
Kiara sedang dalam perjalanan ke panti asuhan. Aldi berada di sampingnya. Menyetir dengan diam dan tenang.
Semalam Aldi pergi begitu saja setelah Kiara memberi tahu rencananya berangkat ke panti asuhan.
Kiara mengira Aldi marah dan pergi meninggalkan Kiara sendirian di cafe itu. Ada rasa nyeri yang sama saat memikirkan Aldi yang makan siang bersama wanita lain. Tapi Kiara harus menghadapi rasa sakitnya dan mengesampingkannya seolah tidak merasakan apapun.
"Ini pesanannya." Pelayan datang membuyarkan apapun yang sedang Kiara pikirkan.
"Terima kasih." Kiara melihat pesanannya dan juga pesanan makanan serta minuman Aldi yang ternyata sama. Kiara hanya menghela napas panjang lalu mulai makan.
Kiara dengan susah payah berusaha mengunyah makanan di mulutnya. Memakannya hingga habis dari sesuap demi sesuap.
Usai menghabiskan makanannya, Kiara hendak pergi. Baru mau memikirkan bagaimana Kiara bisa pulang, Kiara malah dikejutkan dengan Aldi yang tiba-tiba berada di hadapannya.
"Kamu masih di sini?" Kiara menunjuk Aldi dengan telunjuknya, masih dengan tatapan heran.
"Tentu saja. Masak aku balik dulu dan ninggalin kamu begitu saja."
"Bisa saja gitu."
"Nggak mungkinlah aku ninggalin kamu, Ra." Aldi mengacak-acak rambut Kiara dengan gemas. Dia tersenyum dengan manisnya. Kiara jadi semakin heran, apa yang membuat Aldi tampak senang.
"Kamu abis ngapain kok tampak senang gitu?" Kiara melirik curiga menatap senyum Aldi yang tak kunjung pudar.
"Ya dong. Kan mau liburan sama kamu ke luar kota." Jawab Aldi santai. Aldi duduk di kursinya tadi dan mulai memakan makanan jatahnya yang tidak disentuh sama sekali oleh Kiara.
"Liburan?" Kiara juga kembali duduk menanti penjelasan Aldi. Tapi Aldi tidak mengacuhkannya, Aldi makan dengan lahap makanan di hadapannya. Membiarkan Kiara menantinya makan hingga habis.
Usai melamunkan acara makan malamnya bersama Aldi, Kiara masih saja menatap pria itu. Masih ada tanda tanya besar mengenai kepergian Aldi yang tiba-tiba tadi malam.
Semalam Aldi tidak menjelaskan apapun. Usai memakan bagian makanan yang dia pesan dengan lahap, Aldi mengajak Kiara pulang dengan senangnya.
Pagi ini juga tidak ada obrolan di antara keduanya. Kiara kini semakin penasaran. Terus saja menatap Aldi yang fokus menyetir. Berusaha mencari jawaban dengan meneliti ekspresinya yang santai sejak awal mereka berangkat.
"Aku tahu kamu terpana dengan ketampananku. Tapi apa harus dipandangin terus sejak kita berangkat? Ini sudah sejam loh." Aldi melihat jam di layar dasbor.
Kiara hanya terkejut dan mengalihkan tatapannya ke depan. Wajahnya terasa panas saking malunya.
__ADS_1
"Mau berhenti beli minuman dingin dulu? Kamu kayaknya kepanasan." Aldi melirik wajah Kiara dari spion tengah mobil.
"Nggak usah. Aku nggak kepanasan. AC nya saja dibesarkan." Kali ini Kiara menekan tombol untuk memperbesar AC mobil.
"Semalam aku pergi untuk menelfon beberapa orang terkait cuti aku besok." Aldi tiba-tiba menjelaskan apa yang menjadi sumber rasa penasaran Kiara sejak tadi malam.
"Aku nggak kunjung jelasin karena aku masih mikirin kerjaan yang harus aku rapikan supaya bisa ditinggal cuti bareng kamu. Sejak semalam aku masih mikirin kerjaan mana yang bisa aku lembur sebelum kita berangkat atau yang bisa dikerjakan dari jarak jauh."
Kiara heran dengan penjelasan Aldi yang panjang lebar. Kiara baru mau akan meminta penjelasan. Tapi Aldi menceritakan semuanya tanpa Kiara tanya.
Ada rasa senang di hati Kiara. Tapi Kiara hampir kehabisan kata-kata untuk menanggapi cerita Aldi.
"Jadi semalam kamu pergi untuk melakukan panggilan telfon, Al? Kamu tiba-tiba pergi tanpa bilang apapun. Aku kira kamu marah." Kiara berhenti berbicara karena Aldi meraih tangan Kiara yang ada di pangkuannya.
"Apa aku terlihat marah ketika kembali untuk makan porsi makan malamku?"
"Tidak. Makanya aku juga semakin bingung. Kamu kan terlihat senang ketika bilang mau liburan sama aku." Kiara melepaskan genggaman tangan Aldi.
"Maaf aku nggak langsung jelasin semua rencanaku." Aldi kembali meraih tangan Kiara. Kali ini semakin erat agar Kiara tidak bisa melepaskan genggamannya.
"Aku tidak tau berapa hari bisa nemenin kamu, Ra. Untuk besok Senin, aku bisa cuti. Tapi 2 hari berikutnya aku harus menyiapkan siapa yang bisa back up kerjaan aku." Aldi semakin menggenggam tangan Kiara dengan erat.
"Aku dari tadi juga masih mikirin kerjaan sambil nyetir. Ada beberapa hal yang aku susun begitu tiba di kota kamu. Usai memetakan semuanya, baru aku sadar kalau kamu dari tadi menatapku." Aldi menoleh kepada Kiara sejenak.
"Aku tidak ingin menjanjikan bisa nemenin kamu berlibur di sana hingga cuti kamu berakhir tapi tiba-tiba pergi di hari ketiga."
Mata Kiara memerah. Jika saja Kiara bisa menangis, pasti air mata sudah berjatuhan di pipinya. Tapi Kiara tergolong susah sekali mengeluarkan air mata kecuali saking sedihnya.
"Seharusnya kamu bilang." Kiara kini membalas genggaman tangan Aldi. Kiara kini yang mengenggam telapak tangan Aldi.
"Aku tidak menginginkan ditemani hingga liburku usai. Aku hanya merindukan mereka. Aku juga akan kembali ke rumah usai melepas rindu. Kenapa kamu nggak mau ngomongin dulu semua rencana kamu!" Intonasi kiara semakin lama semakin keras hingga meneriaki Aldi.
Aldi tiba-tiba menepikan mobil.
Kiara kaget Aldi menghentikan mobilnya. Emosinya yang tadi meningkat kini berganti rasa terkejut.
"Maafkan aku" Aldi melepas sabuk pengamannya lalu membawa Kiara ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku terbiasa merencanakan semua hal hingga sempurna. Sibuk dengan pikiranku sendiri, Ra. Maaf." Aldi semakin erat memeluk Kiara.
"Lain kali libatkan aku, Al."
"Iya. Lain kali ingatkan aku. Tegur aku jika tidak kunjung kasih kamu penjelasan."
"Apa aku boleh melakukan itu? Apa aku boleh menegur kamu atau bertanya?"
"Tentu boleh. Kamu punya hak untuk melakukan itu."
"Hak?"
"Iya, ra. Kamu yang paling berhak atas diriku."
Mendengar kalimat terakhir Aldi, Kiara merasa malu. Kiara baru sadar jika dirinya sedang berada dalam pelukan Aldi.
Kiara berusaha melepaskan diri dari pelukan Aldi. Tapi Aldi semakin erat memeluknya.
"Biarkan aku memeluk kamu sedikit lebih lama." Aldi menenggelamkan wajahnya ke leher Kiara. Menyesap aroma shampoo rambutnya.
\===========
Hai guys... Maaf ya update nya lama pake bangetsss. Trus kalo update banyak yang bilang terlalu sedikit.
Sebenarnya ketika baca komen kalian yang agak kurang menyenangkan, yang awalnya ingin nulis ketika ada waktu luang menjadi ambyarrr.. hehehe. . .
Udah sempetin waktu nulis tapi bingung mau nulis apa. Sudah ada adegan yang tergambar. Tapi gak kunjung bisa mengetikkan kata. Akhir-akhir ini suka gitu.
Kini author mau pake jurus nulis seadanya dulu ya. Maaf kalo nggak bisa banyak.
Tapi meski isi chapternya bakal nggak banyak, saya usahakan update sehari 1 chapter deh buat obatin rasa penasaran kalian. Tapi ketika sibuk banget dengan kerjaan atau nggak ada ide nulis, molor jadi 1 chapter dalam 2 hari boleh ya..
Mohon pengertiannya dan harap maklum ama author yang seadanya inie 🙏🙏🙏
Salam manies,
^^Dinda
__ADS_1