
Kiara merasa sesak nafas. Dadanya terasa panas. Kiara ingin meminum sesuatu karena tenggorokannya juga terasa panas. Tapi Kiara berada dalam kegelapan. Seolah ada yang membelenggu dirinya untuk bergerak. Kiara hanya bisa merasakan sakitnya saja. Tapi kemudian Kiara mendengar suara seseorang memanggilnya. Ada pria yang memanggil namanya. Suara itu seperti tidak asing.
Itu adalah suara Aldi. Aldi berteriakĀ kepada dirinya.
"ayolah, Kiara. Kembalilah Kiara! Kembali kepadaku Kiara!
"Kamu tidak biasanya diam Kiara! Diam kamu kali ini sudah terlalu lama, Kiara! Kembalilah Kiara! Berbicaralah sebanyak mungkin sesuka kamu Kiara!"
Aldi menyuruh Kiara bangun. Apa mungkin Aldi ingin Kiara bertahan dengan rasa sakit ini? Mungkinkah Aldi masih sedang berada bersamanya meski Kiara tak bisa melihatnya? Kiara ingin bangun seperti kata Aldi. Kiara harus bangun dan melawan rasa sesak di dadanya. Aldi menunggunya. Kiara tidak sendirian.
"Bangunlah Kiara!Ayo kembali, Kiara!"
'Aku akan kembali, Al. Jangan putus asa denganku.' Kiara berusaha sekuat tenaga kembali dan bernapas lagi. Sesak di dadanya sudah tak terasa lagi. Tapi Kiara tak bisa membuka mata dan menghilangkan dunia yang semua serba gelap ini. Tapi meski dunia ini gelap, Kiara bisa merasakan hangatnya dekapan seseorang. Kiara tidak pernah dipeluk dengan kehangatan senyaman ini.
***
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Ini sudah hari kedua dia tidak sadarkan diri."
Suara yang familiar itu lagi. Dia menyebut istri. Apakah istri yang dimaksud adalah dirinya? Kiara ingin membuka mata dan menanyakan kepada sang pemilik suara. Apakah dia sudah menganggapnya sebagai istrinya? Dia bahkan menyebut istri di hadapan orang lain. Kiara seperti mendapat pengakuan akan keberadaan dan statusnya dalam hidup pria itu.
Kiara tidak ingin mendengar suara lain selain milik pria itu. Kiara berusaha menajamkan telinga untuk mendengar suara menyenangkan pria yang menyebut Kiara sebagai istrinya itu.
Lama Kiara menunggu. Tapi Kiara tidak mendengar suara sang pria.
"Kiara, dokter bilang keadaanmu sudah stabil. Bahaya sudah lewat. Kapan kamu ingin membuka mata?"
Akhirnya suara itu terdengar lagi. Bahkan kali ini Kiara bisa merasakan tangannya digenggam dengan kehangatan yang menyenangkan. Kiara ingin merasakan kehangatan ini lebih banyak lagi. Kiara ingin membuka mata seperti keinginan pria ini. Pria yang selama ini menemani Kiara dalam kekosongan dan kegelapan ini.
Kiara pada akhirnya membuka mata. Menatap Aldi cukup lama seperti halnya tatapan Aldi untuk dirinya. Keduanya sama-sama saling menatap. Satunya menatap dengan lekat seolah ingin mencari tahu perasaan lawannya. Sementara yang satu menatap dengan kebahagiaan. Ya, Kiara bisa melihat pancaran kebahagiaan di mata Aldi. Pria yang menyebutnya istri.
__ADS_1
"Kiara. Kamu bangun." Aldi menekan tombol darurat untuk memanggil tim medis. Aldi melakukannya sambil tetap menatap lekat gadis yang baru sadar ini.
"Al" Kiara menyapa pria yang menemaninya. Senang rasanya bisa memanggilnya lagi.
Tim medis datang. Ada dokter jaga dan dua perawat. Perawat yang satu mengecek keadaan Kiara melalui berbagai alat yang dihubungkan ke dirinya. Dari alat penghitung detak jantung hingga alat yang terhubung dengan kabel oksigen.
Aldi menjauh dari ranjang Kiara. memberi ruang bagi para medis. Memperhatikan setiap gerakan Kiara yang sudah membuka mata itu. Khawatir gadis itu akan berbaring kembali dan menutup matanya.
Kiara tidak mengenal satupun orang berseragam putih khas rumah sakit ini.
Usai memeriksa semua hal, dokter menyampaikan bahwa Kiara sudah membaik dan besok jika sudah bisa makan dengan normal bisa pulang. Tidak ada cedera serius lagi. Kiara sudah sepenuhnya sadar. Tidak ada komplikasi atau luka.
"Kiara, kamu masih ingat bagaimana kamu jatuh ke laut?" Aldi yang melihat dokter dan perawat telah keluar, mendekati Kiara dan menanyakan hal yang paling membebani pikirannya.
"Jatuh ke laut?" Kiara habis jatuh ke laut. Kiara jadi melupakan hal itu. Mengingat jatuh ke laut ini, Kiara mengecek tangan kanannya. Tidak ada apapun yang Kiara pegang. Melihat ke arah tangan kiri pun sama
Tidak mungkin. Kiara ingat sudah mendapatkan cincin itu. Kiara sudah menangkap cincin itu hingga ke dasar laut. Kiara tidak mungkin melepaskannya dari genggamannya begitu saja ketika kehilangan kesadaran di bawah laut.
"Kamu mencari ini?" Aldi membuka genggaman tangannya. Terlihat lah benda yang Kiara cari. permata berliannya berkilauan tertimpa matahari pagi dari luar jendela rumah sakit.
"Kamu menggenggam nya dengan begitu erat." Aldi mengambil cincin itu dari telapak tangannya. Memasangkan kembali cincin itu ke jari manis Kiara.
Kiara tersenyum melihat cincin itu kembali tersematkan ke jari manisnya.
"Terima kasih." Mata Kiara memancarkan senyum yang masih menghiasi bibirnya.
"Katakan, Ra. Apa kamu melompat ke laut karena ingin bunuh diri?"
Kiara terkejut mendengar pertanyaan Aldi. Keterkejutan Kiara juga juga telah Aldi lihat. Tapi Aldi hanya diam menatap Kiara. Menginginkan jawaban dari mulutnya langsung.
__ADS_1
"Tidak. Hidupku terlalu baik dan indah untuk ku akhiri." Kiara tersenyum kepada Aldi. 'Aku tak ada keinginan meninggalkan kamu, Al.' Kiara melanjutkan jawabannya dalam hati.
"Lalu kenapa kamu melompat ke laut, Kiara?!" Aldi berusaha menahan amarahnya.
Kiara bisa merasakan suasana dingin yang terpancar dari diri pria di hadapannya.
"Jika aku keluar dari kamar sedikit lebih lama, apa kamu bisa membayangkan apa yang akan terjadi?!"
"Aku.. aku... " Lidah Kiara kelu. Kiara baru menyadari kebodohannya. Aldi pantas memarahinya. Jika Aldi tidak datang menolong, apa mungkin Kiara bisa selamat?
"Maafkan aku Al. Aku tidak berpikir sejauh itu ketika melompat. Aku hanya ingin mengejar cincin ini." Kiara menatap cincin yang tersemat di jarinya.
Aldi terkejut. Meski telah menduga hal ini lah alasannya Kiara melompat, tapi mendengarnya langsung dari mulut Kiara sangatlah berbeda.
"Kamu tidak malu mengakui telah bersedia mengorbankan nyawa demi sebuah cincin berlian?" Kiara masih bisa melihat dinginnya tatapan Aldi.
Kiara ingin menjawab bahwa alasannya adalah karena ini cincin pernikahan mereka. Tapi Kiara tidak kunjung bisa mengucapkannya.
Aldi yang dikuasai amarah tidak ingin meluapkan kemarahannya lebih banyak lagi kepada Kiara. Aldi memilih pergi meninggalkan Kiara. Aldi butuh waktu dan jarak untuk meredakan kemarahannya.
Kiara yang tiba-tiba ditinggalkan oleh Aldi baru menyadari betapa besar kebodohannya. Juga kesalahannya. Tidak seharusnya Kiara melompat ke dalam laut begitu saja. Aldi pasti sangat mengkhawatirkan Kiara selama ini.
Kiara harus bagaimana untuk menenangkan Aldi dan menunjukkan permintaan maafnya dengan tulus?
\=\=\=
Maaf ya teman-teman... Hari libur membuat author lebih sibuk dari pada hari kerja. Ini saja seharian tidak bisa menyempatkan buka laptop. Sambil ngantuk-ngantuk berusaha nulis menggunakan hape. Author masih dalam perjalanan dari luar kota nieh... Doakan sampek rumah dengan selamat yak š¤
_Dinda^^
__ADS_1