Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Bima vs Aldi


__ADS_3

Bima menerima telfon dari nomor tak dikenal. Biasanya Bima enggan mengangkat. Tapi kali ini Bima mengangkatnya.


"Selamat siang, pak Bima. Saya Aldi. Pegawai WS TECH. Kita pernah berkenalan di kantor saya." Bima disambut dengan sapaan yang cukup formal dari ujung telfon sana.


Bima juga sadar siapa Aldi. Tidak ada kaitan pekerjaan secara langsung di antara keduanya. Kemungkinan ini mengenai Bella.


"Saya meminta waktu anda hari ini untuk membahas tentang tunangan kita. Mengenai Bella tunangan saya. Dan juga Kiara tunangan anda. Kapan dan dimana kita bisa bertemu?" Aldi melanjutkan perkataannya mendengar Bima masih belum merespon.


Bima yang masih asik melihat Bella dan Mommy Diandra mengobrol ke sana kemari tiba-tiba menjauh dari keduanya. Khawatir Aldi mendengar suara Bella yang sedang mengobrol dengan sang mama.


"Sore ini saya bisa. Nanti saya kirimkan tempatnya. Saya pesankan tempat dulu." Bima akhirnya menjawab


"Oke. Sampai ketemu nanti sore."


Bima memesan tempat di salah satu restoran yang memiliki private room. Lalu mengirimkan nama dan alamatnya ke Aldi.


\=\=\=\=\=\=\=


Aldi tiba lebih dahulu dari pada Bima. Terlebih dahulu memesan makanan dan minuman untuk dirinya. Karena baru pulang kerja, Aldi merasa sudah kelaparan dan tak ingin menunggu kedatangan Bima untuk mulai makan.


Bima datang ketika Aldi hampir menyelesaikan makannya. Bima hanya menunggu Aldi selesai makan. Tidak ingin makan bersama Aldi. Sebab di rumah nanti Bella dan mommy Diandra akan memasak makanan kesukaan Bima. Makan malam di rumah lebih menggoda. Dari pada di sini bersama Aldi.


"Maaf. Pak Bima jadi harus menunggu saya makan." Aldi sudah menyelesaikan makannya. Waktunya membicarakan pasangan mereka.


"Saya ingin membicarakan mengenai calon istri kita." Bima masih menanti Aldi mengatakan maksud dari pertemuan ini.


"Saya mendapat wasiat dari papa saya untuk menikahi anak dari temannya. Papa tidak menyebutkan anak sulung atau bungsu dari temannya, jadi saya bisa menikah dengan salah satu dari Bella yang kini masih berstatus tunangan saya, atau menikah dengan Kiara, tunangan anda."


"Saya ingin kita bertemu untuk membicarakan mengenai hal ini." Bima sudah mulai marah mendengar ucapan Aldi. Bima tidak menyangka menikahi Bella berarti selamanya berpisah dengan Kiara.

__ADS_1


"Saya tidak ada masalah menikah dengan kakaknya maupun adiknya. Saya hanya butuh menikahi salah satunya. Karena ada hati yang dilibatkan dalam hubungan anda, maka saya serahkan keputusan mengenai pasangan kita ini ke tangan anda, pak Bima."


"Kenapa?" Bima hanya bisa mengucapkan satu kata. Lidahnya kelu mendengar informasi yang Aldi berikan.


"Iya?" Aldi bingung dengan apa yang ingin disampaikan Bima.


"Kenapa kamu mau menikah tanpa ada perasaan dengan calon istrimu?"


"Saya hanya menjalani hidup sesuai apa yang harus saya lakukan. Urusan hati berada di luar kendali dan kemampuan saya. Saya hanya bisa memahami bahasa komputer dan bahasa manusia. Tapi bahasa hati itu berbeda dengan apa yang mulut ucapkan. Saya tidak terlalu mengambil pusing. Jika urusan hati bisa disikapi dengan cara manusiawi, itu sudah cukup bagi saya." Aldi melihat kebingungan di mata Bima. Mungkin pria ini butuh pandangan hidup dari kacamata dirinya. Tidak ada salahnya berbagi prinsip hidupnya kepada pria di depannya ini.


"Kenapa kamu bisa menikah dengan Bella maupun Kiara? Tanpa ada beban siapapun nanti yang akan menjadi istrimu?"


"Pak Bima yakin ingin tau cara berpikir saya?"


"Ya, saya ingin tahu." Bima menjawab dengan lemah


Bima merenungkan perkataan Aldi agak lama.


"Berikan saya waktu." Bima menundukkan kepalanya berpikir.


"Kita tidak memiliki banyak waktu. Pernikahan kita tidak sampai dua minggu lagi." Aldi menjawab dengan santai.


"Besok saya akan memutuskan siapa yang akan saya nikahi. Tapi tolong perlakukan Kiara dengan baik jika saya nanti memilih Bella. Saya sangat menyayangi gadis itu. Saya pastikan akan turun tangan jika kamu menyakiti Kiara." Aldi tertawa mendengar hal ini.


"Sepertinya saya tahu siapa yang akan anda pilih, Pak" Aldi beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu. Bagaimana kamu tahu Bella dan Kiara bersaudara? Bagaimana kamu mengenal Kiara." Bima berusaha mencegah kepergian Aldi.


"Mungkin karena takdir saya dan Kiara akan bersama, maka saya jadi tahu Bella memiliki adik. Awalnya saya juga hanya tahu Bella anak tunggal." Aldi berbicara sambil tetap berdiri di kursinya.

__ADS_1


"Kiara dan saya tidak saling kenal. Kami hanya pernah tidak sengaja bertemu beberapa kali dan sempat ngobrol sekali. Itupun secara tidak disengaja."


"Karena Kiara belum kenal saya, maka saya putuskan mempertegas garis hubungan kita berempat. Paling tidak saya harus memperkenalkan diri kepada calon istri saya,kan pak Bima. Tidak mungkin kami hanya bertemu ketika pernikahan berlangsung."


"Saya harus pamit lebih dulu. Besok saya tunggu telfon bapak." Aldi pergi meninggalkan Bima yang masih merenung.


Setelah cukup lama merenungkan perkataan Aldi, Bima memutuskan menghubungi Kiara dan mengajaknya bertemu. Akan tetapi Kiara tidak kunjung mengangkat telfon dari Bima.


Bima memutuskan meninggalkan pesan untuk mengajak Kiara bertemu malam ini juga. Tapi pesan itu hanya dibaca. Tidak kunjung ada balasan. Bima menelfon ke hotel Marriot. Menanyakan apakah Kiara hari ini lembur.


Bima terkejut mendapat kabar bahwa Kiara hari ini tidak masuk kerja. Kiara ijin tida~~~~k masuk karena sakit. Bima langsung khawatir mendengar kekasih hatinya juga jatuh sakit.


Bima langsung mengendarai mobilnya ke arah apartemen Kiara. Tapi di tengah jalan dapat telfon dari Mommy Diandra.


"Makan malam sudah siap, my Boy. Lekas pulang. Bella dan Daddy juga sudah menunggu."


"Mom, bisakah aku tidak ikut makan malam? Kiara sedang sakit. Hari ini dia tidak masuk kerja. Dia pasti sendirian."


"No, baby. Kamu gak bisa nyamperin Kiara. Penyakitnya ini karena kamu. Kamu datang hanya akan menambah luka di hatinya. Sebaiknya Bella yang jagain Kiara kalo memang Kiara masih sakit. Malam ini jangan temui Kiara. Kamu pulang makan malam. Bella akan merasa sedih kamu gak ikut makan. Dia sudah bersusah payah membantu mommy masak sejak tadi. Kami masak makanan favorit kamu."


Mendengar sang mama, Bima berubah jadi ragu. Kiara memiliki ketetapan hati yang kuat jika sudah memutuskan sesuatu. Kiara tidak mau bersama Bima. Jika Bima mendekatinya setelah tahu Bima mulai dekat dengan Bella, itu akan menyakiti Kiara lebih parah. Tapi kasihan sekali jika Kiara sendirian ketika sakit.


Perasaan Bima tak bisa tenang. Bima harus membuat keputusan sekarang.


Bima menghubungi Aldi dalam perjalanan pulang ke rumahnya.


"Kenapa cepat sekali pak Bima sudah menghubungi saya lagi. Pasti sudah punya keputusan." Aldi menerima telfon Bima dan menyampaikan kesimpulannya mengenai isi telfon Bima kali ini.


"Ya, kamu benar. Saya sudah memutuskan menikah dengan Bella. Kiara aku serahkan padamu. Tapi saat ini saya punya permintaan khusus."

__ADS_1


__ADS_2