Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Penculiknya adalah . . .


__ADS_3

"Nona, ini baju ganti nona" Irma memberikan tas pakaian dengan merk luar negeri ternama kepada Kiara.


"Aku memakai bajuku ini saja." Tolak Kiara dengan halus.


"Baju itu sudah nona kenakan sejak kemarin, nona. Tuan bilang sebaiknya nona ganti." Irma lagi-lagi menundukkan kepalanya. Membuat Kiara tidak tega menolak seorang pelayan yang hanya disuruh oleh majikannya.


"Baiklah. Berikan bajunya." Kiara membawa masuk tas berisi baju yang Kiara yakin masih baru itu ke kamar mandi. Meletakkannya di meja toilet dengan kaca yang lebar.


'Irma benar. Kamar mandi ini lebih luas. Bahkan sangat-sangat luas.'


Kiara menatap bath up seukuran kolam renang di tengah kamar mandi. Ada tirai yang menjuntai di sekeliling bath up berbentuk bulat itu.


"Ruangan ini lebih mirip kamar tidur dari pada kamar mandi." Bisik Kiara kepada dirinya sendiri. Nuansa ruangan berwarna putih membuat kamar mandi tampak terang benderang.


Ada berbagai produk perawatan tubuh yang tersedia di kamar mandi itu. Dari scrub badan, shower gel hingga body lotion ada semua.


Setiap produk Kiara buka tutupnya untuk menghirup aromanya. Mencoba memilih yang ingin Kiara pakai kali ini.


Begitu memegang setiap produk perawatan yang tersedia dan membukanya, Kiara tahu bahwa semuanya adalah produk baru yang dikhususkan untuk wanita.


'Apa mungkin aku diculik untuk dimanjakan dan dirawat dengan baik begini?' Pikir Kiara.


Kiara memilih satu produk dari setiap jenis. Memakai scrub terlebih dahulu, kemudian berendam ke bath up yang airnya masih hangat.


Kiara mandi dengan perlahan. Menikmati waktu bersantai dan berendam senyaman mungkin.


Selesai dengan mandi dan berendam, Kiara yang hanya mengenakan handuk mandi membuka tas yang diberikan Irma. Di dalamnya berisi gaun rumahan biasa yang nyaman dipakai tapi tampak elegan. Tapi pasti harganya ratusan ribu atau lebih. Kiara menghela napas berat hanya dengan memikirkannya.


Di dalam paper bag itu masih ada baju dalaman baru dengan merk ternama beserta aksesoris yang warnanya sesuai dengan gaunnya. Sepasang jepit rambut dengan pola bunga yang lucu.


Merasa telah diperhatikan dengan detail seperti ini, Kiara memutuskan untuk memakai semuanya. Dari dalaman, gaun, hingga sepasang jepit rambut.


Keluar dari kamar mandi dengan mengenakan semua yang ada dalam tas yang diberikan Irma membuat Kiara terlihat manis. Tapi Kiara tidak melihat Irma di kamar itu.


'Kemanan perginya pelayan itu.' Pikir Kiara.

__ADS_1


Kiara melihat ke sekeliling kamar terlebih dahulu. Kamar yang luasnya setara dengan rumah yang Aldi dan dia tempati selama ini.


Dinding kamar tidak memiliki potret siapapun yang mengindikasikan pemilik kamar. Hanya beberapa lukisan berukuran besar yang tampak antik dan tentu juga tidak murah. Ada beberapa lemari pakaian, lemari sepatu dan lemari jam tangan yang dipajang dalam kaca tembus pandang.


Barang-barang itu mengindikasikan pemilik kamar ini adalah seorang pria.


'Siapa sebenarnya yang tinggal di sini dan menculiknya? Siapa pria Bermasker itu? Mau apa menculik dirinya tapi memperlakukan dirinya dengan baik begini?'


Karena tidak menemukan apapun yang berguna dalam menjawab apa yang ada dalam benaknya, Kiara memutuskan keluar dari kamar. Tidak di sangka, Irma sedang berjaga di depan kamar dengan menundukkan kepalanya.


'Apa dia menungguku?' pikir Kiara.


"Waktunya untuk makan cemilan, nona. Tadi pagi nona tidak menyentuh sama sekali kue dan makanan kecil yang disajikan. Chef telah membuatkan makanan kecil lain untuk nona."


"Aku baru selesai sarapan dan mandi. Kalian memberikan aku makan lagi?" Kiara tidak habis pikir.


"Apa nona belum lapar?" Irma yang tampak polos menatap Kiara.


Kiara diam sejenak. Sepertinya dia sedikit lapar. Waktu yang dia habiskan di kamar mandi dan mengamati isi kamar tidur utama tadi sudah lebih dari dua jam.


"Mari nona, mau menikmati cemilan di ruang keluarga, ruang makan, atau di taman belakang?"


"Taman belakang?"


"Iya nona, ada taman bunga dan kolam renang di belakang. Barangkali nona ingin duduk bersantai di sana dengan menikmati cemilan siang nona." Ide Irma mulai mempengaruhi Kiara.


"Kita ke taman belakang"


Dengan itu, Kiara dipandu Irma menuju taman di belakang rumah yang luas ini. Kiara merasa seolah sedang melewati kastil istana dengan lorong dan ruangan-ruangan yang ukurannya selalu luas.


"Silahkan duduk, nona. Saya akan menghidangkan makanan nona." Irma permisi pergi.


Kiara tidak menghiraukan ucapan Irma sama sekali. Yang Kiara pedulikan adalah taman bunga di hadapannya dan kolam renang yang luas di sebelahnya. Kolamnya begitu jernih terawat. Begitu pula taman bunganya yang subur dengan banyak bunga bermekaran.


Kiara menikmati waktunya memakan cemilan dan menatap keindahan taman. Sayang sekali Kiara tidak bisa berfoto di taman yang cantik ini.

__ADS_1


Waktu pun berlalu. Sore akhirnya tiba. Kiara tidak sabar menunggu kedatangan sang penculik bermasker yang memiliki rumah bak istana ini. Kiara telah menghabiskan waktu seharian bersama Irma untuk makan dan bersantai. Kiara hanya tinggal menanti waktu makan malam. Dimana tuan muda yang selalu Irma sebut akan makan bersamanya.


"Nona, ini gaun untuk dipakai ketika makan malam bersama tuan muda." Irma datang kembali kepada Kiara dengan kotak yang di dalamnya Irma bilang berisi gaun malam.


Kotak yang dipegang Irma memiliki bagian atas yang transparan. Kiara bisa melihat ada gaun berwarna merah menyala di dalamnya.


'Apa-apaan ini. Gaun macam apa itu.' Pikir Kiara. Kiara tidak mau memakai gaun yang terbuka di hadapan pria lain.


"Aku lebih nyaman dengan baju ini."


"Ini perintah tuan muda, nona Kiara." Irma menunduk takut kembali. Kiara sungguh tidak tega melihat pelayan kecil yang hanya disuruh majikannya ini.


"Berikan padaku!" Kiara mengambil kotak itu dari tangan Irma dan berlalu ke dalam kamarnya sendiri. Kamar dimana tadi pagi dia bangun pertama kali.


Sesuai dugaan Kiara, di dalam kotak itu ada gaun seksi yang terbuka di bagian atasnya. Gaun dengan tali di bahu itu membuat bagian leher dan tangannya terlihat. Tapi yang tidak Kiara sangka adalah outer dengan warna senada tapi lebih gelap yang ada di bawah gaun merah. Ada juga syal yang bisa Kiara lilitkan di lehernya.


Dengan perpaduan ini, tubuhnya tetap bisa tertutup outer dan syal. Kiara pun berganti baju dan keluar kamar.


Seperti biasa, Irma sudah menantinya di depan kamar. Kali ini dia memegang nampan berisi sepatu warna merah yang sama dengan gaunnya. Sepatu yang membuat kakinya terlihat semakin jenjang dan tinggi itu Kiara ambil begitu saja tanpa mendengar instruksi Irma lagi.


Kiara sudah siap dengan dandanannya dan berjalan ke ruang makan dengan diikuti Irma.


Betapa terkejutnya Kiara melihat sosok pria yang duduk di meja makan berlawanan dengannya. Sosok tampan itu beralih menatapnya dengan tatapan tajam. Tapi kemudian ada amarah dalam tatapannya.


"Tuan muda" Irma menunduk dan berpamitan. Pergi dari ruang makan meninggalkan Kiara dengan sang tuan muda.


"Kamu yang nyulik aku, Al?!" Ada nada kesal dalam perkataan Kiara. Tuan muda yang dari tadi dia tunggu adalah suaminya sendiri, Aldi Wiji Sasongko.


"Kamu nggak mau minta maaf sudah melanggar larangan suami kamu untuk meninggalkan hotel?!" Aldi yang tadi tampak terpukau dengan dandanan Kiara berubah semakin marah mendengar kalimat pertama Kiara.


------


Hai readers... Yang nyulik Kiara siapa yaaa??


_Dinda^^

__ADS_1


__ADS_2