
"Jika kamu memang merasa bersalah, sudah seharusnya suami kamu ikut membalas kebaikan keluarga kami. Suami kamu seharusnya tidak lagi menyerang Atmaja grup." Ucapan Diandra ini sudah diantisipasi oleh Aldi. Tapi tidak disangka Diandra begitu cepat mengeluarkan kartunya ini.
"Tentu saja tante. Aku akan pastikan suamiku tidak akan melakukan hal buruk ke perusahaan tante. Iya kan, Al?" Kiara menoleh ke arah Aldi yang berwajah tanpa ekspresi. Pria ini begitu pandai menyembunyikan perasaan dan emosi nya di hadapan orang lain.
Aldi sendiri masih saja heran betapa mudah istrinya dibelokkan ke arah tertentu oleh Diandra. Kiara begitu percaya pada orang yang baik kepadanya meski hanya melakukan kebaikan sekali saja. Tapi itulah kelebihan wanita yang dicintainya ini. Kepercayaannya pada orang lain begitu kuat. Hingga bisa membuat hati orang lain berubah. Termasuk hati milik Aldi.
"Ra, kamu ke sini buat jenguk Bella ataukah nemuin mamanya Bima sih sayang?" Ekspresi Aldi berubah hangat ketika berbicara dengan Kiara.
"Ya ampun Al. Aku keasyikan ngobrol sama tante Diandra." Kiara beranjak dari sisi Diandra dan menghampiri Bella.
"Kak Bella sudah nggak pusing lagi?" Kiara tersenyum cerah. Berusaha menularkan senyumnya kepada Bella yang masih terlihat pucat.
Suasana suram kamar Bella terkena secercah cahaya keceriaan Kiara. Meski keempat orang lainnya memendam emosi di dalam hati mereka masing-masing.
"Hentikan apapun yang kamu coba lakukan, Kiara. Aku nggak mau menyebabkan kamu tersakiti lagi." Bella tidak ingin melibatkan Kiara dalam masalah keluarganya Bima yang tidak ada akhirnya.
"Aku juga nggak ingin kakak tersakiti. Aku tahu kakak seneng dengan kedatanganku." Kiara tetap tersenyum.
"Aku sudah terbiasa merasakan sakit dan merasa sendiri. Tapi kamu berbeda, Kiara. Kamu terbiasa bahagia bersama orang-orang baik di sekitar kamu." Bella berbicara dengan suara yang lemah dan menundukkan wajahnya.
"Kak." Kiara tidak menyangka masih akan ditolak kehadirannya oleh Bella. Kalimat yang ingin Kiara ucapkan terhenti, suara Kiara tercekat.
"Sudahlah Kiara. Ngapain kamu mau deketin dia. Dia itu nggak tau terima kasih dan nggak bisa menghargai apa yang dia miliki. Dia wanita serakah." Diandra tidak tahan mendengarkan keceriaan Kiara yang dibalas dengan penolakan Bella.
Bella sendiri merasa tertusuk sekali lagi oleh perkataan ibu mertuanya. Dia disebut wanita serakah. Air mata sudah menggenangi pelupuk matanya dan siap menetes ke pipinya sebentar lagi.
"Dulu Bella sudah memiliki kamu sebagai adik dan Aldi sebagai tunangan. Tapi dia membuang kamu dan Aldi untuk Bima. Sekarang pun dia sempat akan memiliki anak, tapi lagi-lagi Bella nggak menghargai anugerah Tuhan. Malah jauh-jauh ke sini demi Bima. Wanita ini nggak pantes mendapat perhatian kamu, Kiara. Sini saja duduk dekat tante Diandra." Kata demi kata yang menyakitkan bagi Bella dilontarkan oleh Diandra begitu saja.
"Cukup, Ma." Bima mendekati Bella yang wajahnya kini sudah dipenuhi oleh air mata.
"Mama kamu nggak tahu apa yang sudah terjadi?" Kiara mengarahkan pertanyaannya kepada Bima, tapi Kiara enggan menyebut nama Bima.
Bima yang mendapat pertanyaan Kiara hanya menggeleng lemah.
__ADS_1
"Kamu ini bisa melindungi wanita kamu apa nggak sih!" Kiara mencela Bima, kecewa dengan pria ini.
"Apa sebenarnya yang sudah terjadi?" Diandra menujukan pertanyaan ini untuk Kiara. Menuntut jawaban Kiara dengan tatapan tajamnya.
"Bella menerima tembakan yang akan mengenai Bima, anak Tante sendiri. Jika Bella tidak menjadikan dirinya tameng yang menerima peluru yang akan mengenai Bima, mungkin Tante tidak bisa melihat anak Tante satu-satunya dalam keadaan baik-baik saja saat ini."
Yang bersuara adalah Aldi. Diandra menatap tak percaya. Tapi Diandra tidak bisa membantah Aldi atau berlaku tak sopan kepada Aldi. Diandra hanya bisa meminta penjelasan kepada Bima.
"Katakan sesuatu, Bima! Kenapa kamu nggak cerita kalau Bella justru menyelamatkan kamu?"
Bima hanya diam. Perasaan bersalahnya semakin besar. Yang membela istrinya di hadapan mommy nya malah Aldi dan Kiara.
"Mom. Aldi mengatakan yang sebenarnya. Bella menerima peluru yang ditujukan kepadaku. Dia menyelamatkan aku. Tolong berhenti lah mengahakimi Bella. Aku lah yang bersalah sejak awal hingga akhir. Salahkan aku saja jika Mommy butuh menyalahkan seseorang."
Diandra terlalu terkejut. Diandra malu melihat Bella. Diandra memilih beranjak dari sofa empuk kamar rumah sakit itu dan hendak pergi begitu saja.
Tapi ketika melewati Aldi yang berdiri di dekat pintu, Aldi tidak melepaskan Diandra begitu saja.
"Bella menunggu ucapan maaf dari tante. Kalo hari ini nggak siap mengakui kesalahan tante, siapkan diri Tante untuk meminta maaf kepada Bella ketika sudah kembali ke Jakarta pun boleh." Tambah Aldi.
Diandra beserta iringan pengawalnya pun meninggalkan rumah sakit. Membuat Kiara bernafas lega. Hal itu tidak luput dari perhatian Aldi. Ternyata Kiara tadi cukup tertekan dengan kehadiran dan intimidasi Diandra.
"Terima kasih, Al." Ucap Bima singkat.
Aldi mengacuhkan ucapan terima kasih Bima. Begitu juga dengan Kiara.
"Kak, aku pamit ya. Besok aku akan jenguk kakak lagi. Baik-baik ya kak. Pulihkan kesehatan kakak dengan baik. Aku nunggu kakak membaik sebelum balik ke Jakarta."
"Kamu tidak perlu menungguku, Kiara. Aldi juga harus kembali ke perusahaannya. Kamu balik saja bersama Aldi dengan segera. Jangan menungguku."
"Nggak mau. Aku maunya kakak sembuh dulu baru aku bisa balik ke Jakarta. Sampai jumpa kak." Kiara berpamitan dan mencium pipi kanan Bella lalu kabur pergi bersama Aldi.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
"Al. Aku merasa beruntung memiliki kamu." Ucap Kiara dalam perjalanan dari rumah sakit.
"Aku juga sama. Sangat beruntung memiliki kamu, Kiara." Aldi menggenggam tangan Kiara.
"Al, aku sepertinya melupakan hal paling penting." Kiara tiba-tiba sadar akan hal yang masih belum mampu dia ingat.
"Apa itu?" Sahut Aldi.
"Aku juga lupa. Tapi ini adalah hal penting. Ntah kenapa kamu kok nggak mengingatkan aku."
Aldi nampak bingung mengenai apa yang Kaira lupakan. Tapi tidak ambil pusing. Menggenggam tangan Kiara dan menjadi sandaran baginya seperti adalah yang paling penting.
"Al, kenapa Tante Diandra kini berubah ya Al. Dulu Tante Diandra nggak pernah ngomong kasar seperti ini. Dia wanita yang lembut dan baik."
"Itu karena kamu dulu nggak pernah tahu sisinya yang seperti sekarang. Dulu kamu diperlihatkan sisi baiknya dia saja. Sisi buruknya berhasil ditutup dengan rapat."
"Mungkin memang begitu. Aku saja yang menganggap semua orang yang suka bicara baik kepadaku sbg orang baik."
Aldi hanya merangkul bahu Kiara yang kepalanya masih bersandar di dadanya.
"Al, aku ingat!" Kiara duduk tegak dan keluar dari rangkulan Aldi.
"Dimana Ferdi sekarang? Kamu hukum dia seperti apa?"
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers
Nasib Ferdi gimana yak?
Nia chapter kedua hari ini ya. Untuk besok karena weekend l, aku update 1 chapter GK apa-apa ya. Ditunggu lanjutannya, ya Readers yang baik.
_Dinda^
__ADS_1