Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Itu baju buat kamu


__ADS_3

"Hai, Aldi." Kiara tersenyum melambaikan tangan kepada Aldi yang masih berdiri diam di pintu apartemen Kiara. Aldi hanya diam mengamati Kiara.


"Kita pulang bareng kan?" Kiara berusaha mendapatkan respon Aldi yang tidak membalas sapaannya.


"En" Aldi hanya mengangguk singkat.


"Ini yang mau dibawa mana saja?" Aldi bertanya ketika melangkah masuk apartemen. Aldi mengamati dua koper dan empat kotak berukuran besar yang ditumpuk masing-masing dua.


Melihat semua barang yang siap dibawa, Kiara sadar bahwa semua barang tidak akan bisa masuk ke mobil Aldi. Jadi Kiara hanya akan membawa sebagian dulu. Besok baru akan diambil lagi.


"Koper kecil dulu saja. Sama satu kotak ini." Kiara menunjuk kotak berisi bahan makanan. "Sisanya besok aku ambil lagi."


"Sisanya juga dibawa semua?" Aldi mengerutkan alisnya.


"Iya dong. Kan emang aku kemas buat dibawa."


Sambil menatap Kiara dengan tenang, Aldi mengeluarkan telfonnya dan menghubungi seseorang.


"Kamu balik sekarang... Langsung ke lantai 15 nomor kamar 1503... Ya..."Aldi bertelfon tanpa memandang Kiara lagi.


Kiara memandang Aldi. Menanti penjelasan Aldi akan isi telfon barusan. Kiara penasaran siapa yang dihubungi. Apalagi Aldi juga menyebut nomor apartemennya kepada orang di ujung telfon.


"Kamu bawa koper kecilnya ke mobil. Aku nanti nyusul kamu." Cuma itu perintah Aldi, tak ada penjelasan lebih. Kiara ingin bertanya, tapi mengurungkan niatnya. Aldi biasanya mengacuhkan Kiara jika sedang dalam mode hemat bicara begini. Kiara putuskan untuk menuruti saja perintah pria ini. Dia kan baru selesai bekerja menangani hal penting. Bisa saja sedang lelah dan tak ingin banyak memberikan penjelasan.

__ADS_1


Tanpa diminta oleh Aldi, Kiara memberikan kunci apartemennya. Karena Aldi masih di sini dengan barang-barangnya, maka tentu saja yang keluar terakhirlah yang harus mengunci pintu apartemennya.


Kiara dengan santai menuju ke garasi apartemen dengan membawa koper kecilnya. Langsung menata koper di dalam mobil bersama barang belanjaannya di bagasi belakang, kemudian menyalakan mobil supaya AC mobil juga menyala. Tak lupa Kiara memutar playlist lagunya. Kemudian duduk manis menunggu Aldi di kursi samping kemudi.


Selang beberapa lama, Kiara melihat Aldi datang dengan satu kotak bawaannya. Ukuran volume kotaknya lumayan besar. Jika diangkat dengan kedua tangan seperti yang dilakukan Aldi saat ini, Kiara yakin tak akan bisa. Kiara awalnya berencana mendorong kotaknya saja. Toh tiap kotak ada penutupnya. Meski isinya akan berantakan juga tidak masalah. Tetap luarnya terlihat rapi karena ada penutup.


Aldi berjalan dengan ekspresi wajah yang datar. Wajahnya menunjukkan ketidakpeduliannya kepada apapun yang berada di sekitarnya. Dia memakai kemeja polos warna krem dengan celana hitam. Tanpa dasi maupun jas. Dua kancing baju paling atas dibuka. Kedua ujung lengan bajunya juga digulung hingga setengah lengannya terekspos. Lengan kekarnya nampak lebih menonjol lagi.


Memandang Aldi berjalan dengan ritme yang tidak terlalu lambat maupun cepat ke arah mobil dengan tampilan seperti itu membuat pikiran Kiara mengembara ke kejadian tadi malam. Ketika Aldi hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Kiara menggelengkan kepalanya mengusir bayangan Aldi itu.


Usai meletakkan apa yang dibawa di bagasi mobil belakang, Aldi duduk di kursi kemudi dan menjalankan mobilnya. Mereka siap pulang ke rumah.


"Kamu mau menyimpannya apa mengembalikannya?" Aldi mengeluarkan kunci apartemen dari saku kemejanya. Hanya menunjukkannya di hadapan Kiara.


"Barang kamu yang lain diantarkan setelah ini." Aldi menutup pembicaraan mereka berdua dengan kalimatnya dan menyimpan kembali kunci apartemen ke sakunya.


Kiara sudah tidak peduli kunci apartemennya disimpan oleh Aldi kembali atau bahkan mau Aldi buang sekalipun. Kiara tidak ingin menciptakan alasan untuk bertemu Bima lagi.


Melihat Kiara sibuk dengan pikirannya sendiri, Aldi fokus melihat jalan. Tidak ingin mengusik apapun yang gadis ini pikirkan.


Seperti perkataan Aldi, Koper besar berisi baju dan tiga kotak berisi peralatan dapur yang Kiara kemas tiba setengah jam setelah Kiara sampai di rumah. Aldi yang membukakan pintu dan menerima kedatangan orang yang mengantarkan barang-barangnya. Kiara sendiri tidak tahu siapa yang mengantarkan semua barangnya. Sebab Kiara sedang sibuk mengemas belanjaan bahan makanan yang dibeli dari Mall sekaligus menyiapkan menu makan malam mereka berdua.


Mbak Nani yang tadi pagi datang untuk membersihkan rumah dan mencuci baju serta menyeterika juga sudah pulang. Tugasnya memang hanya membantu di pagi hingga sore hari saja. Bahkan jika siang hari sudah menyelesaikan tugasnya, mbak Nani bisa langsung pulang. Sehingga Kiara sibuk sendirian menata dapur dan memasak.

__ADS_1


Aldi masuk ke dapur beberapa kali dengan mengangkat kotak berisi peralatan dapur satu per satu. Ketika membawa kotak terakhir, Aldi bertanya, "Koper besar kamu mau ditaruh di depan kamar kamu apa aku masukin ke dalam kamar?"


"Masukin ke kamar saja, Al. Makasih ya." Kiara menoleh sebentar ke arah Aldi sambil tersenyum. Aldi seperti biasa langsung lenyap begitu saja tanpa mengatakan iya atau membalas ucapan terimakasih Kiara.


Aldi masuk ke kamar Kiara dengan koper besarnya. Kamar itu nampak rapi seperti sebelum Kiara menempatinya. Hanya ada tambahan koper kecil yang berdiri di pojokan kamar. Kini bertambah satu koper besar berdiri di sisinya. Merasa urusannya telah selesai di kamar ini, Aldi memilih kembali ke kamarnya. Melanjutkan pekerjaannya dan menyibukkan diri hingga Kiara memanggilnya untuk makan malam.


Keduanya makan malam dalam diam seperti biasa. Aldi mengambil sendiri nasi, lauk, sayur dan beberapa menu pelengkap lain ke dalam piringnya. Tidak ada tanda atau perintah dari Aldi supaya Kiara melayaninya makan. Menu malam ini sederhana. Hanya ayam goreng krispi yang sebelumnya dimarinasi dengan bumbu dan sedikit tepung, cah sayuran, dan pelengkap berupa orek tahu tempe, acar, sambal dan kerupuk. Karena Aldi tidak bercerita mengenai ketidaksukaannya terhadap satu pun jenis makanan, Kiara anggap Aldi bisa makan apa saja menu yang Kiara sajikan.


Meski keduanya makan dalam diam, sesekali Kiara memperhatikan Aldi ketika makan. Barangkali ada ekspresi senang karena masakannya enak. Ataukah ekspresi jijik atau ketidaksukaan. Tapi sejauh Kiara mengamati, Aldi hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. Kiara sendiri makan dengan lahap. Aktifitas sejak makan siang bersama Aldi terasa sangat banyak dan menguras tenaga.


Usai makan malam, Aldi membukakan pintu untuk tamu lagi. Kali ini Mike yang datang. Kiara yang sedang membersihkan meja dan mencuci piring dan alat-alat dapur bekas memasak dapat melihat bahwa Mike lah yang datang. Kiara jadi teringat bahwa Aldi tadi siang bercerita bahwa Mike akan mengantarkan baju-baju yang Aldi pesan untuk Kiara.


Akan tetapi, Kiara lebih memilih melanjutkan pekerjaannya di dapur, membiarkan dua orang di ruang tamu itu berduaan dan terdengar saling melontarkan candaan dengan sedikit diselingi tawa. Kiara tak menyangka Aldi bisa bersikap begitu di dekat Mike, orang yang pasti cukup dekat dengan Aldi hingga bisa membuat Aldi tak lagi bersikap dingin.


Merasa Mike tamu yang spesial bagi suaminya, Kiara menyiapkan minuman dan cemilan dari makanan ringan kemasan yang tadi dibeli. Memasukkan cemilan ke dalam toples cantik yang diambil dari apartemennya. Kemudian membawa baki berisi minuman dan makanan ringan itu ke ruang tamu.


Saat Kiara mendekat, Aldi dan Mike masih saling bercanda. Tapi begitu Kiara tiba di hadapan keduanya, Aldi berhenti berbicara dengan Mike dan senyum yang ingin dilihat Kiara sudah tidak berbekas di wajah Aldi.


"Itu baju buat kamu." Aldi mengedikkan bahu ke arah beberapa tas kertas yang ada di lantai dekat pintu masuk. Ukuran tasnya lumayan besar. Terlihat ada sekitar empat sampai lima kotak yang tersusun rapi di dalam tas. Pakaian yang dimaksud pasti berada di dalam setiap kotak itu.


Melihat Kiara hanya memandang baju yang dibawa olehnya, Mike menjelaskan, "Aku bawakan sekitar 5 sampai 10 potong item untuk setiap jenis pakaian. Ada atasan untuk sehari-hari dan untuk blus kerja, bawahan berupa celana maupun rok, gaun untuk sehari-hari, juga gaun resmi. Sama ada beberapa aksesoris pendukung pakaian dan outer."


Kiara membelalakkan mata melihat banyaknya tas dengan berisi kotak di hadapannya. Kiara berusaha mengkalkulasi jika setiap item dapat diskon dan dirata-rata seharga 1 juta setiap helai pakaian, berapa puluh juta nilai dari baju di hadapannya ini?

__ADS_1


__ADS_2