
"Kita berangkat ke Jakarta sekarang?" Kiara melihat situasi di luar hotel yang masih gelap. Sementara Aldi sedang membantu Kiara berkemas. Aldi tidak membawa banyak baju dan barang, jadi Aldi tidak perlu mengemas apapun.
"Aku sudah memesan Jet Pribadi Om Damien untuk menjemput kita. Satu jam lagi tiba di kota ini." Aldi berbicara sambil tetap sibuk berkemas.
"Butuh waktu juga untuk kita pergi ke landasan jet pribadi tersebut. Letaknya ada di kota sebelah. " Aldi paham wajah penuh tanya Kiara yang diajak tiba-tiba berkemas ketika jarum pendek jam masih menunjuk angka 2.
"Maafkan aku. Kita pergi di pagi buta seperti ini. Padahal kamu lagi sakit. Tapi aku harus tiba di Jakarta pagi ini." Aldi mendekati Kiara yang dari tadi hanya memperhatikan Aldi berkemas tanpa mengeluarkan suara.
"Ada apa di Jakarta hingga kamu harus segera tiba?"
"Masih sangat haus informasi, sayang." Aldi tersenyum menatap Kiara
'Sayang. aku senang Aldi memanggilku sayang.' Batin Kiara.
"Bima akan melakukan pertahanan akan seranganku kepada Atmaja Grup. Berada jauh dari pusat kendali di Jakarta agak menyulitkan. Peralatanku tidak bisa berfungsi dengan kecepatan terbaiknya di sini." Aldi menunjuk satu tas berisi laptop dan peralatan yang asing bagi Kiara.
"Apa yang akan kamu lakukan kepada Bima?"
"Dia harus meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Banyak skenario yang ada di benakku untuk dia. Aku baru melakukan yang termudah untuk ditangani. Sebab aku berada di sini."
Dalam perjalanan, Kiara hanya diam memikirkan banyaknya informasi baru yang kemarin Aldi ceritakan.
"Mikirin apa?" Aldi menggenggam telapak tangan Kiara yang sejak tadi hanya memandang ke luar jendela mobil.
"Kamu sudah menyembunyikan banyak hal. Tidak pernahkah kamu merasa terbebani dengan semua rahasia yang harus kamu tutupi? Tidak pernahkah kamu ingin membagi beban kamu dengan orang lain, Al?"
"Aku sudah melakukannya sama kamu." Aldi mengecup tangan Kiara yang masih dia genggam.
"Tapi tidak semuanya." Kiara memprotes.
"Iya, bertahap Ra. Kamu boleh nanya apa aja yang menjadikan kamu penasaran."
"Aku penasaran sama keluarga kamu. Om Damien, Mama dan juga Mike."
"Mike?" Aldi mengerutkan dahinya. "Kamu sudah kenal Mike."
"Kamu nggak pernah mengijinkan aku berbicara sama dia. Kamu kelewat cemburu kalo aku ngobrol sama pria lain." Kiara menarik tangan yang berada di genggaman Aldi dan bersedekap di dadanya.
"Baguslah kalo kamu tahu aku mudah cemburu. Bahkan sama Mike."
"Poinnya bukan di situ Al."
"Iya, aku akan kenalkan kamu sama om dan Mike. Tunggu kita pindah ke rumah utama peninggalan kakek ya. Kita nanti bikin syukuran satu bulan pernikahan kita."
__ADS_1
Kiara tidak menjawab. Menanti penjelasan Aldi lebih jauh.
"Aku masih belum mendapatkan warisan kakek, Ra. Dalam wasiat tertulis bahwa aku bisa mendapatkan kembali hak-hakku atas warisan yang seharusnya milik ayahku jika kita sudah menikah selama satu bulan."
"Kapan tepatnya itu? Kamu pasti sudah lama menanti hari itu." Kiara bertanya kembali.
"Tiga hari lagi." Aldi meraih kembali tangan Kiara. Sementara Kiara tersipu malu mendengar mereka sudah menikah selama satu bulan dalam 3 hari ke depan.
Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing dan hanya diam sambil berpegangan tangan hingga tiba di landasan jet pribadi.
"Kita akan kembali ke rumah kita?" Kiara kembali bertanya begitu sudah duduk nyaman dalam pesawat pribadi milik BLUE CORP.
Keduanya duduk berhadapan di pesawat. dengan dipisahkan oleh sebuah meja dimana beberapa makanan ringan telah disajikan oleh pramugari.
"Tidak, Ra. Kita tinggal di hotel saja untuk sementara. Hingga pindah ke rumah besar keluarga."
"Kenapa begitu?Jelaskan alasannya."
"Aku merasa kamu tidak aman di sana."
"Apa aku belum diperbolehkan bekerja kembali di WS TECH?"
"Belum. Kamu masih terluka."
"Tinggal di rumah sendirian akan membuatku khawatir sama kamu. Aku juga belum menyeleksi pegawai rumah tangga yang akan membantu kamu di rumah. Jadi lebih aman jika kita tinggal di hotel selama tiga hari ini."
"Jangan paranoid, Ra. Aku yakin kamu akan mendapat layanan yang baik. Aku kenal dengan pemiliknya. Dia lawan bisnis Bima."
"Oh baiklah kalau kamu sudah merencanakan dengan sangat matang." Kiara nampak kesal. Aldi bisa merasakannya.
"Tidakkah kamu semakin suka sama suami kami yang begitu pintar merencanakan semua hal ini?"
"Tapi kamu nggak melibatkan aku dalam mengambil keputusan. Bahkan kamu tidak menyampaikan rencana kamu begitu saja jikalau aku nggak nanya!" Kiara semakin kesal.
"Haruskah aku bercerita?" Aldi tampak bingung dengan amarah Kiara.
"Tentu saja. Kita menjalani semua ini berdua, Al. Kamu nggak sendiri lagi. Apa kamu nggak pengen melibatkan aku dalam hidup kamu?"
"Aku hanya tidak ingin kamu pusing merencanakan semua itu. Dan aku kira kamu nggak begitu peduli. Jadi aku nggak cerita kalo kamu nggak nanya." Aldi dengan salah tingkah menatap ke arah yang berlawanan dengan Kiara.
"Aku akan senang jika kamu melibatkan aku. Aku merasa kehadiran dan pendapatku dihargai." Kiara membuat wajah Aldi menghadap ke wajahnya dengan menempatkan kedua telapak tangannya di pipi Aldi.
"Semakin kamu banyak berbagi dan bercerita kepadaku, maka aku akan semakin merasa aku istimewa. Dengan banyaknya rahasia dan rencana yang kamu simpan, hanya orang yang istimewa di hidup kamu saja yang akan kamu ajak berbagi semua hal itu." Kiara mengatakannya dengan pelan sambil menatap mata Aldi.
__ADS_1
"Permisi." Seorang pramugari cantik mengganggu momen romantis Aldi dan Kiara.
Aldi merasa kesal, sementara Kiara mengalihkan tatapannya ke luar jendela pesawat. Berusaha memandang awan yang masih gelap tak terlihat.
"Mohon mengencangkan sabuk pengaman. Kapten barusan menghubungi, ada turbulensi di depan kita." Sang pramugari membungkuk. Dia berusaha membantu Kiara memakai sabuk pengamannya kemudian kembali ke tempat duduknya di area pramugari dengan mengencangkan sabuk pengamannya sendiri.
"Al, aku takut." Kiara buka suara begitu melihat sang pramugari aman di tempat duduknya. Jauh dari mereka berdua.
"Turbulensi hal yang normal ketika pesawat terbang, Ra. Kemungkinan hanya turbulensi level 1."
"Ini pertama kalinya aku naik pesawat, Al. Aku sama sekali tidak paham dengan apa yg kamu jelaskan."
Dengan tatapan lembut, Aldi akan memberikan kuliah singkat mengenai turbulensi. Berharap Kiara teralihkan dari apapun yang membuatnya takut.
"Turbulensi di pesawat bisa diibaratkan ombak yang menerpa kapal di lautan. Ketika kapal kena ombak besar, apa yang terjadi, Ra?"
"Kapalnya oleng seperti akan tenggelam."
"Nah, turbulensi bikin pesawat bergetar hebat, Ra. Makanya harus pake sabuk pengaman agar kita nggak terlempar."
"Trus turbulensi level 1 tadi apa?"
"Level 1 dari turbulensi adalah yang terendah. Aku berharap durasinya juga tidak akan lama."
"Aku takut."
"Pegang tanganku." Kiara memegang Aldi dengan erat dan terjadilah turbulensi pesawat yang diperkirakan Aldi level 1.
"Kamu santai banget. Nggak panik sama sekali." Kiara protes.
"Ini bukan pertama kalinya, Ra. Aku sudah sering naik pesawat sejak kecil. Hahaha " Aldi menertawakan ketakutan Kiara.
Sang pramugari merasa iri melihat bagaimana Aldi dan Kiara bercanda dan tertawa. 'Pasangan muda yang bikin iri para jomblo seperti saya' pikirnya.
Usai mendarat, Aldi kembali ke mode bisnisnya.
"Daniel, berikan laporan di mejaku dalam satu jam. Utamakan laporan analisa pertahanan Bima beserta perkiraan langkah yang dia tempuh. " Aldi sedang serius.
Kiara menatapnya takjub. "Sang bos dengan kekuasaan dan perintah-perintahnya" Kiara mengatakannya dengan bertopang dagu di ruang tunggu bandara Jakarta.
________
Like dan Komentar kalian sangat berarti untuk menyemangati saya menyelesaikan kisah Kiara dan nulis tiap hari...
__ADS_1
Terima kasih yaaa dukungannya...
Dinda^^