
"Kak Bella kenapa Al?" Kiara sudah kembali ingin menangis. "Apa karena aku lagi?"
"Hush.. Tenanglah. Bella baik-baik saja. Dia hanya sedikit tertekan. Kita tunggu di luar saja ya." Aldi mengajak Kiara keluar.
Kiara keluar dari kamar Bella. Duduk di kursi luar yang berjarak cukup jauh dari kamar Bella. Bersama dengan Aldi, Kiara melalui banyak saat-saat yang berat. Termasuk saat ini.
"Al, aku belum ingin kembali ke Jakarta." Kiara menyampaikan apa yang dia inginkan.
"Kamu sekarang sudah pendai menyampaikan keinginan kamu secara langsung ya, sayang."
"Iya, kamu selalu berusaha menebak apa yang aku inginkan. Aku akan berusaha menyampaikan secara langsung apa mauku agar kamu nggak bersusah payah menafsirkan ucapan dan perbuatanku." Kiara dengan yakin menatap Aldi.
Aldi tidak menyangka Kiara berpikiran seperti ini.
"Aku sudah terbiasa selalu ingin memahami keinginan kamu. Jangan bersusah payah menyampaikan apa yang tidak ingin kamu ucapkan, Ra. Aku tetap akan berusaha memahami kamu."
"Aku juga ingin bisa memenuhi keinginan kamu, Al. Dari pada menghabiskan waktu untuk saling menebak apa yang kita inginkan satu sama lain, lebih baik kita saling jujur dengan apa yang kita inginkan. Bisa lebih menghemat waktu dan energi loh Al. Waktu untuk tebak-tebakannya bisa gunakan untuk yang lain."
"Tapi aku suka main tebak-tebakan. Gimana dong sayang?" Aldi terdengar manja.
"Al, kamu begitu jenius. Tapi aku jauh dari kata cerdas. Nilai sekolahku saja pas-pasan. Kira-kira anak kita nanti akan mirip kamu atau kah aku ya?"
'Anak?' Aldi terdiam memikirkan topik yang tiba-tiba beralih ke anak ini. Aldi sejenak mempertimbangkan apa yang akan dia ucapkan.
"Sudah ingin bikin anak, Ra? Ini masih pagi, sayang. Mau bikin sekarang?" Aldi memilih mengajak Kiara bercanda saja. Topik mengenai anak ini membuatnya tidak nyaman. Apa yang mengganjal di hati Aldi sejak semalam kembali membuatnya tidak nyaman.
"Apa an sih Al. Siapa juga yang mau ngajak begitu."
"Lah itu tadi katanya udah pengen bikin anak yang mirip aku atau mirip."
"Nggak kok. Aku cuma keinget ama kak Bella yang kehilangan calon anaknya. Jadi kepikiran anak kita nantinya."
"Iya deh, iya. Nanti malam aja ya kita bikin yang mirip kamu." Aldi masih berusaha terlihat bercanda. Tapi hatinya semakin tertekan. Aldi tersenyum di hadapan Kiara. Tapi hatinya terasa sesak.
Ketika mereka berdua sedang asyik bercanda, keduanya dikagetkan dengan hiruk pikuk rombongan yang menuju kamar Bella. Mereka sekelompok pengawal yang tampaknya mengikuti bos mereka, seorang bos wanita.
__ADS_1
Kiara hanya sempat melihat bagian belakang rombongan itu ketika melewati mereka berdua. Jadi tidak menduga jika ternyata tujuan si bos adalah kamar Bella. Ketika wanita paruh baya itu memasuki kamar Bella, Kiara baru sadar siapa yang datang. Bos wanita itu adalah Diandra, mantan calon mertuanya, ibu dari Bima.
"Al, perasaanku nggak enak."
"Kita tidak bisa mencampuri urusan mereka, Ra." Aldi menatap ekspresi Kiara yang berubah.
"Tapi jika kamu ingin ikut campur, kita bisa saja melihat ke sana. Kamu kan tahu bahwa suami kamu ini cukup berkuasa. Keluarga Atmaja tidak akan berani melakukan hal buruk kepada Bella jika ada kita." Aldi berubah pikiran karena ekspresi Kiara yang tak menyenangkan hatinya.
"Kamu juga menduga hal yang buruk akan menimpa kak Bella karena mommy Diandra?"
"Mommy?" Aldi tidak suka mendengar sebutan Kiara untuk ibunya Bima.
"Maaf. Sejak dulu aku tidak terbiasa manggil tante Diandra. Aku keceplosan."
"Okey, jangan sampai keceplosan lagi di hadapan Bima ya, Ra. Kamu nggak mau kan dia memiliki harapan kembali sama kamu lagi?" Aldi mengacak-acak rambut Kiara karena merasa gemas.
"Tentu saja." Jawab Kiara singkat.
🌸🌸🌸🌸
Bella terlihat kembali pucat begitu melihat kedatangan Diandra dengan wajah tidak menyenangkan.
"Duduklah di hadapanku, Bima." Diandra memerintahkan Bima yang duduk di samping Bella untuk duduk di sofa yang tersedia di kamar itu.
Bima enggan mematuhinya. Tapi kemudian Bima menuruti Diandra.
"Bagaimana Mommy tahu?" Bima tidak ingin berbasa-basi dengan Mommy Diandra.
"Pada awalnya aku ke sini untuk memaksa kamu pulang dan menghhentikan kegilaan kamu terhadap mantan tunangan kamu. Tapi malah kabar buruk ini Mommy terima." Wajah Diandra sudah tampak menahan amarah.
"Aku yang salah, Mom. Aku yang nggak bisa melindungi anak dan istriku dengan baik."
"Ya, kamu memang bersalah. Semua berawal dari kepergian kamu ke kota ini untuk tujuan yang memalukan. Tapi istri kamu lebih salah lagi!" Diandra sudah sangat emosi.
"Tok.. tok.." Sebuah ketukan di pintu kamar Bella menghentikan amukan amarah Diandra.
__ADS_1
"Nyonya, ada tamu." Asisten Diandra mengumumkan kehadiran Aldi dan Kiara. Diandra dan asistennya mengetahui siapa dan bagaimana pengaruh besar Aldi. Tentu mereka harus bersikap sopan.
"Halo tante Diandra. Apa kabar." Kiara menyapa Diandra dengan senyum di wajahnya.
Diandra terkejut dengan kedatangan Kiara yang juga bersamaan dengan Aldi.
"Tante kok makin cantik aja." Kiara mendekat kemudian mencium pipi kanan dan kiri Diandra. Kebiasaan yang selalu mereka lakukan setiap bertemu. Kiara dengan tanpa sadar terlihat sangat akrab dengan ibunya Bima itu.
"Kamu juga selalu cantik, Kiara." Diandra tidak tersenyum, tapi sikapnya tidak lagi dingin.
"Tante Diandra kok bisa samoe jauh-jauh ke kota ini. Perhatian banget sama kak Bella. Kiara jadi iri. Ibu mertua Kiara jauh di Singapura. Gak bisa sering-sering ketemu kayak tante dan kak Bella gini." Kiara bicara dengan manis, sementara Diandra menjadi salah tingkah.
"Kalau kamu kangen ibu mertua kamu yang jauh, kamu sering-sering aja temui tante dan nemenin tante ngobrol kayak dulu."
"Beneran ya tante. Nanti aku bakal sering main ke rumah tante buat nemuin kak Bella dan tante Diandra."
Tatapan Diandra berubah dingin setiap kali Kiara menyebut nama Bella.
"Kamu apa kabar? Tante dengar kamu habis kena musibah penculikan." Diandra berubah tampak khawatir kepada Kiara.
"Iya, tante. Berkat Aldi, kak Bella dan Bima, aku bisa terselamatkan. Aku mau berterimakasih ama kak Bella ke sini tante."
"Nggak usah sungkan. Dia kan kakak kandung kamu sendiri. Sudah sewajarnya jika dia membantu adiknya.
"Tetap saja aku sudah membuat kak Bella sampai keguguran. Aku bersalah kepada kak Bella dan keluarga tante."
"Jika kamu memang merasa bersalah, sudah seharusnya suami kamu ikut membalas kebaikan keluarga kami. Suami kamu seharusnya tidak lagi menyerang Atmaja grup."
"Tentu saja tante. Aku akan pastikan suamiku tidak akan melakukan hal buruk ke perusahaan tante. Iya kan, Al?" Kiara menoleh ke arah Aldi yang berwajah tanpa ekspresi. Pria ini begitu pandai menyembunyikan perasaan dan emosi nya di hadapan orang lain.
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers
Masih mau satu chapter lagi nggak hari ini?
__ADS_1
_Dinda^^