
"Aku harap malam ini kamu mau bicara sama aku." Ferdi meletakkan lilin di atas meja nakas di samping tempat tidur Kiara. Ferdi ingin melihat wajah Kiara dengan lebih jelas. Wajah itu selalu menjadi candu baginya sejak kecil. Wajah malaikat yang membuatnya jatuh cinta, wajah Adelia.
"Aku sudah bersabar hingga satu minggu ini. Bicaralah, baby." Ferdi berbicara dengan perlahan. Dia duduk di ranjang yang sama dengan Kiara. Duduk di hadapan Kiara dengan sedikit menjaga jarak.
"Aku tidak akan menerkam kamu seperti hari pertama kamu berada di rumah ini. Kamu pasti sudah mendengar suara jeritan perempuan yang aku jadikan pelampiasan hasratku sejak pagi. Aku menggunakan dia agar bisa menekan perasaanku untuk menyentuhmu. Percayalah, baby. Aku hanya ingin kita dekat. Aku ingin bisa beragi cerita denganmu." Ferdi masih saja berbicara meski Kiara belum melontarkan perkataan satu pun. Ferdi dengan sabar berbicara kepada wajah sang kekasih yang sangat dia rindukan.
"Katakanlah sesuatu. Apapun akan aku dengarkan. Aku janji tidak akan marah. Aku telah melampiaskan semua emosi dan kemarahanku sejak pagi ini. Sekarang emosiku cukup terkendali, baby." Ferdi menatap Kiara dengan penuh damba.
"Berhenti menyebutku 'baby'. Aku punya nama." Kiara mencoba menguji emosi pria di hadapannya.
Ferdi tersenyum mendengar perkataan Kiara. Ferdi senang akhirnya wanita pujaannya ini mau berbicara kepadanya.
"Maafkan aku. Biasanya kamu senang dengan panggilan sayang aku itu. Aku akan memanggil kamu Adelia lagi ya." Senyum Ferdi tak kunjung hilang dari bibirnya.
"Aku bukan Adelia." Sahut Kiara.
"Aku tahu. Aku tahu kamu bukan dia. Tapi wajah kamu saat ini persis seperti Adelia. Kamu bisa pilih, aku panggil Adelia atau baby."
"Aku tidak menyukai kedua panggilan itu." Kiara masih tidak percaya pria ini bisa menahan emosinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memikirkan panggilan lain yang aku suka. Bisakah kita hentikan pembahasan mengenai panggilan kamu ini, cantik. Aku ingin membahas kebersamaan kita. Kamu pasti bisa merasakan betapa aku rindu sama kamu." Ferdi mengulurkan tangan berusaha menyentuh Kiara. Tapi Kiara bergeser agar tidak tersentuh oleh Ferdi.
Ferdi tertegun dengan reaksi wanita di hadapannya. Ferdi memperhatikan tangannya agak lama. Tangannya meraih kehampaan. Wanita di hadapannya menghindari sentuhannya.
"Maaf, aku lupa. Aku sudah berjanji tidak menyentuhmu. Barusan aku terlalu senang. Aku lupa bahwa kamu belum mau ku sentuh. Sama seperti dulu ketika kamu pertama bertemu denganku. Kamu menganggap aku anak ingusan yang baru lulus kuliah dan tidak berpengalaman. Kamu tidak yakin aku bisa diandalkan dan bisa memenuhi kebutuhan biologis kamu, Del."
"Tahu nggak, Del. Sejak aku dapat informasi bahwa kamu punya beberapa pacar di luar suami kamu, aku bertekad untuk bisa menjadi salah satu pacar kamu. Aku menyelidiki hampir semua pacar kamu yang jumlahnya puluhan itu. Aku berusaha mencari tahu apa yang kamu suka dari pacar-pacar kamu itu."
"Setelah aku mengumpulkan cukup informasi, aku rajin berolahraga untuk meningkatkan staminaku. Aku belajar banyak cara menyenangkan wanita di ranjang. Awalnya aku hanya belajar dari video. Tapi kemudian aku bertemu wanita malam yang bilang bahwa kemampuan menyenangkan wanita tidak bisa dipelajari teorinya saja. Aku harus mempraktekkannya. Aku harus menjadi pria dengan cukup banyak pengalaman."
"Dari situlah aku mulai melirik wanita lain selain kamu, Del." Ferdi berhenti sejenak dari narasi ceritanya. Menatap dengan intens wajah Kiara yang begitu mirip dengan Adelia, sang kekasih.
"Aku sadar bahwa diriku memiliki selera yang cukup tinggi terhadap wanita. Jadi aku tidak bisa mempraktekkan ilmu yang aku pelajari dalam urusan ranjang ke sembarang wanita. Wanita yang menjadi partner ranjangku harus lah cantik. Dan aku menginginkan wanita yang sangat mirip dengan kamu, Del."
'dasar pria sakit.' Batin Kiara memaki Ferdi. 'Jadi penyakit obsesi kamu ke tante Adelia ini sudah sejak lama. Pantas saja aku ikut jadi korban penyekapan kamu ini.'
"Aku akhirnya menemukan wanita cantik yang lumayan mirip kamu, Del. Waktu itu aku butuh satu minggu lebih menemukannya. Karena itu adalah saat pertama aku, maka aku mencari wanita yang berpengalaman. Aku mencari wanita malam yang cantiknya mendekati kamu, Del. Aku menghajar habis wanita itu berkali-kali. Tapi anehnya wanita malam itu masih saja bertahan. Dia bahkan seolah bisa mengimbangi staminaku. Bahkan wanita itu masih bisa melayani beberapa pria lain sesudahku. Aku merasa belum mampu menjadi kandidat kekasih kamu."
"Aku pun menunda mendekati kamu. Aku semakin sering praktek dengan wanita malam. Di siang hari aku bekerja mengumpulkan pundi rupiah sekaligus berusaha agar kamu melirik pekerjaan aku yang baik. DI malam hari aku berkencan dengan wanita-wanita malam yang berpengalaman. Aku mulai mengajak mereka bicara mengenai apa yang mereka sukai dan bagaimana teknik yang aku gunakan dalam menyenangkan mereka. Aku berusaha membuat mereka tak berdaya ketika bertemu denganku."
__ADS_1
"Dan kamu tahu, Del. Aku akhirnya berhasil menaklukkan para wanita itu setelah satu tahun berlatih tiap malam. Saat itulah aku mulai mendekati kamu. Dari dulu aku selalu berjuang menajdi kekasih kamu yang terbaik. Aku selalu mencintai kamu dengan segenap jiwaku, Del. Bahkan aku selalu membayangkan kamu setiap aku melakukan hal itu dengan wanita lain. Aku selalu memanggil nama kamu dan meneriakkan nama kamu. Aku selalu membuat penerangan seperti ini agar wajah wanita-wanita itu lebih mirip seperti kamu."
Mendengar ini, Kiara jadi paham tujuan lampu yang temaram dengan cahaya lilin saat ini. Kiara merasa kasihan dengan pria di hadapannya yang jatuh cinta dengan begitu dalam kepada orang yang tidak layak mendapat cintanya. Pria ini telah lama disesatkan oleh wanita yang dia cintai. Jika dia jatuh cinta kepada wanita baik-baik, mungkin nasibnya tidak akan tampak seperti pria setengah gila begini. Kiara amat menyayangkan bakat dan kecerdasan pria ini. Ferdi bisa meraih masa depan yang baik jika bertemu dan jatuh cinta dengan wanita yang baik.
"Tatapan kamu ke aku kini berubah. Apa kamu sudah ingat dengan perasaan cinta kamu ke aku? Kamu ingat kan saat pertama aku berhasil bikin kamu melayang ke angkasa semalaman?"
Kiara bingung dengan ferdi yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan. Kiara tidak siap menjawab, juga tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Pria di hadapannya ini bisa tiba-tiba melupakan segalanya jika Kiara salah jawab. Kiara tidak mau dianggap sebagai Adelia yang bisa dia sentuh seenaknya.
"Aku sempat melihat tatapan cinta kamu meski sekilas, baby. Apakah malam ini kamu dah bersedia kembali aku rengkuh? Aku janji tidak akan melakukannya semalaman, baby. Tenagaku sudah terkuras banyak seharian ini dengan wanita liar di kamar sebelah. Mungkin aku hanya bisa melakukannya sekali saja sama kamu, Del."
Kiara semakin merasa memasuki krisis dalam hidupnya. Kiara berpikir cepat agar bisa menghindar dan menolak pria ini lagi.
🌸🌸🌸🌸
Hai readers..
Kiara bisa nolak Ferdi sebelum Aldi dan Bima tiba nggak ya?
_Dinda ^^
__ADS_1