
"Al, kita perlu bicara"
Kalimat ini begitu lama Aldi nantikan. 'Apakah Kiara sudah bersedia membicarakan apapun yang menjadi ganjalan hatinya dan membebani pikirannya?' Pikir Aldi.
Agar suasana terasa nyaman, Aldi mengajak Kiara berbicara di taman tepi kolam renang.
"Ada apa, Ra?" Aldi menatap Kiara dengan kehangatan yang biasa Kiara kenal. Mereka sedang duduk di bangku panjang taman yang menghadap ke kolam renang.
"Al, apa kamu menghindar dariku?"
Untuk sekelebat, Aldi tampak terkejut. Tapi kemudian Aldi bisa menutupi keterkejutannya. Aldi harap Kiara tidak menyadari hal ini.
"Aku mana bisa menjauh dari kamu, Ra. Kamu tahu nggak, ketika pagi ini kamu nggak ada di sisiku, aku udah berulang kali ingin telfon kamu. Tapi selalu aku tahan terus. Kamu jarang ada waktu hangout dengan sesama wanita. Aku tidak ingin kamu merasa aku terlalu posesif sama kamu. Tapi akhirnya aku nggak tahan untuk menghubungi kamu pada jam makan siang. Aku nggak bisa jauh dari kamu, Ra. Mana mungkin aku menghindar."
"Kamu bisa menghindar dari ku dengan jarak yang tetap dekat denganku!" Kiara berteriak kesal. Kiara berdiri dari bangku panjang tempat mereka berdua duduk bersama dan menjauh dari Aldi. Berusaha menenangkan emosinya dengan mendekati kolam renang. Teriakan Kiara kepada Aldi barusan salah. Kiara tidak seharusnya berteriak kepada Aldi. Tapi bagaimana lagi, Kiara begitu kesal kepada Aldi. Kiara memunggungi Aldi dan menatap lama ke kolam renang itu.
Aldi sendiri hanya diam menatap punggung Kiara yang sedang menatap air kolam renang yang begitu tenang sore itu.
"Kamu menghindar dariku dengan berada di ruang kerja kamu setiap malam. Padahal aku sedang ada di kamar tidur kita menunggu kamu. Jarak kita dekat, kan setiap malam? Kamu memang nggak bisa jauh dari aku. Kamu menempatkan diri kamu di ruang kerja sementara aku di kamar tidur. Tapi kamu menghindar dariku, Al!" Lagi-lagi Kiara kembali emosi.
"Kamu tidak hanya sekali atau dua kali melakukannya. Setiap malam kamu seperti itu. Apa yang salah, Al? Aku salah apa sampai kamu menghindariku setiap malam?" Kiara berusaha untuk tidak berteriak kepada Aldi. Tapi malah teriakannya semakin keras dan semakin terdengar menyakitkan di telinga Aldi.
"Maafkan aku, Ra." Aldi hanya menunduk. Aldi sedang berusaha menemukan kalimat yang pas untuk menjelaskannya kepada Kiara tanpa membuatnya merasa bersalah atau sakit hati.
Mendengar kata maaf Aldi yang singkat mebuat Kiara berbalik menatap Aldi yang tertunduk. "Aku nggak butuh permintaan maaf saja. Jawab pertanyaanku, Al. Aku sudah salah apa?"
Aldi tidak bisa menceritakan alasan sebenarnya. Tapi Aldi memikirkan alasan yang lebih masuk akal sambil berjalan perlahan untuk mendekati Kiara yang masih berada di tepi kolam renang.
Aldi melihat bekas air mata yang membasahi pipi mulus Kiara. Hati Aldi terasa sakit melihat tangisan wanita di hadapannya ini.
__ADS_1
Aldi merengkuh Kiara ke dalam pelukannya dan kembali meminta maaf. "Maafkan aku, Ra. Aku sudah membuat kamu kesepian. Aku kira kamu terlalu lelah dan selalu tidur lebih awal. Aku nggak kepikiran bahwa kamu nunggu aku, Ra."
Kiara hanya diam di pelukan Aldi. Kiara berusaha memikirkan alasan Aldi yang masih belum bisa memuaskan rasa ingin tahunya ini. Tapi bagaimana Kiara bisa membantah alasan ini. Bisa saja Aldi memang memiliki pekerjaan hingga larut malam. Kiara sendiri tahu betapa banyak dokumen yang harus Aldi tangani setiap hari.
"Ra, aku kira kamu kelelahan kerja di kantor seharian dan tidur lebih cepat terus. Maafkan aku, sayang. Aku akan lebih sering temani kamu di malam hari."
Kiara merasa harga dirinya jatuh. Bisa-bisanya Aldi menganggap dirinya menginginkan ditemani setiap malam begini. Kenapa situasinya berbalik memalukan bagi dirinya begini.
"Kamu ini ngomong apa sih! Siapa juga yang kesepian dan minta ditemani setiap malam!" Kiara malu.
"Iya, kamu nggak kesepian. Tapi aku yang kesepian. Aku mending bawa kerjaan ke kamar kita aja gimana? Biar aku bisa tetap liat kamu tidur di sisiku. Aku nggak pernah puas kok untuk liatin kamu terus meski sambil kerja." Aldi berusaha membuat lelucon sebisanya. Berharap Kiara kembali ceria.
"Iya, terserah. tapi lepasin dulu pelukan kamu ini. Gerah, tau nggak." Kiara memang merasa kepanasan. Berada di pelukan Aldi membuatnya menginginkan lebih. Akan memalukan jika Kiara meminta hal itu hanya karena dipeluk begini saja.
Kiara pun kembali teralihkan oleh Aldi. Apa yang membuatnya marah bisa disikapi Aldi dengan begitu baik dengan memberikan beberapa alasan yang masuk akal. Aldi sedikit bernapas lega sebelum Kiara menceritakan siapa yang dia temui bersama Bella ketika di Mall siang tadi.
"Ngapain dilacak?"
"Tentu saja untuk menemukan keberadaannya." Aldi gemas dengan pertanyaan Kiara
"Kamu ingin tahu dimana dia?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu kamu bertanya kepada orang yang tepat, Al. Karena aku tahu dimana dia bekerja. Bahkan aku bisa menghubungi dia saat ini juga." Sahut Kiara dengan santainya.
Kiara mengeluarkan kartu nama yang tadi siang diberikan oleh saudara Ferdi.
"Fahad Ja'far" Aldi membaca nama yang tertulis dalam kartu nama itu.
__ADS_1
"Dia CEO perusahaan Minyak yang akan melakukan rapat kerjasama dengan kita besok pagi," Aldi membaca jabatan yang tertera dalam kartu nama itu.
Kiara tampak terkejut mendengar Aldi mengutarakan identitas saudara Ferdi ini. "Kamu tidak membaca kartu namanya ya, Ra?"
Kiara hanya menggeleng lemah ketika Aldi bertanya. Kiara memang hanya sempat memasukkan kartu nama itu ke dalam tas tangannya. Sebab Kiara tidak tertarik untuk menghubungi pria yang memberikan kartu nama itu.
"Al, kenapa ada kebetulan semacam ini? Pria ini bilang sedang mencari saudaranya. Karena itu lah tadi dia memberikan kartu namanya kepadaku."
"Kita belum bisa memastikan ini direncanakan atau memang kebetulan."
"Dia mencari saudaranya, Al. Apa yang harus kita lakukan kepada pria yang masih berada di tangan kita ini?" Kiara masih enggan menyebut nama Ferdi.
"Tenanglah, ini saatnya melepaskan pria tidak berguna itu." Tatapan Aldi begitu dingin.
"Kamu mau melepas dia begitu saja?"
"Aku sudah cukup mempermainkan dia. Saatnya dia dikirim ke rumah sakit jiwa atau penjara. Kamu lebih suka dia dikirim kemana sayang?" Tatapan dingin Aldi terasa masih menusuk jiwa Kiara. Aldi masih menyimpan dendam di hatinya. Penyiksaan itu belum membuat Aldi puas. Kiara yakin itu.
Kiara tidak tahu harus memilih yang mana.
🌸🌸🌸🌸
Fahad menanti panggilan telepon wanita itu. Dia yakin Ferdi berada di tangan mereka. Wanita yang di Mall tadi memang begitu mirip dengan pacar yang membuat Ferdi begitu tergila-gila. Kepolosannya saja yang berbeda dengan pacar Ferdi.
"Kiara. Nama yang indah." Fahad menatap foto Kiara Yang ada di layar tabletnya.
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^
__ADS_1