
"Nyonya, Tuan muda kemarin siang meninggalkan kantor dan tidak kembali."
Diandra berbalik menghadap asistennya.
"Ada masalah lagi di kantor?"
"Benar. Rapat kerjasama dengan klien penting saat ini harus nyonya tangani karena ketidak hadiran Tuan muda kemarin."
Diandra menatap asistennya dengan penuh amarah. "Dia tidak datang ke kantor lagi pagi ini?"
"Benar nyonya. Tuan muda mengantarkan istrinya berkonsultasi ke Psikiater."
Diandra diam memikirkan beberapa hal. Bima adalah putra Diandra satu-satunya. Diandra lebih senang membebaskan Bima melakukan apapun sesuka hati. Tapi Bima akan lebih mendahulukan pekerjaan dibanding kesenangannya bermain wanita. Itulah kenapa Diandra tidak pernah mengganggu hubungannya dengan berbagai macam wanita selama ini. Diandra yakin anaknya bisa bertanggung jawab terhadap perusahaan. Sebab itulah yang Diandra berikan sebagai syarat bagi Bima untuk hidup bebas sesuka hatinya.
Semua fasilitas dan kekayaan keluarga Atmaja Diandra berikan secara penuh kepada Bima selama dia bertanggung jawab memimpin perusahaan keluarga mereka. Diandra yakin kebebasan hiduo yang Diandra berikan inilah yang menajdikan Bima bisa berhasil dan sukses dalam mengelola Atmaja Grup. Diandra juga tidak pernah berkeinginan menjodohkan Bima dengan wanita manapun demi memperkuat jalinan bisnis keluarga Atmaja. Diandra lebih suka Atmaja Grup maju karena kekuatan dari dalam keluarga ini sendiri. Bukan karena bantuan perusahaan lain yang berada di atas mereka.
Tapi kini Bima telah dua kali salah memilih wanita. Yang pertama adalah Kiara. Cintanya kepada gadis itu hampir membuat Atmaja Grup bangkrut. Tidak hanya sekali. Tapi sudah berulang kali itu terjadi. Wanita kedua yang Diandra anggap tidak cocok dengan Bima adalah menantunya sendiri, Bella. Gadis ini berhasil naik ke ranjang Bima hingga menyingkirkan Kiara yang saat itu masih sangat dicintai oleh Bima. Diandra menaruh harapan yang cukup tinggi kepada gadis ini untuk membuat Bima memajukan perusahaan. Wanita ambisius seperti Bella adalah anugerah yang Diandra harapkan. Tapi semakin ke sini, Bella yang seperti singa lapar berubah menjadi kucing penakut yang jatuh cinta begitu dalam kepada anaknya. Bella menginginkan cinta Bima, ambisi wanita ini sirna. Diandra tidak suka akan hal ini. Cinta membuat anaknya tidak berfikir logis dan masuk akal.
Diandra memikirkan cinta anaknya kepada menantunya yang tiba-tiba bersemi ini. Jika ini memang cinta, seharusnya Bima berbahagia dengan Bella. Tapi Bella masih tertekan, begitu pula dengan Bima. Ada sesuatu di antara mereka yang harus Diandra ketahui. Diandra belum bisa memutuskan langkah berikutnya yang akan diambil jika belum tahu informasi selengkapnya tentang hubungan mereka berdua.
Diandra pun berbalik kepada asistennya dan memberikan perintahnya.
"Pergi lakukan penyelidikan di rumah sakit dimana Bella dirawat saat ini. Temukan laporan kesehatan asli milik Bella. Kalau perlu, datangi juga rumah sakit dimana dia dioperasi ketika tertembak. Prioritaskan hal ini di atas pekerjaan kamu yang lain. Panggilkan sekretarisku, kita tangani rapat yang Bima tinggalkan."
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Bella masih berada di ruang konsultasi bersama beberapa Psikiater yang telah Bima sewa. Mereka sudah berada di sana selama beberapa waktu. Bima memperhatikan lagi jam tangannya dan melihat bahwa dia telah menanti Bella di ruang tunggu selama satu jam lebih. Bima sudah merasa tidak tahan menunggu lebih lama.
"Pak Bima." Seorang Psikiater yang Bima ketahui sebagai pimpinan tim Psikiater yang menangani Bella keluar dari ruang perawatan.
"Bagaimana, dok?"
"Kali ini nyonya Bella mengalami shock yang lumayan besar, pak."
"Jangan memberi tahu sesuatu yang sudah jelas, dok. Katakan bagaimana langkah yang bisa diambil untuk mengobati istri ku!" Bima tak bisa menahan emosinya. Menanti lebih dari sejam dengan hasil yang sudah jelas Bima ketahui ini membuat nya marah.
"Baik, pak. Kami memiliki dua opsi untuk dilakukan." Kata Psikiater itu dengan perlahan. Berusaha untuk menghadapi Bima dengan kesabaran dan ketenangan. Kemarahan Bima tidak akan menjadi hal yang baik bagi dia dan timnya.
"Titik trauma terbesar nyonya Bella ada pada rasa kehilangan anak kalian, pak. Jadi solusinya tentu dengan kembali memiliki anak secepatnya. Hanya keberadaan anak saja yang bisa mengembalikan kondisi nyonya Bella dengan lebih cepat dan kembali sehat seperti sedia kala."
Bima ingin sekali marah mendengar opsi pertama ini. Tapi yang dikatakan dokter ini sudah masuk akal. Jadi akan konyol rasanya jika Bima memarahi dokter wanita di hadapannya saat ini. Hanya Bima yang boleh mengetahui bahwa kemungkinan ini sangat tidak mungkin bisa dijadikan menjadi nyata. Bima dan Bella sudah tidak akan mungkin memiliki keturunan.
Sang Psikiater merasa aneh. Ini adalah opsi termudah yang bisa kliennya lakukan. Tapi Bima menolaknya seketika.
"Opsi kedua adalah hipnoterapi. Dalam mimpi nyonya Bella, dia selalu mengalami mimpi berulang ketika ada seorang anak yang pergi menjauh meninggalkannya. Di situ nyonya Bella ditinggalkan seorang diri. Jika tuan mengijinkan, kamu akan melakukan sesi hipnosis dimana Pak Bima berada di sisinya dan meminjamkan bahunya untuk tempat menumpahkan kesedihannya ketika anak itu meninggalkan nyonya Bella."
"Berapa persen tingkat kemungkinan keberhasilannya?" Tanya Bima
"Cukup besar, pak. Sekitar 80 % bisa berhasil. Tapi ada syarat penting yang harus dipenuhi."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Orang yang datang ketika nyonya Bella bersedih haruslah orang yang dipercaya oleh nyonya Bella. Orang yang menjadi pahlawan di sini harus orang yang berarti dalam hidupnya. Kami kira pak Bima adalah satu-satunya keluarga yang tersisa dari nyonya Bella yang dapat memberikan rasa aman dan menjadi sandaran ketika bersedih."
"Apa yang akan terjadi jika ternyata aku bukan orang yang tepat?"
"Itu.. itu... " Sang Psikiater mencari kosa kata yang sesuai.
"Katakan dengan jelas." Bima berbicara dengan dingin.
"Kondisinya akan semakin memburuk jika orang yang tidak seharusnya ada di situasi itu malah datang."
Bima tertegun mendengar jawaban Psikiater.
"Lalu bagaimana jika yang datang adalah orang yang dia benci?"
Sang Psikiater menatap bingung ke arah Bima.
"Bukankah bapak satu-satunya orang yang dekat dengan nyonya Bella?"
"Jawab saja pertanyaan ku. Bagaimana jika yang datang dalam mimpinya malah orang yang dia benci?" Bima mulai tidak sabar menanti jawaban sang Psikiater.
"Keadaan Nyonya Bella bisa sangat parah. Orang yang dibenci akan memicu emosi yang lebih parah. Bisa-bisa nyonya Bella merasa hidupnya telah kalah dan berubah pesimis dengan hidupnya. Yang terburuk bahkan bisa sampai kehilangan harapan dan keinginan hidup."
Dada Bima sesak mendengarkan hal ini. Bima yakin Bella mempunyai kebencian terhadap dirinya. Meskipun Bima sendiri tidak tahu seberapa banyak Bella membenci dirinya. Perlakuan buruk Bima selama ini pasti tidak sepenuhnya terhapus dari ingatan Bella. Bisa saja masih saja ada kebencian di hati Bella untuk Bima.
"Carikan opsi ketiga." Dengan keputusan itu Bima pergi dari hadapan sang Psikiater untuk melihat kondisi terkini Bella.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^