Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Kebetulan atau


__ADS_3

Sekretaris Rara keluar sejenak dari ruangan Aldi untuk mengambil pesanan makanan yang dia pesan secara online. Rara menuju lobby di lantai bawah. Rara menggunakan lift khusus Presdir, CEO dan pejabat tinggi khusus lainnya seperti direktur untuk ke bawah. Tapi tetap saja butuh waktu untuk turun ke bawah dan kembali lagi ke lantai atas.


Dengan hati riang Rara mengambil pesanan makanannya. Melihat beberapa bungkus makanan yang menantinya, hati Rara semakin senang. Rara memberikan tips seharga makanan yang dia pesan kepada pengemudi online yang mengantar makanannya. Rara mengirimkan tipsnya melalui aplikasi dimana dia memesan makanan itu. Rara mengira pejuang rupiah itu akan lebih membutuhkan uang dari pada Rara membelikan makanan yang sama dengan yang dia pesan. Rara membayar tips itu dari aplikasi di ponselnya selama di lift yang menuju ke atas dimana kantor Presdir. Tapi ketika tiba di lantai paling atas dimana tujuan Rara, ada Fahad sedang duduk di sofa ruang tunggu di depan kantor Presdir. Dia nampak sedang menanti seseorang.


"Hai, Ra." Sapa Fahad dengan senyum yang lebar. Rupanya dia merasakan tatapan Rara kepadanya.


"Selamat siang, pak Fahad. Ada yang sedang ditunggu?" Kiara tentu harus bertutur kata dengan sopan layaknya sekretaris Rara yang profesional.


"Oh, Saya menanti sekretaris Rara atau asisten pak Aldi yang lain. Kebetulan saya ingin bertemu pak Aldi karena ada yang penting yang ingin dibicarakan. Tapi saya sudah hubungi pak Aldi untuk buat janji temu tidak dibaca. Jadi saya mampir saja. Barangkali ada kesempatan bertemu di sela-sela jadwal padatnya pak Aldi." Fahad menyampaikannya dengan ulasan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Dia tampak sopan kepada bawahan seperti Rara. Tidak ada yang bisa diwaspadai dari sikap santun semacam ini dari seorang pemilik perusahaan besar.


"Baik, pak. Saya akan sampaikan ke pak Aldi. Bapak tunggu sebentar ya pak." Rara dengan sopan hendak mengakhiri perbincangan mereka. Tapi Fahad kembali menghentikannya.


"Tunggu, sekretaris Rara." Hal ini membuat Rara tidak jadi pergi dari hadapan Fahad menuju ruang Presdir.


"Apa ini menu makan siang kamu? Apa aku mengganggu jam makan siang kalian? Jika iya, selesaikan dulu makannya. Aku biar menunggu sekretaris Rara makan dulu baru kembali dengan urusan kantor." Fahad tidak membiarkan Rara menyela atau menjawab. Dia seolah ingin menyelesaikan semua kalimat yang ada di benaknya.


"Baiklah, saya akan makan siang terlebih dahulu kalau bapak memaksa. Saya permisi dulu ya pak." Kiara melangkah dengan pasti tanpa keinginan menoleh atau ingin dihentikan lagi oleh Fahad.


Begitu memasuki ruang Presdir kembali, Aldi langsung menatap Rara agak lama. " Apa butuh waktu hampir 30 menit untuk mengambil makanan itu ke lobby?"


"Sebenarnya tidak. Aku sempat berhenti di area ruang tunggu di depan ruangan kamu ini, Al."


"Oh, ya. Mau menceritakannya lebih banyak?" Aldi beranjak dari kursinya dan mendekati Rara yang sedang sibuk mengeluarkan peralatan makan dari dapur mini yang ada di ruangan Presdir.


"Aku nggak mau cerita. Aku nggak mau selera makanku terganggu. Aku sedang kelaparan dan ingin makan sama kamu." Sahut Rara dengan cepat.

__ADS_1


"Oke, kita makan dulu. Aku juga ingin lihat kamu makan dengan lahap kembali." Aldi sudah duduk di sofa tempat tamu-tamu Aldi biasanya duduk. Aldi dan Rara makan dengan saling berhadapan. Hidangan yang ada di depan Rara tentu lebih banyak dari pada milik Aldi. Rara memang memesan bermacam variasi makanan. Sementara untuk Aldi hanya ada 3 macam makanan saja.


"Selamat makan" Ucap Rara dengan ceria sambil memasukkan suapan makanan pertama ke mulutnya.


Kiara dan Aldi makan dengan santai. Kiara berusaha menikmati makanannya dengan mengesampingkan urusan mengenai pria yang barusan Rara temui. Kiara paham bahwa membahas pria tersebut hanya akan membuat suasana di antara dirinya dengan Aldi menjadi tidak menyenangkan lagi.


Akan tetapi usai menyelesaikan makanan mereka, Kiara pun angkat bicara.


"Aku barusan bertemu Fahad. Dia menunggu di sofa depan, dia menanti seorang diri di ruang tunggu." Ungkap Kiara. Dan sesuai apa yang dia perkirakan, wajah Aldi langsung berubah tegang.


"Mau apa dia? Kamu berbicara dengannya?"Sahut Aldi.


"Tentu saja. Sebagai sekretaris kamu, sudah sepantasnya aku menyapa tamu Blue Corp. Kita kan memiliki kerja sama dengan pihak mereka. Nggak pantes banget kalo aku lewat begitu saja di hadapan dia seolah tidak kenal. Bahkan jika aku nggak kenal sekalipun, aku harus menyapa siapapun tamu yang sedang menanti kamu di ruang tunggu." Paparan Kiara ini membuat Aldi memikirkan beberapa hal.


"Kenapa harus kamu yang menyapa? dimana Daniel dan para asisten yang lain?" Ini kebetulan yang kesekian kali. Rara harus berhadapan dengan Fahad secara kebetulan untuk kedua kalinya.


Aldi pun memikirkan beberapa hal dan harus segera mengkonfirmasikan nya. Aldi membiarkan saja Kiara yang masih tampak memiliki tanda tanya di wajahnya. Kemudian memainkan ponselnya untuk kemudian memanggil seseorang. Di layar ponsel Aldi tertulis nama Daniel.


Tidak berapa lama, panggilan pun tersambung dan Daniel mengangkat panggilan bos besar Aldi.


"Dimana kalian?" Tanya Aldi tanpa sapaan atau basa-basi.


"Kami?" Sahut Daniel di ujung telepon. Daniel tidak menyangka pak Aldi akan tahu bahwa Daniel dan para asisten sedang makan siang bersama-sama.


Merasakan ada yang aneh, Daniel pun beranjak dari tempat duduknya dan segera kembali ke kantor. Daniel tidak mempedulikan makanan yang baru saja dihidangkan di meja dan belum siap sentuh sama sekali.

__ADS_1


Para asisten yang jabatannya di bawah Daniel pun memanggil-manggil Daniel. Tapi Daniel tidak menghiraukannya. Daniel bergegas kembali ke kantor meski panggilan dari Aldi barusan tidak menjelaskan urusannya apa menelepon Daniel.


Tidak berselang berapa lama, Daniel tiba di mejanya. Ada Fahad sedang berada di ruang tunggu. Melihat hal ini membuat Daniel menduga bahwa Aldi mencarinya dalam kaitannya dengan kelalaiannya meninggalkan meja kerjanya tanpa meninggalkan seorang pun yang bertugas.


Demi menjaga kesopanan, tentu Daniel menyapa dan menanyakan keperluan Fahad. Mengetahui apa keperluan Fahad, Daniel memiliki beberapa dugaan terkait alasan panggilan dari Aldi barusan.


Setelah undur diri dari hadapan Fahad, Daniel berkirim pesan kepada Aldi terkait situasi terkini di luar ruangan Aldi dan apa yang Fahad sampaikan kepadanya terkait pekerjaan.


'Bawa dia bertemu Mike. Bilang bahwa jadwalku padat. Sebelumnya konfirmasi dulu kepada Mike.'


Begitu mendapatkan pesan ini, Daniel bergegas menghubungi pak Mike. Setelah mendapat persetujuan pak Mike, Daniel pun mengantar Fahad kepada pak Mike tanpa konfirmasi kepada Daniel bahwa Aldi sedang tidak bisa ditemui. Mike yang akan menghandle urusan Fahad selanjutnya. Daniel undur diri.


Usai menjalankan tugasnya, Daniel konfirmasi kepada Aldi. Dan kini Aldi ingin Daniel ke kantornya.


Seperti dugaan Daniel, Aldi menanyakan kenapa semua meja asisten kosong? Seharusnya ada minimal 1 pegawai yang menjaga meja itu. Tapi ini sudah kedua kalinya terjadi hal demikian. Itupun ketika Fahad datang ke kantor Presdir.


"Sebenarnya tadi saya meminta Asisten junior yang baru bekerja beberapa bulan di sini untuk menjaga meja asisten. Tapi ternyata dia mengirim pesan kepada saya ada keperluan mendadak. Saya sendiri sudah akan kembali sebelum pak Aldi telefon, tapi para asisten yang lain berusaha menahan saya sampai menyantap makan siang."


"Apakah ini juga terjadi ketika Fahad ke sini sebelumnya?"


"Benar, pak. Asisten yang menjaga meja juga tiba-tiba ada keperluan dan orang yang meninggalkan posnya adalah orang yang sama."


"Oke. Kamu boleh undur diri."


Aldi tenggelam dalam pikirannya sendiri. Rara telah beristirahat di kamar pribadinya yang bisa diakses dari pintu rahasia di ruangannya. Ibu hamil butuh banyak tidur. Itu alasan yang Aldi pakai kepada Kiara agar bersedia beristirahat sementara Aldi menangani beberapa hal dengan Daniel.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


_Dinda^^


__ADS_2