
Kiara terdiam mencerna perkataan Aldi barusan. Aldi mencintainya. Aldi menyayanginya, Aldi mempercayakan hati dan kepercayaannya kepada Kiara.
"Aku masih belum selesai bertanya Al. belum saatnya kamu balik bertanya." Kiara belum mau mengatakan perasaannya kepada Aldi. Masih banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Dari tadi kamu sudah bertanya banyak hal, Ra. Kapan dong giliran aku?" Aldi tidak mau kalah.
"Setelah aku selesai menanyakan semua hal yang membuat aku penasaran." Kiara tidak ingin dibantah.
"Katakan, sejak kapan kamu jatuh cinta sama aku?" Kiara berdebar-debar menanyakannya. Tapi tetap mengeluarkan pertanyaan ini.
"Apa hal itu penting untuk dijawab? Kenapa kamu nggak puas dengan tahu saja kalo aku ini cinta sama kamu, Kiara." Aldi gemas dan mencubit pipi Kiara.
"Kamu dulu itu dingin banget sama semua orang, Al. Termasuk aku. Trus kamu sadar kalo sudah cinta sama aku sejak masih dingin sama aku apa sejak kapan?"
"Mungkin sejak aku datang ke apartemen kamu karena diutus oleh Bima. Atau mungkin sejak tahu kamu diperdaya oleh Bella. Awalnya aku mengira hanya kasihan sama kamu yang menjadi korban percintaan. Aku seperti melihat diriku sendiri yang dikhianati oleh orang yang aku cintai."
"Jadi kamu sudah sejak lama suka sama aku, Al?"
"Iya, sudah lama sekali aku menyukai kamu, Ra. Dan perlahan rasa itu berubah jadi cinta yang dalam. Yang akan merasa sakit setiap kamu sakit. Yang akan merasa takut ketika kamu dalam bahaya. Yang akan menjadi kalut dan bingung ketika kamu nggak bisa aku temukan dan menghilang." Aldi menatap Kiara dengan intens. Telapak tangan Aldi memegang pipi Kiara.
Kiara diam menatap Aldi tanpa berkedip sedikit pun. Hatinya berdebar tidak karuan. Pengakuan cinta Aldi terlalu sulit untuk Kiara percaya begitu saja. Seorang Aldi yang pendiam dan dingin mengucapkan banyak kata puitis seperti ini untuknya. Apa ini sungguhan?
"Ketika kamu tenggelam dan hampir tidak terselamatkan, aku begitu hancur, Ra. Aku baru menemukan wanita sebaik kamu, tapi kamu hendak pergi. Aku merasa sangat marah ketika tahu kamu hampir mati hanya karena ingin mengambil cincin pernikahan kita yang terjatuh ke laut." Aldi menyentuh cincin pernikahan mereka di jari manis Kiara. Membawa tangan Kiara ke dekatnya dan mencium tangan Kiara tepat di bagian cincinnya.
"Jangan pernah bertindak bodoh dengan keselamatan kamu, Kiara. Aku bisa kehilangan harta sebanyak apapun tanpa merasa sakit. Tapi kamu harus tahu, aku akan menjadi sangat sakit jika aku kehilangan kamu atau melihat kamu terluka." Aldi menautkan kelima jarinya kepada lima jari tangan Kiara yang sebelumnya dia cium.
"Kamu mencintaiku dengan begitu besar, Al. Aku sungguh tidak pernah menyangka kamu memiliki perasaan sedalam ini untukku yang bukan siapa-siapa." Kiara belum menyelesaikan perkataannya karena Aldi menutup mulutnya dengan satu jari telunjuknya.
__ADS_1
"huusht" Aldi merasakan kelembutan bibir kiara yang tersentuh oleh jari telunjuknya. "Kamu berharga, Ra. Jangan pernah menganggap dirimu bukan siapa-siapa. Kamu adalah istri dari Revaldi Ahmad Wijisasongko. Kamu wanita istimewa dan paling penting di keluarga ini."
"Paling penting?"
"Iya, kamu adalah calon ibu dari pewaris keluargaku. Tentu kamu wanita paling penting."
Wajah Kiara memerah. Kenapa Aldi membahas mengenai anak. Mereka saja belum pernah melakukan hal itu.
"Kamu membayangkan apa hingga pipi kamu semerah tomat begini? Membuatku ingin memakan kesegarannya saja."
Kiara semakin malu mendengar ucapan Aldi. 'Apa mungkin Aldi akan melakukannya malam ini?' Pikir Kiara.
"Apa kamu sudah nggak punya pertanyaan lagi, Ra? Sudah bersedia menjawab satu pertanyaan aku tadi?"
Kiara gelagapan mendengar perkataan Aldi. Hatinya berdebar lebih kencang dari pada ketika mendengar pernyataan cinta Aldi. Mungkinkah kini saat yang tepat bagi Kiara mengatakan perasaannya? Apakah Aldi akan mempercayainya begitu saja? Kiara khawatir Aldi tidak percaya jika Kiara begitu saja bilang bahwa hatinya sudah berpaling kepada Aldi dengan begitu singkat.
"Apakah kamu akan percaya dengan apapun jawaban aku, Al?"
"Mungkin kamu bakal ragu jika aku bilang sudah suka sama kamu,"
"Tentu saja tidak. Aku memang ingin kamu menyukai aku."
"Jika aku bilang aku belum cinta sama kamu gimana? Kamu akan kecewa?"
"Jadi kamu hanya masih suka? Belum sampai mencintaiku?" Aldi kini balik bertanya.
"Jawab dulu pertanyaan aku, Aldi." Kiara tidak mau kalah lagi.
__ADS_1
"Jika kamu sudah menyukaiku, aku akan senang, Kiara. Tapi jika kamu belum mencintaiku, aku tidak masalah. Aku memiliki waktu seumur hidup untuk membuat kamu jatuh cinta sama aku. Yang terpenting, kamu sudah menghapus nama Bima dari hati kamu, juga dari hidup kamu."
'Aku mencintaimu, Al. Tapi dalam waktu yang singkat ini, berubah mencintai kamu akan terasa aneh. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Aku akan mengungkapkannya di waktu yang lebih tepat.' Kiara menatap Aldi. Mengatakan perasaannya hanya dalam hati.
"Ya, aku punya waktu seumur hidup bersama kamu." Kiara kembali menautkan kelima jari tangan kanannya kepada lima jari tangan Aldi.
"Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang. Aku tidak akan membiarkan diriku terluka atau dalam bahaya lagi. Kamu juga tidak boleh membahayakan diri kamu seperti kemarin, Al. Lebih mementingkan keamanan ku dari pada ke rumah sakit ketika terluka parah seperti itu. Apalagi kamu sengaja menutupi hal itu supaya aku nggak tahu kamu terluka demi aku." Kiara mulai tersulut emosi mengingat luka Aldi.
"Kamu tampak sangat peduli sama aku, Ra." Ada senyum di ujung bibir Aldi.
"Kamu kira aku nggak punya hati! kamu terluka karena aku, Aldi. Mana bisa aku menutup mata dan tidak peduli!"
"Aku terluka karena kurang berhati-hati. Aku kurang baik dalam melindungi kamu." Aldi membelai lembut rambut Kiara.
"Kita harus berhenti saling menyalahkan diri sendiri atau merasa bersalah kepada satu sama lain. Tidak akan ada habisnya jika kita berputar seperti itu terus, Al." Kiara menengahi topik ini.
"Tentu saja. Lalu kamu ingin kita melakukan apa? Aku masih belum bisa tidur."
"Aku juga belum ngantuk." Kiara salah tingkah. "Tapi kita tidak bisa melakukannya. Kamu sedang terluka."
"Jadi kita bisa melakukannya ketika lukaku sudah sembuh?" Aldi mulai menggoda Kiara kembali.
"Kamu menginginkannya?" Kiara tidak akan langsung jatuh ke dalam godaan Aldi seperti biasa. Kiara sudah belajar dari pengalaman.
"Aku selalu menginginkan kamu, Kiara."
"Lalu kenapa menjauh? Bahkan kamu ngasih aku kamar yang terpisah dengan kamu sejak awal kita menikah."
__ADS_1
"Tentu saja aku melakukan itu. Aku tidak mau kamu lari karena menganggap aku pria cabul yang suka mengambil kesempatan." Aldi tersenyum.
"Aku mengira kamu cowok pemilih. Dan aku bukan pilihan yang tepat buat kamu. Kamu menikahi aku hanya untuk menunaikan wasiat ayah kamu." Kiara menatap Aldi. Mencari kebenaran di mata Aldi.