
Kiara terlelap dengan nyenyak sepanjang malam. Sementara Aldi terus terjaga menunggui Kiara yang tampak tidur dengan nyaman. Aldi masih khawatir wanita ini tiba-tiba menghilang. Sepanjang malam Aldi hanya menatap wajah terlelap wanita yang dicintainya. Tidak ada rasa kantuk sedikit pun.
Aldi beberapa kali akan kehilangan dia hari ini. Jika Bima dan Bella tidak bergegas menyelamatkan Kiara, Aldi akan kehilangan wanita ini lagi. Mengingat itu membuat Aldi merengkuh tubuhnya yang terlelap dan membawanya ke pelukannya. Aldi sangat bersyukur Kiara selamat. Aldi masih belum bisa memaafkan dirinya yang tidak bisa melindungi Kiara. Aldi merasa telah banyak melakukan kesalahan hingga membuat Kiara berada dalam keadaan yang berbahaya seperti hari ini.
Kiara yang merasakan pelukan erat Aldi tersadar.
"Al" Kiara membuka matanya dan melihat wajah Aldi yang suram. "Ada apa? Jam berapa ini? Kamu nggak tidur, Al?"
"Ini masih terlalu pagi, sayang. Tidurlah kembali."
"Iya, aku masih mengantuk, Al."
"Maaf sudah membuat kamu terbangun. Pelukan aku terlalu erat ya tadi?"
"He em." Kiara yang memang masih mengantuk kembali memejamkan mata dan menikmati hangat pelukan suaminya. Kehangatan yang menjadi obat tidur yang membawanya kembali terlelap begitu nyenyak kembali.
Aldi terus saja mengamati bagaimana Kiara kembali tertidur. Wajah wanita dalam pelukannya ini begitu damai ketika kembali terlelap. Aldi merangkul Kiara dengan kedua tangannya melingkari tubuhnya bersama selimut tebal yang mencegah dinginnya AC kamar itu.
Kiara terlelap selama dua jam. Aldi juga pada akhirnya ikut menyusul Kiara ke dalam tidur yang juga sama nyenyak nya dengan Kiara.
Keduanya terbangun secara bersamaan. Kiara merasa sangat segar begitu bangun. Sementara Aldi juga berwajah tidak se-pucat tadi malam.
Mereka berdua sedang berada di hotel. Aldi melihat kondisi Kiara yang tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh setelah semua kejutan yang diterima oleh Kiara kemarin.
"Maafkan aku, Ra. Aku berulang kali gagal melindungi kamu kemarin."
"Al, sudahlah. Semua sudah berlalu." Kiara menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka dan duduk di ranjang mereka. Bersiap bangun dan ke kamar mandi.
"Al, bagaimana keadaan kak Bella?" Kiara menoleh ke arah Aldi ketika separuh jalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Dia selamat. Operasinya berhasil. Kamu mau menjenguknya sebelum kembali ke Jakarta?"
"Aku boleh ke sana?"
"Tentu saja. Mereka berusaha menyelamatkan kamu dengan nyawa mereka kemaren. Meski Bima memiliki tujuan yang tidak aku senangi, tapi dia tetap saja sudah berusaha menyelamatkan kamu. Sementara Bella juga sudah kehilangan banyak hal demi menerima peluru yang ditujukan untukmu, Ra." Aldi masih duduk di ranjang sambil memperhatikan setiap ekspresi Kiara.
"Baiklah. Aku akan segera mandi." Kiara berbalik dan menunda menanyakan semua pertanyaan yang ada di benaknya. Dia butuh mandi terlebih dahulu sebelum menghadapi hari yang akan menjadi cukup berat.
Tapi meski hari ini akan menjadi berat, Kiara sadar ada Aldi yang akan menemani dirinya melalui segala hal. Kiara akan baik-baik saja apapun yang terjadi selama ada Aldi di sisinya.
Usai mandi, sarapan sudah siap menanti Kiara di kamar hotel mereka. Aldi juga sudah duduk di sekeliling meja makan menanti Kiara. Siap menyantap sarapan mereka.
Kamar hotel yang mereka pesan adalah yang paling luas. Aldi selalu memesan kamar yang seperti ini. Jadi Kiara pun tidak lagi bertanya kenapa memilih kamar yang terlalu luas begini. Jawabannya akan selalu sama. 'Aku tidak terbiasa lagi hidup di ruangan yang sempit. Yang luas begini lebih baik.'
"Kita makan dulu, sayang." Aldi melihat Kiara yang berbalut handuk mandi. "Daniel akan mengantarkan baju ganti buat kamu. Sarapan dulu saja."
Aldi dan Kiara memulai sarapan mereka. Kiara dengan lahap mengambil makanan di hadapannya. Semua adalah kesukaan Kiara.
"Dari mana kamu menemukan semua menu yang aku suka ini? Aku yakin hotel tidak menyediakan lalapan bebek goreng bersamaan dengan sate dan juga soto kikil begini. Belum lagi jajanan pasar yang ada di hadapan kamu itu." Kiara menunjuk semua hidangan yang dia sebut. Masih ada hidangan lain yang tidak Kiara tunjuk kepada Aldi. Kiara yakin Aldi sudah paham maksudnya tidak menyebutkan gule, rawon, juga nasi bakar beserta nasi pecel.
"Iya. Aku meminta Daniel mencari semua menu pinggir jalan yang biasa kamu senangi. Juga menu makanan jawa yang biasa kamu makan di rumah."
Kiara sudah menduga jawaban ini. Tapi tetap saja mendengar dari mulut Aldi membuatnya semakin senang dengan perhatian sang suami.
"Kamu makan apa selama seminggu ini?"
Kiara berhenti makan. Aldi sadar tidak seharusnya menanyakan ini. Kiara akan kembali sedih mengingat masa penculikannya.
"Maaf, Ra. Kamu lanjut makan saja. Kita bahas ini lain kali." Aldi melanjutkan. Berusaha membuat Kiara kembali makan.
__ADS_1
Kiara pun kembali menyantap makanannya. Kali ini dia mengambil satu tusuk sate dan memakannya. Kiara menarik dagingnya dengan agak kasar seperti seolah sedang melampiaskan kemarahannya.
"Aku hanya memakan buah yang diberikan kepadaku. Aku hanya makan masakan yang diolah sekali di hari pertama aku di rumah itu. Dan makanan itu mengandung obat. Obat perangsang."
Kiara berhenti berbicara dan melanjutkan makan sebanyak mungkin. Sementara itu Aldi mengepalkan genggaman tangannya yang disembunyikan di pangkuannya. Kiara tidak melihat ekspresi marah Aldi yang tertahan maupun bagaimana buku-buku jarinya memutih ketika genggaman tangannya mengepal dengan erat.
Aldi penasaran bagaimana Kiara melalui hari pertamanya dengan obat perangsang itu. Tapi Aldi tidak ingin Kiara mengungkapkan apa pun yang tidak ingin dia ceritakan. Aldi harus berhenti bertanya mengenai hari buruk Kiara jika dia tidak ingin menceritakannya sendiri.
Kiara mengakhiri makannya dan meminum jus apel yang tampak menyegarkan bagi Aldi. Tapi ntah mengapa Kiara hanya menyesap sedikit
"Aku hanya meminum air keran yang ada di kamar mandi. Aku juga tidak sudi memakan apapun yang sudah diolah. Pria itu mulai memberikan aku buah untuk dimakan. Tapi tidak semua buah aku makan. Aku hanya memilih buah yang belum dikupas. Yang tidak akan mungkin bisa diberikan obat oleh pria itu. Seringnya aku memakan jeruk atau apel." Kiara melanjutkan meminum jus apelnya.
"Dia bilang Adelia nya suka apel dan jeruk karena bagus untuk kulit. Dia juga ngasih irisan semangka dan melon. Tapi aku hanya mengambil jeruk dan apel."
"Jangan makan buah lagi beberapa hari ini. Minumlah susu ini, jus hanya akan menurunkan selera makan kamu." Aldi meraih gelas jus apel yang dipegang Kiara. Lalu meletakkan segelas susu tepat di hadapannya.
Kiara meminum susu yang diberikan Aldi dengan tenang. Pagi itu menjadi suram. Aldi berusaha mengatasi kemarahannya. Dan Kiara berusaha mengatasi bayangan buruk yang berkelebat di matanya.
"Aku sudah selesai. Kita bersiap menjenguk kak Bella ya."
"Ya, Daniel akan datang dengan pakaian kita berdua. Aku mandi dulu ya.
🌸🌸🌸🌸
Hai readers
Buat yang berharap cerita ini end, maaph yah. Masih belum ternyata. Ada salah paham yang masih butuh diselesaikan. Mohon doanya agar author sehat ya, biar bisa update minimal 2 chapter sehari begini. Hehe.
Semoga masih menikmati cerita saiyah...
__ADS_1
_Dinda^^