
Mike menekan nomor Aldi dan menunggu. Setelah beberapa kali nada berdering, telepon akhirnya diangkat di sisi lain.
"Hello?" suara Aldi terdengar dari ujung sana.
"Halo, Al," kata Mike dengan suara yang mencoba untuk tetap tenang.
Mike mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Tentang situasi tadi di kantor... Aku ingin membicarakannya. Apakah kamu punya waktu sekarang?"
Aldi menghela nafas sejenak, "Tentu, Mike. Aku punya waktu. Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Mike tahu dia harus melanjutkan meskipun masih ada rasa enggan. "Aku ingin membicarakan tentang Verlita, tentang hubungan kami dulu."
Inilah saatnya Mike menceritakan hubungannya dengan Verlita kepada orang lain. Aldi adalah orang yang paling tidak ingin Mike beritahu akan hal ini, tapi kini Mike harus menceritakannya kepada Aldi.
Di sisi telepon, terdengar keheningan sejenak. Mike bisa membayangkan Aldi sedang merenungkan kata-kata yang dia dengar.
"Aku dengar kamu, Mike. Lanjutkan," kata Aldi akhirnya dengan nada dingin.
Mike melanjutkan, "Verlita dan aku memiliki sejarah yang panjang. Kita berdua merasa tertarik satu sama lain sejak sebelum dia kenal kamu, Al. Kami dulunya adalah sepasang kekasih."
"Apa yang hampir terjadi tadi di kantor... Itu bukan hanya momen impulsif. Aku merasakan kembali ikatan masa lalu yang kuat di antara kami dulu."
Aldi diam di ujung telepon, hal ini seolah memberi Mike kesempatan untuk melanjutkan apa yang harus dia ceritakan.
"Kami memang menjalin hubungan dengan diam-diam tanpa satu pun yang tahu. Dan semua itu berakhir dengan kecelakaan yang menyebabkan Verlita kehilangan ingatannya." Mike terdiam tak bisa melanjutkan. Momen buruk itu seolah kembali menghantuinya.
Tapi Aldi masih tetap diam di ujung telepon, dan Mike tahu dia harus melanjutkan meskipun cerita ini sulit baginya. "Kecelakaan itu, Al, itu adalah salahku," kata Mike dengan suara penuh penyesalan. "Ketika Verlita kehilangan ingatannya, aku memutuskan untuk tidak mengungkapkan apa pun tentang hubungan kami dulu. Aku takut itu akan membuat semuanya semakin rumit, terutama setelah dia melupakan aku dan justru terlihat jatuh cinta pada kamu."
__ADS_1
Aldi akhirnya memberikan tanggapannya, suaranya masih terdengar dingin. "Mike, apa yang kamu katakan ini benar-benar mengejutkan bagiku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan."
Keduanya sama-sama terdiam. Setelah beberapa saat yang terasa panjang, Mike akhirnya mengatakan, "Aku hanya bisa meminta maaf telah merahasiakan ini begitu lama, Al."
Mike mengakhiri panggilan telepon mereka secara sepihak. Mike merasakan kebas dalam hatinya. Mike tiba-tiba kehilangan kata-kata untuk menghadapi Aldi. Dan seperti biasa, lari dari kenyatan adalah keahlian Mike.
Mike merebahkan diri di sofa dengan menutup mata. Berusaha menenangkan hatinya yang terasa berat. Dia tahu bahwa dengan mengungkapkan semua ini kepada Aldi, ia telah membuka kotak Pandora yang selama ini tersembunyi. Konsekuensinya mungkin akan rumit, tetapi Mike merasa bahwa kini adalah saat yang tepat untuk menghadapinya.
Beberapa saat kemudian, Mike mendengar ketukan pelan di pintu kantornya. Dia membuka mata dan melihat Aldi tiba-tiba muncul di kantornya. Wajah Aldi tampak serius.
"Aldi," kata Mike dengan kaget saat melihat Aldi tiba-tiba muncul di depan pintu kantornya. "Kamu kenapa tiba-tiba berada di sini dengan begitu cepat?"
Aldi masuk dengan langkah mantap dan menutup pintu di belakangnya. "Kita harus membicarakan hal ini lebih lanjut, Mike," katanya dengan nada tegas.
Mike merasa tegang, namun dia tahu bahwa dia tidak bisa lagi menghindari pembicaraan ini. "Tentu, Al, duduklah." Dia menunjuk ke kursi di depan mejanya.
Mike menelan ludah, merasa bahwa saat ini tidak ada jalan keluar selain menceritakan semuanya. Dia mulai bercerita, menguraikan hubungannya dengan Verlita dari awal hingga saat ini. Dia menceritakan bagaimana mereka menjadi kekasih rahasia, bagaimana semuanya berakhir dengan kecelakaan yang membuat Verlita kehilangan ingatannya, dan mengapa dia memilih untuk merahasiakan semuanya ketika melihat cinta di mata Verlita untuk Aldi. Mike menjadi manusia yang tak tampak bagi Verlita. Di mata Verlita saat itu hanya ada kekaguman untuk Aldi. Kedua mata Verlita berbinar bahagia setiap kali melihat Aldi.
Aldi mendengarkan dengan cermat semua cerita Mike. Ekspresinya berubah seiring dengan perkembangan kisah yang Mike ceritakan. Terkadang dia tampak terkejut, terkadang penuh dengan perasaan campuran antara sedih dan marah. Dia mendengarkan dengan seksama, bahkan ketika beberapa detail yang keluar dari cerita Mike terasa sangat sulit untuk dicerna.
Ketika Mike akhirnya selesai menceritakan semuanya, Aldi duduk dalam keheningan. Dia merenung sejenak, mencerna semua informasi yang baru saja dia dengar. Mata Aldi terasa penuh tekanan, dan dia merasa bahwa kebenaran ini mengguncang dasar dari apa yang dia pikirkan tentang hubungannya dengan Verlita.
"Aku cukup terkejut melihat kedekatan kamu dengan Verlita di ruangan ini tadi," kata Aldi. "Tapi itu tidak sebanding dengan keterkejutanku mendengar cerita kamu mengenai masa lalu kamu dengan Verlita yang kamu ceritakan di telepon tadi. Aku tadi diam saja mendengarkan kamu mengaku masa lalu kalian sambil berjalan cepat kemari. Aku ingin memastikan sendiri kebenaran cerita kamu. Aku ingin melihat sendiri ekspresi kamu menceritakan rahasia besar yang kamu tutupi dengan rapat ini."
Mike menyadari bahwa dia telah mengecewakan Aldi dengan merahasiakan masa lalunya dengan Verlita, bahkan setelah Aldi dan Verlita putus sekali pun, Mike masih tidak menceritakan hubungan lama itu.
"Aku hanya bisa mengetahui bahwa kamu punya perasaan yang begitu dalam untuk mantan pacaraku itu, Mike. Tapi aku tidak sampai menduga bahwa dia juga adalah mantan pacar kamu. Sekarang aku ingin kamu jawab dengan jujur, apa kalian sudah berhubungan jauh sampai ke tahap itu?"
__ADS_1
Mike terkejut dengan pertanyaan Aldi yang mengarah ke hal itu.
"Aku bertanya karena suatu alasan, Mike. Ku mohon jawab aku dengan jujur." Aldi tampak serius menuntut jawaban dari Mike.
"Aku.. Kami.. " Mike ingin memberikan jawaban yang Aldi inginkan, tapi dia juga masih berat untuk menjawabnya dengan jujur.
"Sudah pernah atau belum, Mike?" Aldi menunggu jawaban Mike dengan napas tertahan.
Mike akhirnya menggigit bibirnya, merasa bahwa dia harus memberikan jawaban yang sejujurnya. "Sudah, Al." Mike menunduk menahan malu.
"Terima kasih kamu mau jujur dan menjawabnya, Mike. Kini aku tahu kenapa Verlita menuntut kedekatan fisik di antara kami dulu. Sesuatu yang dulu sulit kuberikan."
Aldi berdiri dari hadapan Mike kemudian mendekat ke jendela kantor Mike. Aldi menerawang menatap langit sore yang bisa tampak dari balik tirai jendela kantor Mike.
"Aku dan Verlita dulu bahkan tidak pernah ciuman, Mike. Apa kamu percaya? Bukan karena Verlita yang tidak mau. Tapi aku yang tidak ingin melakukannya."
"Aku selalu berpikir bahwa cinta tidak hanya tentang fisik, tetapi juga tentang koneksi emosional yang dalam. Tapi mungkin aku telah salah."
Mike mendengarkan kata-kata Aldi meski ada rasa tidak percaya yang sempat muncul. Mike tidak menyangka Aldi tidak sampai melakukan hal itu meski sudah berpacaran dengan Verlita cukup lama. Verlita sangat menarik dan mempesona. Mike sendiri telah melakukan hal itu beberapa kali. Mike tidak bisa menahan diri ketika ada kesempatan untuk melakukannya lagi dan lagi. Verlita seperti candu bagi Mike.
"Dri situlah kenapa Verlita menganggapku tidak mencintainya, kemudian dia mengkhianatiku dan pergi meninggalkanku demi memenangkan proyek Blue Corp Singapura." Aldi tampak berkata kepada dirinya sendiri. tapi Mike mendengarnya dengan cukup jelas.
Perasaan Mike semakin campur aduk terhadap Verlita usai mendengar pengakuan Aldi. Ruang kerja Mike dipenuhi oleh keheningan. Aldi masih menatap keluar jendela, mata terfokus pada langit yang mulai meredup karena matahari terbenam. Dia tampak mempertimbangkan beberapa hal dengan begitu mendalam.
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^
__ADS_1