Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Malam Pertama Tidur Berdua (1)


__ADS_3

Aldi sedang merebahkan diri di kamar tidurnya. Tapi dia masih saja tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Bunda panti.


'Apakah aku jatuh cinta kepada Kiara? Kenapa aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya'


Aldi meletakkan kedua tangannya di bawah kepala dan menatap ke langit-langit kamarnya.


"Ceklek" Kiara memasuki kamar mereka.


Aldi baru menyadari bahwa malam ini mereka akan tidur di kamar dan ranjang yang sama untuk pertama kalinya.


"Belum tidur, Al" Sapa Kiara.


"Nungguin kamu." Jawab Aldi singkat.


"Ada yang mau kamu bicarakan? Kok tumben nungguin aku."


"Apa aku nggak pernah nungguin kamu sebelum tidur?" Aldi mulai agak emosi.


"Nggak pernah."


"Oh ya."


"Iya, Kita kan nggak pernah tidur bareng. Ngapain nunggu untuk tidur."


"Kamu berharap kita tidur bareng?"


Kiara tidak menyangka Aldi menanyakan pertanyaan ini. Kiara terdiam untuk beberapa saat.


"Kamu benar berharap, Ra?" Aldi memanfaatkan kediaman Kiara untuk membantah pertanyaannya. Aldi kini bangun dari rebahannya dan berjalan mendekati Kiara yang masih berada di dekat pintu masuk kamar.


"Al, kamu mau apa." Kiara gelagapan didekati oleh Aldi


"Aku mau kamu jawab pertanyaanku. Mendengar jawabannya lebih dekat dari mulut kamu." Aldi sudah berada tepat di hadapan Kiara.


"Aku nggak mau jawab." Kiara memalingkan wajah dari Aldi.


"jangan memalingkan wajah kamu dari aku, Ra" ujung jari Aldi menolehkan wajah Kiara ke hadapannya dengan perlahan dan penuh kelembutan.


Aldi mendekatkan dahinya ke dahi Kiara dengan perlahan. Sementara Kiara semakin membelalakkan matanya melihat kedekatan mereka yang semakin tak berjarak. Tapi Kiara tak bisa mengeluarkan kalimat protes apapun. Kiara semakin berdebar.


"Apa yang kamu harapkan dari hubungan kita, Ra." Aldi menanyakannya sambil memejamkan mata sementara dahi mereka masih bersentuhan.


"Aku..." Kiara belum pernah memikirkan hal ini. Kiara juga berpikir, 'Apa yang aku inginkan?'


"Apa kamu pernah berpikir untuk hidup sendiri tanpa aku di sisimu?" Aldi yang paham bahwa Kiara sendiri tidak pernah memikirkan hal ini seperti halnya dirinya berbalik menanyakan hal yang berlawanan.


"Tidak pernah." Kiara menjawab secara langsung tanpa perlu berpikir lagi. Menatap mata Aldi yang asalnya terpejam kini sudah menatap Kiara dengan kelembutan.


"Apa kamu senang selama menjalani hari-hari kamu bersamaku?"


"Tentu saja, Al. Aku senang selama berada di sisi kamu."

__ADS_1


"Boleh aku memeluk kamu, Ra?"


Kiara tidak menjawab pertanyaan itu, tapi mendaratkan kedua tangannya di pinggang Aldi.


Aldi memeluk Kiara dengan erat. Aldi sudah menemukan jawaban dari pertanyaan Bunda.


"Ra, sabarlah sedikit lebih lama. Banyak hal yang ingin aku bagi dengan kamu. Tapi bukan sekarang. Tunggulah sebentar lagi, Ra."


Kiara bingung dengan apa yang diinginkan Aldi. Apa ini ada hubungannya dengan makan siang kemarin dengan mantannya?


"Kamu mau, kan? Jawablah, Ra."


"Iya, Al. Aku akan menanti kamu mau berbagi hal yang kamu maksudkan itu."


"Bisakah kita tidur sambil berpelukan seperti ini?" Aldi kecanduan aroma Kiara yang menenangkan.


"Apa kamu nggak akan kepanasan?"


"AC nya bisa dinyalakan."


"Tidak ada AC di kamar ini."


Aldi merasa konyol. Kenapa dia asal sekali menjawab.


Seketika itu Aldi melepaskan pelukannya dari Kiara dan menjadi malu.


"Kamu kepanasan nggak, Ra?"


"Nggak. Nggak terlalu panas kok." Wajahnya membongkar kebohongan Kiara. Di dahi Kiara sudah muncul keringat kecil-kecil yang bisa Aldi lihat.


"Tidur yuk." Aldi menggenggam tangan Kiara dan mengarahkannya ke tempat tidur yang cukup lebar untuk ditiduri mereka berdua.


Aldi mengusap pipi Kiara sesudah wanitanya duduk di ranjang dan menarik selimut untuk menutupi separuh badannya.


Jantung Kiara kembali berdebar.


"Ra. Jika kamu mendapatkan kabar apa pun tentangku dari orang lain, jangan langsung percaya ya." Aldi masih saja mengusap pipi Kiara.


"Memangnya akan ada kabar buruk?" Kiara menatap dengan polos.


"Aku berharap nggak ada" Aldi memainkan helaian rambut Kiara yang menutupi sebagian pipinya.


"Kalau begitu jangan khawatirkan hal itu."


"Kamu belum mengiyakan keinginanku, Kiara."


"Iya, Al. Aku akan kroscek berita apapun tentang kamu yang aku dapatkan dari orang lain." Kiara tersenyum.


"Tidak hanya yang berasal dari orang lain. Kamu juga harus menanyakannya padaku jika ada hal yang tidak menyenangkan yang kamu lihat dari apa yang aku lakukan."


"Contohnya?" Kiara menduga Aldi tahu mengenai foto Aldi yang Kiara dapatkan.

__ADS_1


"Contohnya foto makan siang dengan wanita lain kemarin."


"Kok kamu bisa tahu," Kiara terkejut. Tapi ada rasa tidak terima yang mengganjal di hatinya.


"Kita baru saling kenal. Akan ada beberapa hal yang akan mengganggu hubungan kita ke depannya. Tolong bicarakan hal itu jika sampai itu mengganggu kamu, Ra."


"Dari mana kamu tahu aku menerima foto makan siang itu?"


"Tunggu. Jangan dijawab dulu, Al." Kiara menghentikan Aldi yang hendak menjelaskan pertanyaan Kiara. Masih sambil berpikir, Kiara melanjutkan "Kamu seorang programmer, kan? Kamu memata-matai aku? Ada aplikasi yang kamu tanamkan di ponselku!"


"Tentu saja tidak." Aldi langsung menyahut


"Lalu bagaimana kamu bisa tahu isi pesanku!" Kiara sudah tampak mulai marah.


"Kiara, dengarkan aku. Turunkan emosi kamu dulu. Simak baik-baik apa yang akan aku sampaikan ini."


Kiara terdiam cukup lama menatap Aldi. Berusaha mencari pancaran kebohongan maupun kejujuran dalam tatapannya. Kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya beberapa kali.


"Baiklah, jelaskan kepadaku"


"Sebelumnya kamu perlu tahu bahwa aku tidak bisa menjelaskan segala hal. Dan itu semua tentang diriku. Semua ini aku lakukan demi kamu juga, Belum saatnya kamu tahu tentang semua hal ini. Oke?" Aldi menganggukkan kepalanya meminta persetujuan.


Kiara dengan ragu mengikuti keinginan Aldi untuk mengangguk, "Oke"


"Aku kemarin sedang melakukan penandatanganan berkas penting yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Oleh sebab itu aku menutupinya dengan makan siang dengan anak buah dari orang tersebut."


"Jadi wanita itu hanya orang asing dalam rencana kamu?" Kiara hanya bisa fokus kepada wanita yang makan siang bersama suaminya. Tidak seberapa mempedulikan apa yang Aldi lakukan di sana.


"Sebenarnya juga bukan orang asing." Aldi menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan agak salah tingkah.


Melihat hal itu, Kiara merasa ada yang aneh. Jangan-jangan firasatnya benar. Ada sesuatu di antara Aldi dan wanita itu. Dada Kiara mulai sesak kembali.


"Jelaskan siapa wanita ini, Al" Dada Kiara mulai perih meski berusaha tetap berbicara kepada Aldi.


"Dia dulunya partner kerjaku ketika di luar negeri, Ra. Tapi dia mengkhianati kepercayaanku dan mengambil program yang kami berdua buat selama beberapa tahun menjadi miliknya sendiri."


"Kamu sudah mengenalnya bertahun-tahun?"


"Ya, sejak masih di bangku sekolah menengah."


"Apa kalian pernah berpacaran?"


Topik yang sejak tadi Aldi hindari malah ditanyakan secara langsung oleh Kiara. Aldi tidak bisa mengelak lagi kali ini.


"Ya, kami sempat berpacaran."


Kiara memejamkan mata. Berusaha menekan rasa sakit hatinya.


"Ra. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya selain kebencian. Dia pengkhianat, Ra."


"Jika dia tidak lari dengan hasil kerja keras kamu, apa kamu masih akan tetap menyukai wanita itu?"

__ADS_1


Aldi hanya diam menatap Kiara. Berusaha memahami apa yang Kiara rasakan. Pertanyaan demi pertanyaan Kiara agak tidak masuk akal. Kiara biasanya bisa berpikir logis. Apa mungkin?


"Ra, apa kamu sedang cemburu?" Pertanyaan Aldi kali ini membuat Kiara tercengang.


__ADS_2