
"Kamu tahu, sejak kamu selesai berdandan malam ini, aku tidak rela kamu keluar dilihat banyak orang ketika secantik ini. Aku sangat ingin menunda acara pesta jika bisa. Apalagi usai kamu bilang mencintaiku, ingin rasanya aku menyekap kamu di kamar hingga tiga hari ke depan."
Aldi terus berkata-kata sambil menelusuri garis leher Kiara hingga ke tulang selangkanya. Aldi sengaja berlama-lama di sana dan melihat reaksi Kiara. Mencoba memastikan apakah Kiara menyukai sentuhannya atau tidak.
"Lalu kenapa kamu ngelepasin aku untuk datang ke pesta? Kamu kini berkuasa Al. Kamu bisa membuat aku tidak keluar dari rumah kita sampai dua bulan lebih. Satu malam lebih lama nggak akan ada bedanya bagiku."
Kiara mengucapkannya sambil menggigit bibir bawahnya. Gelanyar perasaan yang diberikan oleh sentuhan Aldi di lehernya membuat pikirannya berkabut. Untuk tetap menjaga pikirannya tetap bisa berpikir dan mengucapkan sesuatu kepada Aldi, menggigit bibirnya sedikit akan mengirimkan sedikit rasa sakit yang membuatnya tetap sadar. Dia tidak boleh begitu cepat larut ke dalam permainan Aldi. Dia tidak ingin terlihat gampangan seperti mantan kekasihnya, Verlita.
"Saat pertama kita berdua harus spesial, Ra. Tidak tahukah kamu hal paling mendasar itu?"
Kiara menggaris bawahi perkataan Aldi. Dia menyebut saat pertama mereka berdua. Aldi mengakui bahwa dirinya belum pernah melakukan hal seperti ini dengan wanita lain. Aldi mengatakannya berulang kali. Tapi masih saja ada rasa ragu di hati Kiara. Trauma dengan Bima membuatnya masih saja susah untuk percaya begitu saja.
"Bukankah yang paling mendasar adalah keberadaan kamu bersamaku? Juga keberaadaan aku di samping kamu?"
Aldi merasa masih ada yang membebani pikiran Kiara. Tapi Aldi tidak bisa berpikir lebih jauh mengenai hal itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah mengajak Kiara merasakan panas yang sama dengan dirinya rasakan saat ini. Aldi semakin gencar menyerang leher Kiara. Aldi telah mengamati ekspresi wanitanya yang berusaha menahan apa yang Aldi berikan. Di bagian itulah Kiara sangat tidak tahan dengan perlakuan Aldi.
Aldi memberikan gigitan-gigitan kecil yang sukses membuat Kiara berteriak. Tapi teriakannya bukan karena rasa sakit. Kiara tak mampu menahan rasa yang Aldi berikan secara bertubi-tubi melalui gigitan-gigitan kecil itu.
Puas bermain dengan leher, Aldi meraih bibir Kiara yang baru saja berteriak. Bibirnya yang masih terbuka lebar itu Aldi sesap dan rasakan manisnya. Kiara yang sudah merasa tenggorokannya kering pun menyambut pertukaran cairan yang Aldi berikan pada bibirnya. Aldi bahkan memasukkan lidahnya. Lidah keduanya bertaut di dalam mulut Kiara. Memberikan sensasi berdenyut yang aneh di bagian bawah wanita itu.
__ADS_1
Aldi semakin mempererat pelukannya. Tangannya menjalar ke punggung Kiara berusaha mencari kaitan resleting bagian belakang gaun malam sang istri. Tapi Aldi yang masih sibuk dengan ciumannya kesusahan untuk membuka resleting gaun malam dari desainer internasional itu.
"Kamu serius nggak bisa membuka resleting gaunku? Nggak lagi pura-pura sedang kurang berpengalaman bersama wanita, kan?" Kiara melepaskan tautan lidah mereka. Mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal dan menunjukkan ketidak percayaannya.
"Kamu masih yakin aku pernah membuka gaun malam wanita lain sebelumnya?" Ada tatapan sedih di mata Aldi melihat raut wajah tidak percaya yang ditunjukkan Kiara.
"Aku memang tidak bisa sepenuhnya percaya sama kamu mengenai hal ini, Al." Kiara menantang Aldi dengan tatapannya.
"Kamu sudah bilang bahwa kamu mencintaiku, Kiara. Jadi kamu seharusnya juga percaya sama aku, percaya dengan cintaku sama kamu." Aldi juga semakin tersulut emosi. Panas tubuhnya yang semakin menginginkan Kiara sungguh menyiksa dirinya. Tapi Kiara lagi-lagi menjauh dan tidak juga percaya kepadanya.
"Saat ini kamu memang mencintaiku dan bersedia berkorban banyak hal untukku, Al. Tapi kita tidak tahu dengan hari esok. Bisa saja kamu tiba-tiba mencampakkan aku karena suatu alasan yang kamu anggap masuk akal."
Bima. Nama itu muncul kembali dalam benak Aldi. Lagi-lagi pengkhianatan Bima masih menjadi luka yang sangat membekas bagi Kiara. Tapi tunggu, bisa saja karena Kiara memiliki perasaan yang terlalu dalam kepada Bima. Kiara terlalu mencintai pria itu sebelumnya. Aldi menatap Kiara dan memikirkan semua ini hingga amarah semakin menguasai Aldi.
Tidak hanya berhenti di situ, Aldi yang masih tidak dapat membuka resleting belakang gaun Kiara tidak mau lagi terhalangi. Aldi merobek gaun malam cantik yang mahal itu. Dengan masih tetap berciuman, Aldi merobek lengan gaun Kiara baik kanan maupun kiri.
Kiara yang mendengar suara robekan kain itu tersadar dari buaian ciuman Aldi dan mendorong Aldi menjauh dengan kekuatan tangannya yang tidak seberapa. Tapi Aldi terkejut dengan penolakan Kiara dan menjauh sendiri. Aldi berjalan mundur ke belakang dengan tatapan tak percaya terhadap istrinya.
'Kiara menolaknya, lagi dan lagi.' pikir Aldi.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Al! Kamu marah sama aku karena tidak bisa percaya sama cinta kamu sepenuhnya?!" Kiara masih marah karena Aldi merobek gaun yang dia kenakan.
Melihat amarah di mata Kiara membuat Aldi berpikir dengan kepala dingin. Aldi menekan amarah maupun rasa panas yang ingin segera dituntaskan dalam dirinya.
"Aku ingin membuat gaun itu terlepas dari tubuh kamu, Kiara. Hanya itu cara yang terlintas di benakku. Aku tidak bisa memikirkan cara lain melakukannya. Jangan mendorong ku menjauh dari kamu lagi, Ra."
Aldi bicara dengan lembut. Bisa Kiara lihat Aldi memang sedang tidak berbohong. Wajahnya yang biasanya putih bersih kini bersemu merah dan matanya masih tampak sayu.
'Sepertinya Aldi sudah sangat tidak tahan untuk mendekatkan kulit kami berdua hingga memilih merobek gaunku dari pada menunggu ku sendiri membuka resleting gaun mahal ini. Ah, gaun yang cantik dan mahal ini kini robek karena ulah Aldi.' Pikir Kiara.
Aldi menangkap setiap ekspresi Kiara. Aldi yakin Kiara sedang memikirkan mahalnya harga baju yang baru saja dia rusakkan. Wanita ini memang berbeda. Sangat jauh berbeda dengan satu-satunya wanita yang dulu pernah dekat dengannya.
"Maaf jika gaun cantik itu robek. Aku akan membelikan kamu gaun serupa. Aku akan membelikan sepuluh gaun yang sama cantiknya. Jangan menunjukkan wajah menyesal itu, sayang. Maafkan aku, ya." Aldi kini mendekatkan jarak mereka berdua.
Kiara bergeming. Tidak menjauh maupun menolak jarak Aldi yang kini sudah kembali dekat. Kiara memahami keinginan Aldi. Kiara dengan sukarela melepas resleting gaunnya. Membuat punggungnya kini terasa dingin oleh hawa AC kamar itu.
Sementara Aldi sejak tadi menahan nafas saat Kiara membuka resletingnya dengan perlahan.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Segini dulu ya, Like dan komen yang banyak biar besok Author nyempetin nulis kelanjutan sesi malam bulan madu Kiara dan Aldi.
_Dinda^^