
Kiara mengambil cuti menikah selama tiga hari. Tiga hari ke depan Kiara akan pergunakan sebaik mungkin untuk meyakinkan dirinya jalan yang dia tempuh ini adalah yang paling baik untuk hidupnya. Kiara akan berusaha bahagia, tertawa dan tetap berkarya.
Karya pertama sebagai seorang istri di pagi hari tentu saja membuat sarapan untuk dirinya dan juga sang suami. Tadi malam Kiara tidur dengan nyenyak. Begitu mendengar adzan shubuh, Kiara bangun tidur dengan merasa segar dan bersemangat. Meski Aldi berbicara dengan hemat, sejauh ini Aldi bersikap baik dan tidak pernah membuat Kiara sakit hati. Mungkin terkadang Aldi berbicara dingin, kasar dan membuatnya emosi. Tapi jika Kiara sudah memahami maksud dari perkataannya, Aldi bisa masuk ke golongan pria yang tidak banyak bicara tapi memiliki pemahaman tinggi mengenai apa yang dia hadapi. Dan yang paling penting, suaminya sangat tampan, bertubuh tinggi dan atletis.
Usai cuci muka dan sholat shubuh, Kiara turun ke lantai satu untuk memulai karya pertamanya di dapur baru ini. Kiara hendak melihat bahan-bahan yang tersedia di dapur terlebih dulu. Tapi alangkah terkejutnya Kiara melihat Aldi sedang duduk di sofa ruang tamu dengan laptop yang menyala dan tumpukan berkas yang tampak rapi. Kiara berpikir apa mungkin pria ini sejak semalam berada di sini dan tidak tidur?
Dengan menyembunyikan keterkejutannya, Kiara menyapa dengan ceria, "Selamat pagi Aldi"
Aldi yang baru menyadari Kiara sudah bangun, hanya menoleh sebentar tanpa membalas sapaan Kiara. Kemudian menatap kembali layar laptopnya. Aldi melanjutkan mengetikkan banyak hal di layar laptopnya yang tampak seperti kata. angka dan karakter yang tak satupun Kiara paham maksudnya. Melihat itu Kiara baru sadar bahwa Kiara pernah diberi tahu bahwa aldi seorang programmer di perusahaan yang sama dengan Bella.
Melihat Aldi yang masih fokus mengetikkan banyak hal di layar laptopnya, Kiara berlalu ke dapur. Setelah membuka kulkas dan beberapa kabinet, Kiara menemukan apa yang dia cari. Menu sarapan pagi ini Kiara membuat oatmeal dengan campuran buah. Juga memanggang roti gandum yang diambil dari kulkas. Kemudian menghangatkan susu cair yang juga tersedia di kulkas. Kiara menyiapkan meja makan dan meletakkan semua makanan di situ.
Kiara hendak memanggil Aldi untuk sarapan ketika Aldi sendiri sudah duduk di meja makan. Masih tidak ada suara yang diucapkan pria itu. Tapi meja ruang tamu telah Aldi bersihkan dari dokumen yang bertumpuk tadi. Laptop Aldi juga sudah tidak ada di meja ruang tamu. Tampaknya pekerjaan Aldi tadi sudah mau selesai. Berbicara dengan Kiara ketika disapa mungkin bisa mengganggu konsentrasi mengetikkan program-program yang tidak Kiara pahami tadi.
Meski ketika berkata-kata selalu terdengar dingin dan acuh, pria ini memahami apa yang harus dia lakukan ketika berada di sekitar Kiara. Memikirkan hal ini, Kiara merasa tenang. Setidaknya hidupnya tidak akan menjadi terganggu.
Kiara sendiri tidak suka makan dengan seseorang tanpa mengobrol sedikitpun begini. Rasanya terlalu sepi. Kiara ingin memulai obrolan ringan dengan Aldi. Tapi tidak tahu apa yang akan membuat Aldi tertarik. Aldi juga bukan tipe pria yang tiba-tiba menceritakan hal-hal tentang dirinya supaya mereka berdua saling akrab dan saling mengenal.
"Jam 10 nanti saya jemput kamu untuk belanja pakaian dan juga kebutuhan rumah." Kalimat pertama yang keluar dari mulut Aldi pagi ini mengagetkan Kiara.
__ADS_1
Kiara yang hanya diam membuat Aldi kembali berkata, " Saya mau ke kantor dulu sehabis ini. Lagian Mall baru buka jam 10 ke atas."
"Oke. Makasih. Oh iya. Baju yang aku pakai ini semalem kamu yang belikan sendiri?"
"Tentu saja. Masa mbak-mbak yang semalam bergosip di samping kamu itu mau aku suruh beli baju buat istriku?" Aldi kini malah terkesan emosi dipertanyakan kebaikannya. Memangnya siapa lagi yang mau Aldi suruh malam-malam untuk beli baju perempuan.
"Iya. Makasih sekali lagi kalau gitu." Kiara senang sudah diperhatikan kebutuhannya oleh pria ini. Sepertinya menikah dengan pria asing ini tidaklah seburuk yang Kiara bayangkan sebelumnya.
"Apa kamu sedang banyak pekerjaan?" Kiara bertanya dengan sedikit ragu.
"Lumayan." Aldi menjawab dengan singkat.
"Lalu?" Aldi mengangkat alisnya menatap Kiara. "Mau mengajak saya pergi bulan madu?"
"Tentu bukan."
"Syukurlah. Jika kamu mau bulan madu, kamu sudah siap saya apa-apakan dong. Padahal saya masih belum siap buat mau ngapa-ngapain kamu." Ada senyum samar di bibir Aldi.
"Saya hanya mau mencocokkan jadwal sama kamu. Kalau kamu 3 hri ke depan masuk kerja ya saya akan di rumah saja jadi istri hang baik." Kiara mulai salah tingkah.
__ADS_1
"Hari ini saya luangkan waktu untuk kamu. Untuk besok saya masih belum tau."
"Oke. Jam sepuluh nanti saya akan siap kamu jemput. Kita akan ke Mall yang semalam tertunda?"
"Ya."
Aldi kini beranjak dari kursi makannya. Hendak cuci tangan dan mencuci peralatan makan yang dia gunakan. Kiara hanya memperhatikan dari ekor matanya ketika pria tampan ini fokus mencuci piring kotor, gelas dan sendok yang tadi sempat dipakai olehnya. Tidak hanya itu. beberapa peralatan dapur seperti panci dan mangkuk maupun piring kecil yang tadi Kiara pergunakan untuk masak juga ikut dicuci oleh Aldi.
Pemandangan Aldi yang tampan sedang mencuci piring sungguh langka. Meski wajahnya masih tampak dingin tanpa ekspresi sedikitpun, gerakannya tidak kikuk atau ada rasa risih mencuci piring dan peralatan masak yang kotor. Kenapa pria tampan masih saja nampak kharismatik meski hanya mencuci piring.
Usai mencuci semua yang ada di bak cuci piring, Aldi mengeringkan tangan dan kembali ke kamarnya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya meski sekedar mengajak berbasa-basi kepada Kiara.
Kiara sendiri membersihkan peralatan makannya dan melanjutkan merapikan dapur dan membersihkan rumah. Setengah jam berlalu, Aldi sudah siap berangkat ke kantornya. Tampilannya yang hanya mengenakan kemeja warna abu-abu gelap dan celana bahan biasa sudah sangat menyilaukan mata Kiara. Ditambah dengan tas ransel berbahan kulit yang bergantung di kedua bahunya membuat dada bidangnya semakin terlihat membusung. Tampak gagah.
Melihat Kiara sedang memegang sapu untuk membersihkan lantai ruang tamu, Aldi berhenti di sampingnya. "Tidak usah membersihkan rumah. Jam 8 nanti ada yang akan datang untuk membersihkan rumah. Juga mencuci dan menyeterika semua baju-baju."
Tanpa menunggu jawaban Kiara, Aldi berlalu ke garasi dan memasuki mobilnya. Tidak ada pamitan maupun acara cium tangan. Kiara hanya tertegun sambil memegang sapu.
Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kiara berpikir, 'Sebenarnya pria ini perhatian apa tidak sih?'
__ADS_1