
"Al, Bagaimana dengan Ferdi? Kamu apain dia?" Kiara akhirnya ingat apa hal penting yang dia lupakan.
"Hal yang paling diinginkan Ferdi adalah Adelia. Dia sanggup kehilangan semua hal yang dia miliki di dunia ini. Tapi dia tidak akan bisa hidup tanpa Adelia." Aldi seolah sedang memberikan prolog sebuah cerita bersambung.
"Lalu?" Kiara terdengar tidak sabar.
Aldi yang menyadarinya semakin ingin memperlama cerita bersambung nya.
"Masak kamu nggak bisa nebak. Coba tebak dulu." Kiara merasa dipermainkan.
"Ih, kok malah main tebak-tebakan. Aku kan nanya!"
"Kamu nanya?" Aldi tampak lucu di mata Kiara.
Tapi Kiara menampakkan ekspresi wajah kesalnya.
"Iya, coba kamu tebak dulu. Mencoba menggali jawaban dengan kemampuan sendiri bisa bikin kamu semakin pintar loh. Katanya pengen pintar kayak aku." Aldi mencoba memberikan alasan.
"Kapan aku bilang pengen jadi pintar kayak kamu!" Kiara masih tidak mau dipermainkan.
"Tadi waktu bilang kalo nilai sekolah kamu pas-pasan. Sementara aku punya otak cemerlang. Kamu secara nggak langsung mau bilang bahwa kamu pengen punya otak encer kayak aku, kan." Aldi membuat kesimpulan sesuka hatinya. Yang penting bisa bercanda sama Kiara nya.
"Kamu ini ngambil kesimpulan sendiri seenaknya."
"Jadi kamu ngga pengen jadi sepintar aku?"
"Mau lah!"
"Ya udah. berarti sekarang belajar make otak kamu buat berpikir biar semakin encer." Aldi mengarahkan telunjuknya ke dahi kanan Kiara.
"Iya, Mr. Genius emang paling bisa merasionalkan apapun. Bahkan yang nggak masuk akal sekalipun bisa menjadi rasional." Kiara ingin keluar dari rantai perdebatan tiada akhir ini.
Jika memang Aldi ingin Kiara menebaknya lebih dulu, 'its okey. let's try!'
"Okey, aku akan coba tebak. Karena kamu bilang bahwa cowok gila itu butuh Adelia, maka pasti kamu bikin dia nggak mungkin bisa ketemu Adelia lagi." Kiara mulai menganalisa.
"Cukup masuk akal. Lanjutkan."
"Ya sudah. berarti kamu sekedar bikin mereka berpisah gitu aja. Banyak cara kan memisahkan mereka."
"Contohnya?"
"Penjarakan dia kembali?" Kiara hanya punya dua dugaan. Dan ini adalah salah satunya.
"Bukan."
__ADS_1
"Menyekap dia selamanya di bawah pengawasan kamu?"
"Juga bukan." Sahut Aldi dengan cepat.
"Apa dong? Masak kamu membunuh dia?"
"Kamu kira aku mau membunuh orang tak berdaya?" Kali ini Aldi balik bertanya.
"Nggak mungkin. Kamu hanya akan melakukan hal itu jika hanya di situasi yang sangat terpaksa. Kamu pasti akan berusaha menghindar dari mengambil nyawa orang lain."
Aldi tersentuh mendengar jawaban Kiara ini. Ternyata Kiara begitu memahami Aldi dalam hal ini.
"Aku akan kasih satu petunjuk. Ferdi saat ini hidup di rumah megah itu bersama Adelia." Aldi memberitahu kabar yang sangat ingin dia dengarkan.
"Apa? Nggak mungkin kamu membantu mereka begitu, Al." Kiara masih berusaha memahami keputusan Aldi.
"Tentu saja aku tidak mungkin membantu mereka." Aldi membenarkan analisa Kiara.
"Lalu kenapa kamu membuat kedua pria dan wanita kejam itu malah berbahagia dengan hidup bersama?"
"Kata siapa mereka bahagia?"
"Bukankah mereka akan bahagia jika dipersatukan?"
"Mereka saling mencintai kan?"
"Bagiku itu bukan cinta. Tapi obsesi. Ferdi terobsesi dengan Dewi penolongnya ketika kecil, Adelia. Sementara untuk Adelia, aku yakin dia tidak pernah mencintai orang lain dalam hidupnya. Dia hanya mencintai dirinya sendiri." Pemaparan Aldi masuk akal juga.
"Lalu, apa yang kamu harapkan dari mempersatukan mereka di sana?"
"Mereka berdua akan terkunci dalam rumah itu dalam kurun waktu yang aku sendiri tidak tahu sampai kapan." Aldi mengungkapkan hukuman Ferdi.
"Apa tujuan kamu melakukan itu?"
"Untuk menyiksa Ferdi beserta Adelia."
"Bagaimana bisa?"
"Ferdi akan tersiksa melihat Adelia yang buruk rupa dan tidak bisa lagi berjalan. Dalam angan Ferdi, Adelia adalah seorang Dewi. Melihat bidadari hatinya dalam kondisi seperti itu akan menyiksanya. itu alasan pertama."
"Kamu punya berapa alasan?"
"Banyak."
"Oke. Sebutkan semuanya."
__ADS_1
"Yang kedua, Ferdi akan menyiksa Adelia. Nafsu Ferdi terhadap wanita sangat besar. Ferdi butuh pelampiasan. Maka Adelia akan menjadi sumber pelampiasannya. Padahal tubuhnya tidak dalam kondisi bisa melayani kebutuhan Ferdi." Aldi menyampaikan hal ini dengan santai. Lupa memperhatikan reaksi Kiara yang kini menjadi pucat.
"Kenapa kamu tidak membunuh mereka berdua saja. Menyiksa mereka juga butuh waktu dan tenaga untuk menyekap mereka."
"Tidak. Mereka harus menderita terlebih dahulu."
Kiara tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya pun ikut sakit mengingat hari penyekapan nya di rumah itu.
"Adelia telah melakukan transplantasi ginjal kemarin. Dia memberikan aku alamat dimana Ferdi menyekap kamu sebagai ganti operasi transplantasi ginjalnya. Jadi Adelia tidak perlu menetap di rumah sakit untuk rutin melakukan dialisis. Luka dari kakinya yang diamputasi juga sudah mengering. Dia bisa hidup di rumah itu sejak sore ini."
"Apa lagi yang kamu inginkan?" Kiara sudah tidak punya tenaga atau keinginan mendengarkan lebih lanjut. Tapi Kiara ingin segera selesai mendengar cerita Aldi.
Aldi sendiri dari tadi hanya melihat jalanan yang akan membawa mereka kembali ke hotel dimana mereka berdua menginap. Aldi tidak melihat wajah Kiara yang memucat dan ekspresi tidak nyaman Kiara mendengar cerita Aldi.
"Adelia sudah membenci Ferdi. Adelia yang penuh Kebencian hidup bersama Ferdi dengan cinta yang tak terbalas. Akan sangat seru, kan penderitaan mereka?"
Kiara menggigil mendengar pertanyaan Aldi. Pria ini pandai sekali menghadirkan penderitaan bagi orang lain. Hati Kiara ntah kenapa menjadi sakit.
"Apa kamu berharap mereka memilih bunuh diri karena putus asa dan merasa terlalu tersakiti?"
"Aku tidak mengharapkan itu. Aku hanya ingin menghadirkan penderitaan yang cukup lama bagi mereka. Cukup lama untuk membuat aku tidak lagi merasa sakit dengan penderitaan yang mereka berikan untuk kamu dan hatiku." Aldi menoleh ke arah Kiara.
Aldi tidak menyangka Kiara memiliki ekspresi ketakutan di wajahnya.
"Ra, kamu kenapa?" Aldi membawa Kaira ke pelukannya.
"Aku nggak apa-apa, Al." Kiara mengatakannya dengan gemetaran. Bagaimana mungkin Aldi percaya bahwa Kiara baik-baik saja.
"Apa aku menakuti mu?"
Kiara diam tak menjawab. Kiara membalas pelukan Aldi dan berusaha menghilangkan ketakutan dan gemetar tubuhnya.
"Aku takut, Al. Aku teringat dengan rumah itu. Aku takut dengan kegelapan rumah itu."
Aldi mengepalkan genggaman tangannya. Kiara ketakutan karena membahas rumah itu. Aldi sadar telah melakukan kesalahan lagi.
"Maafkan aku. Jangan memikirkan hukuman mereka lagi. Aku yang akan menangani mereka. Aku tidak akan membicarakan mereka lagi. Percayalah aku akan membalas mereka yang menyakiti kamu dengan caraku sebelum mereka kembali ke penjara. Jangan membayangkan hal buruk apapun lagi, sayang."
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers
Maaf ya Guys. Upload kemalaman.
_Dinda^
__ADS_1