
Verlita merasakan napas Mike yang hangat menghembus di wajahnya. Dia tak bisa menghindar dari pandangan itu. Tanpa sadar, Verlita juga tak bisa lagi menahan diri untuk mendekat. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Mike yang semakin dekat dengannya, dan denyut jantungnya semakin tak teratur.
Saat ini terasa seperti waktu berhenti. Semua pikiran tentang pekerjaan, tanggung jawab, dan pertimbangan lainnya lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya Mike dan Verlita, berbagi momen yang penuh ketegangan dan rasa.
Tiba-tiba, Mike merasakan keinginan yang kuat untuk mendekati Verlita secara fisik. Dia meraih tangan Verlita dengan tangan lainnya, menggenggamnya dengan lembut. Pandangannya terus terkunci pada mata Verlita, dan langkahnya perlahan membawa mereka lebih dekat.
Verlita bisa merasakan detak jantungnya semakin cepat, dan napasnya yang tersengal-sengal. Dia bisa merasakan getaran kecil dari tangan Mike yang memegangnya, dan dia merasa seperti dalam lingkaran sihir yang tak bisa dia patahkan.
Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Mereka berdua merasakan daya tarik yang tak terbantahkan, keinginan yang mendalam untuk merasakan kehadiran satu sama lain dengan lebih nyata. Dan ketika jarak antara mereka semakin berkurang, bibir Mike hampir menyentuh bibir Verlita.
Namun, tiba-tiba pintu kantor Mike terbuka dengan tiba-tiba, memutuskan momen yang hampir magis itu. Aldi, pemilik perusahaan, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi terkejut dan bingung.
Mike dan Verlita saling memandang, terkejut dan canggung. Semua perasaan dan emosi tiba-tiba berubah menjadi kaku dan tidak pasti. Aldi tampak seperti tidak tahu harus berkata apa, terpaku di tempatnya.
Mereka berdua mengerti bahwa momen itu hilang dan tak akan kembali. Mike melepaskan genggaman tangannya dari Verlita, dan Verlita merapikan dirinya di kursi. Tatapan keduanya terpecah, dan suasana yang penuh ketegangan mengisi ruangan.
Aldi akhirnya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatasi kejutan dan kebingungannya. "Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu," ucapnya akhirnya dengan suara rendah.
Mike dan Verlita sama-sama menggeleng cepat, mencoba menenangkan keadaan yang canggung ini. Mereka tahu bahwa apa pun yang hampir terjadi tadi seharusnya menjadi rahasia mereka, tapi kini ada Aldi yang membuat mereka harus mengatasi konsekuensinya.
__ADS_1
"Apa yang bisa saya bantu, Aldi?" tanya Mike dengan nada biasa, meskipun hatinya masih berdegup kencang.
Aldi tampak seperti berusaha mencari kata-kata. "Saya rasa ini buan saat yang tepat, saya permisi," Aldi tidak menunggu respon apapun dari Mike dan langsung menutup pintu kantor Mike dari luar.
Momen ajaib bagi Mike itu mungkin hilang, tetapi jejaknya masih melekat dalam benak Mike. Dengan ini, semakin banyak tanda tanya dalam benak Mike mengenai perasaan Verlita untuknya. Jika memikirkan respon Verlita barusan, Mike bisa menyimpulkan bahwa Verlita tidak keberatan dengan kedekatan fisik itu.
Mike dan Verlita pun kembali bertatapan meski keduanya memiliki pemikiran mereka satu sama lain.
Tatapan mereka yang dalam seolah-olah mengingatkan Mike bahwa ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka. Ingin rasanya Mike dengan tiba-tiba meraih wajah Verlita dan ******* habis bibir merekah Verlita yang tampak penuh itu. Tapi itu adalah sebuah tindakan yang kasar dan tanpa permisi. Bisa saja Verlita akan terkejut dan menjauhi Mike.
Pemikiran akan Verlita yang bisa saja menjauh membuat Mike ketakutan. Mike pun berusaha kembali menahan diri dan memikirkan apa sebenarnya yang kini dirasakan oleh Verlita.
Mike merasa perlu mengatasi situasi ini dengan cara yang lebih baik. Dia memutuskan untuk berbicara dengan Verlita secara terbuka. Dia melihat ke mata Verlita yang penuh dengan campuran emosi, dan dia tahu dia harus mengungkapkan perasaannya.
Verlita menatap Mike dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada kebingungan dan perasaan campur aduk dalam matanya. "Tidak, pak. Saya juga harus minta maaf. Saya tidak seharusnya membiarkan hal itu terjadi."
Mike menggelengkan kepala dengan lembut. "Kamu tidak perlu minta maaf. Kita berdua sama-sama terlibat dalam momen itu."
"Kalau begitu saya permisi, pak." Verlita tidak menunggu jawaban Mike dan pergi dari ruangan itu dengan setengah berlari.
__ADS_1
Melihat hal itu membuat Mike khawatir dan ingin mengejar wanita itu. Tapi Mike khawatir akan memperburuk keadaan di antara keduanya. Sehingga Mike pun akhirnya mengurungkan niatnya dan mengambil nafas dalam-dalam sambil memikirkan semua hal yang baru saja terjadi.
Mike memikirkan respon Verlita yang secara fisik tampak tertarik dengan kedekatan mereka berdua. Verlita tidak menolaknya yang tadi berusaha mendekat, bahkan hampir menciumnya. Ada perasaan senang memikirkan hal itu. Hati Mike begitu berbunga-bunga. Tapi juga ada tanda tanya besar bagi Mike, kenapa verlita mau?
Verlita masih mengejar-ngejar Aldi dengan segala cara. Mike masih sadar akan hal itu. Tapi kenapa tidak ada penolakan dengan kedekatan mereka?
Mike duduk di kursinya, membiarkan berbagai pemikiran dan perasaan bercampur aduk di dalam dirinya. Dia memahami bahwa situasi ini rumit dan tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Ada begitu banyak pertanyaan yang perlu dijawab, dan perasaan yang perlu dipahami.
Di satu sisi, Mike merasa senang dengan respon Verlita yang tampaknya tidak keberatan dengan kedekatan mereka. Tindakan Verlita yang hampir menciumnya dan tidak menolak mendekat memang memberikan harapan. Namun, di sisi lain, Mike juga merasa khawatir. Khawatir bahwa ada sesuatu yang Verlita sembunyikan, atau bahwa ada faktor-faktor lain yang membuat Verlita berperilaku seperti ini.
Mike merenung dalam-dalam, berusaha memahami segala sesuatunya. Dia mengingat momen-momen mereka bersama di masa lalu. Tapi di tengah-tengah pemikirannya, Mike teringat dengan Aldi yang sudah mengetahui rasa cintanya untuk Verlita tetapi tidak mengetahui sejarah percintaannya dengan Verlita. Mike yakin tidak ada satupun orang yang mengetahui hubungan mereka dulu
Mike merasa perlu berbicara dengan Aldi untuk mengklarifikasi situasi ini dan memahami lebih lanjut mengenai perasaan Verlita. Dia juga ingin memberi tahu Aldi tentang masa lalunya, karena dia tidak ingin merahasiakan apa pun lagi dari Aldi mengenai dirinya dan Verlita.
Mike merasa tegang. Dia tahu bahwa percakapan ini tidak akan mudah. Ada banyak emosi yang terlibat, dan mereka harus membicarakannya dengan jujur dan terbuka. Tapi pada saat yang sama, Mike merasa bahwa ini adalah langkah yang perlu diambil untuk mengatasi situasi yang semakin kompleks.
Dengan tekad yang mantap, Mike mengambil teleponnya dan menghubungi Aldi. Dia memilih untuk tidak menunggu terlalu lama, karena dia ingin mengatasi hal ini dengan cepat. Dia ingin mengklarifikasi perasaannya, memahami perasaan Verlita, dan mencari jalan terbaik untuk melangkah ke depan.
Saat telepon terangkat, Mike mengambil nafas dalam-dalam, siap untuk menghadapi pembicaraan yang tidak mudah.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^