Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Kebahagiaan Kiara di atas Segala-Galanya


__ADS_3

Bima pulang dari rumah utama keluarga Atmaja dengan membawa map berisi beberapa wanita yang dipilihkan oleh Diandra untuk dia jadikan istri kedua. Bima tidak akan mau menerima begitu saja calon yang dipilihkan Diandra. Bima kali ini bersedia karena ada beberapa pilihan yang Diandra sodorkan. Jika Diandra sudah memilih salah satu wanita, pasti Bima menolak mentah-mentah tanpa berpikir panjang.


Bima kini berada di kantornya. Akan berbahagia jika map ini dibawa pulang ke rumahnya. Bella bisa saja tidak sengaja melihat atau membaca isi map ini. Karena sudah berada di kantor, maka Bima dengan tenang membuka isi map itu. Bima juga butuh tahu siapa pilihan calon istrinya dan juga perlu mempelajari latar belakang mereka.


Diandra yang masih di rumah mendapat kabar bahwa Bima kini di kantor. Bima sedang antusias membawa map yang diberikan oleh Diandra. Mendengar hal ini tentu membuat Diandra senang dan bahagia. Tidak disangka, Bima melakukan apa yang Diandra perintahkan. Bima bersedia mempertimbangkan wanita yang dipilih oleh Diandra untuk Bima.


Akan tetapi Bima sebenarnya hanya membuka-buka foto yang ada dalam map itu. Wajah Bella yang kesakitan selalu terbayang setiap Bima membalik halaman berisi foto wanita di map itu. Wajah Bella yang terkena bercak darah ketika Bima membawanya ke rumah sakit akibat menerima tembakan demi Bima tak bisa lepas. Bima mulai frustasi dan akhirnya membanting map yang ada di tangannya.


"Ahhhhh!" Bima mengamuk dan melemparkan semua yang ada di meja kerjanya, termasuk komputer yang bertengger tak bersalah di atas meja.


Bima merasa semakin bersalah kepada Bella. Bima hanya ingin membuat bahagia Bella dengan keberadaannya menemani Bella. Tapi itu pun tidak akan bisa dia lakukan lagi. Bima akan kembali menyakiti Bella karena wanita lain lagi.


"Aku harus bagaimana, Bel? Aku nggak pengen menyakiti kamu lagi, Bella!" Bima kembali melempar barang-barang yang ada di dekatnya. Bima merasa hampir kehilangan kewarasannya.


Usai melampiaskan semua amarah dan rasa frustasinya, Bima hanya duduk diam di antara barang-barang yang berantakan dan rusak di kantornya itu. Seluruh pegawai sudah pulang. Tidak ada yang tahu bahwa Bima mengamuk ketika sedang sendirian. Bima duduk dengan frustasi selama berjam-jam.


Setelah sekian lama terdiam, Bima baru sadar dan bergerak ketika ada telefon dari Bella. Suara telefon itu menyadarkan Bima dari lamunannya. Nama Bella di layar handphone-nya membuat Bima memaksa kesadarannya kembali. 'Bella membutuhkan aku, aku tidak boleh ikut terpuruk. Aku harus memastikan Bella tidak tersakiti lagi meski aku harus menuruti kemauan mommy.'


Bima bangun dari keterpurukannya dan meraih handphone yang sudah berhenti berdering. Bima langsung pulang kepada Bella. Hatinya ingin mendekatkan diri kepada Bella.


Bima mengendarai mobil hingga sampai rumah dengan setengah sadar. Hati dan pikirannya kacau. Alam bawah sadarnya lah yang memegang kendali setir mobilnya.

__ADS_1


Begitu tiba di rumah, Bima lega melihat Bella sedang tidak tampak kesepian seorang diri. 'Ke depan aku harus membuat Bella sendirian karena tanggung jawabku ke pada istri kedua. Kenapa aku harus melakukan itu, Bel? Aku tidak mau membuat kamu kesepian karena aku harus bersama wanita lain.'


Bella menyadari kedatangan Bima dan berjalan mendekati Bima. Bella menyambut kedatangan suaminya yang akhir-akhir ini selalu bersikap manis. Tapi Bella menyadari ada yang tidak biasa dengan ekspresi di wajah Bima.


"Ada apa? Apa ada masalah di rumah Mommy? Kamu dimarahi mommy Diandra lagi?" Bella mulai khawatir melihat Bima yang tampak kusut.


"Aku nggak apa-apa. Cuma butuh pelukan. Mau peluk aku?" Bima mengatakannya seolah berbisik. Bima merasa lelah mengingat mommy Diandra.


"Sini aku peluk." Bella pun mendekat dan memeluk Bima. Tapi Bima membalas dengan pelukan yang lebih erat lagi.


Bima ingin melepaskan semua beban di hatinya. Bima merasa begitu lelah menjalani hari ini.


Jika boleh menangis, ingin rasanya Bima menumpahkan tangisnya di pelukan Bella. Tapi hal itu hanya akan membuat khawatir sekaligus menyakiti wanita ini.


🌸🌸🌸🌸


Di malam yang sama, Aldi sama bingungnya dengan Bima. Apa yang dia khawatirkan terjadi. Aldi sudah tau langkah apa yang akan dia ambil, tapi menjalaninya ternyata tidak semudah itu. Membohongi Kiara dengan berpura-pura bahagia cukup sulit.


Jika ditanya, apakah Aldi bahagia dengan kehamilan Kiara? maka jawabannya adalah tidak. Aldi tidak bahagia, tapi bingung. Aldi bingung dengan cara berpura-pura di hadapan Kiara. Aldi khawatir Kiara mengetahui isi kepalanya.


Kini Aldi sedang berada di ruang kerjanya. Menata hati dan pikirannya sebelum menghadapi Kiara yang masih sangat bahagia. Aldi tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Kiara. Istrinya menginginkan anak itu. Maka Aldi harus mengabulkannya.

__ADS_1


'Aku melupakan hal ini. Kiara menginginkan bayi dalam kandungannya. Kiara bahagia memiliki bayi ini. Kebahagiaan Kiara di atas segala-galanya bagiku. Aku harus bisa membahagiakan wanitaku. Itu komitmenku. Aku akan menjalaninya dengan bahagia demi melihat senyum kebahagiaan di wajahnya itu.'


Aldi bergumul dengan kesimpulan akhir dalam benaknya. Aldi akhirnya bisa yakin untuk bersikap seperti apa.


Aldi pun keluar dari ruang kerjanya untuk mencari Kiara. Rupanya Kiara masih berada di kamar. Padahal makan malam sudah disiapkan.


"Ra, ngapain?" Aldi mendekat kepada Kiara yang sedang berdiri di depan cermin.


"Lagi mengukur perut aku. Ini kan masih bulan pertama. Jadi nggak keliatan sama sekali. Perutku masih rata. Aku lagi bayangin kalo udah 9 bulan mau lahiran bakal segede apa, Al." Kiara yang sejak tadi memunggungi Aldi kini berbalik ke arah Aldi. Tapi Kiara tertegun menatap Aldi yang begitu intens memperhatikan bagian perutnya.


"Trus kira-kira bakal segede apa, Ra?" Aldi menatap wajah Kiara yang masih memiliki binar bahagia. Aldi senang melihatnya.


"Mungkin segini. Aku pernah liat ibu hamil mau lahiran ukuran perutnya segini, Al." Kiara menunjukkan lengkungan lebih besar di bagian perutnya dengan isyarat tangannya.


"Kira-kira nanti ketika perutku segede ini kamu bakal tetap memandang aku dengan tatapan sepenuh cinta gini nggak, Al?" Lagi-lagi Kiara mengisyaratkan bayangan ukuran perutnya yang besar dengan tangannya.


"Tentu saja. Kamu tetaplah wanita yang aku cintai. Yang akan aku tatap dengan sepenuh hati dan cintaku." Aldi tidak tahan untuk tidak mendekatkan diri kepada wanita ini dan mendaratkan bibirnya pada bibir Kiara. Aldi membuat Kiara kaget akan perlakuannya.


🌸🌸🌸🌸


_Dinda^^

__ADS_1


__ADS_2