Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Bersiap untuk Hari Esok


__ADS_3

Kiara tidur nyenyak karena efek obat yang dikonsumsi.


"Kiara, awalnya aku ingin hubungan kita berjalan perlahan. Kita memiliki banyak waktu di sisa umur kita untuk bersama. Aku tidak merasa terburu-buru untuk mendapatkan hatimu." Aldi membelai lembut rambut Kiara yang terlalap.


"Tapi sekarang aku merasa ingin segera mendapatkan hati kamu, Ra. Hati yang hanya memiliki namaku di dalamnya. " Aldi mengingat Bima yang masih berusaha mendapatkan Kiara kembali dengan segala cara. Dia harus bertindak lebih keras kepada Atmaja Grup.


Kiara tersenyum dalam hati mendengar ucapan Aldi. Sejak Aldi menyentuh kepalanya dan membelai rambutnya, Kiara sudah sadar dari tidur. Tapi tidak ingin membuka mata. Ingin mendengar apa pun yang Aldi ingin ungkapkan.


Kiara kembali melanjutkan tidur karena Aldi beranjak pergi dan tiada suara apa pun lagi yang terdengar.


Aldi keluar dari kamar tidur di hotel dan melakukan beberapa panggilan telepon.


"Om, aku akan menempati rumah utama bersamaan dengan perayaan satu bulan pernikahanku dengan Kiara.  Aku ingin om dan Mike datang."


"Baik, Al. Om akan membawa dokumen hak waris kamu juga hari itu." Damien menjawab dengan antusias. Beban hutangnya kepada almarhum ayah Aldi akan segera terangkat dari pundaknya.


"Terima kasih, Om.


Aldi menutup telepon. Sudah sangat lama Aldi ingin hidup di tempat dimana dirinya waktu kecil hidup bersama ayah dan mama. Juga ada kakek yang dulu tinggal bersama. Rasanya tak sabar menantikan hari itu tiba.


Aldi kemudian melakukan panggilan telepon lain.


"Mike, mulai besok kamu yang mengendalikan Blue Corp. Awasi siapapun yang sekiranya ada hubungan dengan tante Adelia, Verlita, maupun Bima. Masuklah ke sana sebagai bawahan papa kamu dulu."


"Aku sudah menantikan ini, Al. Tenang saja, jaringan Mall sudah aku persiapkan untuk ku tinggalkan mengawasi sisa kekuasaan ibu tiriku di Blue Corp." Mike menjawab


"Baguslah. Ingat untuk tidak gegabah, Mike. Kabari aku akan hal sekecil apapun yang kamu dapatkan. Aku tidak ingin kamu berada dalam bahaya."


"Aku akan mengingatnya." Mike mengakhiri panggilan Aldi dengan sepihak. Tidak ingin mendengarkan apa pun lagi.

__ADS_1


Mike membuka dompetnya dan menatap foto masa kecilnya. Ada foto papa dan mama di samping kanan dan kirinya waktu kecil. Dengan ujung ibu jarinya, Mike membelai foto lama itu.


"Ma, aku semakin dekat dengan tujuanku. Papa dan wanita itu sebentar lagi berpisah. Aldi juga sudah kembali. Tinggal perhitunganku dengan wanita jahat itu, ma. Aku akan bertindak usai semua hal kembali ke posisi asalnya. Hanya mama yang tidak bisa aku bawa kembali ke dunia."


Mike meneteskan air mata usai mengucapkan kalimat terakhirnya. Dia masih ingat bagaimana mamanya dipukul dan diusir oleh sang kakek. Bagaimana papanya diam saja dengan tatapan marah kepada mamanya. Hanya dirinya yang berteriak supaya tidak ada yang menyakiti mamanya. Tapi tak satu pun orang yang merasa iba dengan apa yang diderita sang mama. Tidak ada satu pun hati yang bergetar mendengar teriakan dan tangisan Mike kecil supaya orang-orang yang saat itu hadir menghentikan pukulan demi pukulan yang diberikan kepada mamanya.


Mike kembali menangis sesenggukan seorang diri mengingat kembali kejadian itu.


"Ma... " Mike sudah lama tidak bebas mengeluarkan kesedihannya seperti ini.


"Mike akan menemukan keadilan bagi mama. Mike akan mengembalikan nama baik mama dan membuka topeng wanita itu, Ma." Mike terus menatap wajah mama yang ada di dompetnya dengan berlinangan air mata.


Di saat yang sama, Bima masih berada di rumah sakit dimana Kiara sebelumnya dirawat.


"Siapa yang sudah kamu singgung, Bima?" Terdengar suara Mommy Diandra berada di telepon yang berada dalam mode loud speaker. Seorang pegawainya membantu Bima melakukan panggilan telepon.


"Mommy tenang saja. Aku tahu siapa pelakunya." Bima berusaha berbicara dengan tenang tanpa menimbulkan kecurigaan Diandra. Mommy tidak boleh tahu bahwa anaknya terluka parah begini.


"Maafkan aku, Mom." Bima jarang dimarahi oleh sang Mommy seperti ini. Pasti semuanya terlalu berat ditangani oleh sang Mommy sendiri.


"Aku tahu bagaimana mengatasi krisis ini. Tunggulah aku kembali ke Jakarta."


"Berapa lama Mommy menunggu? Kamu dimana dan kenapa sebenarnya, Bima?"


"Besok pagi aku tiba, Mom. Sekarang tenanglah." Bima mengisyaratkan kepada anak buahnya supaya panggilan diakhiri.


"Urus administrasi untuk bisa pulang paksa saat ini juga. Kita pulang sekarang. Gunakan mobil saja." Bima mengeluarkan perintah dan tidak ingin dibantah.


Bima meraba perban yang menutupi luka-luka di wajahnya. Hampir sekujur tubuhnya dipenuhi memar akibat luka pukulan beberapa orang Bodyguard Aldi. Untuk menggeser tubuhnya saja Bima merasa kesakitan.

__ADS_1


Sudah semalaman Bima tidak sadarkan diri di rumah sakit itu. Menjelang pagi Bima sadar, kabar Atmaja Grup berada dalam krisis langsung sampai kepadanya. Tapi Bima tidak bisa bergerak sedikitpun.


Untuk kembali ke Jakarta dengan helikopter pun tidak mungkin. Sang pilot mengundurkan diri dan menghilang. Mencari pilot pengganti hingga sore ini pun tidak kunjung dapat.


Tidak mungkin ada pilot yang bisa dia bayar di kota kecil seperti ini. Bima sadar akan hal itu. Tapi tetap saja dia memerintahkan untuk mencari pilot pengganti pagi ini. Dia akan merasa terlalu kesakitan jika harus melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil.


Bima tidak pernah hidup susah atau berada dalam kondisi luka parah seperti ini seumur hidupnya. Ini krisis terbesar yang pernah dia hadapi. Dan semua ini diciptakan oleh Aldi. Ada rasa marah bercampur frustasi mengingat namanya.


Bagaimana mungkin hanya dengan WS TECH saja Aldi bisa menggoyahkan Atmaja Grup. Bima sama sekali tidak bisa memperkirakan tali mana yang Aldi tarik hingga bisa melakukan hal besar seperti ini terhadap kerajaan bisnis keluarganya.


"Semua sudah siap, pak." Sang pegawai memasuki kamar Bima dengan kursi roda yang siap membawanya ke mobil.


Kini Bima hanya bisa kembali ke Jakarta dengan menggunakan mobil sambil menggertakkan giginya menahan sakit selama lebih dari 8 jam perjalanan.


"Siapkan bodyguard terbaik untuk berjaga di dekatku selama 24 jam." Perintah Bima selama dirinya berada di kursi roda.


"Hubungi Bella. Suruh dia menungguku. Kabari juga dokter keluarga untuk bersiap begitu aku tiba di Jakarta." Bima kembali memberi perintah kepada pegawainya yang duduk di kursi sebelah sopir.


Bima berusaha duduk senyaman mungkin. Tapi tetap saja seluruh tubuhnya masih terasa nyeri dan lukanya juga terasa perih. Bima tidak akan mau mengalami pukulan separah ini lagi seumur hidupnya.


Bima berurai air mata karena kesakitan selama dalam perjalanan. Tapi tidak ingin mengeluarkan suara sedikitpun. Khawatir disangka pria lemah oleh kedua pegawainya yang duduk di bangku depan.


Penyesalan selalu datang terlambat. Selama ini Daddy selalu menyuruh Bima didampingi bodyguard kemana pun. Tapi tidak pernah Bima mengindahkan nasihat baik sang Daddy.


'Mommy, Daddy, Bima telah salah. Tidak menuruti nasihat baik kalian selama ini.' Bima hanya bisa mengucapkannya dalam hati dengan masih berurai air mata karena kesakitan.



Like dan Komentar kalian sangat berarti untuk menyemangati saya menyelesaikan kisah Kiara dan nulis tiap hari...

__ADS_1


Terima kasih yaaa dukungannya...


Dinda


__ADS_2