Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Sesi Hipnoterapi


__ADS_3

"Maaf pak. Tidak ada opsi ketiga." pernyataan Psikiater yang menangani Bella ini membuat Bima kebingungan. Setelah menemani Bella yang terlelap di ruang perawatan, Bima kembali berhadapan dengan seluruh Tim dokter kejiwaan yang menangani Bella.


"Untuk sementara ini, jika menginginkan langkah paling cepat dalam menangani trauma psikologi nyonya Bella, kami hanya memiliki dua solusi ini." Salah satu dokter dengan perlahan memberikan dia pengertian.


"Lalu kemana saya mencari superhero dalam hidup istri saya dok?"


"Tuan bisa menjadi super hero itu, kenapa tuan tidak percaya diri?"


"Saya telah menyakiti dan membuat istri saya berkorban begitu banyak untuk saya dok. Saya ini adalah tokoh jahat dalam hidup istri saya. Mana mungkin saya terlihat seperti super hero."


"Kami tim dokter sepakat bahwa bapak adalah tokoh utama dalam hidup nyonya Bella. Kami yakin bapak adalah penolong yang dia harapkan keberadaannya untuk menemani nyonya Bella ketika kehilangan anak anda berdua."


Bima tertunduk memikirkannya. Bima mulai memikirkan perkataan dokter ini. Jika dibilang paling diharapkan, Bima yakin bahwa dirinya memang adalah yang paling diharapkan oleh Bella. Sebab Bima adalah penyebab Bella mau mengorbankan bahkan hidupnya dan bayi mereka untuk menerima tembakan yang akan mengenai Bima. Hanya saja setelah menerima tembakan untuk Bima ini menjadikan Bella sempat berniat menjauhi Bima. Padahal kali ini Bima berusaha dengan sangat keras untuk mendekati Bella dan meraihnya untuk masuk ke dalam dunia Bima.


'Bella sungguh keterlaluan main tarik ulur denganku', pikir Bima.


'Tapi aku akan lebih keterlaluan jika tidak berusah membahagiakan istri yang sudah mengorbankan nyawanya demi suami yang buruk sepertiku.'


"Baiklah dok. Dari apa yang dokter sampaikan ini, saya rasa diri saya memang adalah yang dibutuhkan oleh istri saya saat ini. Dia begitu mencintai saya hingga rela mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan saya." Keputusan Bima ini membuat para dokter senang. Mereka bisa memulai sesi hypnotherapy untuk Bella.


"Baik, pak. Mari kita bahas teknis pelaksanaan hipnoterapi nya dan apa yang harus bapak lakukan." ketua Tim dokter bersemangat menjelaskan beberapa hal kepada Bima.


Bima yang cukup cerdas langsung memahami apa yang harus dia lakukan. Sehingga tidak memakan waktu lama untuk persiapan hipnoterapi ini.

__ADS_1


Mereka pun mulai sesi hipnoterapi setelah Bella sudah kembali sadar.


🌸🌸🌸🌸


Bella terbangun dengan melihat Bima ada di sisinya. Tampaknya Bima menunggu Bella untuk sadar sejak tadi.


Tatapan Bella tampak kosong dan sama sekali tidak menatap Bima yang ada di hadapannya. Bima merasakan nyeri di dadanya melihat hal ini.


"Dok, dokter" panggil Bima. Dokter yang bersiaga di luar ruangan dimana mereka kini berada bergegas masuk. Tim psikiater yang menangani Bella mulai memeriksa kondisi Bella baik dari denyut nadi, detak jantung maupun mengecek tatapan bella yang nampak fokus dengan satu titik saja seolah tidak melihat semua orang yang ada di sekitarnya.


Setelah melakukan semua pengecekan, ketua tiim Psikiater berbalik kepada Bima, "Nyonya Bella bisa melakukan terapi, pak. Apa kita bisa memulainya?"


Bima masih memiliki keraguan dalam hatinya, tapi ini satu-satunya pilihannya untuk membuat keadaan Bella lebih baik.


"Baiklah, dok. Mari kita mulai."


🌸🌸🌸🌸


Bella mulai melihat punggung itu. Punggung anak kecil itu berjalan menjauh. Dan seperti sebelumnya, Bella berkeinginan berjalan mengejar anak yang menjauh itu. Tapi kali ini ketika Bella hendak berjalan mengikuti anak itu pergi, Bella mendengar sebuah suara yang tak pernah ada dalam mimpinya sebelumnya.


"Bel, Bella." Suara itu memanggil Bella. Suara yang cukup familiar bagi Bella. Suara itu membuat fokus Bella kepada anak kecil tadi terpecah. Bella pun berputar mencari sumber suara yang memanggilnya. Tapi pemilik suara itu tidak kunjung dia temukan.


Bella pun beralih ke punggung anak kecil yang menjauh itu, kesedihannya yang begitu besar kembali muncul. Anak itu sudah semakin jauh. Bella mulai menangis karena menyia-nyiakan waktu untuk mencari suara yang memanggilnya tadi, bukannya mengejar anaknya yang hendak pergi.

__ADS_1


Bima berada di sisi Bella. Bima melakukan semua instruksi yang diberikan oleh Psikiater yang menangani Bella bersaman dengan tim ahli Hipnoterapi yang kini membimbing Bella untuk bisa melihat sosok diri Bima dalam mimpi Bella. Tapi tiba-tiba Bima melihat aliran air mata yang membasahi pipi Bella. Air mata itu mengalir deras ke pipinya, meski Bella sama sekali tak mengeluarkan isak tangisnya.


Hati Bima kembali merasa teriris dan begitu sakit melihat kesedihan Bella. 'Oh Tuhan, apa ini. Kenapa sakit sekali hatiku melihat kepedihan wanita ini. Bagaimana perasaannya nanti ketika tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi, Tuhan. Bagaimana aku bisa memberi tahunya? Apa mungkin aku bisa menyembunyikan hal ini darinya selamanya?'


Bima pun pada akhirnya ikut menitikkan air mata melihat tangisan Bella yang tanpa suara.


Sementara itu Bella yang masih berada dalam mimpi kini mulai melihat sosok lain yang datang dari arah dimana anaknya menghilang. Sosok itu berjalan dengan pelan tapi pasti. Bella mulai lupa akan rasa sakit di hatinya karena sosok anaknya yang menghilang. Bella fokus kepada sosok baru yang datang mendekat. Bella sendiri berharap sosok itu berubah menjadi Bima, pria yang masih sangat Bella harapkan dalam hidupnya. Pria hangat yang membuat dirinya jatuh cinta ketika berbelanja di super market bersama Aldi. Bima yang selalu hangat pada pacar lamanya, Kiara.


Harapan Bella melambung tinggi. Sosok tubuh pria itu semakin terlihat mirip dengan Bima. Bella berharap Bima yang datang menghampirinya.


"Bel, Bella." Suara itu terdengar lagi. Dari arah sumber suaranya, Bella yakin berasal dari pria yang mendekatinya. Bella pun tidak tahan menunggu. Bella berjalan ke depan menuju pria yang jaraknya sudah semakin dekat.


Bella tersenyum melihat wajah pria itu. Pria yang datang itu ternyata memang Bima, pria yang masih sangat dia sayangi. Bima datang kepada Bella dengan senyum di wajahnya.


"Bima, kamu akhirnya datang." Bella mengulurkan tangan untuk meraih Bima.


Tangan Bella pun ditangkap oleh Bima. Suaminya itu memegang tangan Bella dengan lembut dan menatap Bella. "Ya, aku datang. Aku ke sini untuk menemani kamu melepas kepergian anak kita. Biarkan dia pergi, Bel. Ikhlaskan kepergiannya."


Bella kembali menangis mendengar perkataan Bima untuk mengikhlaskan anaknya pergi. Bella masih berat sekali mengikhlaskan. Bella masih tidak bisa menerima kepergian anaknya.


" Bel, jangan menangis lagi, Bella. Ada aku di sini. Aku akan selalu berada di sini sama kamu, Bel. Tolong jangan menangisi anak kita lagi. Hiduplah dengan baik bersama aku, Bella." Bima membawa Bella ke dalam pelukannya dan membiarkan Bella menumpahkan tangisnya di dada Bima.


"Berjanjilah ini tangisan terakhir untuk anak kita Bel. Kembalilah hidup bersama ku, Bella." Bima kini menepuk-nepuk punggung Bella. Membuat Bella merasa nyaman hingga merasa mengantuk dan kembali tertidur di pelukan Bima.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


_Dinda^^


__ADS_2