
Begitu tiba di hotel, Kiara terlelap lebih dulu dari pada Aldi. Berada dalam pelukan suaminya membuat Kiara lebih mudah tertidur dari pada biasanya. Aldi yang semalam tidak bisa tidur, kali ini pun tetap tidak bisa tidur. Kekhawatirannya masih tidak berkurang.
Karena Aldi merasa akan terjaga semalaman seperti tadi malam, Aldi memutuskan untuk keluar dari kamar tidur mereka setelah memastikan Kiara memang telah tertidur lelap. Ada banyak urusan kantor yang perlu dia tinjau. Berada jauh dari Blue Corp dan WS Tech bukan berarti Aldi tidak memantau perkembangan perusahaan besarnya itu. Segala keputusan besar masih berada di tangan Aldi.
Aldi menghabiskan waktu dua jam dengan laptop super cepatnya. Lalu berganti memeriksa CCTV yang disembunyikan di rumah megah Ferdi. Aldi menempatkan orang untuk memantau CCTV itu setiap saat dan menginginkan laporan mereka jika terjadi sesuatu. Aldi juga meminta laporan tertulis berisi berita kejadian yang penting beserta cuplikan video yang mendukung.
Jadi cuma butuh waktu singkat bagi Aldi untuk mengetahui dan memastikan apa yang terjadi kepada Ferdi.
Kini Aldi sedang menonton percakapan paling menarik antara Ferdi dan Adelia ketika mereka pertama kali bertemu setelah cukup lama.
"Kamu siapa!" Bentak Ferdi yang melihat Adelia
"Jangan pura-pura tidak kenal aku, Ferdi! Tentu saja aku Adelia, kekasih kamu." Adelia baru selesai dioperasi kemarin. Dia juga tidak bisa berjalan. Tampilan wanita itu begitu mengerikan dengan wajah yang juga cacat. Ferdi sulit percaya jika yang ada di hadapannya adalah Adelia nya.
"Tidak mungkin. Adelia ku baru saja dibawa kabur oleh pemilik BLUE CORP. Adelia ku selalu menuruti suaminya karena dia berambisi membuat BLUE CORP jatuh ke tangannya. Kamu bukanlah Adelia!" Teriak Ferdi secara histeris.
"Berani sekali kamu sama aku! Kamu lupa dengan semua janji kamu sama aku? Aku lah yang berjasa bagi hidup kamu. Sekarang aku sudah cacat hingga seperti ini, kamu seharusnya membalas budi! Tidak peduli kamu masih mencintaiku atau tidak, kamu harus membalas jasa kebaikanku sama kamu sejak kecil!" Perintah Adelia.
"Kamu bukan Adelia. Aku akan keluar dari sini dan mencari Adelia. Kamu bukan Adelia!" Ferdi berlari dari hadapan Adelia untuk membuka kamar tidur mereka. Mereka sedang berada di kamar tidur utama di lantai satu. Meski di luar sudah menjelang malam, tapi di kamar itu sama sekali tidak memiliki titik gelap. Lampu kamar itu begitu terang untuk menampakkan rupa Adelia yang buruk rupa dan tak berdaya.
Ferdi ingin menghindar dari melihat wanita yang tidak indah dipandang sama sekali ini. Tapi Ferdi tidak bisa membuka pintu kamar tidur dimana mereka disekap. Kamar itu terkunci dari luar.
Ferdi menjadi pucat dan berteriak-teriak. Ferdi ingin keluar. Ferdi juga benci cahaya yang menyilaukan itu. Ferdi benci melihat wajah buruk rupa wanita di kamar ini. Ferdi tidak tahan dan semakin tidak tahan. Akhirnya Ferdi berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
Aldi yang melihat tayangan itu tersenyum lebar. Akhirnya ada hal menarik yang menyenangkan untuk dia lihat.
__ADS_1
Aldi kemudian menutup laporan mengenai Ferdi. Banyak waktu untuk membuat mereka lebih menderita lagi. Akan Aldi pastikan mereka berdua akan bertengkar hingga ingin membunuh satu sama lain. Mereka berdua harus membayar trauma psikologis yang diberikan kepada Kiara. Ferdi juga harus membayar apa yang dia lakukan kepada Kiara.
Aldi memutuskan untuk kembali ke kamar dengan ponsel di tangannya. Dia tinggal melakukan beberapa koordinasi dan disposisi pekerjaan. Semua itu bisa dilakukan dengan rebahan di samping Kiara dengan hanya melalui ponselnya saja.
Begitu membuka pintu kamar tidur, Aldi melihat Kiara tampak gelisah. Lampu baca di samping tempat tidur yang sengaja tidak dimatikan membuat ekspresi wajah intens Kiara tampak jelas. Kiara mengigau dalam tidurnya.
Dengan langkah lebar, Aldi mendekati Kiara dan duduk di samping wanitanya. Aldi sama sekali tidak menduga malam ini Kiara akan mimpi buruk begini. Tadi malam dia tidur dengan nyenyak. Aldi sudah menjaganya semalaman dari gangguan apapun, termasuk gangguan dari mimpi yang buruk.
"Tidak. Menjauh dariku." Suara Kiara yang mengigau mengagetkan Aldi. Hatinya sudah berkelana kemana-mana membayangkan apa yang dihadapi Kiara dalam mimpinya.
"Aaaa... " Kiara berteriak. "Pergi! Aku tidak mau!"
Teriakan Kiara menyakiti hati Aldi. Ekspresi takut dan kesakitan tampak jelas di wajah Kiara. Aldi tidak tahan membiarkan Kiara seperti ini.
"Sayang.. Kiara. Ada aku di sini sayang." Aldi membelai lembut pipi Kiara. Berusaha membangunkan Kiara dari mimpi buruknya.
"Sayang, aku di sini. Apapun yang terjadi, aku di sini. Aku selalu menemani kamu, sayang. Tenanglah."
Aldi berharap perkataannya ada efeknya dalam menenangkan mimpi Kiara. Atau membangunkannya dari mimpi buruk yang dia hadapi.
Ekspresi wajah Kiara berubah. Wajah sakit dan tertekannya berubah pelan-pelan. Aldi terus membelai pipi Kiara hingga Kiara seperti kembali tertidur tanpa ada mimpi yang mengganggunya lagi.
Aldi berpikir cukup lama sambil memandang wajah tenang Kiara. 'Apa sebenarnya yang kamu alami dalam penyekapan itu, Ra? Aku tidak akan melepaskan Ferdi begitu saja, Ra. Dia harus membayar setiap rasa sakit kamu, sayang.'
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Di saat yang sama, Bella pun bermimpi buruk seperti halnya Kiara. Tapi Bima terlelap di sofa yang tak jauh dari ranjang rumah sakit tempat Bella tertidur dengan mimpi buruknya.
Bella kembali melihat punggung anaknya menjauh. Mimpi yang sama persis seperti malam sebelumnya datang kembali.
Tapi kali ini tangisan Bella ketika ditinggal menjauh oleh anaknya benar-benar terjadi pada dirinya yang terpejam. Air mata sudah membanjiri seluruh wajah Bella yang terpejam dalam posisi tidur.
Bella terus saja berderai air mata meski tanpa suara. Membuat Bima yang juga sedang tidur tidak menyadari bahwa Bella sedang tidak baik-baik saja karena mimpi buruk yang mengganggu.
Cukup lama Bella menangis hingga akhirnya tangisan dalam mimpinya berubah menjadi teriakan histeris saat anaknya menghilang sepenuhnya. Anaknya pergi dalam kabut putih yang menutup pandangannya dari apapun. Yang tersisa hanya sebuah kekosongan. Bella berteriak kesakitan saat kekosongan itu tiba-tiba mengepungnya. Menelan bayangan anaknya yang menjauhinya.
"Aaargh... Tidak! Anakku! Aaargh...!" Teriakan Bella sungguh menyakitkan.
Bima pun terbangun mendengar teriakan Bella. Bima begitu terkejut hingga kantuknya langsung menghilang. Bima berlari mendekati Bella yang berteriak.
"Bel. Bella. Ada apa Bel. Bangunlah Bella. Ada aku di sini Bel. Nggak akan ada yang nyakitin kamu lagi." Bima menepuk-nepuk pipi Bella dengan khawatir.
Bella membuka mata dengan terkejut. Bella menangis melihat Bima. Air mata terus saja mengalir ke pipi mulusnya.
"Aaargh. Anakku pergi. Dia menghilang." Bella memeluk Bima sambil terisak.
Bima menyadari mimpi buruk apa yang mengganggu Bella. Bima tertegun dan tak bisa berkata-kata.
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers
__ADS_1
Masih mau satu chapter lagi nggak hari ini? Komen dan like yang banyak ya.. Kiriman bunga dan Kopi juga bakal menyemangati author buat lembur nulis, loh..
_Dinda^^