Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Try me, Al


__ADS_3

"Ra, sudah bangun sayang? " Aldi menyapa Rara yang sedang duduk diam di ranjang tempat tidurnya. Meski Rara  menatap lurus ke luar jendela, Aldi tetap menunjukkan tatapan sayangnya.


Ada rasa kosong di hati Aldi ketika menatap Rara yang ada di hadapannya itu. Rara tampak sedang  memikirkan sesuatu yang cukup berat.


"Ra, aku pesan steak buat kamu. Barusan diantar sama Daniel dan sepertinya masih hangat. Kita makan, yuk?" Aldi duduk di sisi Rara yang masih saja diam.


"Aku sedang nggak ingin makan, Al." Rara menoleh ke arah Aldi masih dengan tatapan kosongnya.


"Lagi nggak pengen makan ya? Kalau gitu Rara sayang kan udah bangun, sekarang lagi pengen apa?" Aldi mengelus kepala Rara.


"Aku lagi pengen tahu kenapa kamu masih menahan saudara kembarnya pak Fahad. Bukannya kamu sebelumnya berencana untuk melepaskan dia?"


Aldi tidak menyangka Rara mendengar pembicaraannya dengan Fahad. "Aku hanya..." Berpikirlah dengan cepat, Al. Tidak mungkin kamu bercerita kepada Kiara bahwa kamu masih mau menyelidiki anak dalam kandungan Kiara.


"Hanya apa Al?" Kiara menatap Aldi yang berhenti memberikan alasan kepadanya. Kiara mulai kembali menduga beberapa hal.


"Aku hanya berubah pikiran saja Ra. Tidak ada alasan khusus. Kita bisa memanfaatkan Fahad dengan masih menahan saudaranya. Tapi jika kita sudah melepaskannya, maka kita nggak punya kartu apapun yang bisa digunakan untuk menekan Fahad melakukan hal buruk kepada kita."


Kiara berusaha mencerna alasan yang Aldi berikan. Meskipun Kiara merasa masih ada yang aneh dan tidak pas.


"Kalau memang nggak mau makan, kita pulang saja yuk. Aku juga sudah menyelesaikan kerjaan hari ini."

__ADS_1


Dengan ajakan Aldi itu, Kiara menuruti ajakan untuk pulang bersama Aldi. Setibanya di parkiran, Aldi dan Rara kembali bertemu Verlita. Rara langsung merasa mual melihat penampilan Verlita yang super seksi. Rok pendek di atas lutut yang dikenakan Verlita membuat kakinya yang panjang semakin membuatnya terlihat tinggi semampai. Blus kerja yang dikenakan juga membalut tubuhnya dengan pas, menonjolkan bagian dadanya yang ukurannya lebih basar dari pada Rara.


Verlita tentu saja tidak tahu bahwa Rara adalah Kiara. Sehingga dengan begitu berani Verlita mendekati Aldi dan menempatkan tubuhnya di antara Aldi dan Rara. Verlita lalu membisikkan sesuatu ke telinga Aldi tanpa bisa Rara dengar isinya.


"Aku sangat bisa menjaga diri. Hanya benih kamu yang aku inginkan. Tidak pernah ada pria yang bisa menanam saham dalam diriku. Tidak seperti Kiara. Jika kamu masih belum bisa menyentuh dia tapi butuh pelampiasan, ingatlah kalau aku siap kapan pun. Bahkan sekretaris pribadi kamu yang cantik dan tampak polos ini juga nggak akan bisa membuat kamu merasakan apa yang bisa aku kasih di ranjang. " Bisikan Verlita ini begitu sensual tapi membuat emosi Aldi naik begitu cepat. Tapi Aldi dengan sekuat tenaga menahannya karena menyadari keberadaan Rara.


Dengan wajah datar, Aldi meninggalkan Verlita begitu saja tanpa menunjukkan respon sedikit pun. Aldi menggenggam tangan Rara dan pergi ke mobilnya. Berlalu pulang bersama Rara yang masih tidak tahu apa yang tadi dibisikkan oleh Verlita.


Begitu masuk ke mobil bersama Aldi, Rara sendiri memikirkan kelakuan Verlita barusan. Sebelumnya Verlita menunjukkan dirinya sebagai wanita yang baik, polos dan lemah. Tapi hari ini Verlita berubah dengan tampilan wanita penggoda. Verlita hari ini menonjolkan kelebihan fisiknya di banding kebanyakan wanita pada umumnya. Verlita juga agak memaksakan diri berada di antara dirinya dan Aldi. Rara yakin ada yang memicu Verlita untuk berubah sikap seperti hari ini.


Selain itu, yang paling membuat Rara penasaran tentu perkataan yang Verlita bisikkan kepada Aldi. Rara bisa tahu bahwa Aldi menahan emosinya hingga kini usai mendengar perkataan yang dibisikkan Verlita. Tapi Aldi tidak membahasnya sama sekali. Meski wajah Aldi hanya tampak datar tanpa menunjukkan emosi sama sekali, tapi Aldi bisa dengan mudahnya marah jika Rara mengingatkannya dengan Verlita yang barusan berlalu di hadapan mereka. Kiara pun mulau kembali mengantuk setelah sibuk dengan pikirannya sendiri yang menemui jalan buntu. Kiara kembali tertidur sebelum tiba di rumah.


Aldi yang melihat Kiara terlelap kini berubah dingin. Aldi yang menyetir sendiri dengan hanya ditemani oleh Kiara tidak lagi menyembunyikan raut wajahnya yang sebenarnya di hadapan Kiara. Sepanjang perjalanan Aldi telah berusaha menahan emosinya dan berusaha untuk tidak mengingat perkataan Verlita.


...pesan pertama: Aku dan istri kamu sudah nggak ada bedanya. Kami sama-sama pernah tidur dengan pria lain. Bahkan dia telah memiliki benih pria lain di dalam dirinya. Mana yang lebih buruk? Aku atau istrimu?...


...Pesan kedua: Aku memang telah membuang mu demi karir dan harta. Tapi kini aku menyesalinya. Jika masih tersisa sedikit saja perasaan di masa lalu buatku, biarkan aku tetap di sisimu. Sebagai simpananpun aku bersedia. Aku jamin kamu akan puas dengan pelayanan yang aku berikan. Aku yakin telah cukup memiliki pengalaman dalam menyenangkan pria. Try me, Al....


Wajah Aldi membeku usai membaca pesan ini dan membandingkan dengan perkataan Verlita yang begitu berani tadi. Aldi bisa memastikan bahwa pengirim pesan itu pasti Verlita. Tapi kenapa verlita sampai begitu berani bermain api dengannya? Dari mana juga Verlita tahu bahwa Kiara hamil? Apa lagi Verlita dengan berani menuduh bahwa Kiara telah...


Aldi menghentikan pikirannya dan menatap wajah terlelap Rara. Aldi kemudian menghapus riasan Rara dengan perlahan agar tidak sampai membangunkannya. Aldi merindukan Kiara. Aldi merindukan Kiara yang tertutup oleh riasan wajah Rara ini.

__ADS_1


"Sudah puas liatin aku trus, Al?" Kiara yang Aldi kira masih tidur nyenyak ternyata sudah bangun sejak Aldi mulai menghapus make up tebal Rara dengan kapas dan cairan pembersih make up.


Aldi merasa tergelak. Tapi menatap teduh wajah yang masih saja memejamkan mata itu. Kiara hanya bersuara tapi enggan membuka mata.


"Maafkan aku telah mengganggu tidur kamu, sayang." Aldi masih berharap ucapan sayang ini bisa meredakan hati Aldi yang dipenuhi amarah.


"Aku bersyukur kamu membangunkan aku sebelum tiba di rumah, Al. Aku sepertinya tidak ingin kembali ke rumah kita hari ini. Bisakah kita menginap di tempat lain?"


Aldi tidak menyangka Kiara mengajukan permintaan ini. Kiara sedang menatapnya dengan keinginan yang jelas tidak ingin dibantah.


"Tentu, Ra. Apapun yang kamu inginkan. Ingin menginap dimana?" Aldi meraih tangan Kiara dan menggenggamnya. Aldi tidak bisa menebak apa yang wanita ini inginkan. Apa mungkin barusan istrinya memimpikan sesuatu yang buruk hingga tidak ingin pulang?


"Aku ingin melihat pantai."


Aldi tahu mau mengajak Kiara kemana. Pantai sepertinya pilihan yang bagus untuk meredam emosinya hari ini. Berhadapan dengan Fahad sekaligus Verlita meski sebentar saja sudah membuat amarahnya tak tertahankan. Apalagi melihat wajah datar Kiara seharian ini yang tidak memiliki jejak kebahagiaan sedikitpun.


"Baiklah sayang. Apapun buat kamu, Ra." Aldi memasukkan sebuah lokasi ke panduan perjalanan yang ada di mobil kemudian melaju ke arah yang ditunjukkan.


"Tidurlah dulu jika masih lelah, Ra. Tujuan kita memiliki jarak tempuh yang cukup lumayan."


Kiara melihat lokasi yang terpampang dalam peta di layar tablet yang ada di mobil itu. Tujuannya berada di luar Jakarta. 'Baguslah. Semakin jauh tujuannya semakin bagus. Berganti suasana mungkin lebih baik.' Pikir Kiara.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


_Dinda^^


__ADS_2