
"Kiara, tatap mata aku!" Aldi memegangi kedua pundak Kiara dan menghadapkan tubuh Kiara kepadanya. Aldi melakukannya dengan lembut dan perlahan.
Kiara tidak bisa berontak ketika Aldi memperlakukannya dengan lembut seperti ini.
"Kita sedang membicarakan hubungan kita dengan mantan kita di masa lalu ataukah membicarakan hubungan dengan mantan saat ini, sih, Ra?"
"A.. Apa.. Apa maksud pertanyaan kamu?" Kiara gelagapan dengan poin yang Aldi ajukan.
Kiara kini sadar telah marah dengan hubungan masa lalu Aldi. Itu kan haknya melakukan apapun di masa lalu dengan mantan kekasihnya. Kok Kiara menjadi marah.
"Apa yang membuat kamu saat ini marah, Kiara?"
"Aku marah karena tiba-tiba kamu ternyata punya mantan yang berhubungan selama bertahun-tahun ."
"Kamu nggak marah ketika tahu aku pernah bersama Bella?"
"Nggak. Kenapa harus marah?"
"Kenapa kamu nggak marah? Aku pernah menjadi kekasih kakakmu,bahkan nyaris menikah dengannya." Aldi menatap mata Kiara dengan berdebar. Pikiran wanita di hadapannya ini susah Aldi tebak.
"Aku tahu seperti apa hubungan kamu dengan kak Bella dulunya. Dan itu tidak masalah buatku."
"Memangnya seperti apa hubungan dengan mantanku yang tidak membuat kamu marah itu?"
"Tentu saja yang tidak ada perasaan di dalamnya. Kamu tidak menyukai kakakku. Sementara mantan yang ini adalah kekasih yang dulu sangat kamu sayang."
"Jadi siapa yang aku sayangi itu penting buat kamu?" Perasaan Aldi mulai luluh. Amarah yang tadinya ada kini mulai sirna.
"Apa?" Kesimpulan Aldi juga membuat Kiara tercengang.
"Percayalah, Kiara. Aku sudah tidak menyayangi Verlita. Aku tidak memiliki tempat sedikit pun dalam ruang di hatiku untuk seorang pengkhianat."
"Jika dulu dia tidak mengkhianati kepercayaan kamu, ada kemungkinan kamu masih menyayanginya hingga kini." Kiara memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat ekspresi apapun di wajah Aldi.
"Tapi aku sudah dikhianati, Ra. Dan aku gak punya rasa sama dia selain kebencian yang mendalam."
"Berarti kamu sangat menyayanginya dengan begitu dalam. Sehingga ketika ada pengkhianatan, rasa itu juga berubah menjadi benci yang begitu dalam."
Aldi kehilangan kata-kata dengan pernyataan Kiara kali ini. Sebab hatinya pun membenarkan hal itu.
Dulu Aldi sangat mencintai Verlita.
Melihat Aldi yang hanya diam, Kiara melanjutkan, "Apakah analisaku benar, Al?"
Kiara menatap Aldi kembali. Menuntut jawaban.
"Ya. Kamu benar, Ra. Aku dulu sangat menyayangi dia. Pengkhianatan Verlita membekukan hatiku. Membuat aku lebih dingin terhadap setiap wanita."
__ADS_1
Setetes air mata lolos begitu saja ke pipi Kiara. Pernyataan sayang untuk wanita lain ini menyayat begitu perih ke hati Kiara.
"Kiara, aku bertanya dengan serius. Apa kamu cemburu?" Aldi mengusap air mata yang jatuh di kedua pipi istrinya. Berharap Kiara jujur dengan perasaannya kali ini.
"Ntahlah Al. Apa ini rasa cemburu."
"Lalu kenapa ada air mata?"
"Karena kamu pernah menyayanginya dengan begitu dalam."
"Tapi itu sudah berubah, Kiara. Harus berapa kali aku menjelaskan itu sama kamu?" Aldi menangkup kedua pipi Kiara dengan kedua telapak tangannya.
Masih dengan posisi telapak tangan di kedua pipinya, Aldi mendekatkan wajahnya kepada Kiara. Menatap mata bening yang masih menyisakan rembesan air mata.
Aldi mengecup ujung mata Kiara satu per satu. Ini kedua kalinya Aldi melihat air mata menetes di pipi mulus Kiara. Yang pertama Aldi lihat ketika akad nikah mereka berlangsung.
"Maafkan aku Kiara, dua kali aku membuat kamu sedih hingga berurai air mata." Aldi mengecup jalur air mata yang lolos ke pipinya dengan sangat perlahan.
Kiara merinding merasakan kecupan yang terasa seperti rabaan halus bibir Aldi.
"Katakan kepadaku bagaimana caranya aku bisa memperbaiki keadaan kita sekarang." Aldi sudah tiba di pipi bagian bawah. Berhenti di situ sejenak kemudian berbicara sambil merasakan ceruk leher Kiara.
"Apakah bermesraan seperti ini membuat suasana hati kamu berubah lebih baik, sayang?" Aldi menuntut jawaban.
Lama tak ada jawaban, Aldi beralih ke ujung bibir Kiara. Perlahan mengecup ujungnya hingga pas bertemu di bagian tengahnya.
Kiara hanya diam merasakan sensasi demi sensasi yang perlahan diberikan Aldi. Ada rasa manis bercampur debaran di hatinya.
Kiara memejamkan mata dan menerima setiap perlakuan lembut Aldi kepada bibirnya, pipi, dan juga area lehernya secara bergantian.
Kesedihan itu sudah hilang. Kiara hampir lupa apa yang membuatnya sedih. Di hatinya hanya ada keinginan supaya kelembutan perlakuan Aldi kepadanya tidak akan berakhir.
"Kiara." Aldi memanggil nama Kiara sambil mengelus pipi kirinya dengan telapak tangannya.
Kiara membuka mata dan melihat Aldi sedang mengharapkan Kiara bicara. Kiara hanya ingin menatap wajah tampan di hadapannya tapi enggan berbicara.
"Katakan sesuatu, Ra."
"Mengenai apa?" Kiara masih menatap Aldi.
Aldi ingin Kiara merespon perlakuannya barusan. Atau membalas kontak fisik yang dia berikan.
"Mengenai kemesraan aku ke kamu barusan. Apakah kamu suka dan menikmatinya?"
Kiara tertunduk malu mendengar pertanyaan Aldi ini.
"Jawab aku, Kiara. Suka?" Aldi menuntut jawaban.
__ADS_1
"Suka." Jawab Kiara singkat. Kiara masih tertunduk malu sambil tersenyum sendiri.
"Mau lagi?" Aldi berniat menggoda.
'Ya. Ingin lagi Al'. Kiara hanya berani membalas pertanyaan ini dalam hati. Tapi malu menyuarakannya.
Tapi Kiara sadar ini saat yang tepat untuk menanyakan hubungannya dengan verlita.
"Kamu sepertinya mahir dalam bidang ini." Kiara berniat melambungkan hati Aldi dengan sedikit pujian.
"Ini belum apa-apa."
"Oh ya?" Kiara mendapat kesempatan menanyakan hal yang dari tadi mengganggunya.
"Tentu saja."
"Bagaimana kamu bisa semahir itu? Sudah banyak praktek sebelumnya dengan kak Bella?"
"Apa harus praktek berkali-kali biar mahir?"
"Biasanya kan begitu."
"Kamu lupa kalo aku punya IQ di atas rata-rata?"
"Lalu?Kamu nggak mau ngaku kalo udah ngelakuin hal itu berkali-kali sama Verlita?"
Aldi tidak menyangka topik mantan pacar ini masih menjadi ganjalan di hati Kiara.
"Jadi kamu mau ngaku kalo lagi cemburu, sayang?" Aldi tersenyum sambil mengelus pipi Kiara.
"Aku mau kamu ngaku mengenai sejauh mana kontak fisik yang sudah pernah kamu lakukan sama mantan-mantan kamu."
"Aku nggak mau mengakui apapun sebelum kamu juga mengaku bahwa kamu cemburu." Aldi masih senyam-senyum menatap ekspresi penasaran Kiara.
"Kok gitu." Kiara manyun.
Aldi tidak tahan untuk tidak merasakan bibir manyun Kiara saat ini.
"Kamu sepertinya ingin dicium dengan memajukan bibir kamu seperti ini," Aldi mengatakannya sambil kembali merasakan bibir lembut Kiara.
Kiara yang tidak menyangka akan kembali dicium oleh Aldi hanya bisa berdebar hebat.
"Apa kamu bakal percaya kalo aku bilang bahwa kamu yang pertama kali aku cium seperti ini?" Aldi mengatakannya di tengah pertemuan kedua bibir mereka.
Kiara mengerjap-ngerjapkan matanya. Sedikit tidak percaya dengan perkataan Aldi.
Kiara mendorong dada Aldi agar menghentikan ciumannya dan memberi jarak keduanya.
__ADS_1
Dengan masih sedikit tersengal akibat perlakuan Aldi terhadap bibirnya, Kiara berkata, "Kamu serius, Al?"