Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Rasa Frustasi Aldi


__ADS_3

Begitu mendengar kabar Kiara sudah mendapat kiriman foto kebersamaannya dengan Verlita dari Bima, Aldi yang langsung tancap gas menyetir seorang diri dengan mobil sportnya.


Kini Aldi juga baru tiba di panti asuhan ketika Kiara masih tak sadarkan diri di rumah sakit.


"Nak Aldi sudah datang? Kok mobilnya lain dengan yang kemarin dibawa ke sini."


"Iya, bunda. Kemarin ke sini sama Kiara. kasihan kalo Kiara diajak ngebut. Ini butuh segera sampai. Jadi menggunakan mobil lainnya yang lebih bisa diajak cepat sampai."


"Ada apa kok buru-buru ingin cepat sampai, nak?"


"Ada kesalahpahaman, bunda. Saya harus segera menemui Kiara."


"Pantas saja Kiara tadi permisi ke danau untuk mencari udara segar."


"Apa Kiara pergi?"


"Iya, nak Aldi. Kiara pergi sejak sore. Tapi menjelang petang tadi nak Bima juga datang ke sini mencari Kiara. "


"Bima yang mantan kekasihnya Kiara itukah Bunda?"


"Iya, nak. Dia juga ke sini mencari Kiara. Jadi bunda kasih tahu kalau Kiara ke danau."


"Kapan tepatnya Bima sampai di sini, bunda?"


"sekitar dua jam yang lalu, nak"


"Baik, bunda. Saya juga akan menyusul Kiara ke danau."


"Hati-hati ya, nak." Bunda hendak melambaikan tangan mengucapkan selamat jalan, tapi dia mengingat sesuatu.


"Tunggu nak Aldi. Telepon Kiara ketinggalan di kamar. Sejak tadi banyak yang menelepon. Berbunyi terus-menerus."


Jadi Kiara bukannya tidak mau mengangkat teleponnya sejak tadi. Tapi ponselnya tidak terbawa. Aldi kini mendapat jawaban dari kegelisahannya mengenai teleponnya yang sejak tadi tidak diangkat.


"Baik, bunda. Saya mampir ke kamar dulu ambil ponsel Kiara." Aldi memasuki kamar yang penuh kenangan manis.

__ADS_1


Di kamar itu mereka berdua saling mengakui apa yang sudah mengganjal di hati masing-masing. Di kamar itu pula pertama kalinya Aldi bersama menghabiskan waktu dengan Kiara yang tidur di pelukannya hingga pagi.


'Kiara, kamu sudah berjanji akan percaya sama aku. Nunggu aku kembali dengan pikiran positif. Kamu berjanji untuk enggak merisaukan apa kata dunia tentang aku, Ra. Ingatlah, Ra.' Aldi memohon dalam hati. Berharap sampai ke hati Kiara yang saat ini entah berada dimana.


Ponsel Kiara tergeletak di atas ranjang. Aldi tidak tahu sandinya. Tapi bukan masalah besar bagi Aldi untuk bisa membuka pola kunci milik ponsel Kiara.


Dalam 10 menit melakukan sesuatu terhadap ponsel Kiara dan ponselnya, Aldi sudah bisa membuka ponsel Kiara. Usai bisa membukanya, Aldi mengganti password ponsel itu dengan nomor pin yang Aldi inginkan.


Yang pertama kali Aldi cek adalah aplikasi terakhir yang Kiara gunakan. Ternyata aplikasi pesan adalah yang terakhir digunakan. Sedangkan pesan yang terakhir terbaca oleh Kiara adalah foto-foto dirinya bersama Verlita yang tampak memuakkan dan tampak asli.


Melihat foto-foto itu membuat Aldi meragukan dirinya sendiri. Seolah Aldi benar-benar melakukannya bersama Verlita. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kiara melihat hal ini.


Aldi menjadi semakin geram. Tapi masih ada satu hal yang aneh. Bima kok bisa sampai di sini dua jam sebelum dirinya?


Aldi yang menggunakan mobil sport bisa memangkas 2 jam perjalanan. Aldi bisa mencapai kecepatan rata-rata 120 km/jam dengan mulus tanpa getaran ketika berada di jalan tol. Tapi bagaimana dengan Bima? Yang paling mungkin hanyalah dengan penerbangan pribadi. Aldi harus mencari tahu.


"Daniel, selidiki agenda Bima usai bertemu denganku di hotel tadi." Aldi menyampaikan dengan singkat dan jelas instruksinya kepada sang asisten melalui telepon.


"Baik, pak." Daniel mengakhiri panggilan dengan sang CEO dan mengerjakan perintahnya.


"Juga selidiki aset Atmaja grup di bidang jet pribadi atau helikopter pribadi. Temukan semua detailnya. Dimana landasannya berada di setiap kota. Juga informasi mengenai pilot mereka. Dan kirimkan kepadaku semua informasinya malam ini juga."


Aldi menyelesaikan semua yang perlu dilakukan di panti asuhan dan bergegas ke danau.


Butuh waktu perjalanan sekitar sejam dengan angkutan umum. Tapi Aldi bisa mencapai setengah jam saja dengan mobil sportnya.


Aldi menyisir seluruh area danau dan mencari tanda-tanda keberadaan Kira maupun persembunyiannya.


"Kiara!" Panggil Aldi dalam rasa frustasinya.


"Kiara! Kamu dimana, Ra" Tiada henti Aldi memanggil dan mencari.


Hingga sejam lamanya Aldi memanggil dan mengelilingi danau. Tapi Kiara tak kunjung Aldi temukan.


"Kamu dimana sayang? Kamu sudah berjanji menanti aku menjemput kami, Ra. Keluarlah." Aldi lelah mencari. Jiwa raganya lelah sekali.

__ADS_1


 *****


Kiara tidak sadarkan diri ketika dokter datang menangani luka-luka lecet di lututnya.


"Seharusnya pasien baik-baik saja dengan luka lecet sekecil ini. Tidak akan sampai pingsan seperti ini." Dokter menghadapi Bima usai luka Kiara diobati dan diperban.


"Dia sedang depresi, dok."


"Kami akan memberikan cairan infus agar bisa memasukkan makanan. Seharian ini pasien tidak memakan apapun."


"Baiklah dok."


"Kita tunggu setelah satu tabung infus habis. Baru memutuskan apa pasien perlu di rawat inap atau pulang."


"Baik, dok. Lakukanlah yang terbaik. Saya akan mengurus administrasi dan pembayarannya dulu."


"Kami permisi."


Bima duduk di samping Kiara. Dia memandangi wajah Kiara yang tampak lelah dan pucat.


'Kenapa kamu seperti ini, Ra.'


'Apa kamu sudah mencintai Aldi dengan sebegitu besar? Bagaimana denganku, Kiara.' Bima menggenggam tangan Kiara dan mempertanyakan semua ini dalam hati.


Kiara yang terlelap tidak bisa tidur nyenyak. Kiara bermimpi ada yang sedang mencari dan memanggil-manggilnya.


Kiara terhanyut ke dalam mimpi lain.


'Jika suatu saat ada alasan yang bikin kamu ingin menghilang dari hidupku, jangan lakuin itu, Ra.' Sebuah suara yang sangat familiar dan Kiara rindukan bergema. Tanpa terlihat sosok yang mengucapkannya. Kiara juga merasa pernah mendengarnya.


'Berjanjilah untuk tidak menghilang dari hidupku, Ra. Apapun yang terjadi' Kiara merasa hangat mendengar suara yang sama. Lagi-lagi Kiara merasa pernah mendengar kalimat ini.


'Aku mau kamu hidup dengan nyaman tanpa ada rasa sakit atau pun penderitaan sama sekali.' Kali ini Kiara melihat Aldi menggenggam tangannya. Tapi Kiara merasa sakit dan mulai menangis


'Aku juga sangat ingin bisa berbagi hal ini sama kamu, Ra. Tapi aku tidak ingin kamu terlibat dalam hal yang membuat kamu menderita ataupun sakit.' Bulir-bulir air mata mengalir ke pipi Kiara yang dalam kondisi tak sadarkan diri.

__ADS_1


Melihat bulir air mata Kiara di hadapannya membuat Bima terkejut bercampur sedih. Kiara tak bergerak maupun bersuara. Tapi hanya mengeluarkan derai air mata menahan rasa sakitnya.


Bima tertegun cukup lama. Hatinya ikut sakit melihat kondisi Kiara seperti ini. Dia mulai mempertanyakan tindakannya sendiri. Benarkah yang sudah kulakukan terhadap gadis yang teramat ku sayang ini?


__ADS_2