
Kiara dan Aldi tiba di rumah sakit. Letak rumah sakit yang mereka kunjungi ada di pusat kota. Bangunan rumah sakit yang tinggi dan megah ini menunjukkan fasilitas kesehatan yang seharusnya juga lengkap dan bagus.
"Bima pasti sangat mengkhawatirkan kak Bella. Meski tadi malam kamu membawa seorang dokter yang bersiaga, tapi Bima memilih membawa kak Bella ke rumah sakit yang bagus." Kiara berdiri di tengah Lobby yang lengang. Memutar tubuhnya melihat sekelilingnya yang luas.
"Bella sedang hamil, Ra. Tembakan yang dia terima mengenai bagian perutnya. Dokter yang aku bawa tidak bisa menangani luka tembak di bagian yang sulit seperti itu. Dua nyawa dipertaruhkan. Butuh peralatan dan tenaga medis yang lebih baik dalam menanganinya." Aldi diam menatap Kiara yang seketika membeku di tempat. Kiara melihat tempat duduk yang tidak jauh dari mereka dan berjalan ke sana untuk duduk seorang diri.
"Bima bertindak dengan segap dan cepat ketika mengetahui Bella kena tembak di bagian perutnya. Bima mungkin sudah mulai menyadari kesalahannya yang selama ini belum mau melepaskan kamu." Kiara hanya diam mendengarkan Aldi yang kini sudah duduk di sampingnya. Aldi masih terus memperhatikan ekspresi apapun yang tampak di wajah Kiara.
"Kehamilan Bella tidak berhasil terselamatkan. Dia keguguran. Bella juga dalam kondisi kritis karena kehilangan banyak darah tadi malam. Anak buahku melaporkan bahwa Bima terlihat sangat terpukul dan kacau selama menanti operasi Bella yang berlangsung sepanjang malam." Aldi mengakhiri penuturannya. Apapun yang harus Kiara ketahui tentang situasi di rumah sakit ini telah dia sampaikan.
Aldi dan Kiara sedang duduk berdua saja di lobby rumah sakit yang tampilannya lebih mirip lobby hotel. Kiara mengolah semua informasi yang Aldi berikan berulang kali hingga memutuskan beranjak dari tempat duduknya.
"Kita ke kamar kak Bella, yuk." Kiara berdiri membelakangi Aldi
"Kamu mau menemani aku kan, Al." Kiara menoleh kepada Aldi.
"Tentu" Aldi seketika berdiri di samping Kiara dan menggenggam tangannya. Aldi siap menemani Kiara menuju apapun yang akan Kiara hadapi.
🌸🌸🌸🌸
Ketika Aldi dan Kiara tiba di depan kamar rawat inap Bella, keduanya bertemu dengan Bima yang keluar dari kamar Bella. Bima tampak terkejut melihat kedatangan Kiara yang sama sekali tidak terduga. Bima kemudian melihat bagaimana keduanya saling menggenggam tangan masing-masing.
Bima kira akan merasa sakit melihat kedekatan Kiara dan Aldi. Tapi ternyata hatinya baik-baik saja. Bima memegang dadanya. Tidak ada rasa sakit yang biasa menemaninya ketika hanya sekedar memikirkan Kiara.
"Aku ingin bertemu kak Bella." Kiara mengungkapkan tujuan kedatangannya tanpa berbasa-basi kepada Bima. Ada banyak rasa kecewa yang muncul di hatinya ketika mlihat pria ini. Melihat Bima yang tampak baik-baik saja ini membuat Kiara tidak senang.
__ADS_1
"Masuklah." Bima menjawab dengan singkat kemudian membuka pintu kamar Bella untuk Aldi dan Kiara.
Bella tampak sedang melihat ke satu titik di luar jendela. Hati Kiara merasa sakit melihat sang kakak. Cahaya di mata Bella terlihat redup.
Kiara mendekati Bella tanpa peduli dengan Bima yang berusaha bersikap sebagai tuan rumah yang baik.
"Kak" Kiara memanggil Bella dengan lembut.
Bella tersentak dengan suara panggilan itu. Hanya ada satu orang yang memanggilnya kakak. Panggilan itu terasa lama sekali tidak Bella dengar.
"Kak, maafkan aku." Ucap Kiara ketika Bella benar-benar tampak menatap Kiara dengan intens.
"Bukan kamu yang bersalah. Aku lebih bersalah kepadamu sejak awal hingga kini." Jawaban Bella di luar perkiraan Kiara.
"Kita sama-sama tahu bahwa aku tidak hendak menyelamatkan kamu. Simpan maaf kamu itu dan pulanglah bersama Aldi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu. Cukup anggap bahwa Bima lah yang ingin aku selamatkan. Karena memang itu tujuanku." Bella memalingkan wajahnya dari Kiara.
"Tidak, kak. Aku turut andil dalam menyebabkan kakak kehilangan calon bayi kakak. Aku bersalah, kak." Kiara sudah ingin menangis. Bulir air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Tapi masih Kiara tahan agar tidak sampai menangis. Matanya memerah menahan tangis.
"Mungkin aku memang pantas menerimanya. Tuhan tidak ingin bayi ini selamat dan membuat hidupku bahagia. Tuhan mengambilnya karena aku tidak cukup baik menjadi ibunya kelak." Kalimat Bella kali ini menusuk hati tiga orang yang sedang berada di kamar rawat inap Bella.
Bima yang biasanya tidak pernah melepas tatapannya dari Kiara kini sama sekali tidak menatap Kiara sejak datang. Bima terus saja menatap raut wajah sedih Bella, istrinya.
Sementara Aldi yang juga menjaga jarak dari ketiga orang lainnya hanya menatap kosong ke luar jendela kamar Bella. Aldi berusaha tampak tidak peduli. Tapi Kiara tahu Aldi sedang berusaha tampak tidak peduli. Aldi berusaha keras untuk tidak ikut campur dan peduli.
"Kakak telah berubah. Aku yakin itu. Aku udah nggak punya kemarahan sedikit pun mengenai masa lalu kita berempat. Aku sudah memiliki Aldi. Dan aku berharap hubungan kakak dan suami kakak juga berjalan baik. Aku akan berusaha membalas kebaikan kakak yang sudah berkorban besar demi aku kemarin. Ijinkan aku menjadi adikmu yang baik, kak." Kiara terus saja mendekatkan jaraknya dengan Bella yang duduk di ranjang empuk rumah sakit. Kiara menyentuh tangan Bella di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Bella tersentak merasakan sentuhan Kiara. Bella menoleh dan menatap dalam mata Kiara yang selalu jernih.
"Aku tidak pantas. Aku bukan kakak yang baik." Bella kini menatap Aldi. Meminta persetujuan dan bantuan agar Kiara berhenti bersikap seperti ini. Bella berharap Aldi membawa Kiara pergi seperti biasa.
Aldi melihat sinyal yang Bella berikan. Tapi Aldi hanya diam saja. Tidak menanggapi apapun isyarat yang Bella inginkan.
"Kakak sudah menunjukkan betapa baiknya kakak dengan menyelamatkan aku. Itu sudah cukup bagiku. Kini giliran ku menjadi adik yang baik. Kakak cukup menerimaku sebagai adik kakak satu-satunya." Kiara meletakkan satu lagi tangannya ke atas tangan Bella. Kiara menegaskan keseriusannya.
'Apakah kali ini mereka berempat bisa berdamai dengan masa lalu?' Pikiran ini memenuhi benak Bella. Kepalanya seketika pusing. Bella memegang kepalanya.
Bima yang sejak tadi fokus memeperhatikan Bella menyadari bahwa Bella sedang tidak baik-baik saja. Bima berlari ke sisi Bella.
"Kamu pusing, Bel? Bersandarlah. Aku akan memanggil dokter." Bima membuat Bella menurutinya, kemudian menekan tombol darurat untuk memanggil dokter yang bertugas.
Aldi yang melihat perubahan ini menarik Kiara ke sisinya. Menjaga jarak yang cukup jauh agar dokter dan para medis nantinya tidak terganggu dengan kehadiran mereka berdua.
"Kak Bella kenapa Al?" Kiara sudah kembali ingin menangis. "Apa karena aku lagi?"
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers
Hari ini sudah 2 chapter ya. Simak terus update cerita ini, please :)
_Dinda^^
__ADS_1