
Pagi menyapa, tapi Kiara masih saja enggan menyapa balik mentari pagi. Selimut yang melekat kepadanya lebih nyaman dari pada hangatnya sang mentari. Tapi ada yang berbeda dari selimutnya pagi ini. Tidak hanya sebuah selimt tebal saja yang menyelimuti tubuhnya. Ada Aldi yang masih mendekapnya dalam pelukannya sebelum selimut membungkus dirinya.
Meski setiap malam mereka tidur dengan berpelukan begini, ada yang berbeda pagi ini. Keduanya tidak mengenakan pakaian apapun yang menghalangi kulit mereka saling bersentuhan. Menyadari hal itu, Kiara teringat dengan apa yang telah mereka berdua lakukan tadi malam.
Kiara merasa malu. Ingin rasanya melepaskan diri dari pelukan Aldi. Tapi Aldi mempererat pelukannya.
"Mau kemana, Ra." Aldi bangun karena pergerakan Kiara.
"Aku mau ke kamar mandi, Al."
"Temani aku tidur dulu. Ini masih terlalu pagi untuk bangun."
"Aku ingin bangun, Al. Kamu terusin saja tidurnya."
Mendengar jawaban Kiara, kantuk Aldi langsung sirna.
"Kalau kamu ingin bangun, aku juga bangun deh." Aldi membuka mata dan menggerakkan tubuhnya yang sudah menempel kepada Kiara sejak tadi. Aldi bangun terlebih dahulu dan menuju ke kamar mandi. Mendahului Kiara yang tadinya ingin mandi.
Kiara menanti Aldi yang berada di kamar mandi cukup lama. Kiara menjadi sebal harus menunggunya. Awalnya kan dia duluan yang ingin menggunakan kamar mandi. Tapi Aldi malah mendahuluinya dan berada di dalam sana begitu lama.
"Ceklek" Aldi keluar dari kamar mandi dengan melihat wajah Kiara yang tertekuk. Aldi bisa tahu jika wanitanya agak marah menunggu lama.
"Cup," tiba-tiba Aldi mencium wajah masam Kiara di bagian pipi. Kiara yang terkejut tiba-tiba menoleh ke pria itu.
"Cup," Kecupan singkat Aldi berikan lagi ke bibir sang istri. Sementara Kiara hanya bisa memasang wajah terkejut dengan ulah Aldi yang tak dia sangka.
"Aku ingin mencium kamu lebih lama" Bisik Aldi ke telinga Kiara. Wajah Kiara menjadi bersemu merah. Wanita itu lupa dengan kemarahannya barusan. Ada senyum nakal di wajah Aldi melihat ekspresi malu Kiara.
'Wanita ini benar-benar pemalu.' Pikir Aldi.
"Apa masih sakit?" Tanya Aldi.
Mendengar pertanyaan Aldi, Kiara jadi merasakan ketidaknyamanan di area bawahnya. Ada rasa nyeri ketika Kiara bergeser sedikit saja.
Melihat ekspresi meringis sang istri, Aldi tahu jawaban dari pertanyaannya tanpa Kiara perlu menjawab.
__ADS_1
"Maafkan aku ya. Tadi malam sepertinya terlalu banyak mendapat jatah kenikmatan dari kamu."
Kiara melotot melihat cara bercanda Aldi. Bisa-bisanya pria ini menjadikan hal itu bahan bercandaan. Tapi Kiara tidak bisa lama memelototi sang suami. Tubuhnya tiba-tiba sudah terangkat tinggi. Kiara berada dalam pelukan Aldi begitu saja.
"Kita periksa bagian yang sakit itu sambil mandi ya." Aldi memberitahu arah tujuan Aldi menggendong Kiara, ke kamar mandi.
Kini Kiara paham kenapa Aldi mengalihkan perhatian Kiara ketika ingin ke kamar mandi. Juga alasan kenapa Aldi begitu lama berada di kamar mandi tanpa mandi.
Tadi malam Kiara sama sekali tidak masuk ke kamar mandi ini. Begitu memasuki kamar hotel mereka, Kiara dibuat sibuk oleh rayuan demi rayuan yang Aldi berikan. Kiara tidak menyangka kamar mandinya akan seluas ini. Apalagi taburan kelopak bunga yang ditebarkan oleh Aldi ini. Aroma kamar mandi ini menjadi harum seperti taman bunga.
"Siapa yang mengajari kamu menyia-nyiakan kelopak bunga yang cantik itu untuk kesenanganku?" Kiara membuat nada bicaranya seolah-olah sedang marah.
"Kamu lebih cantik dari pada mereka. Jadi mereka yang kamu bilang cantik itu harus mengorbankan kelopak mereka yang cantik demi wanita cantikku, istriku yang lebih cantik jelita." Aldi bergerak dengan pelan sambil menggendong Kiara. Mendekati bath up yang tak lagi terlihat airnya.
"Suamiku semakin handal dalam membuat rayuan gombal, ya."
"Tentu saja. Prioritas suami kamu adalah menyenangkan istrinya. Membuat rayuan demi rayuan akan membuat sang istri tersenyum dan tertawa bahagia."
"Tidak. Tapi aku bisa melihat senyum di ujung bibir kamu setiap aku merayumu" Kata-kata Aldi bernada dingin dan tegas. Tak ingin dibantah. Kiara juga tak ingin membantah. Sebab yang dikatakan Aldi memang benar.
"Jangan berusaha menahan senyum kamu lagi, Kiara. Aku melakukan semuanya untuk menyenangkanmu. Aku sangat ingin melihat kamu tersenyum atas usahaku. Kita memiliki uang yang tak akan habis jika dibelanjakan setiap hari. Tapi perhatian aku tak akan bisa kamu dapatkan dengan membelinya di toko manapun."
Dengan perlahan Aldi menurunkan Kiara langsung ke dalam air di bath up yang hangat.
"Maaf." Satu kata itu terucap dengan tulus kepada Aldi. Kiara baru menyadari kesalahannya.
Aldi tersenyum mendengar kata maaf Kiara yang sederhana. Wanita ini bisa dengan mudahnya meminta maaf jika diingatkan kesalahannya. Aldi tak tahan untuk tidak menciumnya dengan rakus.
Kiara yang tiba-tiba dicium setelah meminta maaf menjadi terkejut. Kiara sampai tidak bisa bernafas saking lamanya ciuman itu berlangsung.
"Kenapa kamu bersikap begitu polos, sayang." Ucap Aldi usai menuntaskan keinginannya untuk mencium Kiara dengan sangat dalam.
"Kenapa kamu sangat menyukai gadis yang polos?" Kiara kini tersenyum. Tidak ingin lagi menahan perasaannya di hadapan Aldi.
__ADS_1
"Apa iya aku menyukai gadis polos? Kok aku merasa menyukai kamu."
"Iya, aku rasa kamu menyukaiku karena aku nampak polos. Aku dengan bodohnya percaya dengan kak Bella. Juga dengan bodohnya percaya dengan cinta Bima ke aku." Mengingat dua nama itu membuat senyum Kiara memudar.
"Kamu masih saja belum merelakan Bima dan Bella?"
"Ntahlah. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap mereka. Aku merasa kasihan dengan keduanya yang sepertinya tidak bisa bahagia. Tapi juga masih ada rasa sesak mengingat bagaimana malam itu aku dikhianati oleh mereka berdua."
Aldi masuk ke dalam bath up yang airnya masih terasa hangat itu. Kemudian membawa Kiara ke dalam pelukannya.
"Kamu tahu nggak. Aku bersyukur mereka mengkhianati kamu. Tapi aku lupa kamu masih punya trauma akan hal itu." Aldi menghirup aroma wangi rambut Kiara.
"Apa kamu sudah yakin memilihku untuk bersama kamu hingga akhir hidup kamu?" Kiara masih saja merasa ini semua mimpi. Bersama denga pria yang memiliki segalanya seperti Aldi seperti sebuah mimpi yang diharapkan oleh semua gadis.
"Kamu siap jika aku memilih yang lain?" Aldi menjawabnya dengan senyuman usilnya.
Kiara menjauh dari pelukan Aldi dan melihat ekspresi Aldi.
"Jika kamu memang mau memilih wanita lain, tentu aku harus menyiapkan diri untuk tidak mencintaimu." Kiara berwajah serius.
Aldi merasa salah langkah kali ini. Kiara tidak bisa diajak bercanda mengenai kepercayaan dan pengkhianatan.
"Jangan melakukan itu, sayang," Aldi menangkup kedua pipi Kiara.
"Aku hanya ingin bersama denganmu. Aku hanya akan mencintai kamu, istriku. Nggak akan ada wanita lain di antara kita. Kecuali satu." Aldi kembali tersenyum.
"Siapa? Verlita?" Kiara menyahut
Aldi tertawa ngakak, "Tentu saja mama."
Kiara tidak menyangka Aldi kembali menggodanya. Tapi Aldi menjadi paham isi hati Kiara yang masih takut dengan pengkhianatan. Juga bagaimana Kiara masih tidak percaya sepenuhnya dengan cintanya kepada sang istri.
🌸🌸🌸🌸
Gimana ya cara Aldi membuktikan cintanya kepada Kiara tanpa bayang-bayang Verlita lagi? Kalian semua mengira chapter ini bakalan panas lagi ya? Emang belum puas sama chapter yang panas sebelumnya? wkwkwk
__ADS_1