Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Berdua dengan Verlita


__ADS_3

Kiara penasaran dengan map yang ada di hadapan Aldi saat ini. Dengan sekuat hati dia berusaha mempercayai pria ini. Kiara yakin nanti Aldi akan menceritakan apa isi map yang diberikan Verlita. Tapi perkiraan Kiara salah besar.


"Sekertaris Rara, tolong keluar temui pak Daniel. Temani dia ambil berkas yang saya inginkan dan bawa kemari." Aldi tiba-tiba memerintah Kiara. Ada rasa aneh dengan perintah ini. Kiara merasa sedang diusir. Ada hal yang ingin Aldi bicarakan berdua hanya dengan Verlita.


Di hadapan semua orang di kantor, Kiara adalah Rara. Kiara harus bersikap layaknya sekertaris profesional yang mematuhi semua perintah atasan. Tidak mungkin dia bisa menolak permintaan Aldi sebagai Rara.


Dengan hati yang berat, sekertaris Rara keluar dari ruangan Aldi dan membiarkan Aldi berdua dengan Verlita.


"Pak, saya diminta menemani bapak ambil berkas yang diinginkan pak Aldi." Ucap Verlita ketika di luar ruangan Aldi menemui Daniel.


"Baiklah. Kita ke ruangan arsip berdua kalau gitu. Ruangannya masih dua lantai di bawah kita ini." Daniel mengajak sekretaris Rara langsung keluar. Aldi telah mengirim pesan berisi instruksi untuk membuat Rara sibuk hingga Aldi mengirimkan pesan sudah aman.


Daniel semakin penasaran mengenai sekretaris baru dengan wajah mungil nan menggoda ini. Dia tidak berpakaian terbuka dan tidak memakai make up tebal, tapi keberadaannya membuat semua orang tidak bisa mengabaikannya. Semua yang melihat wanita ini pasti ingin menatapnya agak lama untuk memastikan bahwa wanita ini adalah manusia. Bukan boneka yang hidup seperti manusia. Dia adalah jelmaan boneka yang hidup.


Sekretaris Rara merasakan tatapan Daniel kepadanya sejak tadi. Dengan masih saja mengkhawatirkan Aldi yang hanya berdua bersama Verlita, Rara pun tidak fokus mencari dokumen yang diinstruksikan Daniel. Arahan yang Daniel tunjukkan sudah benar. Rara berada di rak baris F. Rara juga sudah mengecek nomor seri arsip dokumen dengan benar. Tapi di tempat dimana seharusnya di sana ada dokumen yang Aldi inginkan, Rara tidak menemukan apapun.


Rara merasa frustasi dan kembali ke dekat pintu masuk dimana Daniel sedang memperhatikan wajahnya dengan serius.


"Maaf pak. Saya tidak menemukan dokumen itu di baris dan kode yang pak Daniel berikan," Rara sadar dia adalah orang baru. Jabatannya dan Daniel hampir setara, kecuali senioritas mereka. Rara berbicara dengan sopan kepada Daniel, tidak seperti ketika selama ini mereka bersama Aldi.


"Saya ternyata telah mengambil dokumen itu. Maaf, saya baru ingat." Wajah Daniel tampak kaku menghadapi Rara.


Mendengar bahwa pekerjaannya mencari selama beberapa menit ini ternyata sia-sia, Rara ingin marah kepada asisten Aldi ini.

__ADS_1


"Kita kembali ke meja saya. Kamu ambil dokumennya dan serahkan ke bos." Daniel tidak menunggu jawaban Rara dan langsung saja berbalik untuk naik lift ke lantai atas.


Rara hanya bisa mengikuti Daniel dengan perasaan marah. Rara sudah berencana akan membalas keusilan asistennya ini ketika sudah berubah menajdi nyonya bos kembali.


"Ini, berikan kepada bos." Daniel memberikan map yang dimaksud dan Rara menerimanya dengan ucapan terima kasih demi kesopanan. Padahal dalam hatinya Rara masih tidak terima dengan kebodohan yang diperbuat oleh Daniel kepadanya.


Begitu sampai di ruangan Aldi kembali, Rara tidak melihat tanda-tanda keberadaan Verlita lagi. Tapi Rara bisa melihat bahwa Aldi masih menunduk di hadapan map yang terbuka. Aldi tampak sedang merenung, bukan sedang membaca isi map yang di hadapannya.


Karena merasa penasaran, Rara mendekati Aldi dan ingin melihat apa yang telah membuat Aldi begitu fokus. Mereka hanya berdua di ruangan itu. Rara tidak harus bertindak sopan kepada Aldi. Rara dengan bebas mendekat ke sisi Aldi dan melihat map di hadapan Aldi.


Di situ ada tiga foto. Satu dari foto itu tampak lama, tapi dicetak di atas sebuah kertas HVS. Sebuah foto balita laki-laki yang kembar identik sedang tertawa. Kemudian ada lagi 2 foto lain, Rara gemetar menatap dua foto itu. Dalam dua foto itu tampak ada satu orang berwajah sama dengan dua latar belakang berbeda. Satu latar belakangnya seperti sebuah kantor. Si pria yang menatapnya tajam sedang duduk di kursi ruangan kerjanya. Terlihat muda dan profesiaonal. Sementara satu foto lainnya memiliki latar belakang gurun pasar. Dia tampak sedang berfito di daerah timur tengah.


Aldi mengetahui bahwa Rara sudah terlanjur melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Jadi Aldi membiarkannya saja. Mungkin dengan ini Aldi bisa mencoba melihat bagaimana reaksinya.


"Pemikiran kamu nggak salah." Aldi menatap manik-manik mata Kiara yang terkejut sebentar kemudian berganti menatap Aldi.


"Inikah yang Verlita beritahukan sama kamu?"


"Ya."


"Kenapa kamu nggak mau aku melihat hal ini?"


Aldi tampak terkejut, tapi cepat menguasai diri dan merubah wajahnya tanpa ekspresi. Ada rasa tidak enak di hati Kiara. Aldi kembali menampakkan wajah pokernya. Dia menutupi sesuatu dari Kiara.

__ADS_1


"Kamu sengaja menyuruh aku keluar mencari dokumen untuk memperpanjang waktu kamu berdua saja dengan wanita itu kan?" Kiara tidak ingin menyebut nama wanita yang baru saja berduaan dengan suaminya di ruangan ini.


"Ya, kamu benar." Aldi berdiri mendekatkan dirinya kepada Kiara.


Tiba-tiba saja Aldi menghilangkan jarak di antara mereka. Kiara sedang marah. Tidak mau didekati dan kontak fisik dengan pria yang baru saja berduaan dengan wanita lain.


"Aku khawatir kamu akan menunjukkan sikap yang aneh karena terkejut mengenai informasi tentang Ferdi ini." Tatapan Aldi kini berubah sendu. Wajah datarnya tadi tidak bertahan lama.


"Apalagi informasi yang diberikan Verlita selain foto ini?" Ada rasa ingin membuka sendiri isi map yang masih terbuka lebar di meja kerja Aldi itu.


"Sisanya belum aku verifikasi kebenarannya, Ra. Biarkan aku menyelidikinya terlebih dahulu sebelum membagikan keseluruhan informasinya ke kamu." Aldi menatap Kiara, seolah meminta pengertian.


"Baiklah." Hanya itu yang bisa Kiara ucapkan. Dia tidak mungkin memaksa Aldi menceritakan apa saja yang mereka lakukan dalam waktu lebih dari 30 menit di ruangannya. Hati Kiara merasa bisa saja keduanya melakukan hal-hal yang dulu pernah mereka lakukan ketika masih berpacaran. Hal itu sangat mungkin keduanya lakukan di kantor ini ketika tidak ada satupun orang yang membuat mereka malu akan tertangkap basah. Satu-satunya yang bisa bebas keluar masuk ke sini hanya dia dan Daniel. Namun Aldi telah membuat dia dan Daniel menjauh dari sini.


Kiara berusaha dengan sangat keras agar menajga pikirannya untuk menutup perasaan buruk dan dugaan yang buruk mengenai Aldi.


Hubungan mereka hanya bisa berjalan jika didasari dengan kepercayaan. Kiara memutuskan untuk mempercayai pria ini saat ini. Meskipun hatinya masih saja merasa berat dengan beberapa hal yang tidak diceritakan oleh Aldi.


🌸🌸🌸🌸


Hai Readers


Maaf ya abis ngilang nggak update 4 hari. Ada acara nikahan saudara selama beberapa hari yang menyita waktu bangets.. Hari ini bakal upload 2 chapter kok minimal.. Ditunggu ya..

__ADS_1


_Dinda^^


__ADS_2