Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Adelia yang Cantik Jelita


__ADS_3

"Gugatan cerai ini akan mengakhiri kekuasaan ku akan harta Damien" Adelia sedang duduk di ranjang dimana beberapa saat yang lalu dirinya dipuaskan oleh  prianya.  Adelia merokok sambil memikirkan banyak hal.


"Ya, Aku tahu." Jawab partner ranjang Adelia, "Tapi aku masih di BLUE CORP. Tidak ada yang menduga bahwa aku kekasih kamu. Mereka kira aku hanya pria polos yang selama ini menyukai dan mengejar-ngejar Verlita tapi tidak pernah dapat tanggapan darinya."


Sang pria tertawa tiada henti. Membuat Adelia juga ikut senang.


"Maaf ya. Selama ini sudah cemburu dengan kedekatan kamu sama Verlita dan sering bertengkar karena hal itu. Aku kira kamu mencari yang lebih muda dari aku." Adelia mengelus pelan dada bidang sang pria.


"Aku senang kamu cemburu, sayang. Tapi dari dulu aku selalu bilang sama kamu, yang lebih muda banyak. Tapi kamu yang paling cantik di antara mereka yang masih muda. Aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali kamu muncul dalam hidupku. Harus berapa kali aku ulangi hingga kamu percaya sama aku" Sang pria balas mengelus pipi Adelia.


"Ya, kini aku percaya kamu cinta banget sama aku. Aku juga semakin menyukai kamu. Kamu sangat bisa diandalkan." Adelia balas mencium pipi pria itu.


"Hanya kecupan kecil?" Sang pria memprotes.


"Mau lagi?"


"Kamu paling tahu aku tidak bisa puas hanya sekali."


"Inilah alasanku sejak awal menyukai kamu. Kamu bisa memuaskan aku berkali-kali."


"Kita saling memuaskan, Adelia," sang pria bersama Adelia mengulang kembali olahraga malam yang baru saja mereka selesaikan.


Adelia selalu merasa dimanjakan oleh pria muda ini. Dari sekian banyak pria yang Adelia kencani, pria ini juga selalu bisa diandalkan dalam banyak hal. Hanya satu kekurangannya, dia tidak setampan pria cantik yang kadang-kadang menemani malam Adelia yang sepi.


Pria di hadapannya ini sangat unik. Dia selalu berhati-hati dalam segala hal. Biasanya Adelia bertemu dengan teman kencannya di hotel, diskotik atau pun di rumahnya sendiri. Tapi sang pria tidak pernah mau di tempat-tempat itu.


Apartemen ini satu-satunya tempat mereka bertemu dan memadu kasih. Usai menuntaskan hasrat mereka masing-masing, Adelia dan sang pria akan kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Itulah yang membuat keberadaan sang pria tidak bisa ditemukan dan ditangkap oleh Damien seperti partner ranjangnya yang lain.


"Kamu satu-satunya priaku yang paling hebat, sayang." Bisik Adelia usai olahraga sesi kedua mereka.


"Ketika semua pria yang pernah berkencan denganku masuk penjara karena ulah Damien, kamu seorang yang lolos. Aku perlu belajar lebih berhati-hati seperti kamu."

__ADS_1


"Sekarang kamu paham, kan. Kenapa kamu perlu datang ke apartemen ini setiap kali menginginkan diriku? Di sini ku jamin aman. Tidak mungkin suami kamu bisa menemukan bukti hubungan kita."


"Iya, paham. Tapi jangan sebut dia suamiku lagi" Adelia selalu ingin marah mengingat pria yang sebentar lagi bukan lagi suaminya itu.


"Ngomong-ngomong soal suami kamu. Sebentar lagi ada lowongan kosong untuk jadi suami kamu." Sang pria melirik Adelia.


"Aku tidak sedang membuka lowongan" Adelia tidak ingin membahas topik ini.


"Aku tahu kekuranganku, Adelia."


"Kita sudah pernah membahas hal ini." Adelia muak jika pria ini mengungkit mengenai hal ini.


"Jadi apakah aku akan memiliki kesempatan menjadi satu-satunya pria dalam hidupmu usai kamu berpisah dari Damien?"


"Kamulah satu-satunya priaku saat ini, sayang. Apa itu belum cukup?"


"Untuk saat ini mungkin iya. Maukah kamu selamanya hanya menatapku sebagai pria kamu?"


"Aku bisa membawa kekayaan Damien ke tangan kamu. Tapi aku tidak bisa menjadi tampan melebihi para pria yang pernah kamu kencani."


"Aku hanya membutuhkan ini dari priaku." Adelia membelai pusaka sang pria yang masih saja siap memuaskan Adelia, "Wajah tampan tidak bisa mengalahkan dia."


"Aku akan berusaha agar kamu selalu puas bersamaku, Adelia" Kali ini sang pria mencecap bibir manis Adelia.


"Kamu selalu bisa memuaskan aku dan membuatku melupakan semua permasalahan hidupku." Adelia tidak melepaskan tautan mereka, sengaja mengucapkannya ketika suara decakan lidah mereka mewarnai kalimat yang Adelia ucapkan.


"Apakah kamu serius akan mengambil apa yang ada di tangan Damien untuk kau serahkan ke tanganku?" Adelia masih merayu sang pria dengan bibir manis dan keinginannya.


"Jika kamu menginginkan BLUE CORP sepenuhnya menjadi milik kamu, aku akan melakukannya." Sang pria semakin tidak tahan melanjutkan sesi olahraga kesekian kalinya.


"Kamu bisa melakukannya?" Adelia terperanjat dan menjauhkan diri dari sang pria untuk menatap keseriusan di matanya.

__ADS_1


"Asal kamu menginginkannya, sayang." Kabut tipis sudah menutupi mata sang pria. Tatapan sang pria seolah memohon untuk menyentuh Adelia kembali


"Tentu saja. Sejak awal aku bersedia hidup bersama Damien hanya untuk menjadi nyonya dari pemilik BLUE CORP. Tapi gelar nyonya itu kini akan hilang. Jika aku adalah pemilik BLUE CORP itu sendiri, maka selamanya aku akan memilikinya."


"Baiklah. Aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan, Adelia." Sang pria sudah tak bisa menahan diri untuk kembali mengubur dirinya di dalam diri Adelia untuk kesekian kalinya.


Sang pria seolah tak pernah puas memandang wajah cantik Adelia dan menundukkan Adelia di bawah dirinya seperti ini.


Membuat wanita itu berteriak hingga menyebut namanya dalam sesi ini adalah satu-satunya hal yang menjadi keinginan sang pria selama ini. Dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan hal itu.


Sesi olahraga kali ini adalah yang terakhir. Adelia sudah terlelap kelelahan. Biasanya mereka tidak pernah menginap. Setelah menuntaskan kebutuhan terhadap satu sama lain, keduanya akan kembali ke hidup mereka masing-masing seolah tidak saling kenal.


Tapi kali ini sang pria telah menjanjikan hal yang paling Adelia inginkan. Adelia seolah diajak terbang dengan janji manis pria ini. Beban pikirannya berhari-hari ini telah diangkat dari pundaknya hingga dia tidur nyenyak.


Sementara itu sang pria malah menggantikan Adelia merokok sambil menyusun rencana pengambilalihan Blue Corp. Hingga pagi datang pun sang pria tidak tidur. Dia tidak bisa sekedar bermain aman seperti sebelumnya. Sifatnya yang suka berhati-hati membuatnya mempertimbangkan langkah dari berbagai sisi.


Merasa pikirannya penuh dengan berbagai rencana dan kemungkinan, sang pria kembali ke sisi sang pujaan hati, Adelia. Adelia yang berusia awal 30 tahun masih sangat cantik. Jarak usia Adelia dengan Damien yang terpaut 20 tahun membuat hati sang pria perih.


Gadis 18 tahun menikah dengan pria 38 tahun sebagai istri kedua. Adik Damien yang berusia 28 tahun tidak mau menerimanya.


"Kasihan sekali kamu, Adelia. Kamu telah mengorbankan banyak hal. Bahkan rahim kamu sendiri telah kamu korbankan untuk sekedar mempertahankan status sebagai istri kedua yang hanya sah secara agama." Sang pria membelai rambut pujaannya.


Sang pria mencium bibir manis Adelia yang sedikit membuka ketika tidur. Rasanya sungguh manis hingga sang pria tak dapat menghentikan aksinya.


"Sayang. Kamu mau ngajak olahraga pagi?" Adelia membuka mata


"Hanya jika kamu bersedia, sayang."


"Selalu bersedia, sayang."


Mendengar jawaban Adelia, sang pria kembali menunjukkan keahliannya dalam membuat Adelia ketagihan terhadap kehadiran pria ini. Jeritan pagi Adelia bagai musik yang menyemangati harinya di kantor nanti.

__ADS_1


Meski tanpa tidur sedetikpun, Adelia yang cantik jelita di mata sang pria merupakan ekstasi yang memberikan kekuatan lebih bagi pria ini untuk melakukan segala hal.


__ADS_2