Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

'Apa semua suami di dunia ini begitu perhatian kepada istrinya seperti Aldi ini?'


Karena memikirkan hal ini, Kiara sampai tidak menyimak seluruh pelaporan Aldi dan tanggapan dokter yang memeriksanya. Kiara heran ketika disodori tabung kecil untuk menampung air seni dan diminta bersiap untuk diambil darahnya guna melakukan tes darah lengkap.


Dengan setengah tidak sadar, Kiara melakukan prosedur yang diminta dokter kemudian menunggu bersama Aldi di ruang tunggu.


Yang namanya di rumah sakit, tetap saja pasien dan keluarga harus menanti hasil pemeriksaan. Tidak ada yang bisa instan meski Aldi memiliki uang untuk mempercepat semua proses yang dia inginkan. Kini Aldi tetap harus menanti selama setengah jam hingga hasil tesnya keluar.


Aldi duduk dengan tidak tenang menanti hasil tes Kiara. Berbagai pemikiran masih saja memenuhi kepalanya. Ada pemikiran yang positif, ada juga skema untuk penanganan pikiran buruknya. Tapi meski Aldi sedang gelisah, Dia hanya tampak diam berpikir di sisi Kiara. Tidak ada kecurigaan dalam hati Kiara mengenai apa yang ada di kepala Aldi. Kiara menganggap semua baik-baik saja. Kiara duduk dengan santainya menanti hasil tes.


"Al, kok diam saja dari tadi. Lagi memikirkan apa?"


Aldi gelagapan karena tiba-tiba Kiara bertanya. Tidak disangka Kiara akan mengajaknya bicara. Aldi kira Kiara hanya akan sibuk dengan ponselnya semata.


"Nggak kok. Cuma mikirkan kerja sama dengan MW."


"Apa kerja sama dengan MW tidak berjalan sesuai dengan harapan?"


"Untuk kerja sama sepertinya baik-baik saja. Hanya saja aku masih belum bisa sepenuhnya percaya dengan niat baik pemiliknya. Kamu tahu kan mereka bersaudara. Dan ada sejarah hitam antara kita dengan saudaranya."


"Kenapa kamu bingung memikirkan masa depan, Al. Kenapa nggak kita jalani masa sekarang dengan baik. Kita tenangkan hati agar hanya hal yang baik yang akan tertarik dalam hidup kita aja yuk. Nggak usah memikirkan hal buruk."


"Tapi kita tetap perlu waspada akan segala bahaya, Ra. Aku nggak mau sampek hal buruk itu terulang lagi. Aku nggak bisa membayangkan hidupku memasuki kemelut seperti itu kembali, Ra."


Kiara merasa sekujur tubuhnya kembali kaku ketika Aldi mengingatkan dirinya akan hal itu. Kiara sadar semua itu telah berlalu. Tapi dia tidak bisa mencegah dirinya kembali ke kegelapan penculikannya dulu.

__ADS_1


Aldi melihat raut wajah Kiara yang berubah memucat. Kiara terdiam. Aldi tahu bahwa Kiara sedang tidak baik-baik saja karena Aldi mengungkit penculikannya. Aldi kembali merasa bersalah. Lagi-lagi Aldi kembali tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Ra, tenanglah. Ada aku di sini." Aldi memberikan rangkulan di pundak Kiara dan mendekatkan diri Kiara kepadanya. Aldi tidak peduli dengan pandangan beberapa orang di ruang tunggu saat itu. Aldi ingin Kiara merasakan support Aldi yang tiada batas. Melalui sentuhan dan belaian lembutnya, Aldi ingin Kiara kembali sadar ada Aldi di sisinya.


Tapi belum juga Aldi mmbuat Kiara kembali sadar, terdengar perawat memanggil nama Kiara. Hasil tes Kiara sudah keluar dan bisa menemui dokter kembali untuk mendengar penjelasan mengenai hasil pemeriksaan Laboratorium Kiara.


"Ra, kita masuk ke ruang dokter lagi ya. Sehabis ini kita bisa pulang kok, sayang." Aldi masih mengucapkannya dengan lembut.


"Silahkan, tuan dan nyonya. Saya sudah membaca hasil laboratorium nyonya Kiara. Hasilnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dokter menyapa Aldi dan Kiara dengan senyuman.


"Bagus lah kalau begitu dok." Sahut Aldi


"Tapi saya harus mengucapkan selamat kepada Tuan dan Nyonya. Sebab Nyonya Kiara telah mengandung." Dokter tersenyum semakin lebar.


Kiara yang mendengar hal ini juga sempat terkejut, tapi kemudian senyum terbit di wajah Kiara. Setelah sejak tadi Kiara hanya diam membisu tanpa ekspresi, kini wajah Kiara nampak senang.


Kiara yang berbahagia itu pun masuk ke pelukan Aldi. Kiara benar-benar bahagia. Kiara tidak sadar akan apa yang sudah berkecamuk dalam hati dan pikiran Aldi.


Melihat kebahagiaan yang meliputi pasangan di hadapannya, dokter hanya meresepkan vitamin dan saran periksa ke obgyn paling tidak seminggu lagi.


Aldi dan Kiara pun pulang usai mendapatkan obat dari apotek. Lagi-lagi Aldi tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan obat yang ditebus. Berkat statusnya di rumah sakit itu, Aldi mendapat antrian lebih awal dari pada pasien lain.


Tapi mereka tidak sengaja bertemu dengan Bima yang juga mau menebus resep obat. Bima terkejut melihat Aldi dan Kiara. Tidak menyangka bisa bertemu mereka di rumah sakit.


"Kalian kok bisa ada di sini. Siapa yang sakit?" Bima lebih dahulu menyapa Aldi dan Kiara dan menodong mereka dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Aku yang periksa, Bim. Ini si Aldi heboh maksa periksa hanya karena liat aku yang nggak nafsu makan." Kiara menyahut pertanyaan Bima dengan binar kebahagiaan masih terpancar di wajahnya.


"Oh, begitu." Bima merasa aneh dengan interaksi mereka. Rasanya sudah lama sekali Kiara tidak berbicara dengan suka cita kepadanya seperti ini.


"Kamu sendiri kenapa ke rumah sakit? apa kak Bella sakit?" Pertanyaan Kiara menghentikan pemikiran Bima yang akan semakin jauh tentang hubungannya dengan Kiara.


"Iya, ini cek up kondisi Bella. Sebenarnya nggak sakit sih. Cuma periksa rutin saja. Kemarin habis terapi, jadi hari ini kontrol keadaannya pasca terapi saja." Bima sengaja tidak menyebutkan dengan jelas bahwa Bella melakukan hipnoterapi. Akan lebih panjang nanti penjelasannya kepada Kiara.


"Terapinya kemarin gimana? Lancar dan berhasil kah? Apa masih ada terapi lanjutan?"


"Itu dia yang mau diperiksa hari ini, Ra. Tapi Bella membaik kok. Kayaknya tinggal cek up rutin saja. Nggak akan ada terapi lagi."


"Oh, syukurlah. Aku juga sudah selesai ambil obat. Kami duluan ya kalo gitu. Salam untuk kak Bella." Ada keinginan di hati Kiara untuk bertemu Bella. Tapi Aldi sejak tadi hanya diam. Kiara merasa sebaiknya mengajak Aldi pulang dari pada berinteraksi lebih banyak dengan Bima.


"Okey, Ra. Hati-hati di jalan ya." Bima berjalan ke arah yang berlawanan dengan Aldi dan Kiara.


Sepanjang perjalanan, Aldi hanya diam. Tampaknya kondisi mereka berdua kini berbalik. Tapi Kiara sedang senang dengan kabar baik kehamilannya. Hingga tidak terlalu memperhatikan perubahan Aldi yang lebih banyak diamnya.


Begitu tiba di rumah, Aldi pamit ke ruang kerja. Mereka berdua baru kembali bertemu ketika makan malam. Aldi masih bisa melihat pancaran bahagia di wajah Kiara. Aldi tidak tega merusak kebahagiaan kasihnya itu dengan pemikiran yang berkecamuk di kepalanya sejak tadi.


"Ra, aku senang kamu bisa kembali bahagia seperti ini." Ungkap Aldi dengan memegang tangan Kiara.


"Tentu saja aku senang, Al. Kamu juga bahagia kan dengan kehadiran anak kita ini?" Sahut Kiara dengan polosnya.


Aldi tersentak dengan pertanyaan ini. Lidahnya kelu untuk menjawabnya. Aldi terdiam cukup lama dan hanya fokus mengulang-ulang kata 'anak kita' yang diucapkan oleh Kiara dengan ekspresi bahagia itu.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


_Dinda^^


__ADS_2