Kiara jika Aldi semakin mendekat kepadanya.
"Al, diam di situ... Kamu... Kamu jangan mendekat." Kiara semakin berjalan ke belakang hingga menabrak dinding kamar.
Aldi semakin mendekat hingga jarak mereka hampir tidak ada. Hangatnya Kiara terasa oleh Aldi, sepertinya gadis ini menggunakan air hangat untuk mandi. Aldi penasaran kenapa Kiara se wangi ini. Aldi merasa harus melihat apa saja yang Kiara gunakan di kamar mandi dan membelikannya untuk Kiara gunakan sehari-hari di rumah.
Aldi memainkan rambut Kiara yang setengah basah, "Keringkan rambutmu, Kiara. Aku hanya mau mandi."
Usai mengucapkan dua kalimat itu, Aldi berlalu ke kamar mandi. Dia merasa harus mandi dengan air dingin untuk menekan keinginannya terhadap Kiara. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu. Kiara belum sepenuhnya menjadi miliknya. Bayangan Bima masih sering Aldi lihat di matanya.
Menjelang malam, Kiara dan Aldi tiba di rumahnya. Kiara lupa bahwa seharusnya hari ini dia sudah mulai bekerja kembali. Pasti akan ada masalah di hotel karena hari ini Kiara tidak ijin untuk tidak bekerja. Kiara berbaring di kamarnya sambil memikirkan bahwa esok akan menjadi hari yang berat.
Tapi sebelum esok tiba, malam ini belum usai. Kiara seharusnya menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Aldi.
Usai berganti baju rumahan yang nyaman, Kiara ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk dua orang. Butuh waktu satu jam bagi Kiara untuk menyelesaikannya.
Begitu makanan tertata rapi di meja makan, Kiara melihat Aldi turun dari lantai atas. Sepertinya bau masakannya memberi tahu Aldi bahwa Kiara sedang memasak.
"Kamu kenapa tidak istirahat?" Aldi bertanya dengan wajah datarnya.
"Aku sudah beristirahat selama dua hari di rumah sakit dan sehari di resort. Aku rasa sudah beristirahat cukup banyak."
"Hari ini kamu seharusnya mulai bekerja." Aldi mengatakannya sambil duduk di meja makan,
"Iya, tapi aku tidak ijin hari ini. Kemungkinan besar akan ada masalah besok."
"Aku berharap kamu berhenti dari sana." Aldi membuat Kiara heran.
"Apa karena Bima?"
__ADS_1
"Ya. Itu salah satunya. Alasan lainnya karena Bella." Aldi mulai memakan suapan pertama dari piringnya.
"Al, aku mau bertanya." Melihat Aldi dalam suasana hati yang mau berkomunikasi dengannya, Kiara tidak ingin menunda lebih lama mengurai rasa penasarannya.
Aldi tidak mengiyakan keinginan Kiara, Hanya terus melanjutkan makan. Kiara menganggap diamnya Aldi sebagai persetujuan. Aldi hanya terlalu malas menanggapi obrolan yang tidak disukainya. Kiara memahami seperti itu saja.
"Bagaimana cincin ini ada di kamu?" Kiara menunjukkan cincin dengan satu mata berlian di jari manisnya.
"Salah seorang perawat di rumah sakit memberikannya. Kamu menggenggam cincin itu dengan erat ketika tak sadarkan diri."
"Kamu masih marah karena aku melompat ke laut untuk mengambil cincin ini?"
"Tentu saja." Aldi menatap Kiara dengan kemarahan yang terlihat jelas di matanya.
"Apa kamu akan tetap marah jika aku melakukannya karena tidak ingin kehilangan cincin pernikahan yang kamu berikan untukku?"
"Jangan bodoh, Kiara!" Aldi semakin marah. Sendok yang sedari tadi dipegang tiba-tiba ditaruh di meja makan dengan suara yang mengagetkan. "Jika ada yang ingin merampok hartaku, kamu mau mengorbankan nyawa melindunginya!"
Aldi diam menatap Kiara. Sepertinya sedang berusaha menenangkan amarahnya. "Setelah ini kita ke toko perhiasan. Aku akan membuat kamu merasa bahwa cincin dan perhiasan yang aku kasih ke kamu tidak lebih berharga dari nyawa kamu."
Usai menyampaikan hal itu, Aldi meninggalkan Kiara seorang diri di meja makan. Makanan Aldi telah habis sebelum dia marah.
Usai Kiara membersihkan meja dan mencuci piring beserta peralatan masak, Aldi sudah berada di hadapannya lagi dengan pakaian yang lebih rapi dari sebelumnya. Jika sebelumnya ketika makan Aldi hanya mengenakan kaos rumahan dan celana santai, kali ini Aldi sudah berganti dengan sweeter lengan panjang dengan kerah yang menutupi lehernya dan celana kain.
"Sepuluh menit waktu buat kamu ganti baju." Aldi memandang Kiara dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Tapi aku tidak bilang setuju untuk kamu ajak ke toko perhiasan."
"Sembilan setengah menit lagi." Aldi melihat jam tangannya dengan tampang datarnya Tidak memedulikan Kiara yang membantah.
"Ihh. Kamu ini." Kiara pergi berganti baju meski dengan bersungut-sungut kesal.
__ADS_1
"Kalo kamu enggak selesai ganti baju dalam 9 menit lagi, Jangan salahkan aku kalo beli perhiasan beberapa set buat kamu." Ancaman Aldi sambil menyeringai jahat. Membuat Kiara yang masih di tangga tampak ngeri.
Merasa waktu yang dia punya tidak lama, Kiara hanya mengenakan Kardigan untuk menutupi lengan bajunya yang pendek. Sementara celana berbahan katun yang dia pakai diganti dengan celana dengan panjang tiga per empat kakinya. Lalu ditambah mengenakan syal di leher. Untuk baju, dia tidak menggantinya. Kiara masih memakai baju tidur yang berbahan seperti daster. Kiara tidak mengenakan riasan wajah apa pun. Dan tidak akan cukup waktu untuk mengenakan riasan. Dia menyambar dompet berisi make up saja dan memasukkan ke dalam tas selempangnya bersama dompet dan ponsel. Kiara pun siap.
Sebelum 10 menit yang diberikan habis, Kiara sudah berada di kursi penumpang mobil milik Aldi. Begitu mobil mulai melaju, Kiara membuka dompet make up nya dan mulai berias. Kiara hanya mengenakan pelembab untuk wajah, krim bibir, maskara untuk bulu mata dan menebali sedikit alisnya. Aldi melihat semua yang dilakukan Kiara dari spion di dalam mobilnya tanpa menoleh sedikit pun. Aldi hanya mengerutkan dahinya setiap Kiara selesai dengan satu produk dan berganti menggunakan produk make up yang lain.
"Ternyata semua cewek suka lama ya kalo dandan." Aldi melihat Kiara selesai dengan riasannya dan memasukkan kembali dompet make up nya ke dalam tas. Membuat Aldi tidak tahan untuk tidak berkomentar.
"Iya. Maka dari itu waktu 10 menit buat cewek bersiap ketika mau keluar itu sangat tidak cukup." Kiara mulai merasa kesal lagi dengan Aldi.
"Ok. Aku catat. Kamu mau berapa lama?"
"30 menit."
"Tidak. terlalu lama. 20 menit."
"Kita ngobrolin apaan sih." Kiara yang semakin kesal hanya melipat tangan di dadanya tanpa memedulikan topik yang tidak penting yang sedang ingin dibahas Aldi.
"Al, aku sudah punya satu set perhiasan yang kamu kasih sebagai mahar. Enggak usah beli perhiasan lagi. Kan percuma kalo enggak terpakai." Kiara kembali ingin membuat Aldi berubah pikiran.
"Ya buat koleksi kamu saja. Biar kamu enggak semudah itu rela mati hanya demi sebuah cincin."
Mendengar hal ini diulang lagi, Kiara hanya bisa pasrah. Kiara sadar kalo tindakannya kemarin memang terlalu konyol. Kiara pasrah saja dengan apa yang diinginkan Aldi. Kiara anggap itu demi menyenangkan Aldi yang sudah menolongnya ketika tenggelam dan hampir mati.
"Al, kenapa kamu mengira aku akan berhenti dari hotel?" Kiara ingin mengalihkan pembicaraan mereka dari topik perhiasan ini. Kiara tidak seberapa suka mengenakan perhiasan berlebih.
"Bella tidak akan membiarkan kamu tetap bekerja di sana. Sebelum kamu sakit hati karena tindakan Bella. Aku lebih suka kamu mencari pekerjaan di tempat lain dan mengundurkan diri dengan baik-baik. Bolos kamu hari ini akan menjadi senjata untuk memecat kamu."
"Baiklah, besok aku akan mengundurkan diri." Penjelasan Aldi yang amat panjang cukup masuk akal. Kiara juga ingin menutup bab hidupnya dengan Bima. Bekerja di hotel yang penuh dengan kenangannya dengan Bima tak akan baik bagi mentalnya.
"Kamu bisa bergabung di WS Tech setelah mengundurkan diri dari hotel."
__ADS_1
Dengan entengnya Aldi seolah-olah merekrut Kiara agar satu perusahaan dengannya. Memangnya dia ini pemilik WS Tech? Kiara tak habis pikir dengan Aldi.