
Bima tiba di rumah kediaman keluarganya pagi ini dengan merasakan sakit yang lebih parah dari pada ketika masih di rumah sakit.
Bella yang berusaha membantu malah menyentuh bagian tangan yang memarnya paling parah tapi tertutup oleh lengan bajunya. Bagian yang tak seharusnya disentuh itu mengakibatkan rasa sakit yang tak tertahankan bagi Bima hingga pelampiasannya hanyalah dengan menyalahkan Bella.
"Plak" Amarah menguasai Bima. Telapak tangan Bima mendarat di pipi mulus Bella yang tak menduga akan diperlakukan seperti ini.
"Kamu kalo enggak bisa merawat saya jangan pegang sembarangan!" Bima lebih marah lagi kepada Bella setiap kali rasa sakit menderanya.
Bella terjatuh hingga duduk akibat tamparan Bima. Tapi perih di pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya karena Bima telah menamparnya. Belum lagi rasa malunya kepada pegawai Bima yang menyaksikan semuanya.
Ingin rasanya Bella lari dan mengunci diri di kamar. Tapi itu juga kamarnya Bima.
"Jangan pegang-pegang sembarangan tanpa ijin! Ikut ke kamar!" Perintah Bima.
Bima berbaring dengan perlahan di kamar tidurnya. Usai merasa posisi tidurnya sudah paling nyaman, Bima kembali memberikan perintah kepada Bella yang satu-satunya berada di kamar itu.
"Kamu tetap di kamar ini menyampaikan apapun perintahku kepada para bawahanku. Aku tidak suka ada orang asing masuk ke kamar tidurku. Tapi aku butuh mereka. Jadi kamulah yang akan menyampaikan pesan-pesanku kepada mereka dan menjadi kakiku untuk sementara."
Bima memberi perintah seolah tidak sedang merasakan sakit sama sekali. Bella sanggup merasakan kemarahan dalam setiap perkataan yang diucapkan Bima kepadanya.
'Apa Bima sampai kesakitan begini karena berkaitan dengan Kiara lagi?' Sejenak Bella berpikir.
"Kamu dengar perkataanku apa tidak?! Jawab omongan saya!" Sentak Bima.
"Ba.. Baik.. aku ngerti"
"Bagus. Sekarang suruh pegawai ku membawa dokter masuk sekarang juga! Aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini!"
"I.. Iya" Bella kembali tergagap sambil segera keluar dari kamar yang sangat luas itu.
Bella setengah berlari untuk menemui pegawai yang siaga menunggu perintah di depan pintu kamar mereka. Usai pesan tersampaikan, Bella tidak berani kembali masuk dan mendekat ke sisi Bima. Bella memilih menunggu dokter tiba dan masuk bersama sang dokter.
"Kenapa Kamu lama sekali?!" Sapaan Bima langsung terdengar saat Bella dan dokter memasuki kamar.
"Aku menunggu dokter datang sekalian." kali ini Bella bisa dengan lancar menjawab Bima yang perkataannya masih penuh dengan amarah.
__ADS_1
"Kamu sudah berani sesuka hati melakukan apa yang tidak aku perintahkan ya sayang" Bima melirik Bella sambil berusaha menahan amarahnya kepada Bella di hadapan dokter. Dia mengucapkan kata sayang di akhir kalimat sembari menggertakkan giginya.
Dokter langsung memeriksa dan memberikan obat penghilang rasa sakit yang akan membuat Bima tidur selama 3 jam ke depan.
"Sampaikan supaya mereka membuat janji siang ini dengan pemilik aplikasi yang menghapus hotel kita dari aplikasi traveling mereka." Perintah Bima kepada Bella sebelum terbius oleh suntikan yang diberikan oleh dokter.
Sang dokter berpamitan kepada Bella dan memberikan obat yang Bima butuhkan. Sementara Bima tertidur hingga lebih dari 3 jam. Bella ingin membangunkan tapi khawatir salah. Hingga menjelang jam makan siang bersama pemilik aplikasi tiba, barulah Bella memberanikan diri membangunkan sang suami.
"Bima.. Bangun, Bim" Bella berusaha membangunkan hanya dengan suara pelan. Tapi Bima tak menyahut.
"Bima, kamu ada janji temu sama klien. Sudah mau jam makan siang," Lagi-lagi hanya suara yang Bella gunakan. Bima pun tak kunjung bangun.
Cara terakhir. Bella menyentuh pundaknya kemudian membelai pipinya.
Bima seketika itu membuka mata tajamnya dan mencekal tangan Bella yang tadi membelai pipi Bima yang masih agak bengkak.
"Mau apa kamu menyentuhku? Aku sudah melarang kamu menyentuhku sama sekali!"
"Ma.. Maaf. Aku tidak punya cara lain membangunkan kamu. Ini sudah siang. Kamu ada janji ketemu penting kan?" Bella berusaha membela diri.
Dengan perlahan Bima bangun dari ranjang kemudian meminta Bella membantunya.
"Aku butuh ganti baju untuk meeting. Bantu aku berganti pakaian." Perintah Bima.
Bella beranjak ke sisi Bima hendak membantu melepas bajunya. Bima lagi-lagi ingin marah.
"Ambil dulu bajunya gantinya! Kamu mau aku kedinginan setelah lepas baju karena nungguin kamu yang masih milih baju ganti!" Teriak Bima.
"Maaf" Bella secepatnya menjauh dari Bima dan menuju lemari baju Bima. Berusaha dengan cepat memilih setelan yang formal dan biasa saja.
"Yang ini, ya." Bella menunjukkan bajunya dan meminta persetujuan Bima.
"Iya. Buruan tapi hati-hati." Bima menjawab dengan nada datar.
Setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya Bella berhasil menjalankan tugasnya tanpa ada amukan dari Bima lagi.
__ADS_1
Sesuai instruksi Aldi, rapat Bima berjalan lancar. Krisis bisa dia atasi meski harus mengeluarkan dana cukup besar untuk kontrak yang lebih jelas dengan pemilik Aplikasi hotel dan traveling.
Bima merasa sakit di tubuhnya berkurang banyak karena rasa senangnya bisa mengatasi krisis Atmaja Grup. Bima langsung kembali pulang supaya bisa beristirahat. Tapi yang dia jumpai di kamar adalah Bella yang berurai air mata.
"Kamu kenapa? Mau bikin aku simpati sama kamu?" Bima bertanya seolah perhatian. Tapi nada bicaranya dingin hingga menusuk tulang.
Bella terkejut dengan kedatangan Bima. Tidak tahu harus menghadapi pria di hadapannya bagaimana.
Bella berdiri mendekati Bima yang masih di ambang pintu kamar tidur mereka dan memberikan ponselnya yang tampak sedang memutar sebuah video.
Bima menerima dan memutarnya. Video berisi dirinya dengan seorang wanita yang wajahnya disensor. Wajah Bima tampak jelas. Begitu pula apa yang sedang Bima lakukan terhadap wanita itu.
Bima tahu persis apa yang Bima telah lakukan dan
siapa wanita dalam video itu. Itu adalah adegan singkat Bima ketika tiba-tiba menyerang Verlita.
'ALDI' Hanya nama itu yang bisa Bima pikirkan. Hanya dia yang sanggup merekam ini dan menyebarkannya.
Tidak berapa lama, Mommy Diandra memasuki kamar dan melihat Bella menangis dan Bima yang diam.
"Apa kamu tahu kamu telah membuat Atmaja Grup masuk ke dalam krisis baru? Saham perusahaan langsung anjlok karena video itu, Bima! Siapa yang sudah kamu singgung! Bagaimana juga kamu bisa mengkhianati Bella seperti ini!" Mommy Diandra menunjuk Bella yang masih berurai air mata.
"Hanya satu orang. Aldi."
"Apa!"
"Dia keturunan keluarga Wiji Sasongko. Kamu tahu itu. Kenapa masih bermain-main dengan mereka!" Diandra meneriaki Bima.
"Dia bukan siapa-siapa di dalam keluarganya, Mom"
"Tapi dia tiba-tiba punya perusahaan sebesar WS TECH. Kamu tidak curiga dia bisa saja tiba-tiba mewarisi BLUE CORP?!"
Bima kaget dengan teriakan Mommy Diandra. Bima mundur hingga ke dinding saking kagetnya. Tidak pernah sekalipun Bima menduga bahwa Aldi mungkin memasuki BLUE CORP. Apalagi mewarisinya.
Tapi perkataan Mommy masuk akal juga. Bagaimana jika Aldi ternyata mewarisi BLUE CORP?
__ADS_1