
Ntah kenapa Kiara tidak bisa memaksa dirinya untuk menyantap makanan yang ada di hadapannya. Aldi sudah menawarkannya sarapan di luar. Tapi Kiara menolak.
"Banyak yang harus kalian tangani di kantor. Aku bisa memesan makanan secara online untuk diantar ke kantor nanti." Tolak Kiara.
Aldi tidak mendebat Kiara sama sekali. Tapi memandang wajah Kiara yang saat ini sudah berubah menjadi Rara. Dengan make up ala Rara itu, Aldi tidak bisa memastikan apakah Kiara tampak sehat atau tidak. Biasanya Kiara akan berwajah lebih pucat ketika sakit. Tapi kali ini Aldi tidak bisa memastikannya.
Mereka pun berangkat dengan mobil masing-masing. Aldi semobil dengan Rara, sementara Mike dengan mobilnya sendiri.
"Daniel, pesankan makanan untuk Rara." Perintah Aldi kepada Daniel melalui telepon.
"Kamu mau apa, Ra?" Aldi menoleh kepada Rara. Rupanya Rara sedang memikirkan hal lain. Rara tidak fokus dengan apa yang terjadi di mobil.
Aldi baru menyadari bahwa ada yang sedang mengganggu pikiran Rara. "Kamu bilang mau makan di kantor. Kamu mau dipesankan apa, Ra?"
Kiara akhirnya mengerti apa yang ditanyakan oleh Aldi. Tapi Kiara sedang tidak ingin memakan apapun. Tidak ada makanan yang terbayang dalam pikirannya.
"Belum tahu mau makan apa?" Aldi mengerti keengganan Kiara untuk makan. Aldi tidak menyukai ini.
"Iya, Al. Aku tidak ingin makan apapun saat ini. Bisakah memesan makanannya nanti saja?" Tawar Kiara.
"Kamu memiliki dua pilihan, Ra. Sarapan di kantor begitu kita tiba nanti, atau sarapan di restoran yang aku pilihkan."
Sementara Aldi menanti jawaban Kiara, Daniel juga masih tersambung dengan Aldi. Daniel bisa mendengar semua percakapan bosnya dengan sekertaris Rara. Hal ini membuat Daniel semakin bingung dengan hubungan bosnya dengan wanita yang jelas-jelas bukan istri yang sangat dia sayangi ini.
"Kita sarapan di kantor saja." Sahut Kiara. Makan di luar akan membuat mereka semakin lama tiba di kantor. Tentu saja Kiara sadar akan hal itu dan tidak akan memilih hal itu.
"Katakan kamu mau makan apa? Daniel masih menunggu." Aldi menatap Kiara dengan lembut. Bagi Kiara, Aldi terdengar berbicara dengan berhati-hati, seolah sedang menghadapi keramik yang mudah pecah.
__ADS_1
Kiara berusaha memikirkan makanan apa yang sekiranya membuat dirinya mau memakannya. Karena perutnya terasa mual, makanan yang masih hangat mungkin akan bisa Kiara telan. Juga yang memiliki kuah hangat.
"Aku mau Bubur ayam yang masih hangat saja kalau begitu. Cari bubur ayam yang memiliki kuah yang hangat."
"Baiklah. Kamu mau minuman hangat juga? Teh atau sesuatu yang lain?" Sahut Aldi. Wajah Aldi tampak senang hanya mendengar Kiara yang mau makan.
Aldi paham bahwa Kiara adalah tipe yang suka makan. Hobi memasak wanita ini sepadan dengan besarnya hobi ketika makan. Jika Kiara sampai enggan untuk makan, maka pasti ada yang tidak beres dengannya. Karena itulah Aldi tidak akan mentolerir jika sampai Kiara mogok makan atau tidak nafsu makan seperti ini.
Selang setengah jam kemudian, Kiara sudah tiba di kantor Blue Corp. Tepatnya di ruangan Presiden Direktur Aldi, sang suami. Makanan hangat sudah tersaji. Bubur hangat yang masih terbungkus rapi dengan peralatan makan yang bisa Kiara gunakan. Bahkan teh hangat yang nampak seperti buatan salah seorang Office Boy juga sudah siap Kiara santap.
"Makanlah dulu, Ra. Aku mengawasi mu." Ucap Aldi begitu mereka masuk ke kantor Aldi.
"Baiklah." Sahut Kiara dengan lemah. Kiara masih saja enggan untuk makan. Tapi mencoba untuk membayangkan rasa hangat makanan yang ada di meja.
Kiara menuangkan bubur dengan kuahnya yang hangat berikut pelengkapnya ke mangkuk yang sudah ada di meja. Pertama - tama Kiara menyendokkan kuah buburnya dulu. Ada rasa hangat yang mengalir ke tenggorokannya.
Aldi memperhatikan Rara yang awalnya mencicipi buburnya lalu memulai makan dengan perlahan. Aldi sudah menyalakan komputer super cepat yang ada di mejanya sambil tetap memantau Kiara yang makan.
Aldi mencurigai sesuatu dan mengetik beberapa hal di komputernya. Beberapa informasi yang Aldi inginkan tampak di layar. Aldi berusaha membaca dan memahaminya dengan seksama. Biasanya Aldi membaca dengan cepat informasi yang ada di hadapannya. Tapi kali ini Aldi membaca dengan perlahan dan bahkan mengulangi beberapa hal. Wajah Aldi mulai memucat dengan banyaknya informasi yang dia baca. Sambil tetap melirik ke arah Kiara, Aldi terus saja membaca informasi serupa yang dia cari di dunia maya.
'Apa aku perlu memastikannya? Tapi belum muncul gejala lain. Hanya dua gejala saja yang ada saat ini. Yaitu nafsu makan yang tiba-tiba menurun seperti saat ini dan tentunya tamu bulanan Kiara yang terlambat. Apa aku tidak terburu-buru menduga?' Aldi masih memikirkan hal ini sambil menatap Kiara yang kini sudah menyerah dengan makanannya.
"Ra, kamu sudah selesai makan?"
"Iya, aku sudah nggak sanggup lagi untuk makan." Jawab Kiara dengan wajah memohon.
Aldi berjalan ke sofa dimana Kiara makan. "Kamu sakit, sayang?" Aldi memegang dahi Kiara dengan telapak tangannya. Suhu Kiara tidak berbeda dengan dirinya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Al. Hanya tidak ingin makan saja. Aku sudah memakannya meski sedikit, aku sudah memenuhi keinginan kamu untuk makan." Kiara berusaha menjelaskan bahwa dirinya sudah patuh terhadap keinginan Aldi.
"Iya, aku melihat sendiri kamu memakannya." Aldi masih saja menatap wajah Kiara.
"Jadi, karena aku sudah makan, bisakah kita memulai pekerjaan kita hari ini?"
"Ya, aku sudah mulai mengerjakan pekerjaanku. Tapi aku masih khawatir sama kamu sayang. Nanti kita periksa ke dokter ya. Kamu nggak biasanya menolak makanan begini." Aldi merayu Kiara dengan menempelkan telapak tangannya ke pipi Kiara.
Kiara malu dengan tindakan Aldi ini. Sudah lama mereka tidak kontak fisik. Aldi terasa selalu menjaga jarak darinya. Tapi kini Aldi tidak hanya mendekat, tapi juga menyentuhnya. Setiap sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bagi Kiara. Bagaimana mungkin Kiara bisa berpikir dengan logis ketika Aldi mengeluarkan rayuannya begini.
"Kita ke dokter usai rapat dengan klien di jam makan siang, ya." Kiara tidak mengeluarkan penolakannya untuk ajakan ke dokter, maka Aldi pun memperjelas waktu kepergian mereka. Kalau sudah seperti ini maka Kiara tidak bisa menawar keinginan Aldi lagi.
"Tapi," Kiara tentu saja tetap berusaha menolak. Tapi kalimat lanjutannya tidak bisa keluar karena Aldi telah menutup bibir Kiara dengan jari telunjuknya.
"Ssshht. Jika kamu menolak untuk ke dokter, maka kamu harus membuktikan bahwa kamu sehat-sehat saja dengan menghabiskan sarapan kamu ini."
Kiara mana mungkin bisa makan lebih banyak lagi. Jadi dia hanya punya pilihan satu hal saja, yaitu periksa ke dokter bersama Aldi.
Aldi tersenyum melihat ekspresi Kiara yang sudah tidak bisa memberikan penawaran apapun lagi untuk menolak ajakannya periksa ke dokter.
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers.
Punya suami yang begitu perhatian bahkan soal makan ginie idaman semua wanita nggak sih? Kalo pasangan kalian nggak ginie, kita culik si bos Aldi jadi suami aja yuks. Wkwkwkwk
_Dinda^^
__ADS_1