
"Bruk.." Sebuah pukulan mendarat ke perut Aldi begitu saja tanpa Aldi sadari.
Semua anak buah Aldi menjadi semakin waspada. Semua siap menembak Ferdi jika perlu. Tapi mereka menunggu perintah langsung atau isyarat Aldi.
Tapi Aldi tidak merasakan sakit dengan pukulan di perutnya itu. Aldi hanya menatap Kiara dengan tatapan cintanya kembali. Tidak peduli dengan Ferdi yang di hadapannya sedang menghalangi jalannya.
"Bruk..." Aldi lagi-lagi tidak sadar telah dipukul lagi oleh Ferdi. Kali ini wajah Aldi yang dituju.
Ferdi semakin marah dengan reaksi Aldi yang tidak mempedulikannya. Ferdi ingin memukul Aldi terus menerus.
"Al! Pukul dia balik, Al! Sadarlah!" Sebuah teriakan seorang wanita menyadarkan Aldi yang dari tadi tidak merasakan sedikitpun sakit dari pukulan yang dilontarkan Ferdi kepadanya.
Suara kekasihnya yang lama sekali tidak dia dengar akhirnya bisa Aldi dengarkan kembali. Kiara akhirnya bersuara memanggilnya kembali. Wanitanya, Kiaranya benar-benar ada di hadapannya dan berteriak memanggilnya.
Ferdi juga mendengar teriakan Kiara. Ferdi semakin marah mendengar 'Adelia'-nya malah menyuruh pria jahat di hadapannya ini balik memukulnya. Pukulan ketiga Ferdi telah siap mendarat di tubuh Aldi kembali.
Tapi pukulan itu tidak sampai mencapai tujuannya. Aldi menangkap kepalan genggaman tangan Ferdi kali ini.
Menatap Ferdi dengan pukulannya mengingatkan Aldi akan kemarahan dan rasa sakit yg seminggu ini diciptakan oleh pria ini. Aldi menjadi marah dan semakin marah.
"Bruk!" Aldi merobohkan Ferdi dengan sekali pukulan di wajah Ferdi.
Melihat Ferdi roboh dan tidak lagi menjadi pengganggu membuat Aldi kembali menatap kekasihnya. Dengan perlahan tapi pasti, Aldi melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah mendekat kepada Kiara yang berada semakin dekat jaraknya dengan dirinya.
Aldi ingin segera meraih wanitanya, kekasihnya, dengan segera. Tapi lagi-lagi sebuah suara pengganggu mengalihkan semua orang, termasuk Aldi dan Kiara.
"Kamu masih mau menerima wanita itu? Dia tidak lagi sama dengan wanita yang sebelumnya bersama dengan kamu. Dia sudah menjadi barang bekas!" Pengganggu yang mengalihkan perhatian semua orang itu adalah Ferdi. Dia tidak akan membiarkan pria lain bersenang-senang dengan kekasihnya, dengan Adelianya.
"Dia adalah Adeliaku sejak aku membawanya kemari. Menurutmu, mana mungkin aku tidak melakukan segala hal yang biasanya kulakukan dengan kekasihku? Pikirkan itu baik-baik tuan muda yang hebat! Kamu masih mau menerima wanita yang telah ku gunakan?!" Teriak Ferdi kembali.
__ADS_1
Aldi hanya diam manatap Kiara. Tatapan rindunya berubah menjadi tatapan dingin. Hanya dengan tatapan itu saja sudah mampu menusuk hati Kiara dengan rasa sakit.
Aldi berbalik ke arah Ferdi yang masih tersungkur dengan dikelilingi anak buah Aldi yang mengamankannya. Aldi menarik kerah baju Ferdi dan menghantamkan kepalan tinjunya langsung ke perut pria yang tampak sudah tak berdaya itu.
"Diam!" satu kata yang begitu dingin terdengar dari mulut Aldi.
"Daniel! Seret pria ini keluar untuk menunjukkan alat yang dia gunakan untuk menyabotase tempat ini! Matikan alat itu! Paksa dia untuk bekerja sama dengan segala cara!" Aldi sudah berbalik ke arah Kiara kembali.
"Keluar kalian semua dari sini dan jangan melapor sebelum rumah ini kembali terang!" Tambah Aldi
"Bagaimana dengan Bima dan pengawalnya yang masih bertahan, tuan?"
"Biarkan dia tetap di kamar itu. Intinya aku tidak ingin diganggu. Keluar!" Teriak Aldi kembali.
"Hahaha. Kamu tidak akan sanggup menerima wanita ini kembali. Sebaiknya kamu berikan dia kepadaku! Dia sudah nggak pantas buat kamu. Kamu nggak akan tahan sama hidup sama Adelia ku. Dia Adelia ku!" Ferdi terus saja meneriakkan hal ini hingga Daniel beserta anak buah Aldi menyeretnya keluar dari kamar dan menutup pintu kamar yang kuncinya sudah rusak itu.
Begitu mereka hanya tinggal berdua, Aldi kembali melangkah menuju Kiara. Kali ini dengan langkah yang dipercepat, dalam sekejap Aldi sudah menghilangkan jarak di antara mereka. Tatapan Aldi tidak lagi dingin kepada Kiara. Wajahnya melembut menatap Kiara nya, istrinya. Wanita yang membuatnya merasakan neraka dunia tanpa keberadaannya.
Cukup lama Aldi merengkuh dan menghirup aroma wanita itu. Aldi merasakan dengan setiap inderanya bahwa Kiara sudah berhasil dia peluk dan benar-benar nyata ada dalam pelukannya.
Aldi terus saja memeluk Kiara hingga Aldi merasa ada yang aneh. Kiara hanya diam dalam pelukannya. Kiara tidak membalas memeluknya. Kiara juga tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Di kamar yang masih hanya dengan penerangan lilin, membuat suasana kamar yang remang-remang itu sedikit romantis. Aldi kemudian menjauhkan diri dari Kiara dan mengamati ekspresi wajah yang sangat dirindukannya.
Kiara tampak diam menatap Aldi tanpa ekspresi. Ini tidak biasa, ada sesuatu yang aneh pada Kiara nya.
"Maafkan aku, Ra. Aku sudah gagal melindungi kamu hingga ku diculik. Aku juga terlalu lama menemukan kamu."
Aldi menangkup wajah Kiara dengan kedua telapak tangannya. Mengamati Kiara yang tidak mengucapkan apa pun hingga cukup lama.
__ADS_1
"Apa kamu percaya dengan perkataan Ferdi tadi?" Kiara akhirnya mengucapkan sesuatu. Kiara akhirnya menanyakan pertanyaan yang paling ingin Aldi hindari.
"Itu tidak penting, Ra. Yang terpenting adalah kita sudah bersama. Aku tidak akan melepaskan kamu ke tangan Ferdi. Aku juga tidak akan membiarkan Bima membawa kamu." Aldi berusaha menghindari topik ini. Kiara sadar akan hal itu. Aldi menghindar dari jawaban yang Kiara inginkan.
"Ini penting, Al. Apa kamu percaya dengan perkataan Ferdi?" Wajah Kiara semakin tampak serius.
"Aku, Aku tidak tahu, Ra. Ferdi bukan orang yang seharusnya ku percayai begitu saja."
"Kalau kamu nggak tahu, lalu kenapa kamu nggak bertanya sama aku mengenai ucapan Ferdi itu? Kenapa kamu nggak bertanya apakah aku ternoda atau nggak?!" Kiara tampak marah.
"Itu tidak penting, Ra. Aku butuh kamu, sayang. Seperti apapun kamu berubah, itu tidak penting." Aldi menggenggam kedua bahu Kiara.
"Hal itu sangat penting buatku, Al." Kiara menunduk.
"Lupakan semua yang terjadi di sini. Aku tidak ingin membuat kamu mengenang apapun yang terjadi di sini. Hanya ada hal buruk di sini, Ra. Aku tidak perlu tahu apapun yang terjadi di sini. Kamu selamat dan kembali ke sisiku saja sudah cukup, sayang." Aldi mengangkat dagu Kiara dengan telunjuknya. Aldi ingin Kiara mengangkat wajahnya lalu menatap matanya.
"Tidak, Al. Tidak bisa seperti itu."
"Lalu? Kamu ingin bagaimana?"
"Aku ingin kamu percaya sama aku. Aku nggak ingin kamu mempercayai begitu saja perkataan Ferdi tadi."
"Trek..." Sebuah suara terdengar. Disusul dengan cahaya lampu kamar dan sedikit kebisingan yang serentak. Rupanya Daniel berhasil mematikan alat yang menjadikan rumah ini gelap tanpa listrik dan mematikan segala macam alat elektronik di sekitarnya.
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers!
Masih penasaran kan? Nantikan chapter berikutnya besok ya...
__ADS_1
_Dinda^^