Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Kiara yang tersakiti


__ADS_3

Kiara kembali menerima pesan dari orang yang pernah mengiriminya pesan bahwa Aldi adalah pembohong.


Tapi kali ini Kiara menerima 5 kiriman foto Aldi dari pengirim pesan gelap tersebut. Tapi tidak hanya Aldi yang ada dalam foto itu. Ada wanita lain dalam foto itu. Dia adalah Verlita.


Kiara hanya sempat melihat foto itu sekilas tanpa memperhatikan dengan seksama apakah foto itu asli atau editan. Tapi apa yang sedang mereka lakukan dalam foto itu nampak cukup jelas bagi Kiara.


Aldi melakukannya dengan Verlita. Kiara membeku menatap kelima foto itu bergantian. Dunianya seolah berhenti berputar di detik itu juga.


Kiara sudah tidak bisa berpikir lagi mengenai foto-foto itu. Dadanya sesak. Dia butuh oksigen.


Kiara meletakkan teleponnya dan mengambil tasnya.


'Aku butuh udara segar. Ini terlalu menyesakkan.' batin Kiara


Kiara berpamitan kepada bunda panti asuhan untuk pergi keluar mencari udara segar. Kiara hanya membawa tas berisi dompet. Tapi meninggalkan ponselnya di kamar. Kiara tidak ingin melihat foto dalam ponselnya. Kiara butuh ruang untuk menata hati dan pikirannya.


Kiara pergi ke danau. Menghirup udara segar meskipun udara yang dia hirup masih terasa menyesakkan.


Apa yang dia rasakan sangat berlawanan dengan banyaknya pepohonan rimbun dan hijau di sekitar danau yang menyejukkan.


Untuk waktu yang lama Kiara termenung memandang ke satu titik di ujung terjauh danau. Dia hanya duduk diam bagai patung cantik yang melengkapi keindahan danau yang sedang sepi pengunjung itu.


Danau ini berada di pinggiran kota. Dulu ketika masih tinggal di panti asuhan Kiara biasa ke sini. Di setiap Kiara sedang banyak pikiran dan tak sanggup lagi melangkah mengambil keputusan dalam hidupnya, Danau ini menjadi tujuannya.


Bahkan bunda panti sangat hafal kebiasaan Kiara ini. Ketika dia berpamitan ingin mencari udara segar, maka ibu panti paham ke sini lah tujuan Kiara.


Area danau memiliki banyak pengunjung di pagi hari dan di hari libur. Ini sudah sore, suasana juga sudah mau gelap. Tidak banyak yang berkunjung dan berpiknik pada jam ini. Kiara merasa sendiri dalam sepi.


Kiara memegang dadanya dengan telapak tangannya, ingin mengusir rasa sesak yang sudah berjam-jam dirasa. Memukul-mukul dada kirinya yang semakin sakit.


Tidak setetes pun air mata yang mengalir. Kiara masih merasa ini tidak mungkin. Kiara ingin mengumpulkan tenaga untuk melakukan sesuatu tapi Kiara tidak memiliki kekuatan untuk bangkit dari tempat duduknya saat ini.


Tidak terasa malam pun tiba. Kiara harus pergi dari sini. Dengan sepenuh tekat, Kiara ingin bangkit dan pergi. Tapi Kiara terjatuh setelah beberapa langkah. Kakinya tersangkut akar pohon yang mencuat. Kiara jatuh dengan bertumpu pada lutut dan telapak tangannya.


Kiara sedang tidak bisa fokus dengan apa pun. Akar pohon  yang mencuat dari tanah dengan ukuran sebegitu besar saja tidak terlihat olehnya.


Dengan menguatkan diri, Kiara kembali berusaha berdiri meski lututnya terasa perih akibat terluka dan sedikit terasa nyeri akibat benturan dengan tanah.


"Aku bantu Kiara," Suara seorang pria yang menggamit lengan Kiara untuk membantunya berdiri.

__ADS_1


Kiara terdiam. Kiara berharap Aldi yang datang. Tapi Kiara sadar bahwa tidak mungkin Aldi yang datang. Suaranya pun berbeda.


Kiara menoleh ke pria yang memegang lengannya. Bima dengan wajah cemasnya lah yang ada di sampingnya.


"Kamu... Kenapa bisa di sini." Kiara ingin berkata lebih, tapi lututnya kembali terasa sakit.


"Aku mencari kamu, Kiara. Ayo kita obati lutut kamu dulu." Bima memapah Kiara sampai ke mobilnya. Kiara yang sudah tidak bertenaga dan kesakitan dengan pasrah dipapah oleh Bima hingga masuk mobilnya.


"Ke rumah sakit terdekat." Perintah Bima kepada sopir di depan kemudi.


"Bagaimana kamu bisa ke sini?" Kiara menodongkan pertanyaannya kembali


"Aku mencari kamu."


"Kenapa mencari aku?"


"Aku tahu kamu membutuhkan aku, Ra."


"Aku enggak butuh kamu,"


"Benarkah. Bagaimana kamu pulang atau ke rumah sakit jika aku enggak datang?"


"Aku tahu kamu sedang sedih. Aldi telah mengkhianati kamu." Bima ingin membuat Kiara sadar dengan apa yang terjadi.


"Kenapa kamu bisa tahu Aldi berkhianat?"


"Aku yang mengirimkan foto pengkhianatan Aldi, Ra. Aku ingin kamu sadar bahwa Aldi pembohong,"


"Kamu enggak usah repot-repot melakukan itu. Kita bukan siapa-siapa."


"Tidak, Kiara. Aku kakak ipar kamu saat ini."


"Kamu sendiri sadar itu, Bima. Kenapa kamu tidak berlaku baik kepada kak Bella jika sadar aku ini adiknya kak Bella."


"Kamu masih membela kakakmu, Ra?"


"Kamu tidak seharusnya mencampuri masalahku dengan Aldi sedikit pun, Bima. Kamu suami kakakku."


"Aldi sudah berbohong dan menyakiti kamu, Ra. Bagaimana mungkin aku diam saja."

__ADS_1


"Aku sama sekali baik-baik saja dengan Aldi. Kamulah yang menjadi masalahku. Kamu enggak seharusnya di sini. Kamu seharusnya mengurus kakakku. Membahagiakan dia! Bukan mencari kesalahan demi kesalahan Aldi dan membeberkannya kepadaku!"


Kiara tersulut oleh emosi. Bisa-bisanya Bima melakukan ini.


"Kamu tahu enggak, Bim. Pesan demi pesan yang kamu kirim tentang Aldi selama ini sangat mengganggu dan menyakitkan!" Kiara kembali berteriak. Kali ini air mata lolos mengalir ke pipi mulusnya yang pucat.


"Kamu menyakiti aku dengan semua pesan-pesan itu, Bima!" Kiara masih tetap menangis dengan memukul-mukul dada Bima.


"Jangan menangis, Kiara. Kumohon jangan menangis." Bima memeluk Kiara yang masih belum berhenti menangis.


"Kenapa kamu yang mengirimkan pesan-pesan itu? Kenapa harus kamu yang kasih tahu aku mengenai semua ini? Kenapa?" Kiara masih berlinang air mata dalam pelukan Bima.


"Iya, aku salah, Ra. Jangan menangis lagi, Ra."


"Aku sudah jatuh cinta sama dia. Tapi kenapa kamu kasih tahu aku dia kembali sama mantannya! Kamu jahat sekali, Bima!" Kiara masih saja menangis sambil meronta dan berteriak kepada Bima.


Bima membeku mendengar kata cinta Kiara kepada Aldi. Hati Bima tidak sakit. Tapi terasa kebas. Tidak bisa merasakan sakit maupun sedih.


Bima hanya diam memeluk Kiara yang masih menangis dalam kurun waktu yang cukup lama. Bima melepas pelukannya begitu tiba di rumah sakit.


Kiara telah menghapus air matanya. Tapi wajahnya tak memiliki ekspresi apapun. Kiara hanya diam saat Bima memapahnya ke UGD rumah sakit.


"Bagaimana kamu tahu aku ada di danau? Bagaimana kamu bisa datang ke kota ini?"


"Satu per satu, Ra. Aku bakal jawab pertanyaan kamu nanti. Kamu diobati dulu ya, sayang."


"Hentikan memanggilku seperti itu, Bima."


"Aku masih sayang sama kamu, Kiara. Aku enggak bisa membohongi diriku. Aku terlalu bodoh mempercayai Bella."


"Jangan mengungkit masa itu. Kalian melakukannya dengan sadar untuk mengkhianati ku."


"Semua itu direkayasa oleh Bella. Aku dibius, Ra. Aku bisa membuktikannya."


"Aku sedang tidak memiliki tenaga untuk membahas ini. Bisakah kita segera menyelesaikan pengobatan dan pulang? Aku lelah."


Kiara berbaring dan memunggungi Bima.


Meraka menanti dokter dan paramedis menangani Kiara.

__ADS_1


Bima terdiam menatap punggung Kiara. Sementara Kiara begitu lelah hingga tak tahu apakah dirinya dalam kondisi sadar ataukah tidak.


__ADS_2