
Kiara masih belum kunjung membuka mata meski sudah sadar dan bernafas. Dari wajahnya seolah sedang berada dalam suatu mimpi buruk yang membuatnya gelisah. Setelah Aldi membaringkannya di ranjang, Aldi langsung menghubungi penanggung jawab resort. Aldi menanyakan mengenai keberadaan rumah sakit di dekat resort. Juga ada tidaknya dokter di resort ini. Aldi mengabarkan juga mengabarkan jika istrinya tenggelam dan dalam kondisi kritis. Istrinya butuh diberi penanganan medis sesegera mungkin.
Sambil melakukan panggilan telefon, Aldi melepaskan baju Kiara yang sudah basah kuyup. Aldi belum pernah melihat tubuh polos wanita mana pun. Aldi juga tidak berencana melihat Kiara tanpa pakaian untuk pertama kalinya dalam kondisi tidak sadar begini. Aldi berusaha menekan perasaan tidak nyaman ketika melepaskan semua pakaian Kiara yang sudah basah. Kiara tidak boleh dibiarkan mengenakan pakaian basah lebih lama.
Jika saja bisa, Aldi sudah pasti memandikan Kiara dengan air hangat supaya suhu tubuhnya segera normal. Tapi Aldi tidak sanggup melakukan hal itu. Aldi memilih cara ini saja. mengganti pakaian basahnya dengan yang lebih hangat saja. Aldi mencari baju paling tebal di koper Kiara. Juga memasangkan jaket Kiara. kemudian menambahkannya dengan selimut.
Kiara telah aman dengan pakaian tebal ditambah dengan selimut yang masih membungkusnya. Aldi melanjutkan mengemas koper mereka berdua. Saat sudah selesai dengan koper, petugas resort datang untuk membawakan barang mereka. Aldi sendiri menggendong Kiara dengan kedua tangannya. Mendekatkan Kiara ke dekapannya. Aldi teringat akan keinginannya malam ini mendekap Kiara ketika dia sedang tidur. Dan Tuhan mengabulkan keinginannya, Tapi kenapa dengan cara seperti ini? Bukan ini yang Aldi inginkan.
Meski dalam pikiran Aldi sedang berkecamuk banyak hal, Aldi tetap fokus menggendong Kiara sampai ke kapal. Mereka akan berangkat naik kapal tercepat yang bisa ditemukan pihak resort. Mereka akan ke Rumah sakit Umum Daerah kepulauan seribu di pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara. Hanya itu rumah sakit besar terdekat yang bisa Aldi pilih. Jaraknya masih sekitar tiga puluhan kilometer lebih dari pulau Ayer tempat mereka berada saat ini. Kapal ini harus menggunakan kecepatan maksimalnya untuk tiba di pulau Panggang dalam waktu setengah jam. Aldi tidak menginginkan Kiara mendapatkan penanganan lebih dari itu.
Aldi tidak pernah berpikir untuk memilih menginap di pulau kepulauan seribu yang memiliki rumah sakit seperti di pulan Panggang. Aldi fokus mencari pulau dengan resort yang memiliki paket bulan madu dan juga pemandangan laut yang disukai Kiara. Aldi juga tidak menyangka berada tepat di atas laut membuat Kiara ingin melompat ke laut begitu saja dengan mudahnya.
Mengingat bagaimana Kiara melompat ke laut membuat Aldi memperhatikan wanita yang kini berada dalam pangkuannya dalam kondisi masih tidak sadar. Aldi masih tidak habis pikir kenapa Kiara melompat ke laut. Menunggu kapal mereka tiba di pulau Panggang terasa sangat lama bagi Aldi. Pikiran Aldi berantakan dan tak bisa merencanakan apa pun. Padahal Aldi terbiasa merencanakan semua hal setahap lebih awal. Keadaan Kiara yang tidak menentu membuat Aldi tidak tahu harus melakukan apa selama Kiara belum sadar dan dinyatakan keluar dari masa kritis.
Tiba di dermaga kapal, Aldi langsung membopong Kiara ke kendaraan yang telah menanti untuk membawa mereka ke rumah sakit. Jalanan tampak lengang dan sepi. Aldi yang masih mendekap Kiara dalam pelukannya menyuruh sopir yang mengendarai mobil mereka untuk menjalankan mobilnya lebih cepat secara terus menerus. Aldi berusaha menahan keinginannya menyetir mobil ini sendiri dengan lebih cepat. Akan tetapi dengan Aldi sendiri yang menyetir, maka Aldi tidak tega untuk membiarkan Kiara berbaring sendiri di kursi belakang. Dengan kecepatan menyetir Aldi, Kiara akan terlempar-lempar seorang diri, bahkan bisa kena benturan dalam kondisi tidak sadar begini. Aldi juga tidak ingin Kiara berada di pangkuan sang sopir meski dalam kondisi Kiara yang tidak akan menyadari apa yang terjadi.
Begitu tiba di rumah sakit, tim medis telah bersiap menangani Kiara. Pihak resort telah menghubungi rumah sakit untuk bersiap menerima Kiara dan merawatnya. Kini Kiara berada di atas brankar rumah sakit menuju ruang Intensif Care Unit. Aldi tidak bisa memasuki ruang ICU. Hanya bisa menatap kosong ketika Kiara didorong masuk ke ruang ICU seorang diri.
__ADS_1
Beberapa dokter terlihat datang bergantian. Beberapa perawat juga keluar masuk mengambil beberapa alat dan obat. Aldi hanya duduk seorang diri di depan pintu bertuliskan ICU itu. Mengamati dan menanti setiap hal kecil yang terjadi begitu ada yang membuka pintu.
Aldi terus menanti hingga tengah malam pun tiba. Sebentar lagi hari akan berganti. Kenapa belum ada yang mengabari bagaimana keadaan Kiara?
"Hai, Bro." Mike menepuk pundak Aldi.
Aldi tidak menjawab. Aldi tetap diam menatap pintu ruang ICU. Seolah tidak mendengar sapaan Mike barusan.
Mike sempat dikabari mengenai keadaan Kiara oleh Aldi ketika Aldi tadi masih sempat memegang telefonnya. Mendengar nada panik saudara sepupunya itu, Mike memutuskan langsung menyusul ke RSUD Kepulauan seribu dengan kapal pesiar pribadi milik perusahaan keluarga. Sejak Mike mengenal Aldi, Aldi selalu tampak tenang. Jarang ada yang bisa membuat Aldi sangat panik seperti ini.
"Tiga jam"
"Belum ada satu pun yang memberitahu apa yang terjadi dengan Kiara di dalam?"
"Tak ada apa pun." Aldi menjawab dengan masih menatap pintu ruang ICU.
Mike menepuk-nepuk pundak saudaranya dan memberikan kehangatan melalui telapak tangannya ke punggung Aldi. Berharap Aldi lebih rileks dan merasa nyaman karena tidak sedang sendiri ketika sedang mendapat musibah seperti ini.
__ADS_1
Melihat Aldi seperti ini, membuat Mike teringat kejadian beberapa bulan lalu ketika papa Aldi meninggal. Aldi juga terlihat dingin seperti ini. Aldi tidak tampak menangis. Tapi jauh dalam lubuk hati Mike memahami bahwa kesedihan dan rasa sakit Aldi lebih parah karena Aldi tidak dapat menyalurkannya. Mike berharap keberadaannya di sisinya saat ini mampu membuat Aldi tidak menahan perasaan apa pun yang dia pendam.
Setelah sekian lama menanti berdua bersama Mike, Akhirnya Aldi melihat sekelompok dokter keluar dari ruangan ICU. Salah satu dokter yang tampak sebagai pemimpin tim medis menghampiri Aldi dan Mike.
"Pasien sudah melewati masa kritis." Ucap sang dokter. Mendengar hal itu, Aldi tampak lega.
"Pasien mengalami edema paru karena terlalu lama tidak mendapat oksigen ketiga tenggelam. Meski sudah melewati masa kritis, kami akan mengobservasi keadaan pasien dalam 1 x 24 jam. Semoga pasien segera sadar dalam kurun waktu itu."
"Apa saya sudah boleh menemui istri saya, dok?" Aldi sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Kiara secara langsung.
"Maaf, pak. Istri bapak belum bisa ditemui. Kita tunggu hingga besok pagi. Jika keadaannya membaik, baru bapak bisa masuk melihat keadaannya."
Aldi tidak menjawab. Pandangannya kembali kosong, melihat hal itu, Mike yang mengucapkan terima kasih kepada sang dokter sebelum dokternya pergi.
"Tenanglah, Al. Kiara sudah melewati masa kritis. Dia pasti akan membaik. Kamu bisa bertemu dengan Kiara besok. " Mike menepuk-nepuk punggung Aldi.
"Ya, dia akan baik-baik saja. Aku akan menunggu dia di sini. " Aldi seolah tahu jika Mike akan mengajaknya pergi dari rumah sakit untuk beristirahat. Aldi mendahului Mike untuk menolak ajakannya beristirahat. Berada sedekat mungkin dengan Kiara membuat Aldi lebih tenang.
__ADS_1