Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
BUKAN Ajakan Pernikahan Kontrak


__ADS_3

Bella sedang bersama Bima di suatu restoran yang cukup mahal. Seperti halnya beberapa kali makan malam bersama Bima sebelumnya, mereka juga makan di restoran yang tidak bisa dibilang murah.


Bella tidak ingin memesan makanan. Tapi Bima memaksa Bella untuk makan malam. Sehingga Bima memesankan makanan untuk Bella. Karena tidak tahu dengan selera makanan Bella, Bima asal memesan makanan yang sama persis dengan dirinya.


Sementara menanti makanan mereka, Bima berinisiatif untuk memulai obrolan mereka malam itu.


"Saya ingin meminta maaf."


Mendengar permintaan maaf Bima itu, Bella tidak bisa menjawabnya. Bella memilih diam.


"Terus terang saya tidak terlalu mengingat malam itu. Tapi saya akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi malam itu." Bella tidak menyangka Bima akan menyatakan hal ini.


"Saya tahu malam itu saya tidak memakai pengaman. Jadi bisa saja kamu nanti akan hamil anak saya."


"Bagaimana dengan Kiara? Kamu rela meninggalkan adikku? Saya tahu kamu mencintai Kiara." Bella tidak tahan mendengar semua yang akan dikatakan Bima. Alasan Bima membuat hatinya sakit. Bukan itu alasan yang ingin Bella dengar ketika Bima setuju menikahinya.


"Jika kita nanti berpisah, saya akan mengejar cinta Kiara kembali." Bella terperangah mendengar kalimat Bima ini.


"Saya ingin kita menikah hanya selama satu tahun jika ternyata kamu nanti tidak mengandung anak saya." Bima melanjutkan.


"Bagaimana jika saya nanti mengandung anak kamu?" Bella kini menantang Bima.


"Kita akan membicarakan hal itu nantinya. Tenang saja, saya tidak menawarkan kontrak pernikahan. Saya tidak pernah menganggap sebuah pernikahan sebagai permainan."


"Saya serius ingin menikah dan bertanggung jawab. Tapi saya tahu hati saya tidak bisa melupakan Kiara. Saya tidak mau kamu menghabiskan sisa hidup kamu bersama saya yang tidak bisa mencintai kamu. Kamu bisa hidup berbahagia dengan pria lain yang bisa mencintaimu." Bella sakit hati mendengar semua ini keluar dari mulut Bima. Kenapa Kiara sangat beruntung dicintai pria ini?


"Saya tidak bisa menikahi kamu." Bella menatap Bima dengan tajam. Keputusannya sudah bulat menolak pria ini. Apa bedanya menikahi Aldi dan Bima? Keduanya tidak bisa bersikap hangat, peduli dan mencintai dirinya. Bima masih tidak mau menyerah dengan Kiara. Biarlah Bima mengejar cinta Kiara. Bella tidak mau ambil pusing. Hatinya terlanjur sakit.


Bella berdiri dari tempat duduknya. Meski makanan yang dipesan belum sempat datang dan mereka santap, Bella tidak peduli. Bella sudah tidak berselera untuk makan. Bella hanya ingin pergi dari hadapan pria ini.

__ADS_1


Bima yang ditinggalkan pergi oleh Bella hanya menatap kepergiannya. Bima memilih untuk mencerna keputusan Bella dan memikirkan apa yang akan Bima lakukan.


Makanan pesanan Bima datang.  Bima memakannya sambil tetap berpikir. Bima berusaha mengabaikan kekosongan kursi di depannya. Berusaha menikmati makanan yang terlihat lezat di hadapannya. Tapi Bima tidak bisa melanjutkan makan setelah menghabiskan setengah dari makanannya.


Bima tiba-tiba teringat jika Bella tidak membawa kendaraan. Ini sudah hampir jam 9 malam. Bima tidak seharusnya membiarkan Bella pulang sendiri.


Dengan tergesa-gesa Bima Bima membayar tagihan makan mereka dan keluar dari restoran untuk mencari Bella. Tapi Bella sudah tidak ada di luar. Bima berusaha menghubungi Bella tapi tidak kunjung diangkat.


Bima menyesali kelambatannya merespon penolakan dan kepergian Bella. Bima tidak pernah memikirkan tawarannya akan ditolak. Tidak ada counter attack yang Bima siapkan untuk menanggapi opsi penolakan Bella ini.


Bima tahu Bella masih tinggal bersama Kiara. Bima akan mencari Bella ke sana saja. Sambil melihat-lihat barangkali Bella masih sedang menanti kendaraan umum di sekitar situ.


Akibatnya Bima menyetir dengan pelan dan melihat ke kanan maupun kiri. Berusaha mencari sosok Bella.


Bima terus saja menyetir dengan perlahan dan melihat ke kanan kiri hingga hampir setengah jam. Akhirnya Bima melihat sesosok perempuan yang berjalan kaki sendirian. Dari belakang tampak seperti Bella. Baju yang dikenakan pun sama.


"Saya antarkan kamu pulang." Bella mendengar suara yang familiar dengan tiba-tiba. Bella senang mendengar suara itu. Tapi bukankan laki-laki di hadapannya ini juga tidak menginginkan Bella?


Bella menggelengkan kepalanya dengan pelan. Bella tidak ingin menerima kebaikan pria ini lagi. Bella tidak mau berharap kepada orang yang salah lagi. Bella sudah mantap akan kembali ke Aldi yang dingin.


Bersama Aldi memang tidak akan memiliki banyak warna. Sikapnya selalu dingin. Tapi Bella tidak pernah dibuat sakit hati oleh Aldi. Paling-paling juga Bella akan bingung mengartikan sikap dan perkataannya yang hemat.


"Kamu mau jalan kaki?" Bima kini terdengar emosi.


"Kenapa itu jadi urusan anda?" Bella lanjut berjalan meninggalkan Bima.


"Tentu saja jadi urusanku." Bima berusaha menyejajari langkah Bella.


"Saya yang ngajak kamu keluar makan. Jadi saya bertanggung jawab mengantarkan kamu pulang dengan selamat."

__ADS_1


"Demi Tuhan, Bella. Jangan begini! Mari aku antar kamu pulang!" Bima sudah tidak sabar dengan penolakan Bella. Bima meraih tangan Bella dan menghentikan langkah Bella.


"Lepaskan tangan saya." Bella menyentakkan tangannya agar lepas dari pegangan Bima. Tapi tidak bisa. Bella kalah kuat. Tubuhnya juga sudah terasa lelah.


"Kenapa tangan kamu dingin sekali." Bima mulai kuatir. Tangan kirinya yang tidak memegangi Bella mencoba merasakan panas dahi Bella.


Bella tidak baik-baik saja. Dia lupa makan siang. Hanya makan sarapan yang tadi pagi dibuatkan Kiara. Makan malam barusan juga dia lewatkan. Tapi Bella tahu bahwa pekerjaan esok hari masih banyak. Dia harus segera pulang dan beristirahat. Bersama Bima hanya akan menguras emosi dan tenaganya saja.


Merasa bahwa Bella sedang demam dan belum makan, Bima merasa harus bertindak.


"Kita ke rumah sakit, Bel" Bima menarik Bella ke arah mobilnya dengan sedikit memaksa. Bella tak bisa melawan. Bella tahu tenaganya tak akan sanggup melawan Bima.


Begitu sudah duduk di dalam mobil Bima, Bella menyuarakan penolakannya.


"Jangan ke rumah sakit. Antar saja saya pulang." Lagi-lagi Bima mendapatkan penolakan. Kenapa Kiara maupun kakaknya sangat suka menolak Bima.


"Tidak bisa. Kamu harus sembuh dalam pengawasan saya. Saya tidak mungkin merawat ka desamu di rumah saya."


"Saya tidak mau tidur di rumah sakit." Bella masih saja keberatan


"Jika kamu tidak sakit parah, dokter pasti akan mengijinkan kamu pulang."


Bella lelah. Dia hanya memejamkan mata. Berusaha beristirahat.


Bima dan Bella tiba di UGD sebuah rumah sakit swasta untuk kalangan menengah ke atas. Keluarganya terbiasa rutin melakukan medikal cek up di sini. Karena Bima tak pernah sakit parah hingga harus ke rumah sakit, Rumah sakit yang Bima ketahui hanya ini.


"Bel, Kita sudah sampai di rumah sakit. Turun yuk." Bima membangunkan Bella.


"Jika kamu bersikap baik kepada saya seperti ini, saya akan sulit melepaskan kamu untuk mengejar cinta adikku lagi. jauhi saya jika kamu masih ingin bersama Kiara." Bella membuka mata dengan kesadaran keberadaan Bima. Bella harus memperjelas penolakannya terhadap Bima.

__ADS_1


__ADS_2