
Malam pernikahan Kiara bersama Aldi berjalan baik dan tanpa konflik. Meski keduanya tidak menjalin hubungan yang manis, tapi Kiara bisa melupakan kejadian buruk hari ini karena Aldi. Berbeda halnya dengan situasi Bella.
Malam pengantin Bella dan Bima berjalan dengan panas. Tapi bukan panas karena pergulatan mereka seperti sebelumnya. Panas dari amarah Bima dan Bella mewarnai malam keduanya.
Bima mendapat laporan bahwa Kiara diusir oleh Bella dari suite room kamar pengantinnya. Selain itu Bella bukannya meredam kemarahan Bima dengan bicara baik-baik, tapi malah balik meluapkan kemarahannya kepada Bima.
Bella mengungkit-ungkit komitmen Bima yang ingin serius berhubungan dengan Bella tapi malah memeluk Kiara dan ingin menikahi Kiara hari itu.
Bima yang emosinya sedang memuncak pun malah menyerang balik kemarahan Bella.
"Aku hanya memeluk Kiara, Bel. Tapi aku sama kamu melakukan lebih dari itu ketika aku menjadi tunangan Kiara. Gitu aja kamu sudah marah!" Bima sama sekali tidak ingin menahan sedikit pun emosinya.
"Kamu menanyakan komitmen aku sama kamu. Lalu kamu lupa jika aku juga pernah punya komitmen sama Kiara?" Mendengar hal ini dari mulut Bima membuat Bella gemetar.
Mereka berdua masih berada di hotel. Di kamar pengantin mereka berdua. Bella mundur dua langkah hingga menabrak lemari baju di belakangnya. Shock mendengar perkataan Bima.
Bima tidak ingin lagi semakin emosi dan meluapkan perkataan-perkataan yang nanti akan disesali olehnya. Bima memutuskan pergi dari hadapan Bella. Memberikan jarak bagi dirinya dan Bella untuk menenangkan diri.
Bima melajukan mobilnya tanpa arah. Berputar-putar di dalam kota berjam-jam sambil memikirkan semua kejadian hari ini. Dari mulai harapannya untuk kembali kepada Kiara yang mendapat penolakan tegas. Kemudian akad nikah dirinya dengan Bella, hingga menyaksikan sendiri Kiara menikah dengan Aldi. Hingga kini masih ada rasa sakit di hatinya.
Merasa dadanya semakin sesak, Bima menghentikan mobilnya. Bima berada di lingkungan perumahan yang lumayan sepi. Bima bisa menepikan mobilnya tanpa mengganggu pengguna jalan yang lain. Bima mengambil sekotak rokok dari dasbor mobilnya. Menyalakan dan menghisap satu batang rokok hingga beberapa puntung rokok berjatuhan di bawah kakinya.
Bima masih mengingat tatapan Kiara yang berusaha meredam emosinya ketika Bella mengajak Bima berpose mesra dalam sesi foto. Bima mulai menyesal menuruti keinginan Bella bersikap mesra dalam sesi foto tadi. Tidak seharusnya Bima menyakiti hati Kiara. Niat Bima awalnya untuk pamer kemesraan bersama Bella ketika berada di samping Kiara di pelaminan. Bima ingin membuat Kiara menyesali keputusannya menyuruh Bima menikahi Bella. Bima ingin Kiara menyesal tidak menerima ajakan Bima tadi pagi untuk kembali ke posisi awal mereka sebelum bertukar pengantin. Tapi yang sekarang menyesal dan merasa sakit adalah Bima sendiri. Bima menyesal akan jarak mereka yang semakin jauh karena sikap Bima hari ini. Bima juga menyesali hasil dari semua itu membuat Kiara semakin berjaga-jaga ketika berada di sekitar Bima.
Bima merindukan Kiara. Bima merindukan gadisnya yang kini menjadi milik orang lain. Bima rindu tatapan bersahabat dan hangat yang biasa Bima lihat di wajah Kiara yang lembut.
Sementara itu Bella yang ditinggalkan sendiri di hotel. Bella hanya bisa diam dengan pandangan menerawang. Meski Bella tampak menatap ke jendela yang memanjang dari lantai ke langit-langit kamar hotelnya, tapi tatapan Bella hanya memandang kekosongan. Hatinya memang terasa sakit sejak pagi tadi memergoki Bima memasuki kamar ganti Kiara. Lalu ditambah dengan pernyataan sang mama yang tega menelantarkan Bella sejak kecil karena Kiara. Terlampau sakit hatinya hari ini hingga kini hanya rasa kebas yang terasa. Tidak ada air mata yang bisa menjadi pelampiasan rasa sakitnya.
Menjelang pagi, Bella terlelap dengan posisi terduduk dan menelungkup kan wajahnya ke ranjang empuk hotel yang sama sekali tidak difungsikan sejak keduanya memasuki kamar. Posisi handuk putih yang dilipat menyerupai dua angsa yang membentuk hati juga masih belum bergeser atau berubah sedikitpun. Begitu pula dengan kelopak bunga mawar merah yang dihamparkan di atas ranjang dengan bentuk hati.
__ADS_1
Tidak lama setelah Bella terlelap, Bima juga kembali ke kamar pengantin mereka berdua. Pemandangan Bella yang tertidur dengan posisi duduk seperti itu membuat hati Bima resah. Kenapa Bima melampiaskan kemarahannya kepada Bella. Seharusnya Bima bisa menahan diri. Bella berhak marah mengetahui Bima menginginkan Kiara kembali. Bima memang bersalah di sini. Bima mulai sadar akan hal itu.
Meski Bella keterlaluan dengan menyakiti Kiara, tapi penyebab semua hal itu adalah Bima sendiri.
Bima mendekati Bella. Kemudian mengangkat tubuh Bella ke ranjang. Bima menidurkan Bella di atas kelopak bunga mawar dan menyelimutinya.
Kini Bima mulai merasa lelah. Bima hendak mandi tapi mengurungkan niatnya ketika melihat gantungan kunci yang familiar. Gantungan kunci bergambar menara eiffel yang unik itu Bima beli untuk Kiara sebagai oleh-oleh ketika Bima melakukan perjalanan bisnis ke Paris. Bima memungut gantungan kunci itu. Ada dua kunci yang menggantung. Salah satunya adalah kunci mobil dengan logo merk mobil Kiara. Sementara kunci yang lain Bima yakin merupakan kunci apartemen Kiara. Bima terlalu sering melihat 1 set kunci itu.
Bima menatap wajah Bella yang tertidur kembali. Kunci ini pasti jatuh ketika Bima mengangkat Bella ke ranjang. Dalam hati Bima bertanya, 'Apa yang sudah kamu katakan dan lakukan kepada Kiara, Bel? Sesakit itukah hati kamu hingga tega menyakiti adik yang merelakan cintanya untukmu?'
Bima menyimpan kunci itu. Kemudian memilih mandi untuk meredam emosi dan menjernihkan pikirannya.
Berendam air hangat hingga lebih dari satu jam tidak membuat Bima lelah atau mengantuk. Bima masih tidak bisa berhenti memikirkan segala hal yang membebani pikirannya. Bima menghentikan acara mandinya, menggunakan handuk dan mengenakan bathrobe putih yang disediakan oleh hotel.
Masih dengan mengenakan bathrobe, Bima membuka balkon dan melanjutkan merokok hingga matahari menampakkan diri.
Bima kembali ke kamar. Saat mendekat ke ranjang, Bima melihat Bella berkeringat sangat banyak di bagian dahi dan sekitar rambutnya. Ekspresi tidurnya juga tidak tenang. Alisnya berkedut dan wajahnya menegang.
Bima mendekati Bella. Hendak mengusap bulir-bulir keringat di dahinya. Tapi belum juga sampai menyentuh Bella, tiba-tiba Bella membuka mata dengan terkejut.
Bella terkejut mendapati apa yang dia saksikan hanyalah mimpi. Membuka mata membuat Bella sadar bahwa dirinya sedang bermimpi. Tapi melihat Bima di hadapannya ketika membuka mata membuat Bella lebih terkejut lagi.
"Mimpi buruk?" Tatapan Bima nampak memancarkan kehangatan. Tapi Bella tidak tahu harus bersikap bagaimana atau mengucapkan apa. Kenapa pria ini datang dengan kehangatan kembali. Dengan kemarahan seperti tadi malam, Bima bisa bersikap hangat kepadanya di pagi hari. Bella benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran pria ini.
Melihat Bella yang hanya diam tapi tidak nampak sedang marah, membuat Bima mengalihkan pandangannya.
"Aku mau pesan sarapan. Kamu mau makan apa bel?"
"Apa saja boleh."
__ADS_1
"Baiklah." Bima menghubungi layanan hotel dan memesan sarapan supaya di antar ke kamarnya.
Dalam setengah jam, sarapan telah siap di kamarnya. Bella juga selesai mandi dan hanya mengenakan bathrobe seperti halnya Bima.
"Masih mau menginap di sini lebih lama ataukah pulang?" Bima membuka percakapan usai melihat Bella yang nampak sudah lebih santai dan rileks sehabis mandi.
Bella sejenak berpikir kemudian memutuskan untuk mengakhiri acara menginapnya di hotel. "Aku ingin pulang. Kita akan pulang kemana?"
"Kamu ingin kemana, Bel?"
"Bolehkah ke tempat lain selain rumah mommy dan daddy?"
"Tentu. Mau tinggal di salah satu apartemenku?"
"Boleh."
"Kita tinggal di apartemen yang dekat dengan Atmaja grup sementara waktu hingga rumah kita usai dibangun?"
Bella terdiam mendapati pertanyaan ini. Bella ingin tinggal di apartemen Kiara. Tapi mengatakan hal tentang Kiara membuat Bella khawatir akan membuat Bima marah lagi.
Bella tidak menjawab dan hanya menikmati sarapan. Bima menganggap kediaman Bella sebagai persetujuan.
"Aku akan mengembalikan ini ke Kiara. Ini miliknya. Jangan menghalangiku atau membuat alasan lagi. Kehadiranku bersamamu apa belum cukup?" Bima mengeluarkan kunci apartemen dan mobil Kiara. Kemudian memasukkan kembali ke sakunya.
Bella hanya diam menatap. pandangannya nampak sedang berpikir sambil tetap mengunyah dan melanjutkan makan.
Bima mengusap rambut di dahi Bella, "Mari saling bersikap baik hingga akhir. Biarkan Kiara hidup tenang dengan suaminya."
Bima menatap Bella dengan hangat. Berusaha membujuk Bella dan berkompromi.
__ADS_1