Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Cindy, aku butuh bantuan kamu lagi


__ADS_3

Kiara makan siang dengan Aldi di cafetaria kantor yang berada di dekat lobby.


Tidak sedikit mata pegawai wanita yang melihat ke arah mereka sejak keduanya memasuki cafe.


Awalnya Kiara berusaha tidak peduli. Tapi semakin lama, mereka bukan semakin berkurang, malah bertambah parah dengan berbisik satu sama lain. Kiara mulai terganggu dan risih.


"Kamu kenapa?" Aldi melihat ekspresi makan Kiara yang tidak mengenakkan.


"Kamu punya banyak penggemar ya di sini?"


"Oh, ya. Kok aku baru tahu." Aldi mengedikkan bahu.


"Mereka yang melihat kita dengan tatapan aneh hanya yang perempuan aja. Jadi pasti mereka penggemar kamu. Nggak mungkin penggemar aku."


"Trus kalo memang mereka penggemar aku, kamu mau apa?"


"Mau ngecap kamu sebagai punyaku lah."


"Sepertinya mereka sudah tahu."


"Masak sih. Kan mereka nggak datang ke resepsi nikahan kita."


"Sudah aku umumkan di grup pegawai kantor. Aku sudah share foto nikahan kita."

__ADS_1


"Oh ya!" Kini Kiara paham alasan mereka semua memandang dirinya. Pasti membandingkan foto dirinya ketika di foto dengan ketika tampak wajah aslinya.


Hadewh. Apa pendapat mereka tentang penampilanku saat ini. Batin Kiara.


Kiara memilih buru-buru menyelesaikan makan saja. Kiara malu berlama-lama di kafe dan ditatap oleh mereka semua.


Aldi melihat gelagat Kiara yang tiba-tiba makan dengan terburu-buru. Agak tidak suka melihat hal itu.


"Makan pelan-pelan. Aku nggak mau kamu tersedak." Aldi meletakkan tangannya di atas tangan kanan Kiara yang memegang sendok untuk menyuap makanan ke mulutnya.


"Uhuk-uhuk," Kiara langsung tersedak begitu Aldi meletakkan tangannya di atas tangan Kiara. Kiara terlalu kaget.


"Tuh, kan. Tersedak." Aldi memberi segelas minuman kepada Kiara.


Aldi kembali meraih tangan Kiara dengan tatapan yang hangat.


"Kita kembali bersama." Aldi juga ikut berdiri dengan kondisi masih menggenggam tangan Kiara.


Kiara terhipnotis dengan tatapan Aldi. Dia tidak sadar jika keluar kafe dalam kondisi tangannya masih dalam genggaman Aldi.


 ~~~~


Bella merasa bagian bawah tubuhnya perih sekali. Melebihi rasa sakit ketika Bima pertama kali mengambil kemurniannya sebagai seorang wanita.

__ADS_1


Bima sendiri sudah pergi begitu saja usai menuntaskan amarahnya terhadap dirinya.


Bella hanya meringkuk di lantai sambil meratap. Tapi tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.


Khawatir akan ada karyawan yang masuk, Bella sempat menahan rasa perihnya untuk bangun dan mengunci pintu kantor Bima dari dalam.


"Cindy, aku butuh bantuan kamu lagi." Bella menghubungi Cindy. Mantan sekretaris Bima yang terakhir sekaligus teman sekolahnya.


"Ya, Bima sudah tahu dan sekarang sangat marah. Aku di kantor Bima yang di hotel Marriott. Tolong jemput aku Cin. Anterin aku ke rumah sakit." Bella mendengarkan segala omelan temannya.


Keduanya baru mengakhiri obrolan mereka di telfon begitu Cindy sudah melampiaskan kemarahannya kepada Bella yang begitu ceroboh.


Karena saat itu masih jam istirahat kantor, Cindy bisa meninggalkan kantor untuk mengantarkan Bella ke rumah sakit.


Bella tidak punya pilihan lain selain melakukan hal ini. Bella tidak mungkin bisa menghadapi hukuman Bima yang semacam ini di kemudian hari.


 ~~~~


Bima sudah melampiaskan amarahnya kepada Bella. Tapi masih ada satu orang lagi yang membuatnya masih marah, Aldi.


Bima menginginkan Kiara kembali. Apapun caranya, Bima akan memperjuangkan Kiara lagi.


Tapi Aldi bukan sekedar programmer biasa. Bima yakin Aldi memiliki pendukung di belakang layar. Bima harus mencari tahu siapapun yang membantu Aldi merampas Kiara dari sisinya.

__ADS_1


__ADS_2