
"Ra, kamu istirahat dulu saja ya. Aku masih harus ke ruang kerja. Ada ide yang baru muncul di benakku. Aku harus segera menindak lanjuti beberapa hal." Kiara sudah berada di depan pintu kamar mereka. Tapi Aldi tidak mau memasuki kamar mereka.
'Apa sebenarnya yang Aldi rencanakan?' Pikir Kiara ketika menatap bayangan Aldi yang semakin jauh dari mereka.
Malam itu Aldi tidak kunjung kembali ke kamar mereka hingga Kiara terlelap. Kiara sudah menunggu Aldi menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja. Tapi hingga Kiara tertidur, Aldi masih tidak kunjung kembali ke kamar mereka.
"Ceklek", Aldi membuka pintu kamar tidur mereka ketika lewat tengah malam.
Aldi langsung menuju ranjang dimana Kiara tampak telah mandi, berganti gaun tidur, dan tidur dengan nyenyak. Aldi menatap Kiara cukup lama. Tapi tak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah yakin Kiara memang telah tidur, Aldi beranjak dari sisi Kiara dan mandi.
Dengan guyuran air hangat di tubuhnya, rasa lelahnya seolah terangkat begitu saja. Dia merasa badannya cukup segar. Setelah berganti piyama tidur, Aldi tidur di sisi Kiara, membawa wanita itu ke dalam pelukannya sebelum menyusul Kiara ke alam tidurnya.
"Selamat malam, sayang." Aldi mengecup kening Kiara yang sudah ada dalam dekapannya. Aldi kemudian memejamkan mata. Dalam waktu singkat mereka berdua telah sama-sama terlelap.
Keesokan paginya Kiara merasakan kehangatan dekapan Aldi. Kiara yang tidur dengan lelap semalaman sama sekali tidak tahu sejak kapan Aldi tidur di sisinya hingga memeluk dirinya begini. Ada kehangatan dalam hati Kiara membayangkan bagaimana semalaman Aldi telah memeluknya ketika tidur begini.
Rasa kantuk Kiara pun sirna karena memikirkan Aldi. Kiara ingin bangun dan bersiap-siap ke kantor. Butuh waktu cukup lama bagi Kiara untuk ber - make up agar tampil sebagai sekertaris Rara. Jadi Kiara tidak bisa menunggu Aldi bangun. Biarlah Aldi yang semalam telah lembur ini melanjutkan tidur lebih lama.
🌸🌸🌸🌸
Satu bulan pun berlalu. Aldi dan Kiara menjalani kehidupan dengan selalu bersama baik ketika di kantor maupun di rumah.
__ADS_1
Tapi Aldi selalu melanjutkan pekerjaannya di rumah setelah makan malam santai mereka. Itu berlangsung setiap malam. Hingga di suatu malam Kiara mencoba menanti Aldi kembali ke kamar mereka. Kiara berusaha tidak tidur hingga Aldi selesai dengan pekerjaannya. Tapi ternyata percuma. Mungkin Kiara terlalu lelah bekerja seharian, sehingga susah sekali diajak begadang.
Sejak itu Kiara menyerah menunggu Aldi. Kiara paham memang Aldi memiliki banyak pekerjaan. Sangat wajar jika Aldi melanjutkan pekerjaannya hingga larut malam ketika sudah tiba di rumah. Kiara tak lagi berpikir macam-macam atau mencoba menunggunya.
Kiara yakin Aldi masih sangat menyayanginya. Setiap pagi Kiara bangun, Aldi selalu memeluk Kiara. Dalam tidurnya yang sangat nyenyak di sepanjang malam, Aldi telah membawa Kiara ke dekapannya. Kiara bangun pagi dengan ceria melihat suaminya begitu erat memeluk dirinya.
Di kantor pun Aldi selalu mendahulukan kepentingan Rara di banding siapapun. Tidak ada seorang pegawai pun yang berani memperlakukan Rara dengan buruk. Aldi telah mengendalikan situasi kantor dengan baik agar Rara nyaman bekerja bersama Aldi.
Ketika mereka hanya berdua, Aldi selalu mesra. Tidak ada satupun perubahan Aldi yang bisa Kita rasakan. Jadi Kiara putuskan untuk membiarkan pola tidur Aldi yang sangat malam. Kiara mencoba membiarkan Aldi yang sibuk bekerja ketika tiba di rumah hingga tidak pernah menemani Kiara tidur.
Di banding dengan apa yang telah Aldi berikan bagi Kiara dalam hubungan ini, bisa disimpulkan bahwa Kiara hanya memberikan sedikit hal bagi hubungan mereka. Kiara selalu menjadi orang yang disayang oleh Aldi dengan berbagai perhatiannya. Sementara Kiara hanya melakukan rutinitasnya saja. Tidak pernah terpikir oleh Kiara untuk melakukan hal yang spesial untuk Aldi.
Begitulah satu bulan terakhir ini berlalu bagi Kiara. Segalanya tampak harmonis dari luar. Kecuali satu ganjalan mengenai waktu lembur Aldi dengan pekerjaannya di setiap malam.
🌸🌸🌸🌸
Bella masih sedih kehilangan anaknya. Ketika duduk diam tanpa melakukan apapun, Bella suka mengenang bagaimana dia merasa begitu bahagia ketika tahu sedang hamil.
Tidak jarang Bella tiba-tiba meneteskan air mata. Bella berusaha tidak menangis atau tampak sedih di hadapan Bima. Tapi karena Bima sering memperhatikan Bella dan semakin peduli padanya, Bima selalu tahu kapan Bella menangis seorang diri. Bima juga tahu penyebab tangisan Bella. Tapi Bima tidak bisa melakukan apapun agar mereka berdua bisa kembali memiliki anak. Penyesalan terbesar Bima terhadap Bella yang tak akan terbayar oleh apa pun di dunia ini.
Hari ini adalah jadwal kontrol Bella. Bima selalu mengantarkan Bella periksa secara rutin. Meski tidak banyak obrolan yang terjadi di antara mereka, Bima dengan sabar mengantar dan menunggui Bella yang memeriksakan luka bekas tembakan dan operasi karena kegugurannya.
__ADS_1
Bima memilih rumah sakit milik kenalannya sebagai tujuan periksa Bella secara rutin. Rumah sakit ini Bima pilih agar rahasia Bella terjaga. Tidak ada yang boleh tahu mengenai kondisi Bella yang sebenarnya. Bella yang emosinya masih tidak stabil begini tidak bisa menerima pukulan yang lebih berat.
Bima dengan hati-hati menjaga istrinya dari segala hal yang berkaitan dengan kondisi dirinya yang sebenarnya. Bahkan ketika periksa dengan dokter obgyn sekalipun, Bima menemani Bella.
"Nyonya Bella Atmaja?" tanya dokter wanita di hadapan Bima dan Bella saat ini.
"Benar, dok." Sahut Bella.
"Pemulihan luka nyonya sangat baik. Bekas operasi bagian dalam juga sudah mengering hampir sepenuhnya. Pasti nyonya makan dengan bergizi dan minum air dengan cukup." Dokter yang tampak berusia paruh baya ini tersenyum ramah kepada Bella maupun Bima.
"Baik, dok." Sahut Bella.
"Jadi, apa saya sudah boleh hamil lagi?" Tiba-tiba Bella menanyakan hal yang sebenarnya membuatnya malu. Bella khawatir Bima menafsirkan bahwa Bella menginginkannya melakukan hubungan itu. Tapi Bella tidak sabar menanyakan hal yang paling membuat dirinya penasaran. Bella ingin tahu kapan dirinya pulih dan cukup kuat untuk bisa hamil kembali. Bella masih sangat menginginkan anak.
"Nyonya sabar dulu, ya. Setelah keguguran seperti ini, jarak untuk bisa memiliki anak adalah 3 sampai 6 bulan. Tergantung dengan kondisi nyonya. Jika nyonya memaksa hamil sebelum dinyatakan aman oleh dokter, kami khawatir kandungan nyonya akan lemah dan mudah keguguran kembali." Dokter wanita ini memandang penuh arti ke arah Bima. Sementara Bima sendihanya diam tanpa ekspresi di wajahnya.
"Maafkan istri saya, dok. Mungkin maksud istri saya ini, apakah kami boleh melakukan proses pembuatannya? Saya sudah puasa cukup lama, dok. Sepertinya istri saya begitu menyayangi saya. Tidak ingin membuat saya menunggu lebih lama. Saya tidak perlu menunggu hingga tiga bulan pasca operasi untuk melakukannya kan dok?" Dengan tiba-tiba Bima merubah ekspresi wajahnya menjadi mode bercanda. Perkataan Bima ini sukses membuat Bella semakin tersipu malu.
'Bisa-bisanya Bima menanyakan hal yang memalukan ini kepada dokter di hadapan dirinya.' Gerutu Bella dalam hati.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
_Dinda^^