Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Kamu tampak sangat menyayangiku


__ADS_3

Kiara melihat Aldi duduk bersandar di kursi panjang di tepi taman. Berbeda dengan Kiara yang tadi pagi menikmati cemilan di meja bundar di dekat kolam renang.


"Al." Kiara menyapa Aldi sambil duduk begitu saja di kursi yang Aldi tempati. Kiara memilih duduk di sebelah kiri Aldi. Meskipun sebelah kanannya masih kosong.


Melihat Kiara berada di sampingnya, Aldi hanya menoleh sejenak tanpa membalas sapaannya.


"Maafin aku, Al." Kiara dengan perlahan meletakkan telapak tangan kanannya di atas kedua tangan Aldi yang bertaut satu sama lain.


Aldi menunduk melihat tangan Kiara yang memegang tangannya. Tangan Kiara terasa hangat di kulitnya.


"Apa aku terlalu mengekang kamu?" Raut wajah Aldi sedih. Tidak ada lagi jejak kemarahan yang sebelumnya ketika masih di meja makan.


"Aku..." Kiara tidak bisa menjawab. Kiara sendiri tidak merasa dikekang. Tapi bilang bahwa dia merasa bebas juga tidak.


"Maafkan aku. Kamu terlibat penculikan karena aku." Aldi menunduk sedih menatap tangan Kiara yang masih memegang tangannya.


"Maksud kamu?"


"Tante Adelia yang melakukannya." Aldi kini menatap kolam renang yang airnya begitu tenang.


"Bisa kamu perlihatkan foto Tante Adelia?"


Aldi mengeluarkan ponselnya dan mengetuk beberapa kali. Kemudian memberikan ponselnya yang ada foto Adelia di layarnya.


"Ini wanita yang berpapasan denganku di Mall ketika hendak makan. Dia bersama dengan seorang pria." Kiara berusaha mengingat-ingat.


"Apa kamu tahu siapa pria itu? Mungkinkah pria Bermasker itu adalah pria yang bersamanya di Mall kemarin?"


"Ya. Kemungkinan besar memang dia."


"Kamu nggak berhasil menangkap pelaku penculikannya?"


"Tidak." Ada amarah dalam tatapan Aldi.


"Aku yang lebih salah, Al. Aku yang lupa sama peringatan kamu akan bahaya di luaran." Kiara meremas tangan Aldi yang masih dia pegang.


"Kemarin aku ingin memberikan kamu kejutan. Daniel yang aku utus untuk menyampaikan ke kamu supaya kamu semalam bersiap memakai gaun ini. Tapi aku malah dikejutkan balik sama kamu." Aldi menoleh menatap Kiara.


"Aku sudah menerima gaun ini dan memakainya, Al."


"Bukan gaunnya yang menjadi kejutan, Kiara." Aldi tampak gemas.


"Lalu?"

__ADS_1


"Rumah ini lah kejutannya. Aku ingin ngajak kamu tinggal di sini lebih awal. Kemarin aku sibuk mempersiapkan kondisi rumah ini. Aku kira kamu akan aman-aman saja di hotel. Tidak mengirim satu pun pengawal. Tapi apa yang terjadi? Aku masih salah perhitungan dan kurang berhati-hati."


"Jangan salahkan diri kamu lagi, Al. Semuanya salah aku. Aku bahkan nggak tau akan berada dimana dan diapakan jika kamu nggak datang menyelamatkan aku." Kiara menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Aldi. Menghirup aroma khas suaminya.


Aldi membelai pipi Kiara dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih berpegangan dengan tangan Kiara.


Merasa sikap Aldi mulai semakin lembut, Kiara sudah tidak sabar ingin mendengar lanjutan cerita penyelamatannya dari penculikan kemarin.


"Ceritakan gimana kamu bisa menyelamatkan aku kemarin, Al. Kenapa aku nggak sadarkan diri sampek begitu lama?"


"Aku melacak keberadaan tante Adelia dari ponselnya. Aku yakin Adelia ada hubungannya sama kamu yg hilang. Karena kalian sempat bertemu di Mall. Sayangnya wajah pria yang bersamanya tidak bisa aku kenali. Dia seperti paham dimana CCTV berada sehingga bisa menghindar dari menghadap ke semua CCTV yg dia temui."


"Diakah pria bermasker yang nyulik aku?"


"Ya. Aku yakin dia orangnya."


"Katakan apa yang terjadi berikutnya." Kiara masih bersandar di bahu Aldi.


"Aku melacak keberadaannya yang di luar kota. Lalu mengejarnya sendiri tanpa menunggu Daniel atau para pengawal."


"Sinyalnya berhenti di suatu tempat beberapa kali. Tapi aku masih dalam perjalanan yang cukup jauh dari Jakarta. Tapi berkat dia berhenti beberapa kali, akhirnya jarakku sama dia sudah semakin dekat."


Kiara melihat tangan Aldi kini bertaut dengan tangannya.


"Hanya seperti itu?" Kiara tidak menyangka Aldi bisa dengan mudah mendapatkannya.


"Ya. Mau bagaimana lagi?" Aldi menatap kolam renang di hadapannya.


"Bagaimana dengan Tante Adelia dan pria bermasker?"


"Pria bermasker itu sudah nggak ada ketika aku datang. Mungkin sudah kabur duluan atau juga kabur setelah kedatangan aku."


Aldi terdiam. Kiara merasa ada yang Aldi sembunyikan.


"Apa kamu tahu kenapa aku terburu-buru pengen ngajak kamu pindah ke sini meski belum seharusnya kita bisa menempatinya?"


"Ceritakan lah kenapa." Kiara menjawab dengan datar. Kiara masih berpikir keras mengenai cerita penyelamatannya dari penculikan yang terasa janggal.


"Karena kolam renang dan taman bunga ini."


Seketika Kiara yang dari tadi bersandar di bahu Aldi langsung duduk tegak menatap kolam renang.


"Apa yang kamu rasakan ketika menatapnya dalam kondisi sunyi di malam hari begini?" Tanya Aldi.

__ADS_1


"Seperti suasana danau tempatku mengurai kebingungan dan menumpahkan rasa sedihku." Kiara baru menyadari hal ini.


"Aku tidak ingin kamu sedih, Kiara. Aku ingin kamu bisa senang dan merasa tenang dengan duduk di tepi kolam seperti ini." Aldi menoleh menatap Kiara. Membelai pipi mulus istri cantiknya.


"Kamu begitu baik sama aku Al." Kiara menatap Aldi.


"Tentu saja. Kamu istri aku." Jawab Aldi singkat.


"Sudah nggak marah lagi sama aku?"


"Apa aku tampak marah?" Aldi tidak mau mengakui kebodohannya yang langsung marah-marah begitu berbicara dengan Kiara di meja makan.


"Iya. Kamu tampak marah. Juga terlihat sangat frustasi. Apa kamu sebegitu takut terjadi apa-apa sama aku?"


"Apa hal itu masih butuh jawaban?" Aldi tidak mau menjawab.


"Ya. Kamu seperti itu, Al. Kamu tampak sangat menyayangiku." Kiara tak henti menatap Aldi dan menanti apa yang akan Aldi katakan.


Tapi waktu berdua mereka harus terganggu dengan kedatangan seorang pelayan yang tidak Kiara kenal.


"Permisi, tuan muda. Ada tuan Daniel sedang menunggu tuan muda di ruang tamu." Pelayan ini menyela di saat waktu yang tidak tepat. Kiara amat kesal.


"Baiklah. Aku akan menemuinya." Aldi merasa terselamatkan untuk tidak menanggapi ucapan Kiara. Dengan cepat Aldi keluar menemui Daniel dan meninggalkan Kiara yang perasaannya amat kesal.


"Permisi nona muda. Tuan muda berpesan supaya nona beristirahat di kamar jika sudah lelah duduk di sini. Jika nona sudah ingin makan malam, kami akan menyajikannya." Irma kini datang setelah Aldi pergi menemui Daniel diikuti dengan pelayan wanita yang lain.


"Apa tuan muda kamu yang berpesan supaya aku mau makan?"


"Benar, nona." Irma kini tidak tampak menunduk ketakutan seperti seharian ini.


"Ceritakan padaku bagaimana aku semalam tiba di rumah ini bersama Aldi!" Kiara memberikan perintah. Nada bicaranya tegas tidak ingin dibantah maupun ditolak.


"A.. apa yang ingin nona ketahui?" Irma tampak gugup. Membuat Kiara semakin curiga.


'Apa yang terjadi tadi malam? Kenapa Aldi menutupi sesuatu darinya.' Kiara semakin ingin tahu dan merasa harus mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan penculikannya.


 


Nantikan kelanjutannya ya...


Like dan komen kalian aku nantikan...


_Dinda^^

__ADS_1


__ADS_2