
Aldi masih saja tampak dingin. Kiara memasuki mobil Aldi dengan merasa hawa dingin menusuk ke leher belakangnya. Membuat Kiara terdiam cukup lama. Apa pria ini sedang bersikap dingin karena tidak suka Kiara bertemu dengan Bima?
Kiara ingin menjelaskan alasan pertemuannya dengan Bima. Tapi Aldi hanya diam melajukan mobilnya ke arah mall yang tadi malam tidak jadi mereka kunjungi. Wajah tampan Aldi tampak tenang tanpa ekspresi. Setelah cukup lama menatap Aldi yang sedang menyetir, tiba-tiba kesedihan menyergap hati Kiara. Berinteraksi dengan Bima selalu menghasilkan rasa tidak enak di hatinya. Seperti ada sebuah kerikil kecil yang mengganjal di hatinya.
Aldi sejak tadi melirik Kiara dari spion yang di dalam mobil. Aldi melakukannya hanya sesekali dengan samar seolah sedang melihat mobil yanga ada di belakang. Membuat Kiara tidak sadar jika sejak tadi Aldi memperhatikan ekspresi wajahnya yang berubah dari terpukau menatap Aldi menjadi wajah sedih seolah akan menangis.
Inilah yang membuat Aldi tidak suka Kiara menemui Bima. Meski Kiara tampak baik-baik saja, Kiara akan diam-diam menangis atau bersedih. Seperti halnya malam dimana Aldi menunggu Kiara yang sedang sakit di apartemennya.
"Saya tahu bahwa saya tampan. Kamu nggak perlu melihat saya sampek nggak berkedip begitu." Aldi masih menatap ke arah jalan dengan wajah tenangnya. Tidak menoleh sedikitpun ke arah Kiara. Tapi sukses mengalihkan perhatian Kiara yang dari tadi memandang wajah Aldi.
"I... Iya." Kiara salah tingkah. Kok tumben berkomentar begini. Biasanya Aldi membiarkan Kiara memandang ketampanannya sepuasnya.
"Kalo kamu sakit hati dan butuh pelampiasan, apa melihat wajah tampan saya saja cukup untuk jadi obat?" Kiara heran ternyata Aldi tahu Kiara sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak cukup. Perempuan butuh berbelanja sepuasnya untuk menjadi pelampiasan."
"Cuma belanja?" Aldi mengangkat alisnya. Tapi kini menoleh sejenak ke arah Kiara. Perkataan Aldi seolah mengejek, tapi Kiara memperhatikan usaha Aldi mengalihkan perhatiannya.
'Mungkinkah Aldi memahami perasaannya sekarang?', pikir Kiara.
"Kok nggak dijawab. Kamu cuma mau belanja?" Kiara baru sadar jika sempat melamun.
"Memangnya kamu mau menemani saya melakukan hal lain selain belanja?"
"Apa dulu hal lain itu."
"Aku mau makan, mau jalan-jalan ke arena bermain, lalu mah ke taman untuk sekedar duduk-duduk, lalu..." Kiara berhenti sambil berpikir.
"Stop, stop. Kenapa bertambah terus!"
"Kebanyakan ya. Hehe" Kiara kini garuk-garuk kepala. "Kan aku punya jatah libur tiga hari. Jadi ya asal sebut saja kegiatan yang sekiranya menyenangkan untuk dilakukan tiga hari ke depan."
"Kamu nggak punya teman dekat cewek di kota ini?"
__ADS_1
Kiara tertegun mendengar pertanyaan Aldi. Sejak Kiara berada di kota ini, Kiara hanya dekat dengan Bima. Dunianya hanya berisi Bima dan pekerjaan. Hingga tidak ada waktu bagi Kiara untuk bersosialisasi atau berdekatan dengan teman kerja perempuan atau perempuan lain yang sebaya dengannya. Satu-satunya perempuan yang sempat dekat dengannya hanyalah kakaknya, Bella.
"Nggak ada. Aku sebatang kara. Tanpa teman atau keluarga yang dekat denganku."
Aldi diam. Tidak ingin membicarakan apapun lagi.
Beberapa saat kemudian keduanya tiba di Mall terbesar di kota. Aldi mengajak Kiara langsung masuk ke salah satu toko baju di lantai 4 yang luas tokonya menempati sebagian besar dari seluruh lantai 4. Di toko ini hanya ada baju laki-laki dan perempuan. Tapi toko bajunya luas sekali. Dari baju perempuan untuk kerja, santai, hingga gaun pesta ada semua.
Kiara mencoba melihat salah satu baju kemeja yang memiliki aksen lipit di bagian dada dengan warna yang bergradasi. Kiara membuka tag harga.Tapi Kiara langsung membelalakkan mata tak percaya. Blus dengan kesan simpel itu berharga dua juta sekian ratus ribu rupiah. Meski baju yang selama ini Kiara beli di Mall Kiara anggap lumayan mahal, tapi harganya masih hanya beberapa ratusan ribu saja setiap potongnya. Kiara mencoba mengecek harga blus lain yang polos, harganya juga masih di atas satu juta.
Kiara sejak kecil terbiasa memakai baju bekas yang disumbangkan oleh para dermawan. Berpakaian bagus tidak pernah menjadi prioritas dalam hidupnya. Untuk membeli baju seharga ratusan ribu selama bekerja di kota ini saja Kiara merasa sangat menyayangkannya. Jika bisa, Kiara ingin membeli baju dengan haga di bawah seratus ribu saja. Seperti ketika Kiara masih bekerja sebagai resepsionis hotel di kota kecil, sebelum pindah ke kota ini.
Tapi karena tuntutan pekerjaan dan keinginan Bima supaya Kiara berpenampilan baik seperti teman-teman seprofesi, Kiara merelakan membeli baju lumayan mahal di mall. Seringnya Kiara menunggu ada diskon agak besar baru membeli baju. Kiara juga selalu menolak ajakan Bima berbelanja baju. Karena pasti Bima akan membayar semuanya.
Selama ini Kiara tidak suka memakai uang Bima. Kiara hanya mau dibayari ketika makan bersamanya atau ketika belanja kebutuhan dapur ditemani Bima.
Kini nafsu Kiara untuk berbelanja baju di toko ini sudah menguap. Kiara hanya ingin mencari Aldi yang tadi pergi ke bagian baju pria. Kiara tidak ingin berbelanja di toko ini.
Setelah cukup lama berputar-putar dan mencari, Kiara akhirnya melihat Aldi. Dari jauh terlihat Aldi sedang berbicara dengan seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam. Kiara merasa senang dan lega menemukan pria dingin itu. Tapi Aldi tampak sedang mengobrol dengan senyuman dan mimik wajah yang ceria. Kiara jadi berusaha mengingat, Apa pernah Kiara melihat Aldi tersenyum ramah seperti itu di hadapannya?
Aldi melihat Kiara berjalan mendekatinya dengan terburu-buru. Alisnya berkerut berusaha menebak alasan gadis itu bukannya belanja malah mencari dirinya.
"Apa aku mengganggu obrolan kalian?" Sapa Kiara kepada Aldi dan temannya yang memiliki mata berwarna biru. Jelas sekali bagi Kiara jika teman Aldi ini bukan asli Indonesia. Kiara baru ingat kalau Aldi sebelumnya kerja sebagai programmer di luar negeri. Pantas sekali jika mempunyai teman bule seperti ini.
"Ada apa?" Alis Aldi masih berkerut menatap Kiara. Berusaha menebak keinginan gadis ini.
"Ayo pindah ke toko yang lain."
"Kamu sudah selesai memilih? Nggak ada yang kamu suka?"
"Iya. Aku nggak cocok dengan baju-baju di sini."
"Kok bisa. Tadi ku lihat banyak yang bagus. Sesuai dengan gaya berpakaian kamu selama ini dan serian baju musim ini juga sesuai warna kulit kamu."
__ADS_1
"Kamu terbiasa beli baju di sini?"
"Ya. Cukup sering. Meski aku nggak datang langsung. Cukup memesan kepada dia." Aldi menunjuk pria bule di sampingnya. Raut wajah Aldi sama sekali tidak tampak dingin. Membuat Kiara semakin heran. Membuat Kiara hampir saja lupa dengan tujuannya untuk mengajak Aldi pergi beli baju di toko lain yang lebih murah. Ke toko baju yang sesuai dengan isi kantong Kiara.
"Kamu pilih saja. Nggak usah pedulikan harganya. Pilih yang kamu suka."
"Mana mungkin aku nggak peduli dengan harganya."
"Ya karena toko ini milik dia. Kamu tinggal ambil aja baju yang kamu mau. Nanti dia kasih diskon besar kok."
"Kamu jangan bohong sama aku. Toko ini sama sekali nggak nulis ada diskon."
"Kamu ini lucu ya. Dikasih harga murah nggak mau. Diskonnya ini khusus buat aku sama kamu aja. Kan sudah aku bilang kalau dia ini temenku."
Kiara kini diam. Berdebat dengan Aldi tidak membuat Kiara menang.
Teman bule di sebelah Aldi sejak tadi ingin berbicara tapi perdebatan Aldi dan Kiara terlalu seru untuk disela. Kini karena Kiara terdiam dan Aldi sedang menunggu Kiara berubah pikiran, sang bule ingin ikut berbicara kepada Kiara.
"Sepertinya saya belum diperkenalkan. Saya Mike, teman Aldi." Mike sang bule mengulurkan tangan kepada Kiara untuk berkenalan.
Belum sampai Kiara menjabat tangan Mike, Aldi menepuk tangan Mike. "Kenalannya nggak usah pakai pegangan tangan segala."
Kiara heran mendengar sang bule bicara dengan lancar dalam bahasa Indonesia. Kiara kira dari tadi bule ini diam saja karena tidak memahami isi perdebatan Kiara dengan Aldi. Tapi Kiara lebih heran lagi karena uluran tangan Mike untuk berkenalan dihalangi oleh Aldi.
Aldi kenapa sih? Sok protektif sekali. Jabat tangan buat kenalan saja dihalangi.
\=\=\=\=
Terima kasih untuk semua like dan komen para pembaca kesayangan...
Komentar baik kalian memacu saya untuk tidak sabar melanjutkan bercerita di sela-sela pekerjaan. Stay positif thinking 'n happy weekend guys
__Dinda^^
__ADS_1