
"Apa kah kalian berdua pasangan?" Kiara tidak bisa menahan rasa penasarannya melihat chef Jung dengan Asisten Nanda yang saling merangkul.
Tapi keduanya tidak langsung menjawab pertanyaan Kiara. Mereka berdua sama-sama tersenyum dan saling menatap. Seolah menertawakan Kiara akan pertanyaan yang jawabannya sudah jelas.
"Terima kasih untuk hidangan yang lezat ini. Maafkan istriku yang mengganggu privasi kalian." Aldi kini berbicara. Mencoba membuat Kiara tidak lagi menanyakan hal ini.
"Terima kasih, Tuan Aldi. Kami senang melihat pasangan yang menghabiskan waktu kencannya di sini. Tolong jangan sungkan." Sahut Nanda.
"Kami mau permisi membereskan peralatan masak. Silahkan menikmati malam kalian di sini lebih lama." Tambah Nanda, Chef Jung dan asisten Nanda kemudian membungkuk dan kembali ke area dapur.
Keduanya tampak sumringah dengan senyum di wajah mereka. Kemudian melanjutkan pekerjaan mereka di dapur sambil bercanda dalam bahasa Korea yang tidak dimengerti oleh Aldi.
Asisten penerjemah menyajikan minuman ringan ke meja Aldi dan Kiara. Tampaknya pekerjaannya tidak hanya menjadi penerjemah chef Jung. Tapi juga melayani tamu-tamu yang datang.
"Al, apa menurut kamu mereka memang pasangan?" Kiara masih saja penasaran.
"Kenapa kamu menduga mereka adalah pasangan?" Aldi malah balik bertanya.
"Melihat bagaimana keduanya bercanda dan berinteraksi, mereka tampak saling memahami meski hanya dengan tatapan atau ekspresi wajah. Kita saja yang sudah menikah tidak sampai berada dalam tahap itu." Kiara malah tampak mengeluhkan hubungan mereka.
"Mereka pasti sudah mengenal cukup lama, Ra. Sementara kita kan baru menikah sekaligus baru saling mengenal." Aldi tersenyum menatap Kiara yang masih melirik interaksi chef Jung dengan Asisten Nanda.
"Seiring dengan berjalannya waktu, kita akan bisa saling memahami seperti mereka." Aldi memegang tangan Kiara. Dia mencoba meyakinkan Kiara.
Kiara yang merasa genggaman tangan hangat Aldi secara tiba-tiba merasa tercekat.
'Kita tidak ada keterbukaan satu sama lain, Al. Apa bisa seperti mereka. Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku. Kemudian aku juga ikut melakukan hal yang sama. Kamu masih tidak tahu kan misiku bekerja di kantor sama kamu?' Kiara menatap Aldi tapi tidak mampu mengucapkan apa yang ada dalam hatinya. Kiara hanya bisa mengucapkannya dalam hati, tanpa bisa menyampaikannya kepada Aldi.
__ADS_1
Suasana restoran malam itu cukup nyaman. Kiara merasa berat untuk pulang. Tapi besok mereka harus bekerja. Meskipun Aldi adalah bos utama, tetap saja tidak bisa berangkat kesiangan seenaknya. Aldi harus menjadi contoh bagi bawahannya dengan datang bekerja tepat waktu.
"Kita pulang, yuk." Ajak Kiara.
"Oke. Kita berpamitan kepada chef Jung dan asisten-asistennya dulu." Aldi sudah berdiri dari kursinya. Kemudian mengancingkan jasnya yang sebelumnya dia buka ketika duduk.
"Thank You for coming. I hope You enjoy what we serve tonight." Chef Jung membungkuk memberikan salam perpisahan.
Ucapan perpisahan ini mampu dipahami oleh semua yang hadir. Asisten penerjemah tidak perlu mengartikan kepada Aldi dan Kiara bahwa chef Jung berterima kasih atas kedatangan mereka berdua dan berharap bahwa sajian malam ini bisa keduanya nikmati.
Aldi dan Kiara kemudian membalas dengan membungkuk juga. Mereka berdua pulang dengan hati senang dan perut kenyang.
"Kamu suka dengan kencan kita malam ini?" Tanya Aldi salam perjalanan pulang.
"Suka sekali. Terima kasih ya Al." Jawab Kiara.
"Biasa saja deh sayang. Tujuan hidupku adalah membuatmu senang. Nggak perlu formalitas ucapan makasih segala."
Aldi belum sempat menjawab perkataan Kiara karena fokus menyetir. Kiara sendiri teringat dengan rasa penasarannya akan hubungan chef Jung dengan Asisten Nanda.
"Apa menurut kamu mereka berpacaran?" Kiara masih saja tertarik dengan topik ini.
"Aku rasa mereka belum dalam tahap pacaran. Mereka hanya menikmati kedekatan mereka dalam kesehariannya."
"Tapi mereka saling merangkul, Al."
"Itu bisa saja merupakan bentuk dukungan partner kerja untuk memberikan rasa tenang kepada chef Jung yang berdebar menanti komentar kita akan masakannya." Aldi menjawabnya tanpa ekspresi lagi.
__ADS_1
"Apa? Aku masih sulit percaya, Al."
"Budaya dan skala prioritas di Korea sangat berbeda dengan di negara Kita, Ra. Di sana mereka tidak akan menikah jika belum merasa mapan untuk menghidupi istri dan anaknya kelak. Tapi di sini menikah selama ada cinta. Tidak peduli sudah punya pekerjaan untuk menafkahi istrinya atau tidak.
"Chef Jung masih dalam tahapan membangun bisnisnya di Indonesia. Pernikahan sepertinya belum ada dalam agendanya dalam waktu dekat. Jadi dia tidak berani menjalin hubungan dengan wanita. Mereka masih sebagai partner kerja yang merasa nyaman dengan keberadaan satu sama lain."
Analisa Aldi memang cukup masuk akal bagi Kiara. Taoi Kiara butuh waktu mencerna sudut pandang yang Aldi berikan ini.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan lagi, sayang." Aldi memegang tangan Kiara yang menganggur di pangkuannya.
Ada getar rasa senang dengan sentuhan kecil Aldi ini. Ntah kenapa hal kecil berupa sentuhan dan genggaman tangan begini masih saja selalu mampu membuat Kiara berdebar. Padahal mereka berdua telah melakukan segala hal hingga tahap paling akhir. Tapi begini saja sudah mendebarkan dan membuat wajah Kiara memerah.
'Apakah malam ini Aldi akan mengajak aku melakukannya?' Benak Kiara terus saja bertanya.
Pikirannya itu dibuyarkan Aldi begitu saja. "Kita sudah tiba, Ra." Pelayan dan penjaga rumah langsung bertindak cepat. ada yang membuka pintu gerbang. Ada juga yang bersiap di dekat keduanya ketika turun dari mobil. Mereka menanti jika ada barang dari tuannya yang perlu dibawakan masuk. Itu adalah bagian dari pekerjaan mereka.
Para pelayan kaget melihat ada wanita lain yang turun dari mobil sang Tuan. Mereka tidak melihat penampilan Kiara dalam wajah Rara tadi pagi ketika berangkat Kerja. Jadi mereka sama sekali tidak tahu bahwa gadis manis di hadapan mereka ini adalah nyonya majikan mereka sendiri.
Kiara melihat wajah penasaran para pelayannya. Kiara jadi berpikir bagaimana ekspresi buruknya di restoran chef Jung tadi karena tampak penasaran dengan hubungan mereka.
"Kalian tidak perlu membawakan apapun. Masuklah untuk menangani pekerjaan kalian yang lain. Kami ingin segera beristirahat." Aldi tidak mau repot memikirkan wajah penasaran para pembantunya. Sudah cukup banyak hal yang memenuhi benaknya. Aldi butuh break dari dekat Kiara jika tidak mau kehilangan kendali atas dirinya.
Aldi dan Kara berjalan menuju arah kamar mereka. Rumah mereka cukup besar. Berjalan dari depan rumah ke kamar mereka saja seperti mengelilingi hotel dengan banyak kamar.
"Ra, kamu istirahat dulu saja ya. Aku masih harus ke ruang kerja. Ada ide yang baru muncul di benakku. Aku harus segera menindak lanjuti beberapa hal." Kiara sudah berada di depan pintu kamar mereka. Tapi Aldi tidak mau memasuki kamar mereka.
'Apa sebenarnya yang Aldi rencanakan?' Pikir Kiara ketika menatap bayangan Aldi yang semakin jauh dari mereka.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^